History Of MAMA : Character Profile : Xi Luhan : “A Perfect Flower Boy”

Luhan

History of MAMA

Title : History of MAMA

Author : lee_acha96 a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brothership, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Cast : EXO Member and other (find by yourself)

-History of MAMA-

Character Profile:

Xi Luhan : “A Perfect Flower Boy

Summary :

“Dilihatnya bola mata yeoja itu berubah warna menjadi warna biru, dan entah kenapa Luhan seakan bisa melihat ke dalam pikiran yeoja yang ada di depannya ini”

-***-

Akhirnya nyampe’ bagian ke-6 dari pengenalan profile ini, karena kemaren ada yang komen jadi author makin semangat ngetiknya, emang bener ya komen readers itu kayak oksigen buat author, tapi author tetep ga maksa komen kok ^^

Happy Reading ^^

part sebelumnya -> Chanyeol, Kris, Suho, Kai, D.O,

-***-

“Kyaaaa!!!! Itu Xi Luhan!!! Xi Luhan!!!!!” teriak para yeoja di pinggir lapangan sepak bola, mereka meneriaki seorang bernama Xi Luhan, mahasiswa asal China yang bersekolah di Korea, dia mengambil jurusan bahasa di Yonsei University, Luhan memang terkenal akan ketampanan dan kekayaannya, satu kata yang menggambarkan seorang Xi Luhan ‘sempurna’.

“Luhan-ah!! Istirahat sebentar!” Teriak seseorang kepada Luhan.

“sebentar lagi hyung!!!” Teriak luhan dari lapangan. “GOALLLL!!!!!!” Teriak Luhan kemudian, dia berhasil menciptakan goal yang indah, dia melompat-lompat kegirangan, teman satu timnya pun berlari ke arah Luhan dan memeluknya.

“Yaayyy!!! Kita menang! Akhirnya aku bisa makan hanwoo (daging sapi Korea yang mahal) gratis, yay!” Teriak Luhan lagi, begitulah Luhan, walaupun dia sangat kaya, dia tidak pernah menyombongkan kekayaannya, dia bahkan bertingkah seperti anak-anak biasa pada umumnya, dia juga sangat rendah hati dan ramah, poin plus untuk Luhan.

“Luhan-ah!!!!”

Luhan menoleh, dia tersenyum kemudian berlari kepada orang yang memanggilnya.

“Hyung!!” Teriak Luhan sambil memeluk orang yang dipanggilnya Hyung itu.

“Aigoo… Sebegitu sukanya kah kau dengan permainan itu?” Kata orang itu dengan menepuk punggng Luhan.

“Namanya sepak bola hyung…” kata Luhan kemudian melepaskan pelukannya.

“Aku juga tau kalau permainan itu namanya adalah sepak bola, aku kan juga namja” Kata orang itu lagi.

“Keundae hyung, apa kau mau ikut denganku?”

“odi?”

“Makan hanwoo dengan teman-teman yang lain”

“Hanwoo? Aigoo… Luhan-ah, aku tau kalau kau memang kaya raya tapi…”

“kali ini bukan aku yang membayar hyung..”

“Lalu?”

“Tim yang kalah yang akan membayar, kan lumayan hyung bisa makan enak gratis, lagi pula di tim yang kalah banyak yang kaya kok…” jelas Luhan dengan tingkah seperti anak kecil.

“Luhan-ah… aku iri denganmu”

“oe? Kenapa hyung tiba-tiba iri?”

“wajahmu tidak menunjukkan umurmu, kau bahkan lebih cocok ketika bertingkah kekanakan seperti ini”

“Jeongmal? Uwaahh….” mata Luhan melebar mendengar pujian dari hyungnya itu.

“Luhan-ah!!!” panggil seseorang dari kejauhan, Luhan yang merasa namanya terpanggil pun menolehkan kepalanya.

“Mwo?”

“Palli!!! Apa kau tidak mau makan hanwoo?”

“Tunggu sebentar!!” Luhan menoleh lagi kepada hyungnya. “hyung, kajja!” ajak Luhan sambil menarik tangan hyungnya,.

“Keundae Luhan-ah.. aku bukan termasuk timmu”

“Aigoo… Sungmin hyung, kau adalah hyungku, jadi mereka harus mentraktirmu juga”

“Tapi harga hanwoo itu mahal..” tolak Sungmin kekeuh.

“Aigoo… aku akan membayar makananmu, jadi hyung tidak usah merasa bersalah, yang penting hyung harus ikut” Luhan pun tak kalah keras kepala kali ini.

“Tidak ada tapi-tapian, hyung, kajja, yang lain sudah menunggu” Ajak Luhan sambil menarik tangan Sungmin agar mengikutinya.

-***-

“Selamat makan!!!!!” Teriak Luhan paling semangat, dia langsung memakan daging yang ada di atas panggangan dengan sangat lahap, teman-teman Luhan hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Luhan, dia memang selalu  bertingkah seperti anak kecil, apalagi jika bersangkutan daging, tak heran dia mendapat julukan kapten daging.

“Hyung, kau tidak makan?” Tanya Luhan kepada Sungmin dengan mulut penuh dengan makanan.

“Nanti saja, aku harus menyelesaikan ini dulu” Jawab Sungmin tanpa melihat ke arah Luhan, dia sibuk dengan laptopnya.

“Memangnya itu apa hyung?” Tanya Luhan dengan mlu yang masih penuh dengan makanan.

“Nanti saja aku beritahu, habiskan dulu makananmu”

“Geurae” Kata Luhan kemudian meneruskan acara makannya.

Setelah dirasa cukup kenyang Luhan berpindah posisi duduk menjadi di sebelah Sungmin, Sungmin tidak tahu kalau Luhan ada di sebelahnya karena terlalu fokus dengan laptopnya, kening Luhan berkerut membaca tulisan yang ada di laptop Sungmin.

“Hyung, apa itu sungguhan?” Tanya Luhan, Sungmin tersentak kaget kemudian menoleh ke arah Luhan.

“Kau mengagetkanku! Iya, ini memang sungguhan” Kata Sungmin kemudian.

“Kapan hyung?”

“3 hari lagi”

“mwo?? Hyung… jangan bercanda, kalau 3 hari lagi, bagaimana sengan mahasiswa yang tidak mampu?”

“Ini gratis” Kata Sungmin kemudian.

“Jinjjayo?”

“Hmm-mm”

“Ya ya ya!!! 3 hari lagi jurusan bahasa akan mengadakan trip ke gunung Jeondo!!” Kata Luhan yang berhasil mengalihkan seluruh perhatian temannya dari daging ke Luhan.

“Jinjja?” tanya salah satu teman Luhan.

“Hmm, dan kalian tau, trip kali ini gratis”

“Gratis? Jangan bohong! Itu tidak mungkin” Kata teman Luhan yang lain.

“Apanya yang tidak mungkin, kalau kalian tidak percaya tanya saja Sungmin hyung, benarkan hyung?” Tanya Luhan kepada Sungmin. Sungmin hanya mengangkat jempolnya sebagai jawaban atas pertanyaan Luhan.

“WOOHHOO!!! TRIP GRATIS!!!!” Teriak teman-teman Luhan gembira. Mereka saling ber-high five ria, Luhan pun ikut larut dalam kesenangan itu.

“Sungmin sunbae, kenapa tiba-tiba ada trip gratis?” tanya Dongwoo, salah satu teman Luhan.

“Aku dengar ini adalah hadiah dari pemilik kampus untuk jurusan bahasa”

“hadiah?”

“Hadiah karena jurusan kita menjuarai festival olah raga tahun ini”

“oohhhh…” semua orang yang ada disitu hanya ber’oh’ ria.

“Kalau begitu ini hadiah kejutan yang dikatakan oleh Prof. Lee kemarin”

“Bisa jadi” Jawab Sungmin.

Mereka kemudian meneruskan acara makan mereka, dan lagi-lagi sang kapten daging, Xi Luhan menjadi pemimpin dalam hal makan hanwoo, dia makan lebih lahap dari sebelumnya, sepertinya dia sudah lupa dengan perutnya yang kenyang, mungkin karena saat ini suasana hatinya lebih gembira dari kemenangan tim sepak bolanya tadi.

-***-

3 Days later

@Yonsei University

Mahasiswa jurusan bahasa sedang berkumpul dihalaman kampus bersiap-siap untuk berangkat ke gunung Jeondo, begitu pula dengan pria berkewarganegaraan China bernama Xi Luhan itu, kali ini dia terlihat begitu tampan dengan hoodie putih dan celana jeans biru tua yang di pakainya, membuat pandangan para yeoja tidak pernah lepas dari namja satu ini.

Ketika Luhan sedang asyik berbincang-bincang dengan teman-temannya tiba-tiba seorang yeoja menghampiri Luhan. Luhan kaget, dia tidak pernah melihat yeoja ini sebelumnya, begitu cantik dan menawan, seperti seorang dewi. Yeoja itu hanya menatap Luhan dengan mata teduhnya.

“Maaf, anda siapa?” Tanya Luhan pada akhirnya, yeoja itu tidak menjawab, yang yeoja itu lakukan hanya menatap Luhan dengan mata teduh nan indahnya itu.

“Maaf, anda ini siapa ya?” tanya Luhan lagi, namun tetap saja yeoja itu tidak menjawab, Luhan kemudian membalas tatapan yeoja itu, dilihatnya bola mata yeoja itu berubah warna menjadi warna biru, Luhan terbelalak, beberapa saat kemuidan entah kenapa Luhan seakan bisa melihat ke dalam pikiran yeoja yang ada di depannya ini, Luhan melihat yeoja di depannya ini sedang berada di bawah pohon dengan seorang pria tampan yang juga bermata teduh. Mereka terlihat bahagia, mereka bahkan melakukan ciuman manis, namun semua itu dalam sekejap berubah menjadi gelap.

Luhan melihat wanita itu menjerit karena pria bermata teduh tadi di serang oleh seseorang yang memakai jubah hitam, Luhan kemudian melihat sebuah pohon besar yang indah terbelah, tiba-tiba dari belahan pohon tersebut seperti keluar sebuah benda berbentuk lingkaran yang kemudian terbelah menjadi dua, masing-masing bagian yang terbelah itu kemudian dibawa oleh dua orang pria, dua orang itu kemudian bergabung dengan 10 orang pria lain, 12 pria tersebut membentuk sebuah lingkaran, dia melihat salah seorang di antara 12 orang itu sangat mirip dengan dirinya, Luhan merasa seperti sedang bercermin.

Luhan kemudian melihat ke 12 orang itu berubah menjadi cahaya putih yang kemudian terbang dan menghilang, meninggalkan yeoja yang ada di depannya ini dengan pria bermata teduh yang hanya tinggal jasad itu, yeoja itu kemudian memangku jasad sang pria bermata teduh sambil terus menangis, akhirnya yeoja yang ada di depannya ini mencium jasad pria itu yang kemudian perlahan-lahan berubah menjadi butiran debu, sedangkan yeoja yang ada di depannya ini berubah menjadi cahaya yang kemudian terbang dan menghilang.

Luhan mengerjapkan matanya berkali-kali, dia mencoba mengumpulkan kesadaran karena rasa shock yang baru saja di terimanya masih sangat terasa, Luhan merasa ada sesuatu yang aneh dengan tempatnya saat ini, dilihatnya tempat sekelilingnya, dia tidak lagi berada di depan kampus, melainkan di dalam bus.

“Kau sudah bangun?” Tanya Dongwoo, teman Luhan yang kebetulan duduk bersamanya kali ini.

“oe?” Jawab Luhan kaget.

“Nyawamu belum utuh rupanya” celetuk Dongwoo.

“Dongwoo-ah.. bagaimana aku bisa disini?” Tanya Luhan kemudian.

“Mwo? Luhan-ah, kau ini belum tua tapi sudah pelupa, kita kan mau melakukan trip di gunung Jeondo”

“Bukan itu maksudku, aku tau kalau kita akan ke gunung Jeondo, tapi bukannya kita tadi masih berada di depan kampus dan belum masuk ke dalam bus?”

“Aigoo.. sepertinya kau masih ada di alam mimpi, tadi kita memang ada di depan kampus dan tiba-tiba ada seorang yeoja yang sangat cantik menghampirimu, jujur saja aku tidak pernah melihat yeoja secantik itu, apalagi mata indahnya itu, wahhh… sungguh mempesona, saat kau tanyai siapa dia, yeoja itu hanya diam saja, karena dia hanya diam walau kau sudah menanyainya berkali-kali maka kau memutuskan untuk masuk ke dalam bus saja, dan kemudian kau tertidur”

“Yeoja?” Tanya Luhan

“Hmm-mm, yeoja yang sangaaaaatttttt cantik, aku rasa dia bukan berasal dari bumi, mungkin saja dia adalah seorang bidadari yang tidak sengaja tersesat di bumi atau mungkin….. dia adalah seorang dewi?” Celetuk Dongwoo.

PLETAKK!!

Luhan memukul Kepala Dongwoo, Donggwoo hanya mengusap kepalanya yang sakit smbil meringis.

“Apa yeoja itu memakai baju putih dan berambut panjang?”

“Ya!! Yang dihampiri adalah kau, bukan aku, kenapa kau bisa lupa yeoja secantik itu? Bahkan aku yang tidak di hampirinya saja masih sangat mengingat bagaimana sosoknya, begitu juga namja-namja lain yang melihat yeoja itu, kulit putih, baju putih, rambut panjang yang tergerai, mata teduh yang bening dan wanginya… wanginya bahkan lebih wangi dari pada 100 bunga mawar segar..” Kata Dongwoo yang kali ini memutar film pendek saat dia melihat yeoja itu di kepalanya.

Luhan hanya termenung dan melihat keluar jendela.

‘siapa yeoja itu? Apa benar kalau dia bukan manusia?’ pikirnya.

-***-

Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya para mahasiswa sampai di penginapan di pengunungan Jeondo. Mereka mulai menata barang bawaan mereka di kamar masing-masing setelah diadakan pembagian kamar, beruntung Luhan satu kamar dengan Sungmin dan Dongwoo, dua sahabat terdekatnya.

Setelah menata seluruh perlengkapannya Luhan kemudian melihat pemandangan gunung dari jendela kamarnya yang terlihat begitu jelas dan indah, Luhan menutup matanya menghirup udara segar yang kini bersirkulasi di dalam tubuhnya, Luhan membuka matanya saat tiba-tiba dia merasa ada seseorang di sampingnya. Luhan menoleh, ternyata Sungmin.

“Hyung…”

“Hmm-mm?”

“Aniyo,” Kata Luhan kemudian melihat pemandangan di depannya lagi.

“Luhan-ah… apa rencanamu di trip kali ini?”

“Mollayo, karena ini awal musim gugur jadi aku terlalu malas untuk keluar”

“Aku juga begitu, seharusnya trip ini di adakan saat musim panas”

“Hmm-mm, keundae hyung, satu minggu disini tanpa melakukan apapun akan terasa hampa, apa hyung punya rencana?”

“Aku ingin ke dalam hutan, di tengah hutan di pegunungan ini ada air terjun yang sangat indah”

“Geuraeyo? Boleh aku ikut?” Tiba-tiba Dongwoo ikut campur dalam pembicaraan Luhan dan Sungmin.

“Tentu saja” Kata Sungmin sambil menoleh ke arah Dongwoo. “Apa kau juga ikut, Luhan?” Kali ini Sungmin bertanya kepada Luhan. Luhan hanya mengangguk.

“Kalau begitu kita akan berangkat besok, sebaiknya kita sekarang beristirahat, kalian akan membutuhkan banyak tenaga”

“Ne, hyung” jawab Luhan.

“Ne, sunbae” Jawab Dongwoo.

“Dongwoo-ah, panggil aku hyung saja seperti Luhan”

“Ne? Tidak apa-apakah?”

“Tentu saja” Jawab Sungmin sambil tersenyum.

Akhirnya Luhan, Dongwoo dan Sungmin beristirahat agar mereka mempunyai cukup tenaga untuk perjalanan beberapa hari kedepan.

-***-

Sinar matahari meneyelinap diantara celah-celah jendela di kamar Sungmin, Luhan dan Dongwoo, tapi sepertinya sinar matahari pagi ini lebih memilih untuk menyinari wajah polos dan tampan milik Luhan, membuat Luhan sedikit demi sedikit membuka matanya.

Luhan melirik jam yang ada di dinding, masih pukul 6 pagi, Luhan masih malas untuk bangun, tapi di paksanya tubuhnya agar mau bangkit. Setelah duduk perlahan Luhan membangunkan Sungmin dan Dongwoo yang masih terlelap.

“Hyung.. ironayo… Dongwoo-ah.. irona…” Luhan mengguncangkan tubuh Sungmin dan Dongwoo, yang tubuhnya diguncang hanya menggeliat dan makin menutupi tubuhnya dengan selimut, sepertinya mereka sangat malas untuk bangun.

“Hyung… ppali ironayo… Dongwoo-ah… irona!!!!” Luhan mengguncangkan tubuh mereka semakin kuat. “Katanya kita akan ke hutan.. ppali irona agar tidak terlalu siang!!!” Teriak Luhan.

Sungmin yang mendengar teriakan Luhan barusan langsung dibuat terbangun karenanya, sedangkan Dongwoo masih menggeliat walau tubuhnya sedikit demi sedikit mau bangkit. Luhan yang melihat dua sahabatnya yang akhirnya bangun tersenyum cerah.

“Akhirnya hyung dan Dongwoo bangun, aku mandi duluan” Kata Luhan kemudian berjalan ke arah kamar mandi, Sungmin masih berusaha mengumpulkan nyawanya, sedang Dongwoo kembali menghempaskan tubuhnya ke kasur.

-***-

Luhan, Sungmin dan Dongwoo akhirnya berpakaian rapi dengan outfit hiking mereka, mereka bersiap untuk menjelajah ke dalam hutan dengan tujuan mencari air terjun, tidak lupa mereka membawa bekal yang cukup serta tidak lupa peralatan P3K yang sudah ada di tas masing-masing, dan untuk Sungmin, dia mendapat jatah membawa tenda.

“Kalian sudah siap?” tanya Sungmin pada kedua dongsaengnya.

“Ne hyung!” Jawab Luhan dan Dongwoo kompak.

“Baiklah kalau begitu, kajja!”

Sungmin, Luhan dan Dongwoo mulai berjalan menyusuri jalan setapak pegunungan Jeondo, mereka menikmati pemandangan alam yang terbentang di kanan-kiri mereka, sesekali Luhan berhenti untuk mengambil foto apa saja yang di anggapnya menarik, salah satu cara berpikir Luhan adalah abadikan setiap moment yang ada dalam hidupmu agar generasi setelahmu bisa tau, agak aneh memang, tapi memang begitulah Flower Boy kampus ini.

“Luhan-ah… berhenti mengambil gambar, perjalanan kita akan semakin lama kalau kau sedikit-sedikit berhenti” Hardik Sungmin.

“Mianhaeyo hyung, tapi pemandangan disini sangat indah, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mengambil foto”

“Hfftthh… terserah kau saja lah” kata Sungmin pada akhirnya.

“Emm… Sungmin hyung, apakah hyung pernah ke air terjun itu sebelumnya?” Tanya Dongwoo tiba-tiba.

“Ani, aku tidak pernah kesana, tapi temanku pernah” jawab Sungmin santai.

“Ne?? Kalau kita tersesat bagaimana hyung?? Aku masih ingin hidup…” jawab Dongwoo dengan nada yang memilukan.

“Hahahaha…” Sungmin tertawa dengan keras, “Tenang saja Dongwoo-ah, kita akan pulang dengan selamat, aku hanya menggodamu, aku pernah ke sana sekali”

Dongwoo kemudian melihat Sungmin dengan memasang blank face.

“Pfffttthhh…” Luhan menahan tawanya melihat blank face Dongwoo, “Dongwoo-ah.. kau terlihat babo…” kata Luhan pada akhirnya yang kemudian di sambung oleh tawanya dan Sungmin. Dongwoo hanya cemberut, merekan kemudian meneruskan perjalanan mereka ke dalam hutan.

Sungmin melihat jam tangannya, dia menghembuskan nafasnya kemudian melihat tempat sekelilingnya.

“Ada apa hyung?” tanya Luhan.

“Kita istirahat saja dulu, sudah siang, kita lanjutkan saat matahari sudah sedikit lengser ke barat, kalau perkiraanku tidak salah kita akan sampai di air terjun saat sore hari”

“ok kalau begitu, apa kita perlu mendirikan tenda?”

“Ani, kita Cuma istirahat sekitar 1-2 jam, mendirikan tenda akan menghabiskan banyak waktu, lagi pula pohon disini banyak dan rindang, banyak juga batu besar yang bisa di gunakan untuk bersandar”

Luhan dan Dongwoo melihat sekeliling kemudian menatap Sungmin lagi.

“Baiklah, mari kita beristirahat sebentar” Tukas Dongwoo.

Luhan, Sungmin dan Dongwoo mencari tempat yang nyaman untuk melepaskan rasa lelah mereka sejenak, Luhan memilih beristirahat di bawah pohon besar, sedangkan Dongwoo dan Sungmin lebih memilih untuk bersandar di batu, saat Luhan ingin memejamkan matanya tiba-tiba dia melihat bayangan putih melintas sekilas di antara pepohonan.

Luhan mengedarkan pandangannya, menyisir daerah di sekitarnya, tiba-tiba Luhan melihat sesosok yeoja berbaju putih dan berambut panjang yang menemuinya kemarin pagi sebelum keberangkatannya ke pegunungan Jeondo di antara pepohonan besar. Luhan merasa takut, dia merinding, dia jadi teringat perkataan Dongwoo kemarin, jangan-jangan yeoja itu memang bukan manusia, dilihatnya bola mata yeoja berubah warna menjadi biru, dan lagi, Luhan merasa seakan bisa melihat pikiran yeoja itu, namun kali ini berbeda, pikiran yeoja itu seakan memberi pesan kepadanya.

‘Gerhana Dragon sebentar lagi terjadi, bersiaplah’

Tiba-tiba yeoja itu berubah menjadi cahaya putih dan kemudian menghilang, Luhan masih terpaku dengan apa yang di alaminya barusan, tiba-tiba Dongwoo menepuk pundaknya membuatnya tersadar dar keterpakuannya.

“Apa yang kau lamunkan?” Tanya Dongwoo.

“Aniya, bukan apa-apa” Jawab Luhan berbohong, tapi raut wajah bingung yang tersirat jelas di wajah tampannya itu tidak  dapat di sembunyikan, Dongwoo hanya diam saja melihat itu, mungkin saat ini Luhan tidak mau bercerita, pikirnya.

Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap, sontak tiga orang yang berada di dalam hutan itu melihat ke atas.

“Gerhana….” Guman Luhan. Dongwoo dan Sungmin melihat ke arah Luhan yang fokus dengan kejadian alam yang langka itu. Untuk sepersekian detik mereka tetap pada posisi mereka, Luhan yang fokus dengan gerhana, Dongwoo dan Sungmin yang fokus dengan Luhan sebelum akhirnya Sungmin menyadari sesuatu.

“Ya!!! Luhan-ah, kau jangan melihat gerhana, kau bisa buta!!!” Teriak Sungmin, Dongwoo yang mendengar teriakan Sungmin menjadi panik, dia berlari ke arah tasnya untuk mencari apapun yang bisa di gunakan untuk menutupi mata Luhan dan matanya sendiri, begitu pula Sungmin.

Luhan seakan tak mendengar apapun, dia tetap saja fokus dengan gerhana matahari yang terjadi tepat di depan matanya. Tiba-tiba luhan merasa dadanya sangat sakit, seperti di hantam oleh benda keras, Luhan mencengkeran dadanya yang makin terasa sakit seiring dengan matahari yang semakin tertutupi, saat matahari tertutupi dengan sempurna, sakit di dada Luhan mencapai puncaknya hingga akhirnya Luhan berteriak dan semuanya menjadi gelap bagi Luhan.

-***-

“Luhan-ah… irona….” Kata Sungmin sambil menggerak-gerakkan tubuh Luhan dengan lembut, Luhan mengerjap-kerjapkan matanya melihat sekeliling.

‘ahh melakukan perjalanan seperti ini sangat melelahkan, tidur di penginapan rasanya akan lebih nyaman dari pada tidur di hutan’ Luhan mendengar suara Dongwoo, Luhan melihat ke arah Dongwoo, tapi yang dia lihat Dongwoo hanya sedang mempersiapkan back pack-nya.

“Dongwoo-ah… apa kau mengatakan sesuatu?” Tanya Luhan. Dongwoo menoleh dan melihat Luhan dengan kening berkerut.

‘Apa yang aku katakan? Aku tidak mengatakan apapun, dari tadi aku hanya mempersiapkan back pack milikku’. Luhan membelalakkan matanya, mulut Dongwoo bahkan tidak terbuka sedikitpun, tapi bagaimana dia bisa mendengar suara Dongwoo?

‘Ada apa dengan Luhan?’. Kali ini Luhan mendengar suara Sungmin, dia menoleh ke arah Sungmin namun sama, mulut Sungmin juga tidak bergerak sedikitpun.

“Hyung… apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Luhan kepada Sungmin.

“Apa maksudmu dengan apa yang sebenarnya terjadi? Saat aku mengajak istirahat kau bahkan yang tertidur duluan”

“Ne?? Tapi bukannya tadi aku melihat gerhana dengan kalian?”

“Tidak, saat gerhana terjadi kau sudah terlelap, tapi aku dan Dongwoo juga tidak melihatnya karena kami tidak membawa kaca mata” Jelas Sungmin.

“Tapi tadi…” Luhan tidak melanjutkan kata-katanya, dia hanya menatap mata Sungmin.

‘Ada apa dengan anak ini? Dia kan yang tidur duluan, Ahhh… mungkin saja dia tadi bermimpi tentang gerhana’. Lagi, Luhan mendengar suara Sungmin namun mulut Sungmin tetap tertutup, apa mungkin dia saat ini mempunyai kemampuan membaca pikiran? Namun segera saja di tepisnya pemikirannya barusan, hal seperti itu tidak ada dan tidak mungkin terjadi, yakinnya pada dirinya sendiri.

“Sudahlah jangan dipikrkan, kajja kita lanjutkan perjalanan kita!” ajak Sungmin kemudian, Luhan hanya mengangguk, dia mengambil back packnya dan mengikuti Dongwoo dan Sungmin yang sudah berjalan lebih dulu.

Selama perjalanan Luhan hanya diam, dia juga tidak mengambil gambar seperti beberapa jam lalu, perubahan Luhan yang 180 derajat ini membuat Sungmin dan Dongwoo mulai khawatir, apa yang sebenarnya terjadi dengan Luhan?

‘Kenapa anak itu diam saja? Apa dia ada masalah’, Luhan mendengar suara Dongwoo, dia menatap Dongwoo tapi tetap saja mulut Dongwoo sama sekali tidak tebuka.

‘Ada apa dengan Luhan? Kalau ada masalah dia biasanya bercerita, tapi kenapa kali ini tidak?’. Kali ini yang di dengar Luhan adalah suara Sungmin, Luhan tidak melihat Sungmin karena yakin Sungmin juga tidak membuka mulutnya.

‘Aaahhh… seandainya ada eomma di sini, aku pasti akan bisa bermanja-manja dengannya, aku juga akan meminta eomma membuatkan ddokbeokki kesukaanku, aku lapar…..’ Suara Dongwoo kembali terdengar dan kali ini sukses membuat Luhan tertawa terbahak-bahak.

“Hahahahahahahaha…. Lucu sekali!!!!!”

Sungmin dan Dongwoo yang melihat Luhan tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal mengerutkan kening mereka.

“Luhan-ah… apa yang lucu?” Tanya Dongwoo kepada Luhan.

“Kau.. Hahahahaha…” Kata Luhan sambil menunjuk Dongwoo dan kemudian tetawa lagi.

“Mwo? Aku?”

“Iya… Kau, Hahahahahaha” Luhan masih terus saja tertawa.

‘Anak ini sudah gila’ Luhan mendengar suara Dongwoo lagi.

“Aku tidak gila Dongwoo-ah… kau memang lucu, hahahahaha” Kata Luhan dan masih tetawa, Dongwoo terbelalak, dia kan hanya mengatakan Luhan gila dalam pikirannya.

“Apanya yang lucu?” Tanya Sungmin kemudian.

“Kau tau hyung? Saat ini Dongwoo ingin bermanja-manja dengan ibunya dan ingin di buatkan ddokbeokkie, dia lapar saat ini, HAHAHAHAHA!!!!” kata Luhan, tawa luhan makin keras, Luhan bahkan sampai jatuh karena tertawa terlalu keras dan terpingkal-pingkal.

Berbeda dengan Dongwoo, dia terkisap, bagaimana mungkin Luhan tau apa yang ada di pikirannya saat ini?

“Aigoo… Dongwoo-ah. Aku tidak percaya seorang dengan wajah preman sepertimu suka bermanja-manja dengan eommamu, hahahahaha” Luhan tertawa lagi.

“Benar Dongwoo-ah?” Tanya Sungmin.

“N..Ne….” Jawab Dongwoo malu-malu. Hal itu mengundang tawa Luhan kembali, dia makin tidak bisa berhenti tertawa.

“Ya!!! XI LUHAN!! BERHENTI MENERTAWAIKU!!!!” Teriak Dongwoo, teriakan Dongwoo tidak menghentikan tawa Luhan, tapi malah membuat tawa Luhan semakin keras.

“Aahh..Ahh.. perut dan pipiku sakit…” keluh Luhan pada akhirnya, dia memegangi perut dan memijat pipinya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.

“Rasakan itu!!” Kata Dongwoo.

“Sudahlah…” Lerai Sungmin. “lebih baik kita lanjutkan perjalanan kita!” ajak Sungmin.

“Ne hyung” Kata Luhan dan Dongwoo kompak.

Mereka akhirnya meneruskan perjalanan mereka, Luhan pun kembali ceria seperti saat pertama kali berangkat, dia juga tidak henti-hentinya menggoda Dongwoo karena sangat bergantung dengan ibunya, saat matahari hampir kembali ke tempat peraduannya mereka sampai di tempat tujuan mereka. Air terjun.

“Uwaaahhhhh” Mulut Luhan menganga lebar. Air terjun di depannya ini sangatlah indah, di tambah lagi dengan bias cahaya matahari senja yang menyinari percikan air mengalir itu membentuk refleksi cahaya seperti pelangi makin menambah keindahan air terjun tersebut.

“Bagaimana? Indahkan?” Tanya Sungmin kepada kedua dongsaenya.

“Sangat….” Kata Luhan tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya dari air terjun tersebut.

“Hyung, nama air terjun ini apa?” Tanya Dongwoo.

“Yeosa…” kata Sungmin.

“Yeosa? Kenapa namanya aneh?”

“Yeosa itu adalah singkatan dari Yeongwonhi Sarang, dulu, legendanya, air terjun ini terbentuk karena tangisan seorang dewi yang di tinggal mati oleh pasangannya, setiap hari dia menangis sehingga tanpa sadar dia telah membuat air terjun dari tangisannya, karena kesetiaan dan keabadian cinta sang dewi maka dari itu air terjun ini dinamakan air terjun Yeongwonhi Sarang, tapi lama kelamaan berubah menjadi Yeosa karena nama Yeongwonhi Sarang terlalu panjang”

“Lalu hyung?” Tanya Luhan yang tau-tau sudah ada di samping Sungmin, rupanya dari tadi Luhan mendengarkan cerita Sungmin dengan khidmat.

“Kau lihat batu yang berbentuk hati di bawah air terjun itu? Katanya disana terukir nama sang dewi dan kekasihnya, dan kalau malam hari tulisan itu akan bersinar, tapi tidak ada yang bisa membaca tulisan itu kecuali seseorang yang berasal dari bangsanya”

“Bangsanya?”

“Iya, hanya bangsanya yang bisa membaca tulisan itu, bangsanya jelas bukan manusia, dan kalian tau? Setiap pasangan yang menulisakan namanya di batu itu atau pun di manapun itu di sekitar daerah ini tulisan itu akan hilang”

“Hilang? Terhapus maksudnya?”

“Ani, menghilang, jadi setelah menuliskan nama mereka tiba-tiba tulisan itu akan hilang, ada rumor kalau sang dewi tidak suka tempatnya di kotori oleh tangan manusia”

Suasana mendadak menjadi horor saat Sungmin menyelesaikan kalimat terakhirnya.

“Hyung… apa menurutmu aman kalau kita membangun tenda dan menginap disini?” Tanya Dongwoo ketakutan, dia bersembunyi di balik Luhan.

“Tentu saja aman, sang dewi akan selalu melindungi siapa saja yang berada disini kalau tidak mempunyai niat macam-macam”

Luhan dan Dongwoo menghembuskan nafas lega, setidaknya mereka merasa lebih tenang karena mereka bertiga memang tidak mempunyai niat macam-macam sedikitpun.

Hari mulai beranjak gelap, Sungmin, Dongwoo dan Luhan telah selesai membangun tenda mereka, Sungmin kemudian mengumpulkan kayu kering yang berserakan untuk dijadikan sebagai api unggun, karena ini adalah awal musim gugur, jadi malam ini lebih dingin dari pada malam-malam yang lain.

Matahari telah sepenuhnya tenggelam saat bulan menggantikannya untuk menyinari bumi, cahaya bulan menyinari hutan lewat celah-celah pohon yang rindang, api unggun yang Sungmin buat pun sudah menyala dengan sempurna, memberikan sedikit kehangatan untuk tiga orang namja yang menginap di sekitar air terjun itu, mereka memasak air dan remen instant yang mereka bawa, mungkin karena perjalanan yang panjang dan rasa lapar yang dari tadi menggerayangi perut mereka maka ramen instant yang mereka masak kali ini terasa lebih nikmat.

Tiba-tiba sebuah cahaya biru berpendar dari batu berbentuk hati di bawah air terjun tersebut, cahaya itu cukup terang sehingga mampu membuat tempat yang tadinya gelap gulita menjadi jelas untuk dilihat, tiga orang namja yang sedang asyik memakan ramen mereka itupun menoleh ke arah sumber cahaya, salah satu dari mereka berdiri dan berjalan ke arah batu itu dan melihat apa yang tertulis di atas batu berbentuk hati tersebut.

“Aiden & Roxanne” Gumannya lirih hampir tak terdengar.

“Luhan-ah! Kembalilah kesini! Lagi pula kau tidak akan bisa membacanya, kau itu manusia!!” Teriak Dongwoo

DEG

Mata Luhan terbelalak, dia tersentak setelah mendengar perkataan Dongwoo, dia juga ingat dengan penjelasan Sungmin tadi, kali ini dia bingung, bagaimana bisa dia membaca tulisan yang jelas-jelas tidak bisa di baca oleh manusia? Bahkan ia merasa sangat mengenal tulisan itu.

“Aku…… apakah aku….”

‘kau memang bukan manusia biasa, Luhan, kau salah satu yang terpilih’, lagi, Luhan mendengar suara, tapi suara ini adalah suara yeoja. Luhan tiba-tiba merinding, dia akhirnya memutuskan untuk kembali makan ramennya bersama Sungmin dan Dongwoo.

“Luhan-ah.. apa kau bisa membaca tulisannya?” Tanya Dongwoo.

“Tulisannya adalah Aiden & Roxanne” Jawab Luhan tanpa sadar, lalu bermain dengan api unggun di depannya.

Jawaban Luhan membuat Sungmin seketika tersedak dan membuat Dongwoo tidak jadi memakan rotinya, mereka melihat Luhan intens, merasa di perhatikan Luhan kemudian melihat Dongwoo dan Sungmin bergantian.

“Wae?”

“Ba.. Bagaimana kau bisa membacanya?”

“Molla” Jawab Luhan yang kemudian meneruskan acara bermainnya dengan api unggun.

“Luhan-ah… apa kau benar-benar manusia?” Tanya Sungmin

“Lalu kalau aku bukan manusia apa? Hantu? Lihat.. aku masih utuh, tidak transparan ataupun tembus pandang!!” Kata Luhan sambil membuka sarung tangan yang sedari tadi di pakainya tanpa terlepas sekalipun, namun Luhan terbelalak ketika melihat tanda aneh di punggung tangannya.

“Mwoya? Apa ini?” Kata Luhan dengan kening berkerut. Luhan memperhatikan lambang itu dengan seksama, lambang itu berkilat biru sebentar, mata Luhan semakin lebar karenanya.

“Apa itu?” Tanya Sungmin dan Dongwoo hampir bersamaan karena rasa penasaran mereka.

“Molla, tiba-tiba saja ada tanda aneh ini”

‘jangan-jangan benar kalau Luhan bukan manusia, dia bisa mebaca tulisan itu dan sekarang di tangannya mucul tanda aneh’, Luhan mendengar pikiran Dongwoo, tapi Luhan tetap diam saja.

“Hyung… Dongwoo-ah.. aku rasa aku akan tidur duluan, seharian ini aku merasa aneh” kata Luhan kemudian masuk ke dalam tenda dan tidur.

-***-

Fajar menyingsing di saat Luhan membuka matanya, Sungmin dan Dongwoo masih tertidur lelap, Luhan mebiarkan mereka dan keluar untuk melihat pemandangan fajar, ketika ia keluar di lihatnya seekor rusa betina berdiri di atas batu hati, rusa itu menatapnya, dan anehnya mata rusa betina itu berwarna biru.

“Waahh… Rusa fajar…” Kata Luhan dengan mata yang lebar.

Rusa itu kemudian berjalan ke arah Luhan, rusa itu kemudian berubah menjadi cahaya putih dan berubah menjadi yeoja cantik yang beberapa hari ini dilihatnya.

Luhan mebelalakkan matanya kaget

“Kau…..” Kata Luhan sambil menunjuk yeoja itu.

“Aku Roxanne, Fove guardian Aiden, pria bermata teduh yang kalu lihat di dalam pikiranku, dan kau adalah MAMA ciptaan dari Aiden, kekuatanmu adalah pikiran, baik itu mind-controlling, teleknis, telepathy dan mind-reading, kau harus mencari MAMA lain secepatnya agar bisa menyelamatkan jagad raya, cari orang yang mempunyai tanda hexagon seperti yang ada di lehermu, jumlah kalian ada 12, tapi aku yakin kau bisa jauh lebih mudah menemukan mereka karena kau telah melihat wajah mereka di dalam pikiranku, kali ini aku hanya memberitahumu hal ini, aku akan selalu mengawasimu, jika kau membutuhkanku, tinggal panggil aku dengan pikiranmu, kau bisa memanggilku Roxanne, atau…. Yoona”

Yeoja itu kemudian berubah menjadi cahaya dan menghilang seiring dengan matahari yang kini sudah seujung tombak, Luhan masih terpaku, apakah itu tadi benar-benar nyata?

‘Ini kenyataan Xi Luhan, lebih baik sekarang kau segera pulang dan mencari Wind, seorang namja dengan wajah hampir mirip sepertimu namun lebih tinggi, dia adalah MAMA dengan ikatan batin paling kuat denganmu, dadamu tidak akan sakit ketika kau pertama kali bertemu dengannya, berbeda jika kau bertemu dengan MAMA lain untuk pertama kali, maka dadamu akan terasa sakit, dia adalah sebuah pengecualian untukmu, dan tanpa kau sadari sebenarnya kau sudah bertemu dengannya sekali’

Luhan mendengar suara Yoona lagi, dia menelan ludahnya kasar, Sungmin yang baru bangun keluar melihat Luhan terpaku di depan tenda sambil menatap air terjun.

“Luhan-ah…” Panggil Sungmin, Luhan menoleh.

“Hyung…. aku harus pulang….”

-TBC-

Iklan

22 thoughts on “History Of MAMA : Character Profile : Xi Luhan : “A Perfect Flower Boy”

  1. Sumpah ceritanya seru banget…
    Mianhe baru bisa komen di part nya luhan, pertama baca pas part nya D.O oppa dan langsung tertarik sama nih cerita, udah baca yang part nya Chanyeol, Kris , Suho dan kai oppa juga itu keren-keren banget ditunggu part selanjutnya ya.
    Keep Writing ya thor.
    FIGHTING
    aku akan selalu komentar aaaa~ seneng bgt baca ffnya

  2. Abang lulu and his power Telecinetics. Tadi aku sempat lupa soal wind itu tapi pas baca yg dibawahnya. Ok itu pasti Ttehuna. Jdi, kpankah mrk prnh ktemu senggol2an pas di jalan atau cuma lewat tp gak saling liri k kyk di sinet?

  3. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Oh Sehun : “Truth Behind His Poker Face”

  4. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Kim Minseok : “Her Betrayal, His Revenge”

  5. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Kim Jongdae : “Mother Loves Remain Forever”

  6. Ping-balik: Acha's Blog | History Of MAMA : Character Profile : Huang Zi Tao : “Runaway, Burdened Rules”

  7. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Byun Baekhyun : “Shining Power, Shining Person”

  8. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Zhang Yixing : “A Kind Healer”

  9. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA Chapter 1

  10. Ping-balik: History of MAMA Chapter 2 | Acha's Blog

  11. Ping-balik: History of MAMA Chapter 3 | Acha's Blog

  12. Ping-balik: History of MAMA Chapter 4 | Acha's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s