History Of MAMA : Character Profile : Kim Jongin : “Dark Side, Hidden Angel”

Kai 2

History of MAMA

Title : History of MAMA

Author : lee_acha96 a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brothership, Friendship, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Cast : EXO Member and other (find by yourself)

-History of MAMA-

Character Profile :

Kim Jongin : “Dark Side, Hidden Angle

Summary :

“Ketika kau seperti ini sisi gelapmu tidak terlihat, kau hanya seperti seorang remaja polos yang sedang mengahadapi masalah, Kai….”

-***-

A/N : Wohoho~

Akhirnya ngepost juga, sebenernya sih udah lama ni chap kelar, tapi authornya masih males ngepost *reader bunuh author* yaudah deh, dari pada lama-lama Happy Reading aja yah ^^ -tebar senyum-

part sebelumnya prolog+Chanyeol, Kris, Suho

-***-

Good job…” Kata seorang pria tua kemudian melemparkan amplop coklat berisi setumpuk uang kepada pria muda didepannya, pria muda itu mengambil amplop yang dilemparkan kepadanya kemudian melihat isinya, sebuah seringaian muncul diwajahnya.

“Kau bisa pergi sekarang” Kata pria tua itu lagi.

“Ne” Kata pria muda itu singkat kemudian pergi.

-***-

“Kim Jongin!!!!” Teriak seseorang pada pria bernama Kim Jongin, pria bernama Kim Jongin itu kemudian menoleh kepada pria yang memanggilnya tadi.

“mwo?”

“Ya!!! Aku ini gurumu!!! Kenapa kau berbicara informal kepadaku?” Kata pria itu sambil memukul kepala Jongin dengan buku tebal yang ada ditangannya.

“Ya!!! Appo!!!” Kata Jongin sambil mengelus-elus kepalanya.

“Mwo??? Ya???? Berani sekali kau menggunakan ‘ya’ pada gurumu? Memangnya aku ini temanmu??!!!”

“Aigoo… Ahjussi, kenapa kau cerewet sekali? Bahkan kau lebih cerewet dari ahjumma penjaga kantin disekolah”

“Mwo??? Ahjussi?? Kau benar-benar!!!! Sudah berbicara informal, mengatakan ‘Ya!’ kepadaku, sekarang kau memanggilku ahjussi??? Kau harus benar-benar diberi pelajaran, sekarang berdiri tengah lapangan dan hormatlah kepada bendera sampai istirahat! Itu juga untu hukuman atas keterlambatanmu masuk”

“Ahjussi, apa kau tau kalau kau benar-benar menyebalkan?” tukas Jongin kemudian berjalan menuju lapangan.

“Ya!!! Neo!!!!” Pria tua itu kehilangan kata-katanya menghadapi murid ternakal disekolahnya.

Jongin hanya meringis melihat gurunya itu kehilangan kata-kata saat menghadapinya, menggoda guru memang salah satu kegemarannya, aneh memang, tapi memang itulah salah satu penghibur hatinya, Jongin sampai ditengah lapangan, dia menengadahkan kepalanya ke arah tiang bendera kemudian melakukan posisi hormat, beberapa siswa yang lewat hanya menatapnya sekilas, bukan pemandangan yang aneh memang, pemandangan ini bahkan sudah sangat biasa, Kim Jongin dihukum ditengah lapangan dengan posisi menghormat kepada bendera memang bisa dibilang menjadi salah satu rutinitas sekolah itu setiap harinya, namun siswa yang namanya selalu menjadi headline sekolah itu sepertinya tidak peduli dengan itu, dia tetap saja berkelakuan nakal.

“Jongin oppa…”

Jongin menoleh mengikuti arah sumber suara yang memanggil namanya, keningnya mengerenyit melihat seorang gadis didepannya, gadis itu membawa botol air mineral ditangannya, bisa dilihat bahwa gadis itu sedikit kikuk, dari tadi kakinya hanya menjejakkan kakinya kecil-kecil ke tanah.

“Nugu??” Kata Jongin pada akhirnya.

“Namaku Soojung” Kata gadis itu sambil menunduk.

“Ada apa kau kesini?” Tanya Jongin datar.

“Aku hanya ingin membawakanmu minum, kau pasti kepanasan, aku tidak mau kau dehidrasi karena terlalu lama berada dibawah sinar matahari” Kata Soojung masih dengan menunduk.

Jongin lagi-lagi mengerenyitkan keningnya, dia berjalan menuju Soojung, hati Soojung berdegup sangat cepat ketika jarak Jongin dan dirinya semakin sempit, Soojung memberanikan diri menatap wajah Jongin, pandangan mereka bertemu, Soojung melihat Jongin tersenyum, bukan tersenyum sebenarnya, lebih tepatnya Jongin menyeringai.

“Babo…” Kata Jongin lirih.

“Apa kau tidak pernah sekolah sehingga tidak tau musim apa ini? Sekarang sudah hampir memasuki musim gugur, waktunya matahari untuk beristirahat dengan hanya memberikan sedikit panas di bumi, yang ada hanya hawa dingin, panas ini tidak akan membuatku sakit, apalagi mem-bu-nuh-ku” Jongin membisikkan kata ‘membunuhku’ di telinga Soojung dengan diringi desahan nafasnya membuat Soojung bergidik ngeri.

Soojung kemudian menundukkan kepalanya lagi, beberapa bulir air mata jatuh dipipi mulusnya, botol air mineral yang dibawanya pun jatuh, Soojung kemudian berbalik dan berlari sambil menangis.

“Gadis bodoh…” Kata Jongin kemudian, setelah itu dia melanjutkan hukumannya tadi.

-***-

KRINNGG

Bel sekolah berbunyi menandakan waktu istirahat sudah tiba, Jongin tersenyum, waktu hukumannya sudah selesai, dia merasa hukumannya sangat ringan karena awan terus saja menutupi matahari, membuatnya hampir tidak mengeluarkan keringat seidikitpun.

Jongin memasukkan tangannya ke saku celana kemudian menuju ke kantin, dia mengedarkan matanya keseluruh penjuru kantin, dia tersenyum ketika melihat sahabatnya sudah ada di tempat mereka biasanya.

“Taemin-ah…” Panggilnya pada sahabatnya itu, yang dipanggil hanya menoleh kemudian melambaikan tangannya seakan menyuruh Jongin untuk segera ke tempat mereka.

“Hukumanmu sudah selesai?” Tanya Taemin langsung ketika Jongin baru duduk didepannya, Jongin tidak menjawab pertanyaan Taemin, dia malah mengambil orange juice milik Taemin kemudian meminumnya. Taemin hanya tersenyum melihat sahabatnya satu ini.

“Untuk apa kau menanyakan hal yang sudah kau ketahui?” Kata Jongin setelah selesai meminum orange juice milik Taemin.

“Hehe, tapi apa kau tidak takut kalau identitasmu terbongkar kalau kau terus saja berkelakuan nakal disekolah, Kai?”

“Taemin-ah… sudah kubilang jangan memanggilku dengan nama itu ketika disekolah, kau yang malah berpotensi membuka indentitas rahasiaku disekolah ini”

“Mian.. mian… Tapi apa kau benar-benar tidak takut kalau rahasiamu terbongkar?”

“Untuk apa aku takut? Aku ini orang yang sangat berhati-hati dan selalu memperhitungkan apapun sebelum bertindak, tidak seperti dirimu yang selalu ceroboh dan terburu-buru, kau seharusnya lebih khawatir kepada dirimu sendiri, bisa saja kau membongkar identitas rahasiamu sendiri di depan orang-orang bodoh ini”

“Ya!!! Kau jangan membawa-bawa hal itu!!” Teriak Taemin kepada Jongin, Jongin hanya menyeringai kecil.

“Kau sendiri yang mulai” Kata Jongin kemudian.

“Arasseo, mian, aku tidak akan mengungkitnya lagi ketika sekolah, keunde… Jongin-ah.. apa kau tau kalau malam ini kita disuruh menemui Big Boss?”

Jongin menatap Taemin dengan pandangan penuh tanda tanya.

“Ada apa dia menyuruh kita menemuinya? Apa ada tugas baru?”

“Molla, tadi GD hyung menelponku dan mengatakan hal itu, ketika aku bertanya ada apa dia menjawab dia tidak tau, yang jelas kita berdua di suruh menemui Big Boss nanti malam”

Jongin hanya diam, dia memikirkan kira-kira apa alasan mereka berdua dipanggil oleh Big Boss. Aneh, pikirnya. Tidak biasanya Big Boss memanggilnya bersama Taemin, biasanya hanya dia sendiri yang dipanggil, Taemin yang bisa melihat kekhawatiran sahabatnya ini kemudian menepuk pundak Jongin.

“Gwenchana Jongin-ah.. jangan terlalu dipikirkan, lagi pula kita nanti juga akan tau”

-***-

@Horrison Apartement, Agpujeong

“Mereka sudah datang, Boss”

“Suruh mereka masuk” Jawab Boss itu. Orang yang melapor tadi hanya mengangguk kemudian keluar dari ruangan boss-nya, dia berjalan ke arah ruang tamu, disana terdapat dua orang remaja yang wajahnya mirip satu sama lain, orang itu berjalan kehadapan mereka berdua dengan tatapan dingin.

Big Boss menyuruh kalian masuk ke dalam ruangannya” katanya dengan ekspresi yang sangat dingin.

Kedua remaja itu saling memandang wajah satu sama lain, mereka seperti sedang melakukan telephaty.

“Ehem…” deheman pria tadi membuat kedua remaja tadi mengakhiri ‘telephaty’ mereka.

“kalian jangan membuat Big Boss menunggu terlalu lama, kalian pasti tau kalau dia paling benci menunggu”

“Keunde, Heechul hyung, apa alasan Big Boss memanggil kita?” tanya salah seorang dari kedua remaja itu.

“Aku tidak tau alasan Big Boss memanggilmu Taemin-ah, yang ku tau hanyalah alasan Big Boss memanggil Kai, dia akan memberimu tugas berat kepadamu, Kai” kata pria bernama Heechul itu.

“Arraseo, lebih baik kita segera menemuinya Taemin-ah, bisa-bisa kita dibunuh kalau kita membuatnya menunggu terlalu lama”

“Baiklah kalau begitu, kajja!” Taemin menarik tangan Kai mengajak masuk ke dalam ruangan Big Boss, sampai di depan pintu ruangan Big Boss Taemin memejamkan mata kemudian menelan ludahnya kasar, mulutnya berkomat-kamit tak jelas, Kai yang melihatnya hanya terkikik geli melihat tingkah laku sahabatnya ini.

Perlahan-lahan Taemin membuka pintu ruangan Big Boss di dalamnya terdapat seorang pria berusia sekitar 35-37 tahunan sedang duduk dikursi sambil menghisap cerutunya. Pria itu menyeringai melihat kedatangan kedua anak buahnya ini, tatapannya dingin dan menusuk, pria itu menyeringai membuat Taemin bergidik ngeri, berbeda dengan Kai, dia malah membalas tatapan pria itu dengan tatapan yang lebih dingin.

“Anak emasku Kai, dan sahabatnya sejak kecil Taemin…. senang sekali rasanya aku melihat kalian berdua datang, kenapa kalian tidak duduk dulu dan menikmati segelas French Wine yang baru aku impor tadi pagi?”

“Katakan saja apa maksudmu memanggil kami kemari” jawab Kai dengan cepat.

“Kenapa kau selalu tidak sabaran Kai? Apa kehilangan orang tua juga membuatmu kehilangan kesabaran?”

“Berhenti mengungkap hal itu lagi!!!” Kata Kai sedikit membentak.

Calm down, Kai… atau boleh ku panggil Kim Jongin seperti teman-teman sekolahmu itu?”

“Bisa kau langsung pada intinya saja??” tanya Kai mulai kehilangan kesabaran.

“ok kalau begitu, sepertinya rasa sabarmu memang sudah benar-benar hilang. Kai, kau taukan kenapa aku memberimu nama Kai? Karena kau lah yang berhasil membuka pintu keberhasilan organisasi ini, sekarang aku ingin kau lebih mempeluas keberhasilan ini dengan membunuh pemilik hotel Paradise di Jeju, dengan begitu aku akan menjadi pemilik saham terbesar disana, bahkan bisa saja aku akan menjadi pemilik hotel nomor satu di Jeju itu, dan untuk kau Taemin, aku tau keahlianmu adalah dibidang IT, aku akan memasukkanmu sebagai salah satu staff IT disana, setelah itu salin semua data dan sadap semua komunikasi hotel itu, hubungkan dengan kantor organisasi ini, dengan begitu aku bisa mengetahui seluk beluk keadaan disana dan mungkin saja ada yang bisa ku gunakan untuk menggulingkan pemilik hotel itu.”

“Kapan bisa kita mulai?” tanya Kai

“Besok”  jawab pria itu singkat.

“Ne?? Besok?? Bagaimana dengan sekolah kami??” Sahut Taemin

“Aku sudah mengurusnya, jangan khawatir, lagi pula yang ku dengar Kim Jongin adalah biang onar disekolah jadi aku rasa dengan kepergian Kai sementara ke Pulau Jeju sementara untuk menjalankan misinya akan berpengaruh positif pada sekolah”

Taemin menahan tawanya, memang kata Big Boss ada benarnya.

“Bisa kau beritahu aku siapa dan bagaimana pemilik hotel itu?” Sahut Kai kemudian.

“Namanya Kim Junsu, ini fotonya” pria itu melemparkan sebuah foto kehadapan Kai, Kai mengambil foto itu, melihatnya sejenak kemudian memasukannya kedalam saku.

“Taemin-ah.. kau bisa keluar, sedangkan Kai, masih ada yang perlu aku bicarakan denganmu”

Taemin hanya membungkuk kemudian keluar, sedangkan Kai menatap pria didepannya ini dengan tatapan yang lebih dingin dari sebelumnya.

“Kai-ah…” Kata pria itu datar.

“Kemarin kau berhasil membunuh JYP dengan sukses, aku sangat bangga padamu, dan ku dengar kau dapat bayaran yang tidak sedikit dari si tua Kim Youngmin itu, apa itu benar?”

“Tanpa memberitahumu kau pasti sudah tau”

“Kai-ah… Kenapa kau tidak memanggilku Kangta hyung saja? Bukankah aku ini adalah hyungmu?”

“Cih” Kai membuang mukanya mendengar perkataan Kangta barusan. Kangta hanya menyeringai.

“Kau tau Kai, entah kenapa tiba-tiba aku sangat menginginkanmu menjadi adikku… tapi aku mengerti kau tidak akan mau walaupun jaminannya adalah seluruh hutang orang tuamu kepadaku akan ku anggap lunas”

“Lebih baik aku mati dari pada menjadi adikmu, kau pembunuh!!!!” Kata Kai dengan sedikit membentak.

“Hahahahaha…..” Tawa Kangta mengumandang di dalam ruang itu.

“Kai-ah…. kau juga seorang pembunuh, apa kau lupa itu?? Bahkan sepanjang yang aku tau kau kini bahkan lebih ahli dari pada aku sendiri, apa kau masih menaruh dendam kepadaku atas kematian orang tuamu? Oh, c’mon…. bukan salahku jika aku membunuh orang tuamu, itu salah mereka sendiri karena tidak segera melunasi hutangnya padahal tanggal jatuh tempo telah terlewat, aku bahkan masih berbaik hati memberikan mereka tenggang waktu satu minggu…” Kata Kangta kemudian menepuk pundak Kai.

Tangan Kai mengeram, ingin sekali rasanya menonjok orang di depannya ini sampai babak belur.

“Bahkan aku rasa aku sangat beruntung telah membunuh mereka, aku bisa mendapatkanmu, seseorang dengan insting setajam srigala yang akhirnya dapat membuka jalanku secara perlahan-lahan untuk menguasai sektor bisnis Korea”

Kai semakin mengeratkan kepalan tangannya, matanya merah karena menahan marah. Tapi kemudian kepalan tangannya mulai mengendur, dia kemudian menyeringai.

“Kau tau Kangta… atau yang bisa ku panggil Ahn Chilhyun, aku rasa kau orang terbodoh yang pernah ku temui, kau tau, semua bayaran darimu dan dari ‘klien’ semuanya kutabung, apa kau tidak penasaran berapa jumlahnya? Biar aku beritahu, semuanya hampir 7 miliar won,bahkan aku bisa melunasi hutang orang tuaku beserta bunganya sekarang juga, jumlahnya 5 miliar won kan? Aku bahkan mempunyai sisa banyak. Dan apakah kau ingin tau apa tujuan hidupku setelah melunasi hutang orang tuaku? Tujuan hidupku adalah mem-bu-nuh-mu” Kata Kai dengan berbisik di telinga Kangta.

Kai menegapkan badannya kemudian menyeringai, dia menikmati kepanikan di wajah Kangta saat ini, walaupun kangta berusaha tetap bersikap tenang dan wajar, tapi mata elang Kai mampu menangkap raut panik yang ada dalam wajah itu.

“Ahn Chilhyun… kau tidak usah panik, aku tidak akan membunuhmu sekarang, aku masih berbaik hati menyelesaikan perintah terakhirmu untuk membunuh Kim Junsu itu, setelah itu baru aku akan mengeksekusi dirimu, bukankah aku sangat baik hati, Kangta hyung?”

Mata Kangta terbelalak lebar mendengar ucapan Kai, dia tidak menyangka kalau akan begini, semua rencananya yang ingin ia sampaikan kepada Kai tadi gagal, niat awalnya memanggil Kai adalah untuk menyuruhnya membunuh Kim Youngmin setelah selesai dengan tugasnya mengahabisi Kim Junsu, namun itu semua gagal, yang ia dapat hanyalah fakta bahwa saat ini kehidupannya mulai terancam, terancam oleh ‘anak asuh’nya sendiri, anak asuh yang dia ambil paksa setelah membunuh orang tuanya, anak asuh yang mempunyai gelar Black Gun di kalangan para pembunuh bayaran, dia adalah Kai, pembunuh paling ditakuti saat ini.

Selain rasa panik, Kangta sebenarnya juga heran, dari mana Kai mendapatkan keberanian untuk melawan kata-katanya? Bahkan Kai juga mengancamnya, padahal selama ini Kai yang ketahui adalah anak yang sangat diam, tidak pernah membantah perintah darinya dan sama sekali tidak berani menyanggah perkataannya, tapi hari ini?

Kai menepuk bahu Kangta sambil menyeringai, membuat Kangta tersadar dari kesibukan berpikirnya.

“Aku masih memberikan kesempatan kepadamu untuk menikmati hidupmu yang tinggal sedikit lagi, sekarang lebih baik kau istirahat dan mempersiapkan dirimu untuk menerima balas dendam yang sangat manis dari Kai, Sang Black Gun, aku pergi dulu……. Kangta hyung” Kata Kai sambil menunjukkan seringaian khasnya kemudian pergi meninggalkan Kangta yang masih terpaku di tempatnya karena perlakuan Kai.

-***-

Seorang pria berkulit agak gelap terlihat sedang duduk dan meminum soft drink yang ada ditangannya, pandangannya hanya menatap lurus kedepan, entah apa yang dia lihat. Sesekali dia mengehembuskan nafas berat, di minumnya lagi soft drink itu namun sepertinya isinya telah habis, dia mengocok-ocok kaleng itu untuk memastikan, setelah merasa yakin bahwa minuman itu telah habis dia melemparkan kaleng kosong itu ke tempat sampah di dekatnya.

Pria itu kembali menatap lurus ke depan, di lihatnya beberapa orang yang lewat di depannya, diperhatikannya tingkah laku mereka, pada tengah malam seperti ini memang sangat jarang ada orang yang masih terjaga, bahkan hampir tidak ada, kecuali mungkin beberapa orang yang sekedar mencari udara malam untuk menenangkan pikiran seperti yang dilakukannya saat ini.

Tiba-tiba seorang pria asing duduk di samping pemuda berkulit agak gelap itu, sontak saja pemuda itu terperanjat kaget.

“Ketika kau seperti ini sisi gelapmu tidak terlihat, kau hanya seperti seorang remaja polos yang sedang mengahadapi masalah, Kai….”

Pemuda yang ternyata Kai itu terperanjat kaget, dia menoleh ke arah pria di sampingnya itu, dia tidak mengenal orang di sampingnya ini, tapi bagaimana pria ini bisa tau namanya?

“Kau pasti kaget karena aku mengetahui namamu ‘kan? Tapi sejujurnya aku tidak suka memanggilmu dengan Kai, karena itu adalah nama samaranmu ketika menjalankan profesimu, aku lebih suka memanggilmu dengan Jongin, terdengar begitu jujur dan polos”

Kai yang masih belum terlepas dari keterkejutannya di buat makin terperanjat dengan perkataan orang tersebut, orang di sampingnya ini seperti sangat mengenal dirinya, namun Kai tidak pernah merasa bertemu orang di sampingnya ini sebelumnya.

“Nuguseyo?” akhirnya satu perkataan terlontar dari mulut Kai.

“namaku Onew, aku bagian lain dari jiwa guardian Aiden yang bahkan Ryeowook hyung tidak mengetahuinya, MAMA bisa melihatku tanpa menyentuh jantung Tree of Life terlebih dahulu, hanya para MAMA dan segala hal yang berhubungan dengan Tree of Life yang bisa melihatku, orang biasa tidak akan bisa melihatku.”

“Ne? Apa maksud anda?” tanya Kai yang bingung mendengar orang yang ada disebelahnya ini, Kai malah berpikir bahwa orang disampingnya ini sedikit gila.

“Aku tidak gila Kai, aku bisa membaca pikiranmu, untuk saat ini aku tidak akan memberitahumu, akan ku biarkan kau menjalankan perintah dari Kangta untuk membunuh Kim Junsu itu, dan akan ku biarkan kau untuk membalaskan dendammu kepada Kangta, setelah semua urusanmu selesai aku baru akan menceritakannya kepadamu, namun satu hal yang perlu kau ketahui, kau adalah seorang MAMA”

Kai makin terperanjat, bagaimana orang ini sangat mengetahui dirinya? Dan apa itu MAMA? Dilihatnya orang itu tersenyum kemudian menepuk bahunya.

“Aku sangat mengetahuimu karena selama ini aku selalu berada di sampingmu, aku sengaja tidak menampakkan diriku kepadamu karena aku menunggu saat yang tepat, dan aku rasa saat ini adalah saat yang tepat untuk menunjukkan diriku, apakah kau tidak pernah merasa kau selalu terlindungi Jongin? Selama ini akulah yang melindungi dan menjagamu, apalagi setelah kematian orang tuamu, apa kau tidak merasa aneh ketika tiba-tiba kau mempunyai kemampuan untuk membunuh dan mempunyai insting yang kuat? Apa kau tadi tidak merasa heran dari mana keberanianmu tadi berasal untuk menyanggah dan mengancam Kangta? Itu semua karena aku ada di sampingmu, bahkan terkadang aku masuk ke dalam dirimu, mungkin sedikit tidak sopan karena aku telah berani mengontrol pikiran dan tubuhmu, tapi itu semua untuk melindungimu, bagiku, kau hanya anak kecil polos yang harus dilindungi.”

Lagi- Kai tidak bisa berkata apa-apa mendengar perkataan orang disampingnya ini, memorinya kembali mengingat saat dia bisa melakukan hal-hal yang bahkan ia pikir itu tidak mungkin dilakukan, membunuh seorang gembong mafia, membunuh pemilik M Corp dan masih banyak lagi, dia juga mengingat ketika dirinya hampir dibunuh oleh suruhan istri M Corp, orang itu tiba-tiba terjungkal dan menembakkan pistolnya ke kepalanya sendiri, jadi selama ini dia….. ada yang melindungi.

“Jongin-ah…. aku rasa aku tidak perlu memasuki dirimu lagi ketika kau akan melakukan hal yang sulit, karena tubuh dan otakmu telah merekam semua hal yang bisa dibilang aku ‘ajarkan’ kepadamu. Semuanya akan bergerak secara otomatis karena kau adalah seorang MAMA. Aku hanya akan membantumu dari jauh agar tugasmu lebih mudah, tapi kau tenang saja, aku selalu melindungimu, aku pergi dulu, jika kau membutuhkanku, cukup pikirkan aku saja, aku akan langsung berada disampingmu” kata pria itu kemudian dalam sekejap ia menghilang.

“Mwoya??!! Kemana orang itu pergi?? Apa dia bisa menghilang??” Kata Jongin kaget sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dicarinya orang itu namun yang ia lihat hanyalah jalanan yang sudah sunyi, untuk sejenak Jongin merasa merinding, dia melihat jam tangannya, sudah pukul 2 pagi, sebaiknya dia segera pulang ke rumah.

-***-

Drrtttt Drrttt Drrttt…

Handphone Jongin bergetar, dengan malas dan mata yang masih terpejam Jongin meraih handphone yang ada di bantalnya itu, dilihatnya sekilas layar handphonenya kemudian dia menekan tombol answer dan meletakkan handphonenya itu ditelinganya.

“Yoboseyo….” Kata Jongin dengan suara yang masih serak khas orang bangun tidur.

“Yoboseyo… Kai-ah… jangan bilang kau masih tidur” kata orang di sebrang sana.

“Kalau aku tidur aku tidak mungkin mengangkat telponmu bodoh,.”

“Ahh.. benar juga, hehe”

“Ada apa kau menelponku pagi-pagi begini, Taemin-ah…”

“Mwo??!! Pagi katamu???!! Ini sudah jam 8!!!” Teriak Taemin, sontak Jongin langsung menjauhkan handphone itu dari telinganya.

“Ya!!! Kau mau membuatku tuli??? Jangan berteriak!!! Jam 8 itu masih pagi bodoh, sebenarnya apasih maumu???” Balas Jongin emosi.

“Mian…. tapi apa kau lupa tugas kita hari ini? Kita harus ke pulau Jeju, aku sudah menerima tiket pesawat dan kunci villa Big Boss, pesawat kita akan kesana 2 jam lagi, jadi cepatlah bersiap-siap!”

“Arrasseo… lagi pula masih ada waktu 2 jam, kita tidak akan terlambat, kau tenanglah”

“Baiklah kalau begitu, kita bertemu dibandara 1 setengah jam lagi”

“Geure…”

“Aku tutup teleponnya”

“Hmm”

Tuuttt…

Sambungan telepon antara Taemin dan Jongin terputus, dengan malas Jongin bangkit dari tempat tidurnya kemudian berjalan kearah kamar mandi.

-***-

@Paradise Hotel, Jeju Island.

Taemin sedang berkutat dengan komputernya diruang IT, dengan sangat hati-hati dia menyelipkan chip kecil kedalam komputer server yang merekam seluruh kegiatan dihotel tersebut agar dapat terhubung dengan kantor organisasinya.

Mata Taemin berubah menjadi tajam, dia terus saja mengamati masing-masing monitor yang ada diruangan tersebut, matanya juga tak pernah terlepas dari TV layar LED yang merekam kegiatan rapat para pemegang saham di hotel tersebut.

‘kebetulan sekali’ batin Taemin, tak lama kemudian seseorang terlihat memasuki ruang rapat tersebut, mata Taemin melebar, di zoomnya fokus kamera ke orang tersebut dan benar saja,  orang itu memang targetnya. Taemin kemudian mencari nama di phonebooknya, setelah ketemu dia segera menghubungi orang tersebut.

Target locked, dia sedang rapat bersama pemilik saham di ruang rapat”

“dimengerti” jawab suara dari sebrang.

Tuttt….

Panggilan terputus, Taemin menyandarkan tubuhnya ke kursi dibelakangnya.

“Ahhhh…. ini lebih mudah dari biasanya sepertinya Tuhan memang sedang baik kali ini” Kata Taemin sambil merentangkan tangannya.

-***-

Setelah mendapat telepon dari Taemin, Kai berjalan menuju tempat targetnya, dia mencari titik yang tepat untuk membidik sang target. Tak lama kemudian, beberapa orang keluar dari dalam ruang rapat, mata elangnya mencari sosok sang target, seringaiannya muncul ketika target yang dicarinya terlihat.

“There you’re…” gumannya.

Dengan tangan yang sudah siap dengan senjata dia mencari titik yang paling vital untuk ditembak, senjatanya adalah pistol tanpa suara yang memang sengaja ia pilih agar tidak menimbulkan keributan ketika ia menembak, setelah merasa titik bidikannya sudah tepat, Jongin menembakkan satu peluru dan tepat menembus jantung si target. Dilihatnya targetnya itu memegangi dadanya yang kemudian mengeluarkan darah, targetnya jatuh terkapar, Jongin yakin bahwa orang itu sudah meninggal karena peluru yang ditembakkannya bukan hanya timah panas biasa, timah panas itu sudah ia beri racun mematikan didalamnya.

Jongin meniup ujung pistolnya kemudian memasukkannya ke dalam saku celanannya. Dia kemudian mengambil handphonenya dan menelpon seseorang.

“Target cleared, just wait your turn..” katanya kemudian menutup sambungan telponnya. Jongin meninggalkan tempat yang kini mendadak ramai akibat adanya tembakan tak terduga itu, semua orang mengerubungi jasad target yang telah di tembak Jongin itu, jasad itu adalah jasad pemilik hotel ini, jasad Kim Junsu.

-***-

Jongin berjalan menyusuru pesisir pantai pulau Jeju, angin laut menerpa wajahnya, memberi kesan polos pada pria yang kini tengah menutup matanya itu.

“Kau seperti malaikat…..”

Jongin membuka matanya dan menoleh, Onew, pria itu lagi.

“Jongin-ah…. apa kau tau betapa bahagianya aku ketika melihat wajah polosmu itu? I was wondering when I can see your innocence face and smile completely, whitout any fear and hardship which you’ve been trough all this time.”

I was wondering that too….” ucap Jongin lirih.

Onew meloleh, dia tersenyum, dia tau, walaupun Jongin andalah pembunuh profesional, didalam hatinya masih ada malaikat kecil yang selalu mengiringi langkahnya dan mengarahkannya ke jalan yang baik, walaupun kini malaikat itu masih tersembunyi…. tersembunyi dibagian hati Jongin yang paling dalam.

“Jongin-ah…..” Panggil Onew, Jongin hanya menoleh.

“Hm?”

“Cepat balaskan dendanmmu, aku ingin segera memberitahumu tentang siapa sebenarnya dirimu” Kata Onew kemudian menghilang.

Jongin hanya menghembuskan nafas beratnya, dia memejamkan matanya lagi, merasakan hembusan angin laut yang terus saja menerpa wajahnya lembut.

-***-

“Bunuh dia sebelum sampai di Seoul” Perintah Kangta pada orang disebrang telepon.

“Diterima” Jawab orang tersebut.

I trust you….” Kata Kangta kemudian menutup sambungan telepon, meskipun dia sedikit lega namun tidak bisa ia pungkiri bahwa saat ini hatinya sedang sangat gusar, walaupun dia telah menyuruh orang yang paling ia percaya, tapi tetap saja rasa gusar dihatinya tidak mau hilang. Sekali lagi dia mengambil nafas panjang kemudian menghembuskannya, mencoba untuk tenang mungkin.

-***-

@Incheon Airport.

Dua orang pria yang mempunyai wajah mirip satu sama lain keluar dari pintu masuk bandara sambil membawa sebuah koper kecil, mata mereka menatap sekeliling berusaha mencari taksi untuk mengantar mereka pulang ke rumah.

Tiba-tiba salah satu dari mereka –yang berkulit lebih gelap- menunduk sambil meraih teman disampingnya itu untuk menunduk bersama, tiba-tiba suara tembakan terdengar. Orang-orang mulai berteriak, seseorang tertembak, seorang wanita tua yang sepertinya juga baru saja selesai melakukan perjalanan. Sebagian orang yang ada di bandara berlari berusaha mencari tempat sembunyi karena takut, sebagian lagi mengelilingi wanita tua yang tertembak tadi, dan yang lainnya melakukan aktivitas mereka seperti biasa seperti tidak terjadi apa-apa.

“Kai-ah~ mwoya ige?” tanya Taemin, laki-laki yang tadi di’selamatkan’ oleh Kai.

Kai tidak menjawab, mata elangnya melihat sekeliling, menyisir setiap sudut bandara, mencari apa ada sesuatu yang mencurigakan.

“Kai-ah…..” panggil Taemin lagi, dia masih berada di dekapan Kai, dia merasa takut.

Lagi-lagi Kai tidak menjawab, mata elangnya terus saja menyisir seluruh sisi bandara sampai akhirnya dia melihat seorang pria memakai jaket kulit hitam, celana jeans berwarna pink dan memakai kacamata hitam, orang itu melihat Kai sekilas namun ketika pandangan mereka bertemu dia terlihat seakan sengaja mengalihkan pandangannya. Pria itu berada di pilar di dekat tempat parkir.

“GD….” Kata Kai lirih.

“Mworago?” Tanya Taemin karena dia tidak terlalu mendengar kata Kai barusan. Kai menoleh kepada Taemin, menatapnya tajam, nyali Taemin menciut melihat tatapan tajam sahabatnya ini. Dia paling takut dengan itu.

“Sstt.. diamlah Taemin-ah…” Perintah Kai, Taemin hanya mengangguk.

Kai kemudian merogoh saku celananya mengeluarkan pistol tanpa suaranya itu kemudian mulai membidik targetnya, satu tembakan terlepas, tanpa suara namun tepat sasaran. Pria yang berada di samping pilar itu kemudian memegangi jantungnya yang kini mengeluarkan darah, dia ambruk, beberapa wanita yang kebetulan lewat di sampingnya menjerit. Mendengar sebuah keributan para petugas bandara berlari ke arah tempat parkir dan menemukan seorang pria ‘nyentrik’ dengan dada yang mengeluarkan darah.

Kai yang melihat itu hanya menyeringai kemudian memasukkan senjatanya kedalam saku celana. Terkadang Kai heran kenapa dia tidak pernah ketahuan membawa sejata di bandara padahal dia jelas-jelas mengantongi beberapa senjata di bajunya, namun Kai rasa kini ia tau jawabannya, mungkin ini karena orang bernama Onew itu.

Target cleared…” Guman Kai.

“Kai-ah…” Panggil Taemin lagi.

“Wae??” Kata Kai dengan senyum yang sangat cerah, membuat kening Taemin berkerut.

“Si… Siapa yang kau bunuh?” Kata Taemin terbata-bata.

“GD” Jawab Kai singkat.

“MWO??? Ya!!! Neo micheosseo??? Bagaimana kalau Big Boss membunuhmu???!!”

“Kau tenang saja Taemin-ah, si tua Ahn Chilhyun itu tidak akan bisa membunuhku, kau tau Taemin-ah… tadi GD berencana membunuhku atas suruhan si tua Ahn Chilhyun itu, namun gagal, kau tau kan aku mempunyai insting setajam serigala?”

“Mwo???” Mata Taemin membesar mendengar penuturan Kai “Bagaimana Bisa???”

“Karena si tua Ahn Chilhyun itu adalah targetku selanjutnya, kau tau kan aku sangat dendam kepadanya?”

“Keunde Kai-ah…”

“Kau jangan khawatir…” Kata Kai sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu. Kai kemudian melihat jam tangannya, sudah pukul 10 siang, tiba-tiba langit menjadi gelap, Kai heran, apa sekarang ini mendung? Kai melihat ke langit, dilihatnya matahari sedikit demi sedikit tertutupi oleh bayangan hitam.

Solar elipse….” guman Kai.

“Kai-ah… palai kacamatamu! Kau bisa buta jika tidak memakai kacamata!” teriak Taemin, namun Kai tidak mendengar , dia masih saja menatap gerhana matahari itu, ketika matahari hampir spenuhnya tertutupi, Kai mulai merasa dadanya sesak, sangat sesak hingga dia tidak mampu menahan. Dicengkeramnya dadanya itu untuk meluapkan rasa sakitnya. Tapi sepertinya ia sudah tidak tahan lagi.

“AAARRKKKHHH” Teriak Kai kemudian semuanya gelap.

-***-

Jongin perlahan membuka matanya, matanya melihat sekeliling, ini….. ini dikamarnya, Jongin kaget kemudian melompat ke samping ranjangnya, dia menoleh ke arah pintu, pintu kamarnya sedikit terbuka, dia ingin membuka pintu itu, baru saja dia melangkahkan kakinya dia sudah sampai di pintu itu.

“Mwoya?” Jongin kaget, kenapa dia bisa berpindah tempat dalam satu detik?

“Ternyata kau mendapatkan kekuatanmu sekarang…” Jongin menoleh ke arah sumber suara, dilihatnya Onew berada di pojok ruangan bersandar sambil melipat kedua tangannya.

“Maksudmu?”

“Aigoo… tidak ku sangka kau mendapat lambangmu ketika gerhana sang Dragon, bahkan sekarang ada lambang lagi, tanda hexagon itu, tanda jantung Tree of Life” Kata Onew tanpa menjawab pertanyaan Kai.

“Apa sebenarnya yang kau katakan?” Kata Jongin sedikit emosi.

“Lihat punggung tangan kananmu”

Jongin melihat punggung kanannya, dilihatnya lambang segitga dengan ukiran tidak jelas di tengahnya, dia membelalakkan matanya lebar-lebar. Baru saja Jongin ingin bertanya tentang apa ini, Onew menyuruhnya untuk melihat leher sebelah kanannya.

“Sekarang lihat leher sebelah kananmu”

Jongin baru saja melangkahkan kakinya satu langkah, tapi dia sudah sampai ke depan kaca.

“What the hell it is?” Jongin meruntuki dirinya sendiri ketika melihat sebuah tanda berbentuk hexagon di leher kanannya.

“Kau seorang teleport…”

“teleport?”

“Hm, kau mempunyai kekuatan untuk berteleportasi, atau lebih mudahnya kemampuan untuk berpindah tempat dalam hitungan detik.”

“How can that be?” Tanya Jongin heran.

“Akan aku jelaskan ketika balas dendammu sudah selesai, oh iya, kalau kau ingin berjalan normal, jangan pikirkan tempat manapun, karena jika kau memikirkan suatu tempat dengan satu langkah kau akan sampai di tempat tersebut” Jelas Onew kemudian menghilang.

“Kai-ahhhh!!!!!!!” Tiba-tiba Kai mendengar suara Taemin memanggilnya, tidak lama kemudian Taemin memasuki kamarnya.

“Ya!!! Kenapa kau meninggalkanku sendiri di pulau Jeju setelah menyelesakan misimu eoh??? Kau kan tau aku takut sendiri!!!! Dan kau tau?? Saat di bandara tadi GD hyung tertabrak dan meninggal di tempat!!”

“Mwo??? Bukannya……” belum selesai Kai mengucapkan kata-katnya tiba-tiba ia mendengar sebuah bisikan.

‘jangan katakan apapun tentang kekuatanmu, ingatan temanmu telah di cuci agar tidak mengingat kejadian yang sebenarnya’

“Bukannya….” Kata Taemin mengulangi apa yang dikatakan Kai sebelumnya.

“Ahh.. Aniya, kau ingin aku buatkan minum?”

“Ani, aku hanya ingin tidur sekarang, aku tidur, bangunkan aku kalau sudah sore”

“Geure,” Kata Kai singkat, Taemin merebahkan tubuhnya diatas ranjang Kai, dalam sekejap ia sudah berlayar ke alam mimpi, Kai terkikik geli melihat temannya itu, selagi tertawa pengelihatannya menangkap sebuah senjata yang terletak di meja disamping ranjangnya, dia kemudian menyeringai, diambilnya senjata itu, Kai memejamkan matanya kemudian melangkahkan kakinya satu langkah, ketika dia membuka mata, benar, dia sekarang berada di ruangan Kangta, dilihatnya Kangta sedang tertidur di sofa bersama seorang wanita dngan tubuh yang sama-sama naked, Kai jijik melihatnya, dilihatnya sebuah pisau yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, dalam sekejap dia sudah berada di tempat pisau tersebut, Kai memakai sarung tangannya kemudian mengambil pisau itu.

Kai melangkahkan kakinya lagi, dalam sekejap kai sudah berpindah ke sofa tempat Kangta dan wanita itu berbaring, dengan 2 kali tembakan tepat mengenai jantung, kedua orang itu benar-benar tertidur selamanya. Sebagai penutup Kai menacapkan pisau tadi tepat di perut Kangta dan menariknya miring, membuat seluruh isi perut Kangta keluar, Kai menyeringai puas, di buangnya pisau itu ke sembarang tempat.

Kai masih memandangi 2 sosok tak bernyawa itu ketika sebuah suara memanggil namanya.

“Jongin-ah….” Kai menoleh, dan benar saja, itu Onew.

“Aku akan memberitahumu segalanya sekarang” Katanya lagi, Onew menggandeng tangan Kai, tiba-tiba mereka sudah ada di pinggiran sungai Han.

“Jongin-ah… kau adalah seorang MAMA” ucap Onew, Onew kemudian menceritakan seluruhnya kepada Kai, sama persis seperti yang Ryeowook ceritakan ke MAMA lain.

“Keunde Jongin-ah… aku takut MAMA lain yang belum mengerti asal usul mereka tidak akan bisa mengontrol kekuatan mereka, jika itu terjadi, maka akan terjadi bencana besar di bumi ini, bencana yang berhubungan dengan kekuatan mereka masing-masing, oleh karena itu sekarang aku mohon kepadamu, cari MAMA lain sebisamu, yang mempunyai tanda hexagon dileher mereka, setelah kalian bersama, carilah pemimpin kalian, sang Dragon, namun sepanjang yang aku tau kini Phoenix, Dragon, dan Droplet sudah bersama, yang jelas aku mohon kepadamu temukan MAMA lain secepatnya.

“Kau akan menemaniku kan hyung?” Kata Kai kemudian.

“Hyung???” Tanya Onew kaget.

“Apa tidak boleh?” tanya Kai lagi, kali ini diajahnya tersirat kekhawatiran.

“Tentu saja boleh” Kata Onew tersenyum sambil mengacak rambut Kai, “Hyung akan selalu ada untuk membantu dan  melindungimu” tambahnya.

Kai tersenyum, matanya kemudian menatap pemandangan indah sungai Han di depannya.

-TBC-

Iklan

14 thoughts on “History Of MAMA : Character Profile : Kim Jongin : “Dark Side, Hidden Angel”

  1. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Do Kyungsoo : “Fear of Beast, Incridible”

  2. Ping-balik: Acha's Blog | History Of MAMA : Character Profile : “Xi Luhan : A Perfect Flower Boy”

  3. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Oh Sehun : “Truth Behind His Poker Face”

  4. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Kim Minseok : “Her Betrayal, His Revenge”

  5. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Kim Jongdae : “Mother Loves Remain Forever”

  6. Ping-balik: Acha's Blog | History Of MAMA : Character Profile : Huang Zi Tao : “Runaway, Burdened Rules”

  7. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Byun Baekhyun : “Shining Power, Shining Person”

  8. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Zhang Yixing : “A Kind Healer”

  9. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA Chapter 1

  10. Ping-balik: History of MAMA Chapter 2 | Acha's Blog

  11. Ping-balik: History of MAMA Chapter 3 | Acha's Blog

  12. Ping-balik: History of MAMA Chapter 4 | Acha's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s