History of MAMA : Character Profile : Do Kyungsoo : “Fear of Beast, Incridible”

D.O

History of MAMA

Title : History of MAMA

Author : lee_acha96 a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brothership, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Cast : EXO Member and other (find by yourself)

-History of MAMA-

Character Profile:

Do Kyungsoo : “Fear of Beast, Incridible

Summary :

“keanehan terjadi, bagaimana mungkin badan mungil Kyungsoo terasa sangat berat?”

-***-

A/N : Yahah~ views nya makin banyak, author sangat bahagia walaupun tak ada coment

Typo(s) bertebaran

part sebelumnya-> Chanyeol, Kris, Suho, Kai

-***-

“Ya!!! Apa kau benar-benar niat membersihkannya, heuh? Kenapa semua ini masih berantakan???!!!” Kata seorang wanita paruh baya sambil memukul kepala namja mungil di depannya.

“Masih bagus aku mau menampung dan menyekolahkanmu!! Apa kau tau? Biaya sekolahmu itu tidak sedikit!! Apa kau ingin berhenti sekolah, heuh???!!” kata wanita itu lagi-lagi sambil memukul kepala namja mungil di depannya. Namja itu hanya diam sambil menunduk.

“Ya!!!! Kenapa kau tidak menjawabku??! Apa kau ingin berhenti sekolah, Do Kyungsoo???” teriak wanita itu dengan suara yang makin meninggi.

“A… Animida imonim…” Jawab Kyungsoo terbata-bata.

“Kalau begitu cepat bersihkan halaman belakang rumah!! Dan jangan lupa bersihkan kotoran di kandang ayam, kalau kau tidak membersihkannya kau tidak akan memberimu makan malam, aku akan mengeceknya 2 jam lagi, kau jangan sekali-kali berani melawan perintahku! Mengerti?!”

“Ne.. Imonim”

Wanita itu pun pergi meninggalkan Kyungsoo, Kyungsoo kemudian berjalan ke halaman belakang rumah untuk membersihkannya juga membersihkan kandang ayam, saat Kyungsoo sedang membersihkan kandang ayam, tiba-tiba seorang wanita yang terlihat lebih tua dari Kyungsoo menghampirinya.

“Kau di paksa eomma untuk bekerja membersihkan kandang ayam lagi?” Suara lembut wanita itu membuat Kyungsoo menoleh, Kyungsoo tersenyum kemudian melanjutkan tugasnya membersihkan kandang ayam.

“Kenapa kau tidak melawan saja Kyungsoo-ah… kau ini namja kan?” Kata wanita itu lagi. Kyungsoo menoleh lagi kepada wanita itu dan tersenyum lagi.

“Untuk apa aku melawan imonim? Aku melakukan ini karena ini memang sudah seharusnya noona, yah… bisa dibilang ini adalah salah satu ucapan terima kasihku kepada imonim karena mau merawat dan menyekolahkanku” kata Kyungsoo kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Keundae Kyungsoo-ah… apa kau tidak berpikir eommaku sangat keterlaluan? Eomma ku bahkan baru memperbolehkanmu istirahat jam 10 malam, walaupun aku anak kandungnya tapi aku tidak terima kau di perlakukan seperti itu! Aku yakin kau pasti tidak punya waktu belajar dan kurang tidur kan?”

Kyungsoo menghembuskan nafas berat mendengar ocehan noonanya. Dia menegapkan tubuhnya kemudian menatap mata noonanya.

“Taeyeon noona, kalau seandanya imonim tidak menampungku setelah kematian kedua orang tuaku dan appa noona, aku tidak tau aku akan dimana sekarang, dan juga… bagaimanapun imonim adalah istri dari pamanku, jadi aku sangat menghormatinya, kalau masalah waktu belajar noona tidak usah khawatir, aku selalu belajar mulai jam 10-12, kemudian tidur, untuk seorang namja sepertiku aku rasa waktu tidurku sangat cukup, terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku noona…”

Sebulir air mata keluar dari mata kiri Taeyeon, jika air mata keluar dari sebelah kiri berarti itu menandakan bahwa air mata itu adalah air mata kesedihan, Kyungsoo yang melihat itu menatap noonanya bingung.

“Noona, kenapa kau bersedih?” Tanyanya. Taeyeon tidak menjawab, dia tiba-tiba memeluk Kyungsoo, dongsaeng yang sudah dianggapnya adik kandung sendiri.

“Noona, wae geure?” Tanya Kyungsoo heran karena noona-nya tiba-tiba memeluknya.

“Seandainya appa masih hidup, dia pasti akan membelamu, mianhae aku tidak bisa membelamu Kyungsoo-ah… maafkan aku yang hanya diam saja ketika kau menderita… maafkan aku yang tidak bisa melindungi dongsaeng  kesayanganku ini, aku benar-benar seorang noona yang bodoh, aku bahkan mebiarkan dongsaengku menderita seorang diri selama ini tanpa tempat bersandar, jinjja mianada Kyungsoo-ah… Mianhae… Mianada…”

“Untuk apa noona minta maaf? Bukankah selama ini selalu ada untukku ketika aku membutuhkanmu? Kenapa noona sekarang mengatakan bahwa noona membiarkanku sendiri? Noona…. apakah noona tau betapa aku menyayangi noona? Setelah appa dan eommaku meninggal karena kecelakaan beberapa tahun lalu, Kim Ahjussi dan noona selalu ada untuk menghiburku, bahkan Kim Ahjussi mengangkatku sebagai anaknya, apakah noona tau betapa bersyukurnya aku kepada Tuhan saat itu karena aku diizinkan untuk memiliki keluarga sekali lagi? Neomu haengbokhaeyo noona, bahkan sampai sekarang aku merasa bahagia”

Taeyeon semakin mengeratkan pelukannya kepada Kyungsoo. Air matanya semakin deras mengalir.

“Uljima noona, noona taukan aku paling benci melihat noona menangis?” Kata Kyungsoo kemudian.

“Kyungsoo-ah…” Panggil Taeyeon lirih.

“Ne?”

“Bisakah kau membalas pelukanku? Aku ingin dipeluk oleh dongsaeng kesayanganku” Kyungsoo tersenyum kemudian membalas pelukan noonanya. Mereka berpelukan untuk beberapa saat, meluapkan emosi masing-masing.

“Noona, aku rasa sudah cukup noona memelukku, aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku, nanti imonim akan marah kalau melihat kandangnya belum bersih.” Taeyeon kemudian melepaskan pelukannya kepada Kyungsoo.

“Aku akan membantumu” Kata Taeyeon sambil mengusap air matanya. Kyungsoo tersenyum kemudian menggeleng.

“Aaa Wae???!!!!” Teriak Taeyeon tidak terima.

“Karena jika noona membantuku dan imonim tau, aku pasti tidak boleh tidur di dalam kamar, noona tau kan imonim sangat menyayangi noona?”

“Cih, sayang macam apa yang melarang seorang noona untuk membantu dongsaengnya?”

“Noona, apa kau tidak mau menuruti dongsaengmu ini? Apa kau tega jika dongsaengmu ini nanti tidur di luar?”

“Ahh.. Arrasseo Arasseo, aku tidak akan membantumu, tapi nanti malam jangan kunci kamarmu!”

“W… w..wae? Apa yang mau noona lakukan kepadaku?” Tanya Kyungsoo tergagap. Taeyeon kemudian memukul kepala Kyungsoo.

“Appo…” keluh Kyungsoo sambil mengelus-elus kepalanya.

“Ya!!! Kau jangan berpikir macam-macam, aku hanya ingin mengantarkan camilan malam ke kamarmu agar kau bisa belajar dengan tenang!! Kau tau kan eomma baru tidur sekitar jam 11 malam, jadi aku bisa diam-diam ke kamarmu untuk mengantarkannya kemudian aku akan kembali ke kamarku!!!” Teriak Taeyeon emosi.

“Mianhae noona, tapi wajarkan aku mempunyai pikiran seperti itu, aku kan seorang namja”

“Ya!! Neo jinjja!! Apa kau mau di pukul lagi??”

“Aniyo aniyo aniyo…. mianhaeyo noona, sebaiknya noona sekarang ke dalam saja agar aku bisa segera menyelesaikan pekerjaanku” Kata Kyungsoo kemudian membalik tubuh Taeyeon dan mendorongnya agar masuk rumah.

Setelah Taeyeon masuk ke dalam rumah, Kyungsoo kemudian melanjutkan tugasnya untuk membersihkan kandang, dia membersihkan kandang dengan bahagia kali ini karena noona yang disayanginya ada untuknya, baginya noonanya itu semacam kekuatan untuk tetap tegar.

“Noona… seandainya kita berdua dilahirkan dari satu rahim yang sama aku pasti akan lebih bahagia” guman Kyungsoo sambil terus membersihkan kandang.

-***-

@Chunyang High School

“Kyungsoo-ah…” Seseorang memanggil Kyungsoo yang tengah memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya. Kyungsoo hanya melihat orang tersebut.

“Apa kau ada waktu siang ini?” Tanya orang itu.

“Ani, wae?”

“Aku dan teman-teman akan pergi memancing, akan lebih baik sebenarnya jika kau ikut”

“Apa hubungannya denganku?” Tanya Kyungsoo tidak mengerti.

“Karena semua yang memancing adalah namja tidak satupun dari kita yang bisa memasak, dan sepanjang yang aku tau kau bisa memasak dengan baik, maka dari itu kami ingin mengajakmu, lagi pula kau inikan sahabat kami”

“Maaf aku tidak bisa ikut,” Kata Kyungsoo menyesal.

“Bagaimana kalau hari minggu besok?”

“Jino-ah… kau tau kan bagaimana keadaanku?”

“Ara.. Keundae, kalau seandainya kita semua ke rumahmu dan meminta izin kepada bibimu apa dia mau mengizinkanmu?”

“Molla…” Kata Kyungsoo sambil mengangkat bahunya.

“Hmm.. kalau begitu minggu besok kita akan mencoba untuk meminta izin kepada bibimu? Otte?”

“Terserah kau saja, tapi kalau imonim tetap tidak mengizinkanku aku benar- benar minta maaf”

“Arrasseo..” Kata Jino.

“Aku pulang dulu kalau begitu” Kata Kyungsoo kemudian.

“Geure” jawab Jino.

-***-

@Kyungsoo’s home.

Di Minggu pagi yang cerah itu terlihat seorang namja mungil sedang sibuk membersihkan halaman depan rumahnya dengan telaten, sesekali dia disapa oleh tetangga yang kebetulan lewat, pria mungil itu tersenyum dan membalas sapaan mereka, ketika pria mungil itu akan masuk ke rumah tiba-tiba dia mendengar suara seorang namja memanggil namanya.

“Kyungsoo-ah…” Kyungsoo kemudian menoleh ke arah sumber suara.

“Jino? Daehyun? Kalian benar-benar kemari?”

“Tentu saja kami ke mari” Kata Daehyun.

“Apa kalian ingin meminta izin kepada imonim-ku?”

“Tentu saja, aku yakin aku bisa melunakkan hati imonim-mu itu” kata Jino dengan bangga.

“Tapi, apakah hanya kalian berdua yang akan memancing?”

“Ani, teman-teman yang lain langsung ke danau”

“oh..”

“Kyungsoo-ah?? Apa kau belum selesai? Kenapa kau lama sekali?” tiba-tiba teriakan wanita paruh baya terdengar dari dalam.

“Aku sudah selesai, imonim”

“Lalu kenapa kau….” wanita paruh baya itu kemudian ke depan, omongannya terputus ketika melihat dua teman Kyungsoo di depannya.

“Anneyeonghaseyo, Ahjumma…” sapa Jino dan Daehyun dengan sopan.

“Ah.. ne, kalian ini?”

“Kami teman sekolah Kyungsoo, nama saya Jino dan ini Daehyun” sahut Jino.

“oh, geure? Ada apa kalian kemari?” Tanya bibi Kyungsoo kemudian.

“Kami ingin mengajak Kyungsoo untuk memancing, karena selama ini Kyungsoo tidak pernah bisa ikut bermain dengan kami, maka dari itu kami mau meminta izin Ahjumma agar Kyungsoo kali ini bisa bermain dengan kami.” Jelas Jino panjang lebar.

Wanita itu menatap Kyungsoo, Kyungsoo hanya menunduk.

“Tidak apa-apakan Ahjumma? Ahjumma… Kyungsoo adalah salah satu teman terbaik kami, rasanya akan sangat kurang jika Kyungsoo tidak bisa ikut.” Rayu Jino dengan aegyo-nya.

“Ne, Ahjumma.. jebalyo…” tambah Daehyun.

Wanita tua itu kemudian menghembuskan nafas berat.

“Baiklah kalau begitu, akan ku izinkan Kyungsoo untuk bermain dengan kalian hanya hari ini saja”

“Jinjjayo? Kamsahamida Ahjumma!!!!” Kata Jino sambil melompat-lompat.

Sedangkan Kyungsoo yang tidak percaya kata-kata itu keluar dari bibinya hanya membelalakkan matanya.

“Ya! Kyungsoo-ah,kenapa kau tidak cepat ganti baju? Pakailah baju hangat, kau taukan musim gugur akan segera dimulai” Kata Daehyun sambil menepuk bahu Kyungsoo.

“Eh?” Kata Kyungsoo yang masih belum sepenuhnya tersadar dari keterkejutannya.

“Aigoo… cepat ganti bajumu” Tambah Jino.

“Emm..” Kyungsoo masih ragu.

“Aku mengizinkanmu hanya untuk hari ini, cepat ganti bajumu sebelum aku berubah pikiran” kata bibi Kyungsoo kemudian.

“N.. Ne.. Kamsahamida imonim…” kata Kyungsoo kemudian berlari menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.

-***-

Kyungsoo menyiapkan berbagai bahan dan peralatan untuk memasak ikan hasil pancingan temannya, raut wajahnya terlihat begitu bahagia, baru kali ini dia bisa bebas bermain, senyum lebarnya seperti enggan untuk meninggalkan wajah tampannya itu.

“Kyungsoo-ah!! Himchan mendapatkan banyak ikan!! Cepat ke sini!!!” Teriak Jino dari kejauhan.

“Iya!!!!” Teriak Kyungsoo kemudian berlari menuju ke arah Himchan.

“Himchan-ah…. mana ikan-ikannya?” Kata Kyungsoo setelah sampai di tempat Himchan.

“Igo….” Kata Himchan sambil menunjuk ke wadah besar berisi ikan.

Kyungsoo kemudian mengambil wadah itu kemudian melihatnya.

“Uwaaahh… kau berbakat” Puji Kyungsoo.

“Katakan apa yang tidak bisa aku lakukan, kekeke” Ujar Himchan menyombongkan diri sambil terkekeh.

“Kau memang yang terbaik Himchan-ah….”

“Ya Ya Ya!!!! Apa kalian mebawa kaca mata hitam?????” Teriak Daehyun tiba-tiba. Membuat pandangan semua orang langsung tertuju padanya.

“Aniyo, Waeyo hyung?” Tanya Junhong yang merupakan yang termuda diantara mereka semua.

“Sebentar lagi gerhana matahari?”

“Ne????” Teriak Junhong kaget. “eottokajyo?” Teriak Junhong panik.

“Pakai saja kaca mataku Junhong-ah” Kata Kyungsoo kemudian, Junhong menoleh ke arah Kyungsoo.

“Pakai saja kacamataku, kebetulan aku membawa kacamata hadiah dari noonaku tahun lalu”

“Hyung sendiri nanti bagaimana? Apa hyung tidak ingin melihat gerhana matahari?” Tanya Junhong.

“Aku tidak apa-apa, saat gerhana nanti aku hanya tinggal tidur, kekeke~” Kata Kyungsoo sambil tertawa kecil.

“Igo…” Kyungsoo memberikan kaca mata hitamnya kepada Junhong.

“Hyung gomawoyo….” Kata Junhong dengan berat hati, Junhong sebenarnya masih merasa bersalah karena membuat Kyungsoo tidak bisa melihat gerhana matahari. Junhong menundukkan kepalanya. Kyungsoo yang melihat itu hanya terkekeh sambil mengelus-elus kepala dongsaengnya itu.

“Aigoo.. Junhong-ah… gwenchana, tidak melihat gerhana bukan akhir dari segalanya.”

Junhong menatap Kyungsoo masih dengan tatapan bersalah, tiba-tiba langit mulai gelap, Kyungsoo melihat ke atas, gerhana matahari akan segera di mulai.

“Junhong-ah… cepat pakai kaca matamu!” Perintah Kyungsoo cepat, dengan cepat pula Kyungsoo kemudian menutup matanya.

‘Kau tidak perlu menatap matamu Kyungsoo-ah… lihat saja gerhana itu’

“Ne??” Jawab Kyungsoo sambil terus menutup matanya.

“Hyung waeyo?” tanya Junhong. Kyungsoo menatap Junhong.

“Apa kau baru saja mengatakan sesuatu kepadaku Junhong-ah?”

“Aniyo” Jawab Junhong sambil menggeleng.

Masih dalam kebingungan, Kyungsoo merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya, sesuatu yang mendorongnya untuk melihat gerhana, dan dorongan itu terasa begitu kuat, Kyungsoo akhirnya menatap gerhana itu dengan mata telanjang. Kyungsoo terlihat terpaku menatap gerhana, dia seperti tidak berjiwa. Junhong yang melihat hal itu kemudian merasa panik.

“Hyung!! Apa yang kau lakukan?!! Hyung bisa buta!!!” Teriak Junhong sambil menarik-narik tangan Kyungsoo, teman-teman Kyungsoo yang lain mendengar teriakan Junhong dan segera berlari ke arah Junhong dan Kyungsoo.

“Ya!!! Kyungsoo-ah!!! Hajima!!!!” teriak Jino, namun Kyungsoo hanya terpaku melihat gerhana matahari di depannya.

Saat matahari telah sepenuhnya tertutupi tiba-tiba dada Kyungsoo terasa sesak, dia susah bernafas, dia memegangi dadanya kuat-kuat, teman-temannya semakin khawatir melihat keadaan Kyungsoo. Kyungsoo kemudian berlutut menahan rasa sakitnya.

“HYUNG!!!!!” Teriak Junhong makin khawatir. Teman-teman Kyungsoo yang lain berusaha memgangi badan Kyungsoo dan berusaha untuk menggotongnya, namun keanehan terjadi, bagaimana mungkin badan mungil Kyungsoo terasa sangat berat? Bahkan tidak bisa dipindahkan dari posisinya saat ini, Kyungsoo terlihat makin kesakitan, membuat teman-temannya bingung apa yang harus dilakukan selanjutnya, memindahkan badannya saja tidak bisa.

“AAAAKKKKHHHHH!!!!!” Teriak Kyungsoo kencang kemudian pingsan.

-***-

Kyungsoo membuka matanya kemudian mengerjap untuk menjernihkan pandangannya, dia berada dibawah pohon, Kyungsoo kemudian bangun dan duduk, kepalanya masih pening, dia mengingat-ingat apa yang terjadi, dia mengingat dia melihat gerhana kemudian dadanya terasa sakit. Aneh, dia melihat sekeliling dan melihat teman-temannya masih asyik bermain, mereka terlihat ceria.

‘Apa mereka tidak menyadari ada sesuatu yang terjadi padaku?’ Pikir Kyungsoo.

“Hyung!! Kau sudah bangun? Tadi kau tertidur lelap sekali, jadi kami tidak tega membangunkanmu, dan hyung tau? Hyung melewatkan hal paling bersejarah tahun ini, gerhana matahari!!!!” Kata Junhong panjang lebar.

“Bukannya tadi aku melihat gerhana dengan kalian? Bahkan aku melihatnya dengan mata telanjang”

“oe? Apa yang kau katakan, hyung? Dari awal kau sampai kau sudah tidur, mungkin kau kecapekan, jadi kami membiarkanmu, dan bagaimana mungkin kau bisa melihat gerhana dengan mata telanjang? Bisa-bisa kau buta.”

“Aniya… aku benar-benar melihat gerhana dengan kalian, aku bersumpah…”

“Aku juga bersumpah juga kalau dari tadi hyung tidur, mungkin itu hanya mimpi hyung…”

“Mimpi??” Kata sambil mengerenyitkan keningnya, Kyungsoo mengambil nafas panjang kemudian melemparkan pandangannya ke arah danau.

“Emm.. mungkin saja itu hanya mimpimu, hyung.. oe?” Tiba-tiba Junhong terlihat kaget, Kyungsoo menolehkan pandangannya ke arah Junhong.

“Wae geure Junhong-ah?”

“Hyung punya tatto?”

“Ani, seumur hidup aku tidak pernah sekalipun melakukannya”

“Tapi… kenapa di leher kananmu ada tatto?”

“MWO???!!” Kyungsoo berteriak kaget.

“Hyung!!! Jangan berteriak!!!” Balas Junhong kesal.

“Jangan berbohong padaku Junhong-ah…” Kata Kyungsoo kemudian.

“Aniyo hyung.. aku tidak bebohong, tatto di leher kananmu itu berbentuk seperti tempurung kura-kura”

Kyungsoo kemudian mengusap lehernya memastikan, apa tatto yang di katakan Junhong memang ada.

“Hyung…”

“Mwo?”

“Di punggung tanganmu juga ada tattonya”

“Mworago?” Kyungsoo makin kaget, dilihatnya punggung tangannya itu, tatto itu berkilat sesaat, membuat Kyungsoo membelalakkan matanya, matanya yang bulat makin terlihat besar ketika ia membelalakkan matanya.

“Apa ini sebenarnya…?” guman Kyungsoo lirih.

“Hyung… gambar apa itu?” Tanya Junhong sambil menunjuk lambang di punggung tangan Kyungsoo.

“Nado molla” Jawab Kyungsoo sambil menggeleng.

“AAAAKKKKHHHH!!!!!!” tiba-tiba suara teriakan terdengar, Junhong dan Kyungsoo langsung melihat ke arah sumber suara, ternyata sebuah pohon rubuh dan menindih kaki Himchan, melihat itu Kyungsoo dan Junhong langsung berlari ke arah Himchan dan teman-temannya yang lain.

“HIMCHAN-AH!!!!” teriak Daehyun.

“Ya!!! Neo gwenchana??” Tanya Jino yang kemudian merangkul Himchan.

“Bagaimana aku bisa baik-baik saja kalau kaki kananku tertindih pohon sebesar ini…” Kata Himchan dengan mata yang berkaca-kaca.

“Ya Ya Ya!!! Semuanya dengar!! Semuanya bantu aku untuk mengangkat pohon ini, kita harus bergotong royong” Kata Daehyun.

“Keundae… Kyungsoo bagaimana?” tanya Himchan.

“Apa yang kau maksud dengan bagaimana?” Tanya Daehyun.

“Dia kan sedikit lemah dari kita semua, aku takut nanti dia terlalu capek dan tidak mengerjakan pekejaan rumah dan dimarahi bibinya…”

“Himchan-ah…. jangan khawatir, lagi pula ini bersama-sama, jadi akan terasa ringan, aku juga tidak selemah yang kau pikir, mau aku tunjukkan?” Jawab Kyungsoo kemudian, dia mencoba mengangkat pohon itu, tanda di punggung tangannya berkilat sebentar, aneh, pohon dengan diameter 60 cm dan panjang sekitar 2 m itu bisa Kyungsoo angkat dengan mudah, bahkan dengan mudahnya Kyungsoo melemparkan pohon itu ke tepi danau.

“mwoya????” kata semua orang yang disana kaget, begitu juga Kyungsoo, bagaimana mungkin seorang Kyungsoo, namja mungil berbahu kecil itu bisa mengangkat pohon sebesar itu.

Jino yang masih terkisap dengan ‘atraksi’ Kyungsoo barusan ingin memastikan berat pohon itu, dia berjalan ke arah pohon tumbang itu dan mencoba mengangkatnya, namun dia benar-benar tidak bisa mengangkatnya walaupun satu centi dari tanah, menggesernya pun tidak bisa.

“It’s  no joke…. jangan-jangan dia…” batin Jino.”Kyungsoo-ah… bisa kau beritahu aku bagaimana kau bisa mengangkat pohon sebesar ini?” Tanya Jino tanpa menoleh ke arah Kyungsoo, pandangannya tetap ke arah pohon tumbang itu.

“Molla, aku juga bingung, bahkan pohon itu terasa seperti kapas tadi, sangat ringan” Jawab Kyungsoo.

“Sangat ringan katamu? Kalau pohon itu ringan mana mngkin kaki Himchan sampai patah?” sahut Daehyun.

“Aku benar-benar tidak tahu, sungguh!! Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan!!” Kata Kyungsoo mulai frustasi.

Jino berjalan ke arah Kyungsoo kemudian menarik tangan kanan Kyungsoo, di lihatnya punggung tangan namja mungil yang ada di depannya. Jino melihat ada sebuah lambang yang terpatri di punggung tangan kanan Kyungsoo.

“Beast…” guman Jino lirih hampir tidak terdengar, Jino kemudian menatap Kyungsoo, mata Jino berkilat merah sesaat. Kyungsoo kaget melihat tatapan Jino apalagi kilatan merah di mata Jino barusan, Jino melepaskan tangan Kyungsoo dari genggamannya dan tanpa mengatakan apapun dia pergi meninggalkan Kyungsoo, Daehyun, Junhong dan Himchan yang masih mematung di tempat itu.

“Ya!!!! Jino-ah!!! Kau mau pergi kemana????” Teriak Daehyun kemudian setelah sadar bahwa Jino sudah mulai jauh, Jino tidak memperdulikan teriakan itu dan terus saja pergi.

“Ya Jino-ah!!!!” Kali ini Kyungsoo yang memanggil Jino namun hasil yang didapat sama saja dengan Daehyun.

“Hyung… lupakan saja Jino hyung, lebih baik kita menolong Himchan hyung dulu..” Kata Junhong yang berhasil membuat Daehyun dan Kyungsoo melihat ke arah Himchan.

Daehyun dan Kyungsoo kemudian bersama-sama membopong Himchan yang kaki kanannya patah akibat kejatuhan pohon tumbang tadi, sedangkan Junhong, dia mebawa peralatan memancing yang tadi mereka bawa, tidak terlalu banyak sebenarnya, namun masih saja membuatnya kerepotan, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang agar Himchan bisa mendapat perawatan.

-***-

@Kyungsoo’s room

Kyungsoo masih membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur, dia masih belum juga tidur walaupun jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi, dia masih teringat bagaimana mata Jino berkilat tadi siang, Kyungsoo berkali-kali mencoba memejamkan mata namun tiap kali ia memejamkan mata bayangan Jino muncul dibenakknya, membuatnya lagi-lagi harus membuka mata.

Kyungsoo kemudian duduk diatas ranjang, dilihatnya pohon besar di belakang rumah yang terlihat dari jendela kamarnya, Kyungsoo mengehembuskan nafasnya berat, menunduk kemudian melihat pohon besar itu lagi, mata bulatnya melebar, dia seperti melihat ada sepasang mata merah yang mengawasinya dari atas pohon itu, Kyungsoo akhirnya turun dari kasurnya untuk memastikan hal itu, dia berjalan ke arah jendela dan menyipitkan matanya agar pandangannya lebih tajam, Kyungsoo juga berkali-kali mengusap matanya agar pandangannya tidak kabur, ternyata benar, ada sepasang mata merah yang mengawasinya, sosok pemilik mata merah itu bahkan menyeringai saat ini.

“Jino…” guman Kyungsoo lirih.

Tiba-tiba sosok pemilik sepasang mata merah itu menghilang seiring dengan asap hitam yang tiba-tiba muncul. Melihat itu kepala Kyungsoo tiba-tiba terasa sangat pening Kyungsoo memijat-mijat keningnya untuk meringankan rasa sakit yang diseritanya. Kyungsoo kemudian berjalan dan merebahkan tubuhnya ke kasur tuanya, kepalanya yang pening membuat matanya sulit untuk terbuka lebih lama, perlahan-lahan Kyungsoo akhirnya mulai terlelap.

-***-

@Chunyang High School.

Kyungsoo hanya terdiam di tempat duduknya, dia sama sekali tidak berkonsentrasi dengan penjelasan dari gurunya, bangku Jino juga kosong, membuatnya benar-benar frustasi kali ini. Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan Jino? Sahabat baiknya sejak kecil itu berubah hanya dalam hitungan jam, Kyungsoo mengacak-acak rambutnya kemudian meletakkan kepalanya di atas bangku, dia menyerah.

Bel istirahat berbunyi tapi Kyungsoo tetap saja tidak mau mengangkat kepalanya sedikitpun dari meja, pikirannya kacau. Daehyun yang melihat tingkah aneh temannya itu kemudian berinisiatif untuk duduk disebelah Kyungsoo.

“Kyungsoo-ah….” Panggil Daehyun.

Kyungsoo mengangkat kepalanya kemudian melihat Daehyun, sangat terlihat raut kebingungan di wajah Kyungsoo, bahkan penampilannya kali ini terlihat sangat kacau.

“Kau kenapa? Apa ada masalah? Apa bibimu tidak membiarkanmu istirahat lagi?” Tanya Daehyun bertbi-tubi. Kyungsoo hanya menggeleng.

“Lalu kau kenapa?”

“Jino…” Jawab Kyungsoo

“Jino? Siapa itu?” Tanya Daehyun bingung.

“Mworago? Siapa? Apa kau lupa Jino? Choi Jino teman sebangkuku, kemarin bahkan kita memancing bersama di danau dekat bukit, jangan bilang kau hanya pura-pura lupa padanya karena kemarin dia langsung pergi tanpa menolong kita untuk membopong Himchan!!” Kata Kyungsoo dengan penuh emosi.

“Mwo? Apa kau gila? Dari dulu kau itu duduk sendiri Kyungsoo-ah… dan di sekolah kita ini sama sekali tidak ada yang namanya Choi Jino! Dan kau tau? Kemarin yang memancing itu hanya kau, aku, Himchan dan Junhong!!” Balas Daehyun tak kalah emosi. “aku rasa aku datang pada waktu yang salah… kau tenangkan saja dirimu sendiri dulu…” lanjutnya kemudian meninggalkan Kyungsoo yang hanya membelalakkan matanya lebar mendengar perkataan Daehyun.

-***-

Bel pulang sekolah berbunyi, Kyungsoo merasa hari ini waktu terasa begitu cepat, Kyungsoo mamasukkan bukunya malas, tiba-tiba Daehyun menepuk punggung Kyungsoo, membuat Kyungsoo menoleh.

“Maafkan aku soal tadi, tadi aku benar-benar emosi”

“Gwenchana” Kata Kyungsoo.

“Tapi Kyungsoo-ah… aku benar-benar tidak tau sipa itu Choi Jino, tadi aku juga bertanya pada teman-teman yang lain tapi hasilnya sama, mereka tidak pernah tau siapa itu Choi Jino” Ujar  Daehyun.

Kyungsoo hanya terdiam.

“Sebaiknya kau nanti istirahat saja Kyungsoo-ah… minta izin pada bibimu untuk hari ini saja, aku benar-benar khawatir dengan keadaanmu” lanjut Daehyun.

Kyungsoo hanya tetap diam.

“Aigoo… kalau begitu aku tinggal pulang dulu saja, annyeong!”

Kyungsoo hanya mengehembuskan nafas beratnya kemudian pulang.

-***-

“Kyungsoo-ah!!!!! Apa kau tidak lihat halaman belakang rumah sangat kotor?? Cepat bersihkan sekarang!!!!!” teriak bibi Kyungsoo dari dapur.

“Ne imonim, aku akan membersihkannya sekarang…..” jawab Kyungsoo dari dalam kamarnya, dia kemudian bergegas turun dan menuju ke halaman belakang rumah, kamar Kyungsoo memang ada dilantai dua.

Kyungsoo segera mengambil berbagai peralatan untuk bersih-bersih yang sudah tersedia, dengan cekatan namja mungil itu membersihkan bagian-bagian halaman yang bisa dibilang sangat berantakan itu, Kyungsoo heran, kenapa halaman ini kotor sekali hari ini? Sangat berbeda dengan hari lain, dan bukankah setiap hari dia membersihkan halaman belakang ini sampai bersih?

“Hey kau anak bodoh!! Apa kau tidak lihat bagian sana sangat kotor?!” Teriak bibi Kyungsoo yang tau-tau ada di sebelahnya, bibi Kyungsoo kemudian menunjuk ke bagian halaman belakang yang sangat berantakan, seperti baru saja terjadi perkelahian.

“Ne, imonim…” jawab Kyungsoo.

“Kalau begitu cepat bersihkan bagian itu!” Perintah bibi Kyungsoo sambil memukul kepala Kyungsoo dengan spatula yang ada di tangannya, keanehan lagi-lagi terjadi, spatula itu patah, dan Kyungsoo tidak merasakan sakit sama sekali.

“Mwoya?!” teriak bibi Kyungsoo kaget. “Hey kau anak bodoh! Apa yang kau lakukan dengan spatulaku? Apa kau tau harga spatula ini bahkan lebih mahal dari harga dirimu!! Apa kau mampu menggantinya, heuh??!!!” Kata bibi Kyungsoo beruntun, hati Kyungsoo mulai panas, seumur hidupnya baru kali ini dia dipanggil anak bodoh, dan juga, bagaimana mungkin harga dirinya lebih rendah dari pada spatula itu?

Kyungsoo tidak dapat menahan kemarahannya lagi, dia menatap bibinya itu dengan tatapan membunuh, mata Kyungsoo berkilat biru sekilas, begitu juga dengan kedua lambang yang ada di tangan dan leher kanannya, kaget melihat perubahan keponakannya, dia mundur satu langkah.

Mata Kyungsoo makin melebar, kilatan biru dimatanya terjadi berkali-kali. Kyungsoo menjejakkan kakinya ke tanah dan…

DHUARRRR!!!!

Terjadi petir dan gempa besar yang bahkan getarannya terasa hingga laut Jepang, pohon besar di belakang rumah itu tumbang, dan menindih bibi Kyungsoo, rumah bibinya juga ambruk sebelah, bukan hanya rumah bibi Kyungsoo saja, namun juga rumah-rumah yang berada di sekitar pusat gempa, Kyungsoo, pusat gempa itu adalah Kyungsoo.

Tanah yang berada di bawah kaki Kyungsoo retak parah, bahkan timbul kobaran api kecil di tanah retak itu, beberapa saat kemudian Kyungsoo sadar, dia melihat keadaan sekitar yang sudah sangat berantakan, dia juga melihat tubuh bibinya yang tertindih pohon besar, dan sepertinya bibinya sudah tak bernyawa lagi, karena keadaan bibinya begitu mengenaskan dengan darah yang terus saja keluar dari kepala wanita paruh baya itu.

“Kyungsoo-ah……” suara lembut seorang wanita memanggil nama Kyungsoo. Kyungsoo menoleh, dilihatnya Taeyeon dengan mata berkaca-kaca, Taeyeon kemudian berjalan mendekati Kyungsoo.

“Noona…”

“Kau….. kau ini sebenarnya apa?” Tanya Taeyeon lirih.

“Bravo!!!!!!” tiba-tiba terdengar suara seorang namja diiringi dengan tepuk tangannya sendiri. Kyungsoo dan Taeyeon menoleh ke arah sumber suara.

“Jino??!!” Teriak Kyungsoo kaget.

“Aku tidak menyangka seorang namja kecil sepertimu bisa membuat kekacauan sebesar ini, bahkan getarannya sampai di laut Jepang, kau hebat Kyungsoo-ah..” Kata Jino sambil terus saja berjalan ke arah Kyungsoo.

“Apa maksudmu?” tanya Kyungsoo tidak mengerti.

“Apa maksudku??? Hahahaha!!! Aku tidak punya maksud apa-apa Kyungsoo-ah!! Aku hanya kasihan melihat keadaanmu… dan bukankah kau heran kenapa semua orang tiba-tiba tidak mengenalku? Apa kau tidak penasaran apa alasannya? Alasannya adalah karena aku sengaja menghapus semua ingatan dan memori mereka tentangku”

“Apa yang kau katakan? Kalau memang seperti itu kenapa aku satu-satunya yang tidak lupa?” Tanya Kyungsoo.

“Itu karena kau adalah MAMA, kau adalah sang Beast, sebenarnya aku ingin tertawa, bagaimana mungkin namja sepertimu adalah Beast? Apa semua ini lelucon? Dan untuk informasimu, aku adalah salah satu Ryuk, musuhmu nanti di Sanguinets” ketika mengatakan kata Sanguinets mata Jino tiba-tiba berubah warna menjadi merah.

“Dan…” Jino menjentikkan jarinya, tiba-tiba Taeyeon pingsan,

“Noona!!!!” Kyungsoo ingin menolong Taeyeon, namun ketika Jino menjentikkan jarinya lagi, Taeyeon sudah berpindah ke pelukan Jino.

“Mau kau apakan Noonaku???!!!” Teriak Kyungsoo.

“ooohh… tenang saja, aku tidak akan macam-macam dengan noonamu yang cantik ini, jika kau ingin menyelamatkannya maka kalahkan aku, namun tidak sekarang, tapi nanti di Sanguinets, jika kau bingung dengan apa sebenarnya dirimu ini, kenapa kau tidak mencari orang lain yang mempunyai tanda sama dengan yang ada di lehermu itu? Sebenarnya aku ditugaskan untuk mengahabisimu sekarang, tapi aku rasa menghabisimu di Sanguinets akan lebih terasa menyenangkan, aku pergi dulu, anneyeong!” Tiba-tiba sepasang sayap hitam keluar dari punggung Jino.

Jino membawa Taeyeon terbang, tapi mereka langsung menghilang ketika tiba-tiba sebuah asap hitam keluar dari tubuh Jino, Kyungsoo terduduk, dia menundukkan kepalanya, menyembunyikannya di antara kakinya, dia kemudian menegakkan kepalanya. Kyungsoo melihat keadaan sekitarnya yang begitu kacau, kekacauan yang tanpa sengaja ia buat, namja itu menangis, tapi sesaat kemudian dia berdiri dan meletakkan tangannya di dadanya.

“Aku harus segera mencari orang yang mempunyai tanda yang sama!”

-TBC-

Iklan

17 thoughts on “History of MAMA : Character Profile : Do Kyungsoo : “Fear of Beast, Incridible”

  1. Ping-balik: Acha's Blog | History Of MAMA : Character Profile : “Xi Luhan : A Perfect Flower Boy”

  2. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Oh Sehun : “Truth Behind His Poker Face”

  3. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Kim Minseok : “Her Betrayal, His Revenge”

  4. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Kim Jongdae : “Mother Loves Remain Forever”

  5. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Byun Baekhyun : “Shining Power, Shining Person”

  6. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Zhang Yixing : “A Kind Healer”

  7. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA Chapter 1

  8. Ping-balik: History of MAMA Chapter 2 | Acha's Blog

  9. Ping-balik: History of MAMA Chapter 3 | Acha's Blog

  10. Ping-balik: History of MAMA Chapter 4 | Acha's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s