History of MAMA : Character Profile : Kim Minseok : “Her Betrayal, His Revenge”

Xiumin

History of MAMA

Title : History of MAMA

Author : lee_acha96 a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brothership, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Cast : EXO Member and other (find by yourself)

-History of MAMA-

Character Profile:

Kim Minseok : “Her Betrayal and His Revenge”

Summary :

“Minseok yang awalnya tidak tau ada tanda di punggung tangan kanannya terlonjak kaget ketika tanda itu berpendar, dia langsung melepaskan jabatan tangannya dengan Jongin”

-***-

A/N:

Untuk part ini jinjja mianhaeyo, kagak dapet ispirasi sama sekali, si dewa ide lagi pergi dari otak Author, baru dpet inspirasi waktu liat pre-debut videos nya EXO yang Minseok Oppa ma Kai, tap hasilnya tetep ajah amburadul, jinjja mianhaeyo.

Tapi gimanapun buat seluruh Readers yang udah baca ma komen Author benar-benar berterima kasih. 😀

typo(s) everywhere~

Part sebelumnya -> Chanyeol, Kris, Suho, Kai, D.O, Luhan, Sehun,

Happy Reading ^^

-***-

Seorang namja terlihat sedang menikmati minuman beralkohol di sudut bar sendirian, beberapa yeoja menghampiri namja itu dan menggodanya, tapi namja itu sama sekali tidak menghiraukan godaan mereka, sampai akhirnya seorang yeoja yang terlihat sangat luxury menghampiri namja itu dan tersenyum,namja tersebut membalas senyuman yeoja luxury itu kemudian berdiri dan memeluknya. Melihat itu para yeoja yang tadi menggodanya meninggalkannya satu per satu. Yeoja luxury itu kemudian mengambil tempat duduk di sebelah namja yang tadi memeluknya.

“Lama tidak bertemu…” Ucap yeoja itu,

“Hampir tiga tahun” jawab sang namja.

“Kau tidak banyak berubah, kau hanya sedikit lebih kurus sekarang, pipi chubbymu juga hampir hilang, Minseok…” Ucap yeoja itu sambil menatap namja yang ada di sebelahnya.

“Kau yang berubah, kau menjadi semakin cantik, Lee Dahye”

“Tsk… Bahkan kebiasaanmu merayuku juga tidak pernah berubah Kim Minseok-ssi” Minseok hanya tersenyum,

“Mau sedikit cocktail?” Tanya Minseok pada Dahye.

“Boleh,” jawab Dahye singkat.

Minseok kemudian menuju bartender dan memesan dua cocktail untuk dirinya dan Dahye, setelah mendapatkannya Minseok kembali ke tempatnya bersama Dahye tadi dan memberikan cocktail warna merah untuk wanita di sampingnya ini.

“Apa alasanmu pulang ke Korea kali ini?” Tanya Minseok pada Dahye.

“Hanya membereskan beberapa urusan”

“Urusan dengan ‘dia’ maksudmu?”

“Hmm-mm, kau benar, aku masih ada urusan dengan ‘dia’, mungkin aku akan memerlukan bantuanmu lagi”

“Aku siap membantumu kapanpun, bahkan tanpa kau minta” kata Minseok kemudian menggenggam tangan Dahye, Dahye menatap mata Minseok dalam kemudian mencium bibir namja itu lembut, Minseok pun membalas ciuman Dahye, setelah beberapa saat ciuman mereka terlepas, Dahye tersenyum kepada Minseok.

“Aku beruntung mempunyai patner sepertimu” Dahye mengeratkan genggaman tangannya kepada Minseok dan kemudian mencium bibir namja itu lagi.

-***-

@Ansan, Seoul

Minseok duduk di sebuah bangku taman, dari tadi terus melihat layar handphone.nya, dia menunggu panggilan dari seseorang, beberapa saat kemudian sebuah panggilan masuk ke handphone Minseok.

“Yoboseyo?”

“Kim Minseok-ssi?”

“Ye… nuguseyo?”

“Jeoneun Kang Woobin imida, saya yang nanti akan mempersiapkan semua yang anda butuhkan untuk tugas anda, nona Lee Dahye sendiri yang mengutus saya, apa ada yang anda butuhkan sekarang?”

“Cukup cari tau orang terdekat dan orang andalan ‘dia’ dan apa yang di rencanakan oleh ‘dia’ saat ini..”

“Baiklah kalau begitu, saya akan menghubungi anda beberapa jam lagi”

Tuuutt… sambungan di tutup, Minseok menghembuskan nafas berat, tugas dari Dahye saat ini bisa di bilang cukup sulit, mungkin orang lain akan bertanya-tanya apa sebenarnya hubungan antara Minseok dan Dahye, jika orang lain ingin tau jawabannya,  jawabannya adalah ‘tidak ada’, mereka memang tidak pernah menjalin hubungan apapun, mereka hidup dengan dunia mereka sendiri, dan juga tidak pernah ada perasaan spesial yang tumbuh di antara mereka, mereka hanya orang yang saling mengenal dan membantu satu sama lain, Minseok adalah seorang mafia kelas C, sedangkan Dahye adalah seorang pebisnis yang menggunakan title pebisnisnya itu sebagai topeng identitasnya yang sebenarnya, Dahye sama seperti Minseok, seorang mafia, tapi dia adalah mafia kelas A.

Handphone Minseok bergetar lagi, kali ini Dahye yang menelponnya.

“Yoboseyo?”

“Minseok-ah, apakah Woobin sudah menelponmu?”

“Dia baru saja menelponku”

“Ah… bagus kalau begitu, Minseok-ah… apa kau tau pembunuh bayaran yang mempunyai julukan Black Gun?”

“Aku pernah mendengar tentangnya tapi aku tidak pernah bertemu dengannya, wae?”

“Apa yang kau dengar?”

“Aku mendengar dia adalah pembunuh yang sangat handal, bahkan hasil pekerjaannya tidak berbekas sedikitpun, sangat rapi dan bersih”

“Minseok-ah…. Apa sebaiknya kita mencari Black Gun itu untuk membereskan ‘dia’?”

“Kalau itu maumu aku bisa mencarinya”

“Geurae, gomawo”

“Hmm”

“Ngomong-ngomong kau sekarang dimana?”

“Na? Aku di taman”

“Mau apa kau di sana? Apa sedang tidak ada pekerjaan?”

“Molla, aku hanya malas menerima tawaran dari orang-orang”

“Wae?”

“Molla” Jawab Minseok singkat

“Baiklah kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya, aku ada urusan”

“Geurae”

Tuuuttt, sambungan telpon di handphone Minseok terputus lagi, Minseok memasukkan handphone.nya ke saku, dia kemudian dan berdiri dan berjalan di sekeliling taman, dia melihat banyak keluarga dan mahasiswa yang bermain-main di taman ini, tapi sebagian dari mereka hanya sekedar jalan-jalan.

“Kim Minseok-ssi?” Tiba-tiba seseorang menghampiri Minseok, Minseok menatap orang itu bingung, Minseok memang tidak tau siapa orang yang menghampirinya ini.

“Anda Kim Minseok-ssi?” Tanya orang itu lagi.

“Ne, Anda siapa?”

“Saya Kang Woobin, saya yang tadi menelpon anda”

“Ah.. Kang Woobin-ssi, sedang apa anda disini dan bagaimana anda tau kalau saya adalah Kim Minseok?”

“Saya hanya mencari udara segar, nona Lee Dahye mengirimi saya foto anda, tapi sepertinya anda lebih berisi di foto”

“Saya kehilangan berat badan akhir-akhir ini”

“Ahh…saya mengerti, kalau begitu, bagaimana kalau kita meminum secangkir kopi sambil membahas tugas dari nona Lee Dahye”

“Boleh” Jawab Minseok singkat.

Minseok dan Woobin kemudian berjalan menuju cafe di dekat taman, mereka memilih tempat duduk di dekat jendela agar lebih terang, Minseok memesan espresso, sedangkan Woobin memesan Americano.

“Rupanya kita berdua sama-sama kurang menyukai gula” Ucap Woobin sambil tersenyum, beberapa saat kemudian pesanan mereka datang.

“Kamsahamida” Ucap Minseok pada pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.

Woobin kemudian mengeluarkan beberapa berkas dari tas yang di bawanya kemudian memberikannya kepada Minseok. Minseok membaca berkas-berkas itu dengan seksama, sesekali Minseok mengerenyitkan keningnya, setelah mebaca semua berkas itu Minseok menatap Woobin.

“Woobin-ssi, apa anda yakin tentang semua yang ada di berkas itu?”

“Ne, sangat yakin, karena sebenarnya sudah dua tahun ini saya mengawasi’nya’, waeyo?”

“Dan pembunuh bayaran bernama yang dijuluki Black Gun itu adalah orang andalan’nya’?”

“Ne, Black Gun adalah orang andalan’nya’ sedangkan orang kepercayaan’nya’ adalah GD”

“Ini lebih sulit dari pada yang aku bayangkan” Ucap Minseok sambil menatap berkas-berkas yang ada di depannya.

“Apanya yang sulit, Minseok-ssi?”

“Dahye menyuruhku untuk membunuh ‘dia’ dengan menyewa Black Gun” Ucap Minseok lirih.

“Mungkin hal itu tidak terlalu sulit”

“Tidak terlalu sulit?” Minseok bertanya pada Woobin.

“Ne, Black Gun sebenarnya hanyalah pelajar kelas satu SMA, Black Gun menjadi anak buah ‘dia’ karena terpaksa, Black Gun melakukan itu agar bisa membayar hutang orang tuanya yang telah di bunuh oleh ‘dia’ karena orang tua Black Gun tidak mampu membayar hutang mereka, dan ‘dia’ membunuh mereka di depan mata Black Gun sendiri, jadi saya rasa pasti Black Gun mempunyai dendam kepada ‘dia’”.

“Bisa jadi” Jawab Minseok.

Tiba-tiba handphone Woobin berdering, Woobin mengangkat teleponnya, tiba-tiba ekspresi Woobin terlihat sangat serius, dia kemudian mengambil bolpoint dan kertas dan menulis sesuatu di atas kertas itu.

“Arraseo” Kata Woobin kemudian menutup sambungan teleponnya.

“Kim Minseok-ssi, kita akan berangkat ke Jeju besok”

“Kenapa tiba-tiba? Ada apa sebenarnya?” Tanya Minseok bingung.

“Kita akan mengamati Black Gun secara langsung, dia akan ke Jeju besok untuk menjalankan misinya”

Minseok hanya diam kemudian melihat foto Black Gun yang ada di berkas yang di berikan Woobin tadi.

-***-

@Incheon Airport

Minseok dan Woobin berpenampilan seperti orang-orang lain yang akan berwisata ke pulau Jeju agar tidak menimbulkan kecurigaan, mereka juga tidak membawa senjata karena mereka berfikir belum saatnya mereka menggunakan senjata, Minseok dan Woobin memandangi sekeliling mereka untuk mencari Black Gun.

Mata Minseok menemukan dua orang yang mirip satu sama lain tapi yang satu mempunyai warna kulit lebih gelap, ada yang aneh dengan dada Minseok, dadanya tersa sedikit sakit, namun dia tidak memperdulikan rasa sakit di dadanya itu, Minseok kemudian menyenggol Woobin yang kemudian menolehkan wajahnya ke Minseok

“Waeyo, Minseok-ssi?” Tanya Woobin.

Black Gun” Ucap Minseok sambil menunjuk salah satu dari dua orang yang mirip tadi.

-***-

@Paradise Hotel, Jeju

Minseok dan Woobin mengawasi tingkah laku Black Gun mulai dari pertama kali turun tanpa menimbulkan kecurigaan Black Gun sedikitpun, dan selama mengawasi Black Gun, dada Minseok selalu terasa sakit walau tidak seberapa, tapi Minseok mengabaikan rasa sakit yang di rasanya, Minseok dan Woobin bertindak layaknya pengunjung-pengunjung lain, sampai akhirnya Minseok dan Woobin duduk di hall hotel untuk mengawasi Black Gun yang bersembunyi di balik sebuah pilar sambil terus melihat ke arah pintu ruang rapat.

Tak lama kemudian beberapa orang keluar dari ruang rapat dan Black Gun sudah bersiap-siap dengan senjatanya, satu tembakan dilepaskan Black Gun tanpa menimbulkan suara namun tepat sasaran, Minseok dan Woobin sama-sama membelalakkan matanya melihat apa yang baru saja terjadi, begitu rapi dan tidak berbekas. Black Gun meninggalkan hall dan keluar, segera saja Minseok dan Woobin mengikuti kemana Black Gun pergi.

Black Gun ternyata pergi ke pasisir pantai pulau Jeju, Minseok dan Woobin mengawasi Black Gun dari jauh, melihat angin yang menerpa wajah Black Gun entah kenapa hati Minseok seakan terasa sangat tenang, Minseok kemudian melihat seseorang tiba-tiba muncul di samping Black Gun, Minseok menyipitkan matanya untuk mempertajam pandangannya, orang yang kini berbicara dengan Black Gun bukan merupakan orang yang dilihatnya tadi di bandara bersama Black Gun, dan lagi, dada Minseok terasa sakit lagi.

“Apa dia gila?” Ucap Woobin kemudian. Minseok menoleh kepada Woobin.

“Maksudmu?”

“Lihat saja dia, saat ini berbicara sendiri seperti orang gila” Minseok kaget mendengar perkataan Woobin, di lihatnya lagi Black Gun, jelas-jelas Black Gun saat ini sedang berbicara dengan seseorang, apa Woobin tidak melihatnya?

“Dia sedang berbicara dengan seseorang” Kata Minseok kemudian, kali ini Woobin yang kaget mendengar perkataan Minseok, Woobin tidak melihat siapapun di pantai itu kecuali Black Gun.

“Aniyo Minseok-ssi, dia berbicara sendiri, tidak ada orang lain di pantai ini kecuali Black Gun

“Ne? Saat ini ada dua orang di sana, Black Gun dan satu orang lagi yang aku tidak tau” sanggah Minseok.

Keduanya saling beradu mulut berebut siapa yang paling benar, dan tanpa mereka sadar Black Gun telah pergi. Minseok dan Woobin akhirnya mengehentikan perdebatan mereka dan menganggap mungkin mata mereka ada keanehan, mereka melihat lagi ke arah Black Gun namun mereka tidak melihat siapapun di sana. Minseok dan Woobin saling menatap.

“Ppali kejar dia!!!!” Kata mereka bersamaan kemudian mereka berlari menuju mobil. Minseok mengemudikannya dengan kecepatan penuh menuju ke hotel, beruntung Black Gun baru saja keluar dengan temannya itu, segera saja Minseok dan Woobin mengambil barang-barang mereka dan check out dari hotel tersebut.

-***-

@Incheon Airport.

Minseok dan Woobin masih saja mengawasi Black Gun, mereka melihat Black Gun sedang menunggu taxi namun dia tiba-tiba menunduk, suara tembakan terdengar dan seorang wanita tua tertembak, Minseok hanya melongo melihat itu, sedang Woobin cepat-cepat menolong orang yang tertembak tadi. Minseok kemudian melihat Black Gun mengambil senjata dari sakunya, Minseok terbelalak melihat hal itu, bagaimana mungkin Black Gun bisa melewati tes keamanan di bandara padahal jelas-jelas dia mengantongi sebuah senjata.

Black Gun kemudian menembakkan senjatanya, lagi, tanpa suara, dilihatnya seorang namja jatuh dari belakang pilar dengan dada berdarah, Minseok menyipitkan matanya melihat siapa yang baru saja di tembak Black Gun, mata Minseok kemudian melebar.

“No way… He kill GD” ucap Minseok lirih.

Masih belum lepas dari keterkejutannya, tiba-tiba langit mulai gelap, Minseok menatap ke atas, ternyata gerhana matahari, Minseok sadar jika dia melihat gerhana matahari maka matanya bisa buta, tapi ada bagian dalam hatinya yang menyuruhnya untuk melihat gerhana itu, Minseok berperang melawan hatinya sediri, akhirnya Minseok memutuskan untuk mengalihkan pandangannya ke Black Gun, berbeda dengan Minseok Black Gun menatap gerhana itu tanpa berkedip, tiba-tiba Minseok melihat Black Gun memegang dadanya, dia terlihat kesakitan, begitu pula dengan Minseok, dadanya makin terasa sakit, dia juga memegang dadanya seperti Black Gun, karena rasa sakit yang bertubi-tubi, Minseok tidak kuat untuk tidak berteriak.

“AAKKKHHHH!!!” Minseok dan Black Gun berteriak bersamaan, Woobin yang mendengar teriakan Minseok mengalihkan perhatiannya ke arah Minseok segera berlari kearahnya.

“Kim Minseok-ssi!!!!”

-***-

Minseok membuka matanya menatap sekeliling, ini dikamarnya, kepalanya terasa sangat pening, dia memegangi kepalanya kemudian melihat jam yang tergantung di dindingnya, matanya melebar ketika melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, bagaimana bisa dia tertidur selama itu, di lihatnya handphone yang tergeletak di ranjangnya, mengecek isinya, 123 panggilan tak terjawab dan 38 pesan masuk, Minseok mengerenyit, di lihatnya ID pemanggil yang menelponnya sebanyak itu, semuanya dari Kang Woobin, dia membuka pesan-pesan yang masuk, sama, semua dari Kang Woobin.

Minseok langsung meloncat dari ranjangnya setelah membaca pesan Woobin segera saja dia memakai pakaian dan mengambil kunci mobilnya dan melesat ke luar, dia menuju ke suatu tempat, dia masih tidak percaya dengan pesan yang di kirimkan oleh Woobin padanya, akhirnya Minseok samapi ke tempat tujuannya, dilihatnya sudah banyak orang berkumpul di tempat tujuannya saat ini, tempat tujuannya saat ini adalah rumah Dahye, sore ini Dahye di temukan tewas dengan mengenaskan di apartemen Kangta, Dahye terbunuh, Kangta juga terbunuh dan kondisinya juga tidak kalah mengenaskannya dari Dahye, Woobin tadi mengirimi Minseok yang isinya adalah selama ini Dahye ternyata hanya memanfaatkan Minseok, sebenarnya Dahye dan Kangta sudah lama menjalin hubungan dan berusaha untuk menyingkirkan orang-orang yang berusaha mneghalangi jalan mereka, termasuk Minseok.

Minseok di anggap menghalangi jalan mereka berdua karena Minseok sangat mengenal Dahye dan orang-orang terdekat Dahye, dan itu berbahaya untuk rencananya dengan Kangta, dan alasan Dahye memerintahkan Minseok untuk menyewa dan mengamati Black Gun adalah karena Dahye berencana membunuh Minseok lewat tangan Black Gun. Minseok masih berdiri mematung di depan rumah Dahye, sebelum akhirnya ia di sadarkan oleh tepukan di bahunya, Minseok menoleh. Ternyata  Kang Woobin.

“Kim Minseok-ssi… mari kita masuk, setidaknya kita memberi penghormatan terakhir untuk nona Dahye walaupun dia telah menghianati kita, kajja!” Kata Woobin sambil menepuk punggung Minseok dan menuntunnya masuk.

Minseok melihat dua peti mati di dalam rumah Dahye, satu adalah tempat jasad Dahye dan satu lagi adalah tempat jasad Kangta, Minseok berjalan ke peti Dahye dan melhat wajah yeoja yang sekarang sudah memucat tidak di aliri darah itu.

“Ternyata selama ini kau membohongiku, selama ini kau mengarang cerita perseteruanmu dengan Kangta, kau bahkan menyuruhku untuk membunuh Kangta, apa kau pernah menyangka kalau itu akan menjadi tugas terakhir yang kau berikan padaku? Dan apakah kau pernah mengira pada akhirnya kau terbunuh bersama target bualanmu sendiri? Dahye-ah, sayangnya aku tidak bisa memenuhi tugas terakhirmu, dan ternyata hidupku beruntung, kau sudah terbunuh bahkan sebelum aku membuat dendam kepadamu, jadi aku tidak perlu repot-repot mengotori tanganku dengan darahmu” Kata Minseok sambil menyeringai kemudian menutup wajah Dahye dengan kain tipis.

Minseok kemudian berjalan ke tempat duduk, dia duduk dan menyandarkan tubuhnya ke sofa, tiba-tibanya dadanya terasa sedikit sakit, dia memegangi dadanya dan kemudian melihat ke arah pintu, dilihatnya Black Gun memasuki ruangan kemudian meletakkan masing-masing setangkai bunga di masing-masing peti.

Black Gun berjalan ke arah Minseok membuat dada Minseok terasa semakin sakit, Minseok tetap saja memandang Black Gun sambil memegangi dadanya, kali ini Black Gun juga memgangi dadanya sama seperti dia, tiba-tiba Black Gun mengulurkan tangannya kepada Minseok, Minseok memandang Black Gun heran namun tetap saja ia menerima uluran tangan Black Gun.

“HHFFFTTT” Mereka membuang nafas bersamaan saat tangan mereka bersentuhan, rasa sakit di masing-masing dada mereka hilang seketika dan tanda mereka di punggung tangan kanan masing-masing saling berpendar.

Minseok yang awalnya tidak tau ada tanda di punggung tangan kanannya terlonjak kaget ketika tanda itu berpendar, dia langsung melepaskan jabatan tangannya dengan Black Gun.

“Mwoya?!!” Kata Minseok sambil melihat tanda yang kini sudah tidak berpendar lagi itu.

“Anneyeonghaseyo, Kim Jongin imida” Black Gun memperkenalkan dirinya secara formal kepada Minseok, membuat Minseok semakin heran.

“Anda pasti terkejut, saya awalnya juga seperti itu” lanjut Jongin masih dengan bahasa yang sopan, “Kalau anda ingin tau apa yang sebenarnya mari ikut saya” Jongin mengulurkan tangannya lagi, dengan ragu Minseok akhirnya berdiri kemudian meraih uluran tangan Jongin, Jongin tersenyum kemudian melangkahkan kakinya, dalam sekejap mereka sudah ada di taman kota.

“Mwoya???!!!” Minseok lagi-lagi kaget, dia menatap Jongin dengan pandangan penuh kebingungan dan meminta penjelasan dari Jongin.

“Bukan saya yang akan menjelaskannya, tapi Onew hyung, Onew hyung!!” Jongin memanggil nama seseorang, tiba-tiba orang yang di panggil tiba-tiba muncul di sebelah Minseok dan lagi-lagi membuat Minseok terlonjak kaget. Minseok melihat Onew dengan intents, bukankah dia ini adalah orang yang ia lihat berbicara di pantai pulau Jeju dengan Jongin?

“Lebih baik kita berbicara sambil duduk” Kata Onew kemudian, mereka akhirnya memilih bangku di dekat air mancur. Onew menjelaskan semuanya dengan detail mulai awal, Minseok yang mendengarnya hanya melongo tidak percaya.

“Kalian sudah gila!” Ucap Minseok kemudian berjalan meninggalkan Onew dan Jongin, tapi dalam sekejap Jongin sudah berada di depan Minseok.

“Mwoya?” lagi-lagi Minseok kaget.

“Tolong percayalah pada kami…” Jongin memelas kepada Minseok.

“Kalau kau tidak percaya kau boleh mencoba kekuatanmu, kau bisa membekukan taman ini jika kau mau” kata Onew kepada Minseok yang tiba-tiba ada di sebelah Jongin, Minseok menatap mata Jongin dan Onew bergantian, tidak ada kebohongan dimata mereka, tapi rasanya sangat sulit untuk Minseok percaya, Minseok masih ragu, hatinya bimbang walapun dia telah melihat kemampuan Jongin secara langsung.

“Jangan ragu, coba saja” kali ini Jongin yang mendorongnya.

Minseok akhirnya mencoba untuk sedikit mempercayai mereka, dia  mengambil nafas panjang, dia memejamkan matanya mencoba berkonsentrasi, perlahan tapi pasti segala hal yang ada di sekitar mereka bertiga mulai membeku, karena terlalu berkonsentrasi Minseok tidak sengaja membekukan orang-orang yang ada di taman.

“Hyung cukup! Hentikan! Kau membekukan orang-orang!” Teriak Jongin, Minseok langsung membuka matanya kemudian melihat semua yang di sekelilingnya telah membeku.

“Ahhh… eotthoke??” Tanya Minseok panik, kali ini dia telah sepenuhnya percaya, tapi rasa paniknya karena tidak sengaja membekukan orang-orang lebih mendominasi dari pada rasa percayanya saat ini.

“Berkonsentrasilah untuk menghilangkannya” Perintah Onew.

Minseok menurut, dia memejamkan matanya lagi, dia berkonsentrasi untuk menghilangkan kebekuan yang ia ciptakan, perlahan-lahan kebekuan itu pun menghilang, Minseok membuka matanya lagi, semuanya terlihat normal sekarang, Minseok menghembuskan nafasnya lega. Onew juga membuang nafasnya berat melihat semuanya telah kembali normal, dia menatap Minseok dan Jongin bergantian, Minseok masih belum sepenuhnya sadar dari kejadian yang baru saja di alaminya, sedangkan Jongin mentap Minseok dengan tersenyum.

“Lebih baik aku meninggalkan kalian berdua, kalian lebih baik bicara berdua” Kata Onew kemudian langsung menghilang. Minseok yang masih belum terbiasa masih kaget dengan Onew yang tiba-tiba menghilang.

“ITU MEREKA BERDUA!!! BLACK GUN DAN MAFIA KELAS C ITU!!!” Baru saja Onew menghilang tiba-tiba ada suara yang mengagetkan mereka berdua, Jongin dan Minseok menoleh, ternyata itu adalah salah satu anak buah dari Dahye dan Kangta yang sama-sama mereka kenal, Minseok dan Jongin saling pandang sejenak.

“PPALI KITA LARI!!!!” Teriak Minseok kemudian berlari sambil menggandeng tangan Jongin, mereka berlari ke arah selatan taman kota, tapi rupanya mereka kurang beruntung, seluruh taman kota ini sudah di kepung oleh anak buah Dahye dan Kangta, Jongin dan Minseok akhirnya memutuskan untuk berpencar, Minseok ke sebelah kanan, dan Jongin ke sebelah kiri, Minseok berlari dengan sekuat tenaganya, tapi di sebelah kanan ia malah di hadapkan dengan anak buah andalan Dahye, Minseok tidak bisa bergerak lagi, dia melangkah tiga langkah ke belakang, tiba-tiba ia ingat dengan kekuatannya, dia melihat anak buah Dahye dengan tatapan dingin, perlahan tapi pasti semua yang ada di depannya mulai membeku.

Saat semuanya membeku sempurna Minseok teringat dengan Jongin, dia segera berlari mencari Jongin, setelah menemukan Jongin dia meihat kini Jongin sedang di kepung, mereka semua mengarahkan pistolnya kepada Jongin, Minseok berlari ke Jongin kemudian menggenggam tangan Jongin, Jongin menoleh.

“Teleportasi, sekarang!!!” Perintah Minseok, Jongin menurut,  dia melangkahkan kakinya satu langkah dan mereka langsung berada di atas gedung Inha university. Minseok dan Jongin menghembuskan nafas lega, mereka tidak perduli apa yang anak buah Dahye dan Kangta lakukan di sana saat ini. Minseok dan Jongin menyandarkan tubuh mereka ke salah satu tembok.

“Emmm….Minseok hyung…” Jongin membuka percakapan di antara mereka.

“Hmm???” Jawab Minseok, Minseok kemudian  menatap Kai.

“Hyung tau aku adalah seorang pembunuh bayaran ‘kan?” Tanya Jongin hati-hati, Minseok sedikit kaget mendengar pertanyaan Jongin, kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal itu? Tapi Minseok kemudian dapat menguasai dirinya kembali dan bersikap tenang.

“Ara, aku yakin kau juga sudah tau kalau aku adalah seorang mafia” Ucap Minseok jujur, Jongin kaget mendengar pengakuan jujur dari Minseok.

“Hyung benar-benar mafia? Jinjja?” Tanya Jongin memastikan dia tidak salah mendengar.

“Hmm-mm, aku adalah seorang mafia, kau tidak tau?” Tanya Minseok kepada Jongin,

“Aku kira saat mereka tadi menyebut mafia itu bukan untuk hyung”

“Aku memang seorang mafia, dan sejujurnya saat pertama kali aku mendengar penjelasan dari kalian aku mencoba menolak karena aku malu, Aku merasa tidak pantas menjadi MAMA karena kelakuan burukku, aku malu pada diriku sendiri” Kata Minseok yang kemudian mengarahkan pandangannya ke bulan.

“Aku juga hyung…” Kata Jongin lirih dan mengikuti arah pandangan Minseok.

“Hyung…” Panggil Jongin lagi. Minseok menatap Jongin. “Apa kita bisa merubah hidup kita agar tidak buruk lagi?” Minseok mengelus rambut Jongin lembut.

“Molla, tapi setidaknya kita harus berusaha, kita sekarang punya tanggung jawab besar, dan juga Jongin-ah…. maukah kau menjadi dongsaengku? Aku sebenarnya tidak pernah punya keluarga selama ini, aku besar di panti asuhan” Ucap Minseok sambil melihat menatap Jongin.

“Tentu saja, dan hyung mau juga kan menjadi hyungku?”

“Tentu” Jawab Minseok sambil tersenyum,

“Hyung… aku ingin membuat pengakuan kepadamu”

“Pengakuan apa?”

“Sebenarnya…. aku lah yang telah membunuh Kangta dan Dahye, mungkin itu sebabnya mereka mengejar kita, aku minta maaf karena membuatmu mendapatkan waktu yang sulit, hyung” Minseok mengerenyitkan keningnya.

“Kau?” Tanya Minseok memastikan.

“Hmm-mm, aku minta maaf hyung, dan juga aku minta maaf karena aku tidak tau kalau Lee Dahye itu adalah orang yang dekat denganmu”

“Gwenchana Jongin-ah, aku malah senang kau membunuhnya” UcapMinseok, Kali Ini Jongin yang kaget.

“Apa hyung serius?”

“Hmm-mm, lagi pula aku tidak ada hubungan dengan Dahye, yang ku dapat dari Dahye hanyalah rasa sakit hati karena penghianatannya, bahkan setelah kematiannya aku masih di susahkan olehnya, dia membuat orang-orangnya untuk mengejar kita, sebenarnya dengan kau membunuh Dahye dan Kangta sama saja kau telah membalaskan dendammu dan juga dendamku walau kau tidak menyadarinya, lagi pula mereka tidak akan mampu melawan kita, kita ini seorang MAMA, gomawo Jongin-ah”

“Hyung tau tentang dendamku?” Tanya Jongin tidak percaya.

“Hmm-mm, sejujurnya aku mengawasi dan mengikutimu beberapa hari ini, mungkin kau tidak menyadarinya”

“Ahh…. pantas saja dadaku terasa sedikit sakit kemarin-kemarin, ternyata hyung mengikutiku”

“Dadamu sakit? Tapi kau terlihat baik-baik saja, aku yang malah merasa sedikit terganggu”

“Aku mengabaikan rasa sakit itu hyung, dan bersikap seakan tidak ada apa-apa”

“Ahhh… begitu rupanya, ya sudahlah, lupakan semua masa lalu dan sekarang mari kita mulai hidup yang baru” Ucap Minseok sambil merangkul bahu Jongin.

“Ne hyung” Jawab Jongin menatap Minseok dengan tersenyum.

-TBC-

Iklan

22 thoughts on “History of MAMA : Character Profile : Kim Minseok : “Her Betrayal, His Revenge”

  1. Hohoho first kah? Xiu oppa i love you kya keren dan aku lupa waktu baca yg kai soal keberadaan si dahye itu mungkin aku aja yg krng teliti ya aku tunggu yg lain ya

  2. semangaaaattt…….. phus……phus…..
    Berapa karakter lagi ya…. 1….2…3…..
    Pokoke di lanjut bae lah,thanks buat yang nulis,udah bikin cerita yang ok punya.

  3. Lanjut2 chingu…
    Aku msh penasaran sma part yang sblumnya.. yang sehun oppa manggil yoona eonnie mama… emang sehun oppa anaknya yoona eonnie ya? #mian kepo…
    Pokok.nya intinya cepet dlanjut ya chingu..

  4. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Kim Jongdae : “Mother Loves Remain Forever”

  5. Ping-balik: Acha's Blog | History Of MAMA : Character Profile : Huang Zi Tao : “Runaway, Burdened Rules”

  6. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Byun Baekhyun : “Shining Power, Shining Person”

  7. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Zhang Yixing : “A Kind Healer”

  8. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA Chapter 1

  9. Ping-balik: History of MAMA Chapter 2 | Acha's Blog

  10. Ping-balik: History of MAMA Chapter 3 | Acha's Blog

  11. Ping-balik: History of MAMA Chapter 4 | Acha's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s