For Tomorrow Might Not Comes [1]

For Tomorrow

Title : For Tomorrow Might Never Come

Author : Heen Doongie a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Brotherhood, Family, Sad.

Cast :

–          EXO’s Park Chanyeol

–          EXO’s Byun Baekhyun

–          EXO’s Oh Sehun

–          SNSD’s Kim Taeyeon

–          Super Junior’s Leeteuk

–          Kim Yoo Jung

–          Others (Find By Yourself)

-***-

Chanyeol PoV

Seoul, kota ini mengajariku bagaimana menjadi seorang yang mandiri, mengajariku bagaimana cara memenuhi sebuah tanggung jawab, mengajariku menghadapi kerasnya kehidupan tetapi kota ini tidak mampu mengajariku bagaimana cara untuk menyayangi orang-orang yang berada di sekitarku, kapan waktu itu datang? Setiap aku melihat kota ini dari jauh aku bisa merasakan ayah sedang berada di dekatku, kapanpun aku merindukannya, aku selalu ke tempat ini, ke tepi sungai Han. Aku, Park Chanyeol dan inilah ceritaku.

Chanyeol PoV end.

-***-

“Saya tau tuan Kim, tolong mengertilah keadaan saya, saya butuh pinjaman, saya tau kalau restoran kami sedang berada dalam kesulitan, tolong kami tuan Kim…”

Park Byulhee, ibu Chanyeol saat ini tengah menelpon seseorang yang di pangginya tuan Kim, setelah ayah Chanyeol meninggal dunia, seluruh tanggung jawab keluarga jatuh padanya, tapi beliau tidak pernah mengizinkan anak-anaknya untuk ikut menderita bersama dia.

“Terima kasih, tuan Kim…” Ucap beliau kemudian menutup telepon.

“Aku pulang…”

“Kau dari mana, Chanyeolie?”

“Dari taman kota” jawab Chanyeol singkat kemudian mengambil surat yang terdapat di meja ruang tamunya.

“Ada apa kau kesana?”

“Hanya bertemu teman” Jawab Chanyeo l “Tagihan.. tagihan, tagihan dan tagihan…” Ujar Chanyeol sambil melihat satu per satu surat yang di terima keluarganya. “Eung? Private & Confidential? Bukankah itu nama sebuah bank?”

“Itu punyaku” Ujar ibu Chanyeol sambil merebut surat tersebut dari tangan anaknya, ibu Chanyeol kemudian menyiapkan sarapan di meja makan keluarga mereka, ibu Chanyeol menyiapkan sarapan dengan kepala menunduk, Chanyeol pun melihat ibunya dari samping dengan pandangan mengamati.

“Eomma menangis?” Tanya Chanyeol.

“Tidak, malah kau yang menangis” Jawab ibu Chanyeol.

“Aniyo..” Jawab Chanyeol sambil menjulurkan lidah, membuat senyum di wajah ibunya terukir, begitulah Chanyeol dan ibunya, mereka saling berbohong satu sama lain setiap harinya, berbohong untuk menutupi kesedihan hati mereka masing-masing.

“Goal!! Yayyy!!!!!” Suara teriakan seorang bocah laki-laki terdengar dari lantai dua, membuat Chanyeol dan ibunya menengadahkan kepala mereka ke atas.

“Aigoo…” Ujar Chanyeol kemudian berjalan dengan langkah-langkah lebar menuju lantai dua, ibunya hanya tersenyum.

“Sehunie!! Matikan televisinya!! Apa kau tidak bosan selalu menonton sepak bola??!!” Ujar Chanyeol marah-marah kepada adiknya, Park Sehun. Sehun tidak bisa bermain sepak bola seperti bocah lain, tapi dia bisa lebih berisik dari pada bocah seumurannya, dia tidak bisa bermain sepak bola karena ada kelainan dengan kakinya, dia terkena penyakit polio saat dia masih balita, selama ini dia berjalan hanya dengan menggunakan dua buah penopang kaki yang tak pernah sedikitpun jauh darinya.

“Hanya karena aku tidak bisa bermain bukan berarti aku tidak bisa melihat…” Ujar Sehun sambil menunjukkan aegyonya.

“Jangan menunjukkan aegyomu padaku, hal itu tidak akan berpengaruh!” Jawab Chanyeol, Sehun hanya menjulurkan lidahnya.

“Yoo Jung-ah, tolong Sehun untuk bersiap sarapan!” Perintah Chanyeol kepada Yoo Jung, adik perempuannya, Chanyeol sendiri merapikan mainan Sehun dan Yoo Jung yang berserakan di kamar mereka.

“Iya oppa” jawab Yoo Jung sambil tersenyum, dia berdiri dan berjalan satu langkah, namun langkahnya terhenti ketika nenek mereka masuk ke dalam kamarnya dan Sehun.

“Aigoo~ Uri Sehunie rupanya sudah bangun,…” Ucap nenek setelah masuk ke kamar mereka, nenek mereka langsung memeluk Sehun dan memanjakannya, membuat Yoo Jung hanya bisa menggigit bibirnya iri.

“Halmoni selamat pagi…” Yoo Jung mencoba menyapa nenek, nenek hanya menoleh sekilas kepada Yoo Jung tanpa membalas sapaannya, dia memanjakan Sehun lagi.

“Aigoo~ Bagaimana bisa aku mempunyai cucu yang sungguh tampan sepertimu, Sehunie?”

Memang begitulah nenek, dia selalu pilih kasih antara Yoo Jung dan Sehun, Yoo Jung memang hanya anak adopsi di keluarga ini, mungkin itulah yang membuat nenek bersikap demikian kepadanya, nenek selalu menganggap bahwa Yoo Jung bukanlah keturunannya. Dan Yoo Jung, dia hanya bisa berpura-pura mendapat kasih sayang nenek dari boneka yang di mainkannya.

Kerenggangan di keluarga Chanyeol tidak hanya sampai di situ, kerenggangan juga terjadi dalam hal agama, Chanyeol, Ibu dan dua adiknya adalah umat kristiani yang taat, sedangkan nenek mereka adalah umat Budha yang tak kalah taat dari keluarga Chanyeol, bahkan Tuhan mereka mempunyai perang mereka sendiri di rumah ini.

“Kenapa makanan ini dingin sekali? Apa kau tidak memanaskannya?” Protes nenek kepada Ny. Park.

“Bukankah kau selalu panas?” Jawab Ny. Park dingin.

“Apa katamu?” Teriak nenek mereka.

“Bukan apa-apa” Jawab Ny. Park singkat.

Chanyeol hanya menghembuskan nafas melihat perdebatan antara ibu dan neneknya, setiap hari selalu seperti ini, Chanyeol sendiri heran, bagaimana tema debat dua orang itu tidak ada habisnya?

“Hyung, mau buat taruhan tim mana yang menang malam ini?” Tanya Sehun kepada Chanyeol.

“Shireo, jangan bicara saat makan!” Jawab Chanyeol sinis, Sehun hanya mengerucutkan bibirnya.

“Apa sarapanmu, Sehunie?” Nenek bertanya kepada Sehun.

“Sereal” Jawab Sehun singkat.

“Sereal? Apa itu sama seperti ddokbukki?” Tanya nenek lagi, mendengar pertanyaan nenek, Yoo Jung hanya bisa tertawa tertahan, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan.

“Aniyo… Sereal itu adalah makanan yang biasanya di iklankan di televisi” Jelas Sehun polos.

“Jadi ini makanan langsung jadi? Heuh, kasihan sekali menantuku, dia bahkan tidak bisa memasak masakan Korea, putri menantuku, park Byulhee” Ucap nenek, jelas Chanyeol bisa mengerti ke arah mana pembicaraan neneknya nanti, neneknya hanya ingin menyindir ibunya.

“Kau tau Chanyeolie, semalam aku mimpi sangat indah, aku makan Samgyetang sebanyak tiga porsi dan dagingnya begitu tebal mengenyangkan, ah… aku begitu merindukan Samgyetang”

“Jika kau begitu meindukan Samgyetang kenapa kau tidak pulang saja ke Daegu? Bagaimana menurutmu Chanyeolie?” jawab ibu Chanyeol tak kalah sinis dari neneknya.

“Apa katamu? Aku tidak akan pergi kemanapun, jika aku pergi, apa yang akan terjadi kepada cucu-cucuku? Chanyeolie, Sehunie.. apa yang akan terjadi kepada mereka? Aku sangat khawatir” Lagi, nenek mereka sama sekali tidak menyebut Yoo Jung, Chanyeol melihat ke arah Yoo Jung khawatir, saat ini Yoo Jung hanya bisa menundukkan kepalanya, Chanyeol yakin saat ini adik perempuannya itu sedang menahan air mata.

“Aku juga tidak kalah khawatir kepada mereka” jawab ibu Chanyeol masih dengan nada sinis, kali ini ibu Chanyeol memeluk Yoo Jung, ibu Chanyeol memang adalah orang yang paling mengerti bagaimana perasaan Yoo Jung.

“Tentu saja kau harus khawatir kepada mereka, kenapa juga kau harus khawatir kepadaku? Aku ini siapamu? Jika saja saat ini anakku masih hidup…” Ucap nenek meledak-ledak.

“Memangnya kenapa jika seandainya dia masih hidup…” Sanggah Ny. Park dingin.

“Hentikan ini!!!! Hentikan sekarang juga!!!!” Chanyeol berteriak sambil menggebrak meja, dia melemparkan sendok dan garpunya entah kemana, dia sudah sangat lelah mendengar pertengkaran antara nenek dan ibunya, Chanyeol berdiri sambil menatap ibu dan neneknya bergantian.

“Kalian berdua…. aiiissshhh lupakan saja!!” Ujar Chanyeol kemudian mengambil tas punggungnya kemudian pergi.

Pagi hari Chanyeol selalu sama, mendengar pertengkaran ibu dan neneknya yang tiada henti kemudian diikuti oleh langkah marahnya keluar rumah dan berakhir dengan konsentrasinya yang selalu pecah ketika di kampus, selalu sama, tak pernah berubah.

-***-

Siang itu Shin Bongsun Ahjumma mengusir pelanggan dari restoran ibu Chanyeol lagi, alasannya sangat tidak masuk akal, hanya karena pelanggan memanggilnya ahjumma dia mengusir mereka, wanita itu memang tidak pernah bisa menerima fakta bahwa saat ini dia mulai menua.

“Bongsun-ah, kau mengusir pelanggan lagi?” Tanya ibu Chanyeol dengan mata berkaca-kaca, Chanyeol yang melihat mata ibunya berkaca-kaca hanya diam di salah satu kursi pelanggan.

“Salah mereka kenapa mereka memanggiku Ahjumma, aku ‘kan masih muda” Jawab Bongsun dengan nada centilnya.

“Bongsun-ah, ini bukan masalah mereka memanggilmu dengan ahjumma ataupun noona, ini masalah kelanjutan restoran ini, jika pendapatan restoran ini terus saja menurun kita tidak bisa mengembalikan dana yang kita pinjam, dan restoran ini…. restoran ini akan di tutup…” Ucap Ny. Park dengan menunduk, dia menangis, Chanyeol membuang nafas berat kemudian berdiri dan memeluk ibunya dari belakang.

“Jangan menangis eomma….”

-***-

PLAKKK

Sebuah tamparan dari nenek sukses mendarat di pipi Yoo Jung, membuat mata Yoo Jung berkaca-kaca.

“Apa yang kau lakukan terhadap Sehunie, heuh???” teriak nenek kepada Yoo Jung. “Apa kau tidak apa-apa Sehunie?” Tanya nenek kepda Sehun yang saat ini tengah terjatuh dari tangga.

“Aku tidak apa-apa halmoni, ini bukan salah Yoo Jung, aku sendiri yang tersandung karena tidak menggunakan alat bantu jalanku dengan benar..” Jawab Sehun juga dengan mata berkaca-kaca, dia merasa sangat kasihan kepada adik perempuannya.

“Jwesonghaeyo halmoni…” Yoo Jung meminta maaf kepada nenek sambil menangis.

“Apa kau bilang? Maaf? Apa kau buta? Bagaimana jika seandainya Sehunie terluka, apa kau mampu mengobatinya heuh?” Lagi-lagi nenek berteriak kepada Yoo Jung, nenek menggoyang-goyangkan tubuh Yoo Jung dengan keras, membuat air mata yang mengalir di pipi gadis cantik itu makin deras mengalir.

“Halmoni.. sudah ku bilang bukan salah Yoo Jung, aku sendiri yang terjatuh!!!” Kali ini Sehun ikut berteriak, dia masih tetap membela Yoo Jung.

“Apa yang omonim lakukan? Dia hanya anak kecil!!!” Ucap ibu Chanyeol marah sambil menarik Yoo Jung ke dalam pelukannya.

“Anak kecil? Kau harus keras mendidiknya! Sudah kewajibannya untuk merawat Sehun…”

“Dan sudah kewajibanmu untuk memaafkannya dan tidak memukulnya..”

“Mwo? Aku saja belum mampu memaafkanmu, apa lagi dia? Memangnya siapa dia?”

“Memaafkanku? Memangnya apa salahku omoni?”

“Aissh, lupakan..”

“Aniyo, tolong kepadakan kepadaku dimana letak kesalahanku..”

“Dengarkan aku Park Byulhee.. diamlah!!”

“Selalu kata-kata yang sama setiap hari, kau terus saja menyuruhku untuk diam..”

“jangan membuatku membuka mulutku!”

“Apa omonim takut? Kenapa tidak omonim katakan saja?”

“Baiklah, itu semua karenamu anakku…”

“HALMONI CUKUP!!! HENTIKAN PERKATAANMU!!!” Teriak Chanyeol yang baru datang di rumah. “Halmoni.. cukup hentikan…” Kini Chanyeol meminta kepada neneknya untuk menghentikan seluruh ucapannya, baik ibu maupun nenek Chanyeol menolehkan wajah mereka kepada anak laki-laki tertua di dalam keluarga ini, mereka bisa melihat ada linangan air mata yang yang mengalir di wajah tampannya.

Fakta yang sudah di ketahui selama bertahun-tahun namun tidak pernah terucap, terucap hari ini, kematian ayah Chanyeol bukanlah karena kecelakaan, dia telah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri, ayah Chanyeol meninggal karena bunuh diri.

Ibu Chanyeol mengajak Yoo Jung dan Sehun untuk ke kamar mereka, Yoo Jung dan Ny. Park membantu Sehun untuk berjalan, namun baru tiga langkah mereka menaiki tangga sebuah komentar pedas dari nenek mereka kembali terlontar.

“Kebenaran memang selalu pahit…”

“Memang, dan tidak ada yang tau tentang kebenaran, bahkan omonim juga tidak tau…” Balas ibu Chanyeol dingin.

-***-

Yoo Jung dan Sehun menangis di pelukan ibu mereka di kamar, Ny. Park mengelus rambut anak-anaknya bergantian menenangkan.

“Yoo Jung-ah Uljima…. jangan menangis lagi sayang…” Ucap Ny. Park lembut.

“Halmoni membenciku…” Ucap Yoo Jung masih terus menangis.

“Tidak sayang.. halmoni tidak membencimu..” Ujar Ny. Park sambil tersenyum lembut kepada Yoo Jung.

“Dia memang membencimu…” Ujar Sehun sambil terisak.

“Oppa….” Yoo Jung makin menangis setelah mendengar ucapan Sehun.

“Sehun-ah.. jangan membuat tangisan adikmu makin keras, jadilah oppa yang membuat Yoo Jung tersenyum, bukan membuat Yoo Jung menangis..” Ny. Park menasehati Sehun kemudian mencium kening anak laki-lakinya itu. “halmoni hanya sedang marah sekarang.. nanti juga baik-baik saja..” lanjut Ny. Park.

“Eomma, kapan semuanya akan baik-baik saja?” Tanya Sehun polos, Ny. Park tersenyum mendengar pertanyaan dari Sehun.

“Kalian tau, ketika eomma masih kecil, eomma selalu menangis bahkan karena hal kecil, ketika eomma menangis, ibu eomma selalu mengatakan kepada eomma bahwa Tuhan akan mengirimkan malaikat-Nya kepada kita untuk menghapus semua air mata yang mengalir”

“Malaikat?” Tanya Yoo Jung sambil tersenyum.

“Iya sayang, Malaikat!!” Jawab Ny. Park sembari mengeratkan pelukannya kepada Yoo Jung. “Malaikat kita akan datang, dia akan menghapus air mata kita, dia akan memberikan kita banyak kebahagiaan dan akan meninggalkan penderitaan kita di sebuah tempat yang sangat jauh..” Lanjutnya.

“Kapan malaikat kita datang eomma?” Tanya Sehun.

“Mari kita lakukan satu hal, hari ini di dalam doa kita mari meminta kepada Tuhan agar segera mengirimkan malaikatnya, bagaimana?” Ucap Ny. Park sambil menatap Yoo Jung dan Sehun bergantian.

Ny. Park, Yoo Jung dan Sehun pun berjajar di samping tempat tidur Sehun dan berdoa, mereka merekatkan kedua tangan mereka, menutup mata dan mulai berdoa, Chanyeol yang melihat hal itu membuat hatinya terenyuh, dia pun melakukan hal yang sama seperti ibu dan kedua adiknya, merekatkan tangan dan menutup mata, berharap kepada Tuhan agar segera mengirimkan malaikat-Nya kepada keluarga Park.

Hari itu, di malam yang dingin dan bersalju…. sebuah keluarga kecil telah memanjatkan doa mereka kepada Tuhan untuk malaikat yang akan menghapus air mata, membuang penderitaan dan memberikan mereka begitu banyak kebahagiaan. Air mata yang menetes di setiap pasang mata mereka turun bersama turunnya salju yang putih bersih, seputih hati mereka yang di penuhi kasih sayang untuk keluarganya.

“Tuhan.. Semoga kau mendengarkan doa kami, tolong beri kami sebuah cahaya kecil di masa gelap ini.. sebuah cahaya kecil….” Doa Chanyeol di malam yang dingin itu, dan dia tidak tau, sebuah cahaya kecil yang ia minta telah berada di samping rumahnya.

-TBC-

Iklan

6 thoughts on “For Tomorrow Might Not Comes [1]

  1. Ping-balik: For Tomorrow Might Not Comes [2] | Acha's Blog

  2. Ping-balik: For Tomorrow Might Not Comes [3] | Acha's Blog

  3. Ping-balik: For Tomorrow Might Not Comes [4-END] | Acha's Blog

  4. Entahlah, tapi aku ngerasa keadaan keluarga mereka mengingatkanku akan movie bolliwood pas jaman-jaman ke emasannya di Indonesia #apadeh… abaikan yang ini ^^
    Nice story 🙂

  5. ini ceritanya kayak film india yang castnya sharukh khan itu bukan ya?kal ho na ho (eh bener gak sih tulisannya?) ato apalah itu #soktahu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s