History of MAMA : Character Profile : Huang Zi Tao : “Runaway, Burdened Rules”

Tao

History of MAMA

Title : History of MAMA

Author : lee_acha96 a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brotherhood, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Cast : EXO Member and other (find by yourself)

-History of MAMA-

Character Profile:

Huang Zi Tao : “Runaway, Burdened Rules

Summary :

“Mereka benar-benar ada, 11 dari mereka ada di Korea saat ini, sedangkan yang satu masih berada di China, di Beijing”

-***-

A/N :

Disini Author akan ada beberapa bahasa mandarin, yang paling utama yaitu Wángzǐ sama Nǚ’ér, Wángzǐ berarti pangeran, sedangkan Nǚ’ér artinya adalah putri, kalo seandainya ada bahasa mandarin lagi tenang… ada translate.nya kok di dalam kurung, tapi Author yakin readers sedikit banyak udah tau bahasa mandarin yeh~

DI part ini Author terinspirasi ama ‘skandal kucing’-nya Tao.

Part Sebelumnya -> Chanyeol, Kris, Suho, Kai, Luhan, Sehun, Xiumin, Chen

Typo(s) everywhere

Happy Reading ^^

-***-

Menjadi keturunan kerajaan tidak sepenuhnya menyenangkan, terlalu banyak aturan yang mengikat, bahkan hanya untuk sekedar berjalan-jalan saja sangat sulit, padahal sudah lama China mengganti sistem pemerintahannya menjadi republik, tapi kenapa masih ada saja aturan-aturan untuk keturunan kerajaan yang bahkan sudah lama musnah?

Dan salah satu keturunan kerajaan itu adalah Huang Zitao, seorang pemuda yang kini tinggal di daerah Qingdao, tempat leluhurnya dulu berkuasa, dia adalah keturunan langsung yang ke 120 dari dinasti Huang, hidupnya di penuhi dengan aturan yang mengikat, sehingga membuat dia tumbuh menjadi pemuda yang tertutup dan tidak berani mengekspresikan dirinya sendiri, bahkan untuk mandi saja dia terkadang merasa takut. Keluarga dekatnya memanggilnya Tao, sedangkan keluarga jauhnya memanggilnya Tao Er, untuk menghormati status darah kerajaannya, sedangkan orang lain maupun teman-temanya di sekolah memanggilnya Huang Wángzǐ, yang artinya pangeran Huang.

“Huang Wángzǐ, saatnya anda berlatih wushu” Panggil seorang abdi kepada  Tao. Wushu adalah hal wajib bagi seorang pangeran, sedangkan untuk putri adalah menyulam.

“Aku akan segera kesana” Kata Tao, abdi itu membungkukkan badannya undur diri kepada Tao. Salah satu abdi lain kemudian masuk ke kamar Tao untuk menyiapkan pakaian berlatihnya, setelah mengganti bajunya Tao segera ke tempat berlatih di belakang istana. Tao melihat guru serta ayahnya sudah ada di tempat latihan

“Tao, hari ini aku akan mengawasi latihanmu” Ucap ayah Tao.

“Kenapa baba (ayah) tiba-tiba mengawasi latihanku?” Tanya Tao kepada ayahnya.

“Karena aku harus memastikan sesuatu” Kata ayah Tao singkat.

“Memastikan apa?”

“Kau akan tau nanti” Ucap ayah Tao, Tao tidak bertanya lagi, dia mengambil tongkat wushunya kemudian mulai berlatih dengan gurunya, Tao berlatih dengan tongkat dan pedang hari ini, selama Tao berlatih mata sang ayah tidak pernah lepas dari Tao.

Tao berlatih selama satu setengah jam, setelah berlatih Tao membungkukkan badannya sebagai tanda penghormatan untuk gurunya, dia kemudian berjalan menuju ayahnya, ayahnya hanya menatap Tao dingin.

“Kau sudah cukup siap” Kata ayah Tao. Tao yang tidak mengerti perkataan ayahnya hanya memandang ayahnya bingung.

Tao kemudian mengambil minuman yang sudah di siapkan oleh salah satu abdinya dan meminumnya, Tao kemudian memandang ayahnya lagi.

“Maksud baba?”

“Sebentar lagi kau harus menjalankan tradisi kerajaan Tao, kau akan di tunangkan dengan putri dari keturunan dinasti Ming”

“Baba!!!” Tao berteriak kepada ayahnya. “Aku tidak mau! Aku masih mau menjalankan seluruh tradisi kecuali ini!” Tao melawan keputusan ayahnya.

“Huang Wángzǐ!! Ini adalah tradisi kerajaan!! Mau tidak mau kau harus menjalankannya!!!!” Ayah Tao berteriak balik kepada anak laki-lakinya itu. Seluruh abdi yang melihat kejadian itu hanya menundukkan kepala mereka.

“Baba!!! Berapa kalipun baba memaksaku aku tidak akan pernah mau!!!” Kata Tao kemudian meninggalkan ayahnya.

Memang sudah tradisi keturunan kerajaan kalau seorang pangeran sudah menguasai level 10 wushu maka dia akan di jodohkan dengan putri dari keturunan kerajaan lain yang sudah mampu membuat sulaman burung merak, dan akan dinikahkan tiga tahun setelah perjodohan, Tao sudah tau hal ini dari awal, tapi dia tidak pernah mau melakukan hal itu, Tao selalu berpikir kehidupan dan nasib seseorang itu di tentukan oleh orang itu sendiri bukan orang lain, maka dari itu jika orang tuanya sudah membahas tentang putri dari kerajaan lain maka Tao akan selalu pergi menghindar, dia tidak mau.

Tao mengambil kunci mobilnya kemudian pergi, Tao pergi menuju pantai di daerah dekat istananya. Satelah sampai Tao memarkirkan mobilnya dan berjalan sendiri menyusuri pantai, sesekali dia menendang pasir putih pantai yang terhampar di sekitarnya, Tao memandang ke laut lepas, dia menghirup nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya kemudian menghembuskannya.

“Aku tau gege pasti akan kesini” Suara seorang perempuan membuat Tao menoleh, ternyata Huang Ming Qian, adik perempuan Tao. Ming Qian berjalan menghampiri kakaknya dan berdiri di sebelahnya.

“Menjadi keturunan kerajaan sulit ‘kan, Ge?” Tanya Ming Qian,

“Sangat” Jawab Tao singkat.

“Aku sudah mendengar perdebatan antara baba dengan gege” lanjut Ming Qian, “Ge, gege kan belum bertemu dengan putri dinasti Ming itu, jangan gegabah menolaknya, siapa tau putri dinasti Ming itu adalah wanita yang tapat?  Nanti kalau sudah bertemu kalau gege tidak menyukainya gege bilang saja, kalau gege suka ya lebih baik gege menerima perjodohan ini”

“Aku tidak tau Qian” Jawab Tao sambil menatap deburan ombak tengah laut.

“Sudahlah ge, jangan terlalu di pikirkan, jalani saja dulu apa adanya, ge, sebaiknya sekarang kita pulang, mama sangat mengkhawatirkan gege” Kata Ming Qian sambil menarik tangan Tao, Tao hanya mengikuti adiknya malas.

-***-

Suasana makan malam hari ini di istana keturuan dinasti Huang terasa sedikit canggung, makan malam yang biasanya di ramaikan oleh candaan dari Tao dan Qian sekarang tidak ada, Tao hanya diam, Qian berusaha mencairkan suasana dengan menggoda Tao, tapi Tao tetap diam, tidak menggubris candaan Qian yang di lontarkan padanya.

“Tao…” Panggil ayah Tao kemudian, Tao tidak menghiraukan panggilan ayahnya, dia hanya terus memakan makanannya.

“Tao….” Sekali lagi ayah Tao memanggilnya, Tao lagi-lagi tidak mengindahkan panggilan ayahnya.

“Huang Wángzǐ!!! Apa kau tuli??!!” Untuk ketiga kalinya ayah Tao memanggilnya, kali ini ayah Tao sungguh marah, Tao meletakkan mangkok dan sumpitnya kemudian menatap ayahnya.

“Apa?” Kata Tao singkat, ayah Tao semakin geram.

“Mau tidak mau kau akan di jodohkan dengan putri keturunan dinasti Ming!! Besok adalah hari pertemuanmu dengannya!!!” Kata ayah Tao emosi. Tao berdiri.

“Lakukan saja apa yang baba suka…” Kata Tao kemudian meninggalkan meja makan.

“Huang Zi Tao!!!! Mana tata kramamu???!!!” Teriak ayah Tao, tapi Tao tidak perduli, dia tetap saja pergi meninggalkan meja makan dan berjalan menuju kamarnya.

Tao menghempaskan tubuhnya ke kasur, dia melihat sekeliling kamarnya, dia melihat lukisan bunga mawar putih yang menghiasi seluruh tembok kamar, mawar putih memang lambang dinasti Huang. Tao menelungkupkan tubuhnya, wajahnya ia sembunyikan ke dalam bantal, Tao benci di atur, sangat benci, selama ini Tao berfikir bahwa hidupnya sudah sangat memuakkan dan semakin memuakkan saja setiap harinya, dan sekarang di tambah dengan perjodohan ini, hidupnya kan benar-benar terasa seperti neraka. Tao membalikkan tubuhnya, kini dia melihat langit-langit kamar yang berlukiskan bulan dan matahari.

‘Apa aku kabur saja?’ Batin Tao kemudian memiringkan tubuhnya, Tao akhirnya terlelap.

-***-

Seorang abdi memakaikan pakaian resmi Tao untuk menemui ‘calon istri’nya, Tao terlihat gagah.

“Huang Wángzǐ, anda sangat beruntung” Kata abdi yang memakaikan baju Tao.

“Beruntung?”

“Shi (iya sama dengan ‘ne’ di Korea), saya dengar putri dinasti Ming itu adalah putri yang sangat cantik juga baik”

“Shi ma? (benarkah?) Tapi percuma saja jika aku tidak menyukainya”

“Huang Wángzǐ, saya yakin anda akan menyukainya” Kata abdi itu yakin.

“Wo bu qi dao (aku tidak tau)” Jawab Tao dingin.

Tao kemudian berjalan menuju ruang tamu dengan di iringi abdi-abdinya. Ternyata keturunan kerajaan dinasti Ming sudah ada disana, Tao melihat wanita yang ada di tengah-tengah keturunan dinasti Ming itu, Tao yakin kalau wanita itulah yang akan di jodohkan dengannya, cukup cantik memang tapi belum mampu membuat jantung Tao berdesir.

Tao duduk di antara ayah dan ibunya, dia memasang wajah dingin tidak perduli, berbeda dengan wanita yang ada di hadapannya ini, wanita yang berada di hadapannya memandang Tao dengan wajah berseri-seri.

“Ini adalah Huang Zi Tao, anak saya” ayah Tao membuka percakapan di antara dua keluarga itu.

“Ternyata anak anda jauh lebih tampan dari pada yang saya perkirakan” Puji ayah dari wanita yang akan di jodohkan dengan Tao.

“Kalau anaknya tampan berarti ayahnya juga tampan” Ayah Tao mencoba bercanda, kedua keluarga itu tertawa kecil, kecuali Tao.

“Ini anak saya, Ming Jia” Kata ayah Jia sambil memeluk anaknya.

“Anak anda sangat cantik, kalau cantik pasti berasal dari ibunya, bukan dari ayahnya” Canda ayah Tao lagi, Jia hanya tersipu malu. “Emmm… baiklah, mari kita langsung saja pada inti pertemuan ini” Lanjut ayah Tao.

“Shi, maksud dari para orang tua mempertemukan Huang Wángzǐ dan Ming Nǚ’ér adalah semata-mata untuk mengikat tali kekeluargaan antara keturunan dinasti Huang dan dinasti Ming, kami, dari pihak keturunan dinasti Ming sangat setuju dan bahagia jika nanti anak kami Ming Jia akan menikah dengan Huang Wángzǐ, apakah pihak dari dinasti Huang menerima pengikatan kekeluargaan ini?” Kali ini ayah dari Jia yang bicara.

Jia yang mendengar itu hanya tersenyum, dari awal Jia memang sudah menyukai Tao, sekali-kali Jia mencuri pandang Tao, berbanding terbalik dengan Tao, dia sama sekali tidak perduli, dia bahkan tidak melirik Jia sama sekali.

“Shi, kami dari pihak dinasti Huang menerima pengikatan kekeluargaan dari dinasti Ming” Jawab ayah Tao.

Senyum Jia makin melebar, dan sudah menjadi adat jika kedua belah pihak saling menerima perjodohan maka sang putri akan menginap tiga hari di rumah pangeran dengan tujuan agar saling mengenal, dan mulai malam ini sampai tiga hari ke depan Jia akan tinggal di rumah Tao.

Kedua orang tua Jia dan Tao menyuruh anak mereka untuk berjalan-jalan di taman istana berdua, mereka menurut, mereka kemdian mengelilingi istana dinasti Huang itu. Dari awal Jia yang memulai percakapan di antara mereka, Tao hanya menjawab semua pertanyaan Jia dengan singkat.

“Huang Wángzǐ, apa hal yang paling kau sukai?”

“Tidak ada”

“Emm… kalau hal yang paling kau benci?”

“Peraturan kerajaan”

“Peratuan kerajaan? Kenapa?”

“Aku tidak suka di atur”

“Ahh… jadi kau tidak suka di atur, Huang Wángzǐ, apa kau pernah jatuh cinta?”

“Tidak”

“Sungguh?” Mata Jia berbinar-binar, Tao hanya mengangguk tanpa sedikitpun menolehkan wajahnya kepada Jia.

“Kalau begitu…. Huang Wángzǐ, bisakah kau hanya mencintaiku saja? Jadikan aku cinta pertama dan terakhirmu… Huang Wángzǐ mau?” Tanya Jia tanpa malu-malu, Tao menghembuskan nafas berat mendengar pertanyaan Jia barusan, dan untuk pertama kalinya Tao menolehkan wajahnya ke Jia, membuat  Jia gugup.

“Ming Nǚ’ér, aku sudah mengatakan padamu aku membenci peraturan kerajaan, itu artinya aku juga membenci perjodohan, dan Ming Nǚ’ér, sebelumnya maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak punya perasaan khusus untukmu” Kata Tao kemudian.

“Hmm… gwenchana, aku pasti akan membuat dia jatuh cinta padaku” Kata Jia menggunakan bahasa Korea, Jia berpikir Tao tidak akan mengerti apa yang di katakannya, tapi nyatanya Jia salah.

“Ani, kau salah, membuatku jatuh cinta itu sama halnya dengan menangkap angin, itu hal yang tidak mungkin” jawab Tao juga menggunakan bahasa Korea, Jia kaget.

“Wae? Kau kaget aku bisa bahasa Korea? Ming Nǚ’ér, apa kau lupa kalau sebagian dinasti Huang ada di Korea?” Tanya Tao lagi-lagi menggunakan bahasa Korea.

“Aku tidak tau…” Ucap Jia lirih.

“Ming Nǚ’ér, aku minta maaf padamu karena aku tidak bisa membalas apa yang kau rasakan padaku, tapi setidaknya anggap saja aku ini temanmu, dan juga Ming Nǚ’ér, mungkin ini pertama dan terakhir kalinya kita bertemu”

“Maksud Huang Wángzǐ?”

“Sabtu besok aku akan ke pergi”,

“Huang Wángzǐ akan pergi kemana?”

“Kau tidak perlu tau, dan…. Ming Nǚ’ér, bisakah aku meminta bantuanmu?”

“Apa yang bisa aku bantu untukmu Huang Wángzǐ?”

“Tolaklah perjodohan ini, katakan pada mereka bahwa kau tidak menyukaiku, dan katakan banyak pangeran lain yang jauh lebih baik dariku”

“Tapi Huang Wángzǐ… aku hanya menyukai Huang Wángzǐ, aku tidak hanya menyukai, tapi aku mencintai Huang Wángzǐ seorang…” Kata Jia sambil memegang tangan Tao, Tao melihat Jia, mata gadis itu berkaca-kaca.

“Ming Nǚ’ér…. dui bu qi (maaf), aku benar-benar tidak bisa, kalau kau benar mencintaiku seharusnya kau mau melepaskanku, Ming Nǚ’ér….” Tao belum sempat meneruskan kata-katanya saat bibir Jia menempel di bibir Tao, mata Tao melebar, Jia saat ini memegang kedua pipi Tao, Jia mencium Tao sambil menangis, dan Tao membiarkannya.

“Huang Wángzǐ.. terimakasih telah membiarkanku mendapat ciuman pertama darimu, sekarang aku mau melepaskanmu Huang Wángzǐ….. Pergilah, aku akan mencoba menerima” Ucap Jia sambil mengusap air matanya. Tao tersenyum.

“Terimakasih Ming Nǚ’ér, aku harap kau menemukan pangeran yang jauh lebih baik dariku” Ucap Tao sambil mengelus kepala Jia.

-***-

Pagi itu istana kerajaan keturunan dinasti Huang gempar, Tao tidak di temukan di kamarnya, sedangkan Ming Jia pulang ke rumahnya kemarin malam tanpa memberitahu pihak keluarga Huang sedikitpun, ayah Tao benar-benar marah, dia memerintahkan seluruh abdinya untuk mencari Tao dimanapun dia berada.

“Jika Huang Zi Tao tidak pulang selama satu bulan, dia bukan lagi anakku, dia bukan lagi pangeran di Qingdao, dan namanya akan di hapus dari garis keturunan dinasti Huang!!!” Ucap ayah Tao meledak-ledak.

-***-

Tao kabur ke Beijing, selama beberapa hari ini dia bekerja serabutan agar tetap bisa makan, seperti membantu ibu-ibu membawakan belanjaan dari pasar, mencuci mobil, bahkan menjadi guru pengganti di sebuah sekolah wushu di Beijing.

Tao yang tidak pernah bekerja keras selama ini merasa sekarang hidupnya sangat sulit, dulu hidupnya sangat mudah, dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau walaupun hidupnya harus di jerat dengan setumpuk peraturan yang mengekang, tapi Tao tidak menyesali keputusannya saat ini, walaupun sulit setidaknya sekarang dia bisa menghirup udara kebebasan, bukan seperti burung yang dikurung di sangkar emas.

“Tao… makanan sudah siap!” Teriak suara lelaki tua pada Tao.

“Hao (iya)” Jawab Tao. “Xiexie Tuan Wang” Tao kemudian sedikit membungkuk kepada laki-laki tua yang memanggilnya tadi, selama di Beijing Tao memang tinggal di rumah tuan Wang, seorang lelaki tua yang sudah tidak punya siapa-siapa, maka dari itu, ketika Tao pertama kali datang lelaki itu menerima Tao dengan senang hati dan menganggap Tao seperti cucu sendiri.

Tao memakan makanannya lahap, tuan Wang yang melihatnya hanya mengembangkan senyumnya, sesekali tuan Wang menepuk bahu Tao dan mengusap kepalanya, dia sangat menyayangi pemuda yang baru di kenalnya beberapa hari ini.

“Tao, minggu besok kau mau merapikan halaman belakang denganku?” Tanya tuan Wang kepada Tao, Tao hanya menoleh kemudian mengangguk, dia kemudian makan lagi, tuan Wang hanya terkekeh.

“Baiklah…. makanlah yang banyak…” Ucap tuan Wang sambil mengelus-elus punggung Tao.

-***-

Minggu pagi Tao dan tuan Wang sudah sibuk mencabuti tanaman liar di halaman belakang rumah, Tao membantu tuan Wang dengan sangat giat, karena ini awal musim gugur jadi udara tidak terlalu panas, Tuan Wang dan Tao juga berencana untuk menanam tanaman musim dingin di taman belakang agar lebih indah.

Tao mencangkul dan menggemburkan tanah yang akan di jadikan tempat untuk menanam tanaman musim dingin, sesekali dia mengusap peluhnya yang terus saja menetes, dia melihat jam yang ada di tembok, sudah hampir jam 10, tuan Wang bilang mereka akan beristirahat kurang lebih sekitar jam sepuluh kemudian melanjutkan pekerjaan mereka lagi.

Tao makin giat menggemburkan tanah agar bisa cepat istirahat, setelah tanah sudah gembur dia duduk di belakang rumah sambil mengibas-kibaskan topi yang dia gunakan untuk menutupi kepalanya saat panas untuk menghilangkan keringatnya, tidak berapa lama kemudian tuan Wang ikut bergabung beristirahat bersamanya.

“Tao, dilihat dari tingkah lakumu kau bukan seperti orang biasa….” Tao langsung menoleh kepada tuan Wang.

“Saya hanya orang biasa” elak Tao. Kali ini tuan Wang yang menatap Tao, tuan Wang tersenyum.

“Kau sungguh tidak pandai berbohong, aku tau kau adalah keturunan dinasti Huang” Tao hanya melebarkan matanya tidak percaya, dari mana tuan Wang tau kalau dia adalah keturunan dinasti Huang?

“Apa kau sekarang bertanya-tanya kepadaku dari mana aku tau identitasmu yang sebenarnya? Jawabannya mudah, dari sarung pedangmu”

Tao baru ingat sekarang, sarung pedangnya memang sarung khusus untuk keturunan dinasti Huang, Tao meruntuki dirinya sendiri yang terlalu bodoh untuk membawa pedang itu bersamanya.

“Sudahlah Huang Wángzǐ, aku tau alasan anda kabur dari rumah, dan aku tidak akan membocorkan apapun kepada pihak dinasti Huang jika mereka mencarimu” Ucap tuan Wang sembil mengelus-elus punggung Tao.

“Xiexie” Ucap Tao pada akhirnya.

“Shi, tapi Huang Wángzǐ, aku tidak bisa menjamin kalau aku bisa menyembunyikanmu selamanya, sebaiknya kau pergi ke Korea, lagi pula MAMA lain ada di sana”

“MAMA? Ibu?”

“Bu shi (bukan), MAMA yang ku maksud adalah yang ada di legenda pohon kehidupan, aku yakin Huang Wángzǐ sudah mengetahui legenda itu”

“Shi, ibuku selalu menceritakannya saat aku masih kecil, tapi apa mereka benar-benar ada? Dan… anda mengatakan mereka ada di Korea sekarang?”

“Mereka benar-benar ada, 11 dari mereka ada di Korea saat ini, sedangkan yang satu masih berada di China, di Beijing”

“Beijing?” Tanya Tao.

“Iya, tepatnya di samping saya saat ini”

“Maksud tuan Wang?”

“Anda adalah salah satu dari mereka Huang Wángzǐ, salah satu dari MAMA, sebentar lagi terjadi gerhana Dragon, mungkin dada Huang Wángzǐ akan sedikit sakit, tapi Huang Wángzǐ akan mendapatkan kekuatan setelah gerhana terjadi” Kata Tuan Huang sambil menatap matahari.

“Aku sama sekali tidak mengerti yang anda katakan tuan Wang, bisa anda jelaskan kepada saya?” Tanya Tao,

“Setelah gerhana terjadi aku akan menjelaskannya” Kata tuan Wang tanpa melihat Tao sama sekali, dia hanya menatap matahari, dan benar saja, langit tiba-tiba menjadi gelap, Tao kemudian juga mengikuti arah pandangan Tuan Wang ke arah matahari.

Matahari hampir tertutupi sepenuhnya oleh bayangan bulan saat dada Tao mulai merasa sakit, Tao memegangi dadanya kuat-kuat, tuan Wang yang melihat itu hanya melihat Tao sekilas dan tersenyum, kemudian tuan Wang menatap gerhana matahari lagi sambil memejamkan matanya, Tao ingin meminta tolong kepada tuan Wang, tapi rasa sakit di dadanya terlalu menyiksa hingga dia tidak mampu mengeluarkan kata-kata, sampai akhirnya puncak rasa sakit itu ia rasakan, Tao berteriak sangat keras kemudian pingsan.

-***-

Tao membuka matanya ketika dia mencium bau menenangkan dari teh melati, Tao bangun dan sadar kalau dia sekarang ada dikamarnya di rumah tuan Wang, Tao memegangi kepalanya yang terasa sedikit pening kemudian meminum teh melati yang ada di samping kasurnya. Tiba- tiba pintu kamar Tao terbuka, ternyata tuan Wang, tuan Wang tersenyum cerah kepada Tao.

“Huang Wángzǐ, saya akan melatih anda mulai hari ini, akan ada banyak Ryuk yang mengincar anda, anda harus mampu menjaga diri anda sendiri, lebih dari itu, anda harus mampu mengendalikan kekuatan yang sekarang sudah miliki walaupun belum sepenuhnya”

“Apa yang anda bicarakan tuan Wang?” Tuan Wang hanya tersenyum kemudian duduk di samping Tao.

Tuan Wang mengambil tangan kanan Tao.

“Kekuatan Huang Wángzǐ adalah time control, dan ini adalah lambang Huang Wángzǐ, Hour Glass, mulai dari sekarang anda bisa mengendalikan waktu, Huang Wángzǐ bisa mengehentikan waktu selama yang Huang Wángzǐ mau, tapi kekuatan Huang Wángzǐ masih belum di berikan sepenuhnya, oleh karena itu saat ini Huang Wángzǐ hanya mampu mengehentikan waktu maksimal 15 menit”

Tao memandang tuan Wang dengan pandangan bingung.

“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang tuan Wang katakan” kata Tao kemudian, tuan Wang menghembuskan nafasnya berat.

“Baiklah, akan aku ceritakan semua dari awal” Kata tuan Wang kemudian, akhirnya tuan Wang menceritakan semua yang ia ketahui kepada Tao secara pelan-pelan sampai Tao mengerti, akhirnya setelah tuan Wang bercerita panjang tentang MAMA dan identitas Tao sekarang ini, Tao sedikit demi sedikit mulai mengerti dan menganggukkan kepalanya.

“Tapi tuan Wang, bagaimana anda bisa tau kalau saya adalah MAMA? Apakah tuan Wang juga bukan manusia seperti saya?”

“Bu shi, saya adalah manusia biasa, hanya saja suatu malam guardian Aiden muncul di mimpi saya kemudian menceritakan semuanya, dan dia juga mengatakan bahwa akan ada keturunan kerajaan dinasti Huang yang akan tinggal bersama saya, dan keturunan dinasti Huang itu adalah salah satu dari 12 MAMA, guardian Aiden juga memberi saya kelebihan agar tidak terkena efek dari pengendalian waktu Huang Wángzǐ, karena saya yang akan melatih anda, jadi sebenarnya saya sudah mengetahui identitas anda dari awal” Ucap tuan Wang kemudian menepuk-nepuk punggung Tao, tuan Wang kemudian berdiri dan berkata,

“Huang Wángzǐ, kita akan berlatih besok saja, sekarang lebih baik Huang Wángzǐ istirahat”

“Hao” Kata Tao singkat kemudian meminum teh melati dan membaringkan tubuhnya.

-***-

Tao mulai berlatih sejak pagi buta, dia berlatih dengan pedang, dan dari atas tuan Wang akan mengawasi dan menjatuhinya kelopak mawar putih untuk melatih kemampuan Tao mengendalikan waktu sekaligus skill wushunya, dan ternyata hasilnya jauh lebih baik dari pada yang di harapkan, mungkin karena Tao sudah mempelajari wushu sejak kecil.

“Huang Wángzǐ, saya rasa sudah cukup latihan hari ini, anda boleh istirahat” Kata Tuan Wang, Tao kemudian menunduk kepada gurunya dan duduk.

Tiba-tiba pintu rumah tuan Wang di gebrak, bahkan salah satu engselnya patah, ternyata yang menggebrak kediaman tuan Wang adalah sekumpulan anak buah ayah Tao yang sudah mencari Tao selama berhari-hari. Tao yang melihat itu hanya terbelalak kaget, Tao berpikir bahwa dia tidak akan terdeteksi, tapi ternyata dia akhirnya tertangkap juga.

“Huang Wángzǐ, Ayah anda telah memerintahkan kami untuk membawa anda pulang ke rumah sekarang juga, kami mohon agar anda mau bekerja sama dengan kami” Kata salah satu anak buah ayah Tao.

“Aku tidak mau!!!!!” Tolak Tao mentah-mentah.

“Huang Wángzǐ, gunakan kekuatanmu kemudian pergilah ke bandara, naiklah pesawat dengan tujuan Korea, temukan MAMA lain di sana” Kata tuan Wang, Tao mengangguk, dia memejamkan mata sejenak kemudian membukanya, semua hal berhenti bergerak kecuali dirinya dan tuan Wang.

“Huang Wángzǐ, saya juga akan pergi, hati-hati di jalan dan sampai berjumpa lagi di Sanguinets” Ucap tuan Wang kemudian berlari, Tao juga mengikuti tuan Wang untuk berlari, tapi dengan tujuan yang berbeda, Tao pergi ke bandara yang kebetulan hanya butuh waktu tujuh menit dari rumah Tuan Wang jika berlari.

Tao sampai dengan nafas yang terengah-engah kemudian mengecek pesawat mana yang akan menuju Korea, setelah menemukannya dia segera berlari ke dalam pesawat dan duduk di salah satu kursi penumpang tanpa ada yang mengetahui karena waktu masih berhenti, saat Tao meluruskan kakinya waktu kembali berjalan, pesawat pun mulai lepas landas, dan Tao hanya melihat China dari jendela pesawat yang di tumpanginya saat ini.

Setelah tiga jam perjalanan Tao akhirnya sampai di Korea, dia turun di bandara Incheon, Tao keluar dari pesawat dengan pandangan bingung, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan, dia juga tidak punya apa-apa saat ini, hingga akhirnya dia melihat seorang laki-laki yang mempunyai tanda hexagon yang sama dengannya, Tao berlari kearahnya namun semakin mereka dekat semakin mereka merasa dada mereka sakit, Tao kemudian menepuk bahu namja itu dan bernafas lega, rasa sakit di dadanya kini telah hilang, namja itu menoleh kepada Tao, dia memiringkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya, namja itu melihat tanda hexagon di leher Tao bagian kanan, mata namja itu melebar dan sebuah senyuman cerah muncul di bibir namja itu.

“Kau MAMA?” Tanya namja itu kepada Tao dengan mata bersinar-sinar, Tao mengangguk.

“Kau juga?” Tanya Tao kepada namja itu.

“Mmm-mm, seperti yang kau lihat, aku punya tanda yang sama sepertimu, oh iya, namamu siapa?”

“Namaku Huang Zi Tao, Kalau kau?”

“Namaku….”

-TBC-

Iklan

32 thoughts on “History of MAMA : Character Profile : Huang Zi Tao : “Runaway, Burdened Rules”

  1. Baby panda tao kamu keren bgt disini.jadi pangeran cina hoho. Siapa itu yg ketemu tao. Lay kan? Iyakan? Kalo bukan bsa di ganti gak jd lay supaya tebakan aku jd bener gitu

  2. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Byun Baekhyun : “Shining Power, Shining Person”

  3. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA : Character Profile : Zhang Yixing : “A Kind Healer”

  4. Ping-balik: Acha's Blog | History of MAMA Chapter 1

  5. Ping-balik: History of MAMA Chapter 2 | Acha's Blog

  6. Ping-balik: History of MAMA Chapter 3 | Acha's Blog

  7. Ping-balik: History of MAMA Chapter 4 | Acha's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s