History of MAMA : Character Profile : Kim Jongdae : “Mother Loves Remain Forever”

Chen

 

History of MAMA

Title : History of MAMA

Author : lee_acha96 a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brothership, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Cast : EXO Member and other (find by yourself)

-History of MAMA-

Character Profile:

Kim Jongdae : “Mother Loves Remain Forever

Summary :

“langit di sekitar rumah sakit berubah menjadi sangat gelap, mendung tebal yang entah dari mana datangnya tiba-tiba muncul dengan petir yang menyambar-nyambar. Mata Jongdae berkilat biru selama beberapa saat”

-***-

A/N : Uwaahhh~~~

Author bekerja sangat keras untuk FF ini permirsah~ terimakasih atas segala komen dan views yang udah readers berikan *cium readers atu-atu*

Typo(s) everywhere but typo(s) is an art.

Part Sebelumnya -> Chanyeol, Kris, Suho, Kai, D.o, Luhan, Sehun, Xiumin

-***-

Kim Jongdae, seorang pemuda yang tinggal di sebuah rumah sederhana di daerah Siheung, Gyonggi-do, dia hanya tinggal berdua dengan ibunya, ayahnya meninggal karena penyakit yang di deritanya beberapa tahun lalu sehingga membuat ibunya terpaksa bekerja membanting tulang untuk menghidupi dan menyekolahkan Jongdae.

Jongdae adalah anak yang baik, setiap hari setelah pulang sekolah dia selalu melakukan pekerjaan rumah tangga menggantikan ibunya yang bekerja hingga larut malam, Jongdae sadar, jika dia tidak membantu pekerjaan rumah tangga maka tugas ibunya akan semakit berat, Jongdae benar-benar menyayangi ibunya terlebih setelah ayahnya meninggal. Jongdae sedang mengepel ketika ibunya pulang bekerja.

“Eomma kenapa sudah pulang?”

“Hmm?, eomma sedikit kecapekan, pemilik tempat eomma bekerja mengizinkan eomma untuk beristirahat”

“Apa eomma sakit?” Tanya Jongdae khawatir.

“Aniya, eomma baik-baik saja, kau jangan khawatir, setelah istirahat sebentar badan eomma pasti akan baikan”

“Jinjjayo? Kalau eomma sakit eomma bilang saja, aku akan membelikan obat”

“Aniya…. sudah eomma bilang eomma baik-baik saja, eomma lebih baik istirahat”

“Tentu saja eomma harus istirahat” Kata Jongdae kemudian menuntun ibunya ke kamar.

Jongdae kemudian menyelimuti ibunya, dia ke dapur dan membuatkan ibunya teh hangat dan bubur, kemudian kembali lagi ke kamar ibunya. Jongdae menyuapi ibunya dengan penuh kasih sayang, mendapat perlakuan penuh kasih sayang dari Jongdae membuat senyum yang terukir diwajah ibu Jongdae tidak pernah lepas, ibu Jongdae sangat bersyukur mendapat anak seperti Jongdae.

“Jongdae-ah…” Panggil ibu Jongdae.

“Ne?” Jawab Jongdae sambil menyendok bubur.

“Eomma selalu bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan mengirimkanmu kepada eomma” Kata ibu Jongdae kemudian mengelus rambut anaknya lembut.

“Apa yang eomma katakan? Aku yang seharusnya bersyukur Tuhan telah memberikanku eomma yang hebat” Kata Jongdae sambil tersenyum lebar. Ibu Jongdae pun ikut tersenyum.

“Jongdae-ah, eomma rasa sudah cukup buburnya, sekarang eomma mau tidur, eomma rasa besok eomma sudah bisa bekerja lagi”

“mwo? Andweyo eomma!!! Eomma tidak boleh bekerja sampai benar-benar sembuh!” Tolak Jongdae ketika mendengar pernyataan ibunya.

“Tidak apa-apa, eomma bahkan sekarang sudah merasa sehat karena eomma mendapat obat paling manjur di dunia, kasih sayang seorang anak terhadap ibunya”

“Pokoknya eomma besok masih tidak boleh bekerja!” tolak Jongdae lagi. Melihat itu eomma Jongdae kemudian menarik tangan anaknya.

“Jongdae-ah…. tatap mata eomma,” Jongdae menatap mata ibunya, Jongdae bisa melihat kasih sayang dan kebahagiaan yang sangat jelas terpancar di mata ibunya itu. “Eomma gwenchana, kau bisa memegang kata-kata eomma, arrachi?” Kata ibu Jongdae lembut. Jongdae menghembuskan nafas berat.

“Arrayo…” Jawab Jongdae kemudian.

“jadi kau mengizinkan eomma untuk bekerja besok?” Jongdae mengangguk kecil.

“Tapi eomma jangan sampai capek” pinta Jongdae.

“Arraseo, eomma tidak akan capek”

“Ya sudah kalau begitu, aku mau melanjutkan acara mengepelku tadi, eomma istirahat saja”

“Hmm-mm” Kata eomma Jongdae kemudian tersenyum, Jongdae membaringkan tubuh ibunya kemudian menyelimutinya, tak lupa juga Jongdae memberi kecupan di kening ibunya sebelum melanjutkan pekerjaan rumah tangganya.

-***-

Jongdae membaca buku di perpustakaan saat istirahat, ini adalah salah satu tekniknya agar dia tidak merasa lapar dan jajan, dia harus menghemat, ketika ia sedang serius membaca buku tiba-tiba seorang temannya memberitahunya jika ia di panggil oleh wali kelas mereka di kantor. Jongdae menutup buku yang di bacanya kemudian memenuhi panggilan wali kelasnya.

“Jongdae-ah…” Panggil wali kelasnya, Han seosangnim.

“Ne seosangnim” Jawab Jongdae.

“Apa kau tau alasanku memanggilmu kemari?” tanya Han seosangnim kepada Jongdae.

“Mollasseoyo seosangnim”

“Aku memanggilmu kemari karena kau telah menunggak uang sekolah selama tiga bulan, apa kau tau hal itu?” Han Seosangnim menjelaskan alasannya memanggil Jongdae

“Ah….Ne..”

“Kau tidak membayarnya karena memang benar-benar tidak mampu, Jongdae-ah?”

“Ne… saya memang tidak mampu membayarnya seosangnim” Jawab Jongdae jujur.

“Seharusnya kau bilang dari awal jika kau tidak mampu, sekolah bisa memberikan beasiswa kepadamu, lagi pula nilaimu tidak begitu buruk, apa kau mau Jongdae-ah?” Tanya Han seosangnim.

“Tentu saja saya mau seosangnim!” Jawab Jongdae seketika.

“Baiklah, aku akan mengurusnya untukmu kalau begitu, tapi kau harus berjanji nilaimu tidak boleh turun”

“Ne, saya berjanji!” Ucap Jongdae dengan penuh semangat, senyuman lebar kini menghiasi wajahnya.

Tiba-tiba handphone Han seosangnim berbunyi, Han seosangnim melihat layar handphone.nya kemudian mngerenyitkan keningnya, dia kemudian mengangkat panggilan itu.

“Yoboseyo?”

“Kim Jongdae haksaeng? Dia ada si depan saya sekarang” Ucap Han seosangnim sambil melihat Jongdae.

“Ahh… Algeusimida, saya akan memberitahunya sekarang juga, kamsahamida” Lanjut Han seosangnim kemudian menutup teleponnya.

“Waeyo seosangnim? Kenapa nama saya di sebut?” tanya Jongdae bingung.

“Jongdae-ah… lebih baik kau pulang sekarang, aku mengizinkamu untuk pulang lebih awal”

“Waeyo? Kenapa tiba-tiba?” tanya Jongdae makin heran.

“Ibumu….” Belum sempat Han seosangnim meneruskan kata-katanya Jongdae sudah berlari menuju kelas dan mengambil semua peralatan sekolahnya, dia kemudian berlari kencang menuju halte bus dan segera pulang. Sampai di rumah Jongdae segera menuju ke kamar ibunya, dia melihat ibunya terbaring dengan hidung dan telinga yang berdarah.

“EOMMA!!!!!” Teriak Jongdae kemudian berlari menuju ibunya dan langsung memeluk tubuh lemah ibunya itu.

“Eomma!!! Ironayo!!! Eomma!!! Jebal ironayo!!!!!” Teriak Jongdae berkali-kali, Jongdae mengguncang-ngguncangkan tubuh ibunya sambil menangis berharap ibunya membuka mata.

“Eomma ironayo!!!! Hiks.. hiks” Jongdae kemudian memeluk ibunya erat

“J..J..Jongdae-ah…” Panggil ibu Jongdae lirih. Jongdae membuka mata kemudian menatap ibunya.

“Eomma….”

“Jangan menangis, eomma benci melihatmu menangis, maafkan eomma yang membuatmu khawatir”

“Eomma… eomma jangan banyak bicara, sekarang lebih baik eomma istirahat, aku akan menyiapkan makanan dan obat untuk eomma” Kata Jongdae sambil mengusap air matanya. Jongdae memberingkan tubuh ibunya, dia membersihkan darah yang ada di bawah hidung dan telinga ibunya dengan lembut dan penuh kasih sayang, sedangkan ibu Jongdae perlahan-lahan tertidur.

-***-

Jongdae berjalan-jalan di sekitar kota untuk mencari lowongan pekerjaan, dia berniat untuk sekolah sambil bekerja, melihat keadaan ibunya saat ini memang tidak mungkin untuk ibunya bisa bekerja, dia juga tidak mungkin menganggur karena kalau dia menganggur mereka tidak akan bisa makan.

Akhirnya Jongdae menemukan pekerjaan sebagai florist dan pengantar koran, gaji dari dua pekejaan itu setidaknya cukup  untuk makan sehari-hari dan membeli obat untuk ibunya, beruntungnya lagi gaji di berikan seminggu sekali, sebenarnya Jongdae ingin ibunya di rawat di rumah sakit, tapi keterbatasan gaji Jongdae membuat Jongdae hanya mampu membelikan obat bagi ibunya.

Jongdae mulai bekerja besok, jadwal Jongdae kini berubah seluruhnya, kalau dulu  dia hanya sekolah kemudian pulang dan melakukan pekerjaan rumah tangga, kini jadwalnya adalah bangun jam 4 pagi untuk mengantarkan koran, setelah mengantarkan koran dia membuatkan sarapan dan meminumkan obat untuk ibunya kemudian dia sekolah, saat pulang sekolah dia akan memasak makan siang untuk ibunya dan meminumkan obatnya setelah itu dia menjaga toko bunga sampai jam setengah delapan malam dan membuatkan makan malam untuk dirinya dan ibunya, Jongdae bahkan berencana untuk mencari tambahan pekerjaan lagi saat malam hari agar bisa membeli obat untuk ibunya lebih banyak lagi, tapi Jongdae masih belum menemukan pekerjaan yang tepat untuk jadwal malamnya.

Hari-hari di lewati Jongdae dengan bekerja, sekolah dan merawat ibunya yang semakin sakit, kali ini Jongdae  sudah mendapatkan pekerjaan untuk jadwal malamnya, dia bekerja sebagai pengantar ayam goreng saat malam hari dan pulang pada tengah malam, Jongdae bahkan sampai tidak punya waktu belajar di rumah, dia terlalu lelah.

-***-

Keesokan harinya di sekolah, saat pelajaran Han seosangnim Jongdae tidur di kelas, melihat itu Han seosangnim membiarkan Jongdae, Han seosangnim sangat mengerti keadaan Jongdae saat ini, saat bel istirahat berbunyi Jongdae masih belum bangun juga dari tidurnya, akhirnya Han seosangnim membangunkan Jongdae dan menyuruh Jongdae untuk menemuinya di kantor.

“Jongdae-ah… Kau terlalu banyak bekerja akhir-akhir ini, nilaimu semuanya turun, apa kau sadar resikonya kalau nilaimu terus turun?” Jongdae hanya diam.

“Jongdae-ah, aku tau kalau saat ini ibumu sedang sakit, kurangilah sedikit waktu bekerjamu dan sisakan waktu untuk belajar, sekolah juga penting, aku tidak melarangmu untuk bekerja, tapi jika seperti ini bisa-bisa beasiswamu di cabut, padahal kau baru saja menerimanya, dan itu pasti akan lebih menyulitkanmu, aku hanya memintamu untuk sedikit menguranginya, kau mengerti?” lanjut Han seosangnim.

“Ne seosangnim”

“Ya sudah kalau begitu, kembalilah ke kelasmu”

“Ne..” Ucap Jongdae kemudian membungkuk 90 derajat ke wali kelasnya itu kemudian kembali menuju kelasnya.

-***-

Hari Minggu adalah bagi libur dan bersantai bagi sebagian orang, namun tidak bagi Jongdae, hari Minggu merupakan hari sibuknya di toko bunga karena toko bunga pada hari Minggu sangat ramai, kalau pada hari biasa Jongdae menjaga toko bunga mulai siang hari sampai sore, pada hari Minggu dia menjaganya mulai pagi hingga matahari terbenam.

Dari pagi para pembeli bunga sudah banyak berdatangan, Jongdae hampir kewalahan melayani begitu banyak orang dalam waktu yang sama, keringat mulai bercucuran di kening Jongdae. Waktu menunjukkan hampir jam 10 pagi ketika puncak keramaian di toko bunga itu terjadi, Jongdae sibuk memotongi tangkai bunga, sedangkan pemilik toko bunga sibuk merangkai tangkai-tangkai bunga yang sudah di potong rapi oleh Jongdae. Langit mulai gelap, Jongdae mengira bahwa terjadi mendung, tapi kenapa gelap ini seperti kegelapan pada malam hari?

“Gerhana matahari!!!!” Teriak salah satu pengunjung toko bunga itu, Jongdae yang mendengarnya tidak peduli entah mau terjadi gerhana atau tidak, saat ini fokusnya hanya memotong tangkai-tangkai bunga yang di beli oleh para pengunjung.

Langit bertambah gelap seiring dengan bayangan bulan yang hampir menutupi matahari dengan sempurna, seiring itu juga Jongdae mulai merasakan sakit pada dadanya tapi di tetap tidak memperdulikannya, dia tetap saja fokus dengan bunga-bunga pesanan itu, sampai akhirnya bayangan bulan menutupi matahari dengan sempurna, rasa sakit di dada Jongdae semakin tak tertahankan, gunting dan tangkai bunga mawar yang di pegang oleh Jongdae jatuh satu per satu, Jongdae memegangi dadanya kuat-kuat, Jongdae akhirnya melepaskan sebuah teriakan dari mulutnya.

“AAAKKKHHH!!!” dan dunia yang sudah gelap karena gerhana makin gelap bagi Jongdae.

-***-

“Jongdae-ssi…. Jongdae-ssi ironayo…” Seseorang menggoyang-goyangkan bahu Jongdae agar Jongdae terbangun.

Jongdae membuka matanya perlahan, dia melihat sekeliling, dia masih berada di toko bunga tempatnya bekerja, dan saat ini dia sedang duduk di tempat ia biasanya menunggu pelanggan.

“Sajangnim?” Tanya Jongdae setelah sadar siapa yang telah membangunkannya.

“Aigoo Jongdae-ssi, kau sepertinya sangat lelah melayani orang-orang tadi, kau bahkan tidak perduli ketika orang lain melihat gerhana matahari, kau hanya fokus dengan pekerjaanmu, senang rasanya mempunyai pegawai sepertimu” Puji pemilik toko.

“Gerhana..?” Tanya Jongdae, dia kemudian mengingat kejadian saat terjadi gerhana tadi.

“Ne, kau tiba-tiba melakukan pekerjaan sangat cepat, kau bahkan membantuku untuk merangkai bunga, dan tidak ku sangka rangkaian bungamu lebih bagus dariku, mungkin lain kali Jongdae-ssi yang akan merangkai bunganya dan aku yang akan memotong tangkainya”

“Ne? Bukannya saya  tadi pingsan saat terjadi gerhana?” Tanya Jongdae heran.

“Aniyo, saat gerhana matahari Jongdae-ssi malah bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya”

“Ne?? Tapi….”

“Tapi….???” Ulang pemilik toko bunga itu.

“Aniyo” Jawab Jongdae kemudian, dia sebenarnya masih bingung, tapi sudahlah.

“oh iya, Jongdae-ssi, ini gaji anda minggu ini, dan karena kau tadi sudah bekerja begitu keras, ada sedikit bonus untuk Jongdae-ssi”

“Ah jinjjayo? Kamsahamida sajangnim” Ucap Jongdae sambil membungkuk berkali-kali kepada pemilik toko bunga tersebut.

“Dan juga Jongdae-ssi, karena sepertinya kau terlihat sangat lelah, maka saya memutuskan untuk memberikan libur selama tiga hari, namun gaji tetap tidak di potong”

“Kamsaheyo sajangnim, jeongmal kamsaheyo…” Kata Jongdae sambil menyalami sajangnimnya.

“oe?” kening pemilik toko itu berkerut.

“Waeyo sajangnim?”

“Jongdae-ssi punya tatto?”

“Aniyo, saya tidak punya sama sekali”

“Lalu ini?” Kata pemilik toko itu sambil menunjuk punggung tangan kanan Jongdae.

“oe?” Kali ini kening Jongdae yang mengkerut, dia melihat ada tatto berbentuk kalajengking di punggung tangan kanannya “dari mana ini berasal?” Tanya Jongdae pada dirinya sendiri.

“Sajangnim…” Panggil Jongdae.

“Ne, Jongdae-ssi?”

“Anda tidak akan memecat saya karena ini ‘kan?” Tanya Jongdae sambil menunukkan tatto di tangannya.

“Aniyo, tentu saja tidak, lagi pula tatto seperti itu tidak akan membuat orang-orang takut” Kata pemilik toko itu sambil tersenyum.

“Kamsahamida sajangnim,” Jongdae membungkuk lagi.

“Aigoo… sudah sudah, jangan membungkuk lagi, lebih baik Jongdae-ssi sekarang pulang”

“Ne sajangnim, anneyonghaseyo” Ucap Jongdae kemudian segera pulang.

-***-

Jongdae membasuh tubuhnya dengan air dingin, dia sangat lelah hari ini, setelah pulang dari toko bunga dia langsung mampir ke apotek dan restoran terdekat untuk membeli obat dan samgyupsal kesukaan ibunya sedangkan dia sendiri hanya membeli ramen, setelah sampai di rumah dia masih harus merawat ibunya, menyuapi dan meminumkan obat kepadanya, setelah semua itu selesai di kerjakannya akhirnya dia mandi.

Setelah mandi Jongdae berjalan menuju kamarnya kemudian melihat refleksi dirinya di kaca, dia melihat tatto kalajengking yang ada di tangan kanannya, dia masih bertanya-tanya, dari mana dia mendapatkan tatto ini? Jongdae kemudian mengusap lehernya dengan handuk sambil tetap melihat kaca, mata Jongdae terbelalak, dia melihat ada tatto lain di lehernya, bukan berbentuk kalajengking seperti di punggung tangannya, tapi di lehernya ini berbentuk hexagon, Jongdae mengusap tatto itu, tiba-tiba tatto itu berpendar biru sejenak. Mata Jongdae makin melebar, dia akhirnya memutuskan untuk tidur dari pada memikirkan tanda aneh itu, saat ini tubuhnya sangat butuh istirahat.

“Seorang pria butuh istirahat” Gumannya pada dirinya sendiri kemudian dia terlelap.

-***-

Hari ini sekolah Jongdae berjalan seperti biasa, yang membuat berbeda ialah Jongdae dari tadi memakai sarung tangan dan syal, ketika teman-teman dan guru-gurunya bertanya, Jongdae menjawab saat ini dia sedang terkena flu karena ini awal musim gugur, padahal alasan sebenarnya dari Jongdae adalah dia ingin menyembunyikan kedua tattonya.

Bel pulang sekolah berbunyi, kali ini Jongdae langsung pulang ke rumah karena dia mendapat libur dari pemilik toko bunga tempatnya bekerja, sampai dirumah dia mendengar ibunya terbatuk-batuk begitu keras, Jongdae langsung lari menuju kamar ibunya, dilihatnya ibunya sudah terjatuh dari atas ranjang, darah berceceran di lantai, darah itu berasal dari batuk ibunya.

“EOMMAAA!!!!!!” Teriak Jongdae keras, ibunya hanya menatap Jongdae dengan pandangan yang tidak hidup, ibu Jongdae kemudian pingsan.

“EOMMAA!!!!!!!!!!!” Teriak Jongdae lagi, Jongdae segera berlari menuju ibunya dan menggendong tubuh ibunya membawanya ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit ibu Jongdae langsung di bawa ke ruang ICU, dokter juga langsung menangani ibu Jongdae, Jongdae menunggu di depan ruangan dengan hati was-was, beberapa saat kemudian dokter yang menangani ibu Jongdae keluar dari ruangan, melihat itu Jongdae langsung menghampiri dokter tersebut.

“Dokter!! Bagaimana keadaan ibu saya??” Tanya Jongdae khawatir.

“Jongdae-ssi, keadaan ibu anda sudah sangat mengkhawatirkan, beliau sudah sekarat, kita hanya bisa menyelamatkannya jika di lakukan operasi besar” Dokter itu menjelaskan kepada Jongdae.

“Lakukan apa saja untuk menyelamatkan ibu saya, Dok… saya mohon…” Pinta Jongdae sambil menangis.

“Operasi besar tidak mudah di lakukan Jongdae-ssi, jika anda mau operasi besar di lakukan anda harus melunasi administrasinya dulu” Kata dokter itu lagi.

“Administrasi? Tapi saat ini saya tidak punya uang sama sekali, tolong operasi ibu saya dulu, saya pasti akan membayarnya, saya mohon, dok… hiks hiks” Air mata Jongdae semakin mengalir deras.

“Maaf Jongdae-ssi, tapi itu prosedur rumah sakit, jika anda tidak mampu membayarnya maka kami tidak bisa memberikan perawatan kepada ibu anda lebih lama lagi”

“Tapi dok… saya pasti akan membayarnya, oleh karena itu saya mohon rawatlah ibu saya” Jongdae kali ini berlutut.

“Maaf Jongdae-ssi, kami tidak bisa melakukan apapun” Dokter itu masih kekeuh dengan keputusannya, kemudian seorang perawat keluar dari ruang ICU.

“Dokter, apa pasien ini sudah lunas adminstrasinya?”

“Belum, dan mereka tidak bisa melunasinya, lepaskan semua selang yang menopang pasien itu, pasien itu sudah tidak punya harapan hidup lagi” Kata dokter itu dingin, Jongdae terkejut mendengar perkataan dari dokter yang ada di depannya ini, sedangkan perawat yang di perintah langsung melaksanakan perintah dokter untuk melepaskan seluruh selang yang menopang hidup ibu Jongdae.

Ibu Jongdae di keluarkan paksa dari ruangan ICU, Jongdae yang melihat ranjang ibunya di bawa keluar kemudian mengejar mereka, Jongdae memegangi tangan ibunya yang sangat ini terasa sangat dingin, Jongdae makin menangis, sampai di halaman rumah sakit, dokter yang tadi memberikan perawatan kepada ibu Jongdae muncul, semua pengunjung rumah sakit menyaksikan kejadian itu, sebagian merasa kasihan pada Jongdae dan sebagian lagi tidak peduli.

“Jongdae-ssi, kami akan memberimu fasilitas gratis dari rumah sakit, kami akan mengantarkan anda dan ibu anda pulang dengan ambulance

Jongdae yang mendengar itu menjadi sangat geram, saat dia akan berjalan ke arah dokter itu, tangan dingin yang sedari tadi di pegangnya menahannya, membuat Jongdae mengehentikan langkahnya dan menoleh ke pemilik tangan dingin itu.

“Jongdae-ah…. uhuk.. eomma sangat bangga mempunyai anak yang sangat berbakti sepertimu, kau begitu baik, selalu membanggakan eomma, eomma selalu bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan mengizinkamu untuk lahir dari rahim eomma.. uhuk uhuk..”

“Eomma…” Panggil Jongdae lirih, Jongdae menangis lagi, kali ini Jongdae berlutut di samping ranjang ibunya.

“Jongdae-ah… maafkan eomma yang selama ini telah merepotkanmu, kau telah merawat eomma dengan sangat baik selama eomma sakit, sekarang sudah saatnya eomma berhenti merepotkanmu, izinkan eomma untuk membelai rambutmu untuk yang terakhir kalinya sayang….” kata ibu Jongdae sambil menangis, ibu Jongdae kemudian berusaha membelai rambut Jongdae dengan segela kekuatannya yang tersisa.

“Eomma… jangan berkata seperti itu, eomma akan sembuh!! Eomma harus sembuh!!! Aku akan melakukan apapun agar eomma sehat kembali, hajima eomma… hajima….hiks hiks” Jongdae semakin menangis.

“Ani sayang… sudah saatnya eomma berhenti merepotkanmu, selama ini eomma sudah sangat bahagia, dan asal kau tau Jongdae-ah… kasih sayang seorang eomma akan bertahan selamanya, eomma menyayangimu Jongdae-ah… sangat menyayangimu sayang…..” Bersamaan dengan kalimat terakhir itu tangan dingin yang sedari tadi mengelus rambut Jongdae akhirnya terjatuh, mata yang sedari tadi mengeluarkan air mata itu akhirnya tertutup sudah, ibu Jongdae sudah kembali ke tempat yang seharusnya.

“EOMMMAAAA!!!!!!!” teriak Jongdae keras “EOMMA JANGAN TINGGALKAN AKU!!! EOMMA TIDAK BOLEH PERGI!! EOMMA AKAN SEMBUH!! EOMMA HARUS SEMBUH!!!!” Teriakan memilukan Jongdae itu terdengar bahkan dari jauh. Jongdae memeluk tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa itu sambil terus menangis, Jongdae kemudian membaringkan tubuh ibunya lagi di ranjang, dia menoleh ke arah dokter yang tadi menolak merawat ibunya.

“Pembunuh…..KAU PEMBUNUH!!!!!!” Teriak Jongdae sambil menunjuk dokter itu, tiba-tiba langit di sekitar rumah sakit berubah menjadi sangat gelap, mendung tebal yang entah dari mana datangnya tiba-tiba muncul dengan petir yang menyambar-nyambar. Mata Jongdae berkilat biru selama beberapa saat, tiba-tiba terjadi badai petir di daerah sekitar rumah sakit, membuat orang-orang yang berada di sekitar berteriak ketakutan dan mencari tempat bersembunyi.

“Kau…. orang sepertimu tidak patas hidup!! KAU YANG SEHARUSNYA MATI BUKAN IBUKU!!!” Teriak Jongdae lagi sambil tetap menunjuk dokter itu.

Sebuah petir keluar dari tangan Jongdae, petir yang muncul dari mendung di langit juga menggabungkan energi mereka dengan petir ciptaan Jongdae, Jongdae menembakkan petir itu tepat ke arah sang dokter, dokter itu pun mati seketika dengan keadaan yang mengenaskan.

Orang-orang yang melihat kejadian itu tidak mampu menutup mulut mereka, mereka juga tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, setelah membunuh dokter itu, Jongdae kemudian sadar tentang apa yang baru saja ia lakukan saat melihat dokter itu sudah tergeletak tidak bernyawa, dia melihat tangannya kemudian melihat orang-orang yang ada di sekitarnya, mereka semua terpaku, tiba-tiba dada Jongdae terasa sakit, dari belakang Jongdae ada yang menepuk bahunya, aneh, rasa sakit itu tiba-tiba hilang. Jongdae menoleh kebelakang, dilihatnya namja tinggi dan tampan tersenyum kepadanya.

“Aku akan menghilangkan ingatan mereka, kau tenang saja, aku juga yang akan mengurus pemakaman ibumu” Suara manly dari namja itu membuat Jongdae diam, dia kemudian melihat ibunya yang sudah tidak bernyawa lagi. “Ikut aku..” Kata namja itu lagi, Jongdae hanya menurut.

-***-

Pemakaman ibu Jongdae telah selesai di lakukan, kini Jongdae bersama tiga orang namja, dua namja yang sangat tinggi yang salah satunya adalah yang mengurusi pemakaman ibunya, dan satu lagi tingginya hampir sama dengannya, mereka adalah Kris, Chanyeol dan Suho, yang mengurusi pemakaman ibu Jongdae adalah Kris, kemudian mereka bertiga menceritakan segala hal tentang MAMA kepada Jongdae, mereka juga menyuruh Jongdae untuk menyentuh salah satu jantung Tree of Life agar bisa melihat Ryeowook, Jongdae menuruti mereka dan menyentuh jantung Tree of Life milik Kris, dia kemudian melihat seorang namja berambut biru yang tersenyum lebar.

Setelah mengetahui semuanya, Jongdae kemudian melakukan penyatuan dengan simbolnya, simbol dari Thunder adalah ‘scorpio’, setelah penyatuan selesai Chanyeol dan Suho harus pergi dulu karena ada jam sekolah, meninggalkan Kris, Jongdae dan Ryeowook.

Jongdae masih sedih atas kematian ibunya, Ryeowook dan Kris mencoba untuk menghibur Jongdae, Kris bahkan mengajak Jongdae untuk tinggal bersamanya karena orang tua Kris membeli apartement baru di distrik Gangnam yang lebih dekat dengan kantor Daddynya walaupun mereka baru beberapa hari pindah, Kris kurang suka jika harus tinggal sendiri dan Kris mrngatakan pada Jongdae kalau dia akan mengurus surat kepindahan sekolah Jongdae agar bisa satu sekolah dengan Chanyeol dan membiayai seluruh kebutuhan Jongdae, Jongdae hanya berterima kasih kemudian memeluk Kris sambil menangis.

“Uljima…. Apa kau tidak pernah dengar kalau kasih sayang seorang ibu akan bertahan selamanya?” Tanya Kris, Jongdae makin menangis.

“Itu adalah salah satu kalimat terakhir yang ibuku katakan, hyung” Kata Jongdae sambil makin mengeratkan pelukannya, Kris hanya mengelus-elus punggung Jongdae untuk menenangkannya.

“Gwenchana Jongdae-ah… kau punya kami sekarang, kau tidak sendiri…”

-TBC-

Iklan

23 thoughts on “History of MAMA : Character Profile : Kim Jongdae : “Mother Loves Remain Forever”

  1. Ping-balik: Acha's Blog | History Of MAMA : Character Profile : Huang Zi Tao : “Runaway, Burdened Rules”

  2. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Byun Baekhyun : “Shining Power, Shining Person”

  3. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Zhang Yixing : “A Kind Healer”

  4. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA Chapter 1

  5. Ping-balik: History of MAMA Chapter 2 | Acha's Blog

  6. Ping-balik: History of MAMA Chapter 3 | Acha's Blog

  7. Ping-balik: History of MAMA Chapter 4 | Acha's Blog

  8. ih nasib Chen miris banget.. salut ama ceritanya. Idenya brilliant, numbero uno #sejenakiklan *krik krik*
    Oke, thor ini patut di buat novel *author : lo gila || gue : ma tothe ka tothe sih makasih*
    Ide author gila keren banget mengalir terus yoii… 4 jempol deh buat ff nya >< *author : 2 nya lagi mana pinter || gue : emang author gapunya jempol? || #dilemparsehunsamaaouthornya * oke baii mau lanjut baca N1CH.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s