The Covenant Chapter 7

The Covenant

 

The Covenant

Title : The Covenant

Author : Heen Doongie a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brotherhood, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Cast : EXO Member and other (find by yourself)

-The Covenant Chapter Seven-

Summary :

“Royal Blood sama sekali tidak bisa di remehkan, masing-masig dari mereka mempunyai keistimewaan sendiri…. dan mempunyai nafsu yang besar terhadap darah….”

-***-

Part Sebelumnya -> 1, 2, 3, 4, 5, 6

be aware with typo(s)

Happy Reading ^^

-***-

“Sehunie….” Panggil Luhan kepada Sehun yang kini tengah mempersiapkan barang-barangnya untuk kepulangan mereka ke Korea besok, Sehun menoleh.

“Waeyo?” Tanya Sehun.

“Apa kau butuh bantuanku?” Luhan balik bertanya kepada Sehun, Sehun menggeleng kemudian meneruskan kegiatannya tadi, Luhan menghela nafas berat, dia berjalan ke arah Sehun dan membantu Sehun mempersiapkan barang-barangnya.

“Aku bisa mempersiapkannya sendiri hyung…” Ujar Sehun, Luhan menegapkan tubuhnya kemudian memandang Sehun dengan tatapan yang sama sekali tidak di mengerti oleh Sehun.

“Kenapa hyung menatapku seperti itu?” Tanya Sehun tidak mengerti.

“Aku sudah mendengarnya dari Suho…” Jawab Luhan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Kau sudah mulai haus darah ‘kan?” Lanjutnya. Sehun tidak menjawab, dia hanya meneruskan kegiatannya tadi.

“Sehun-ah, jawab aku!!” Teriak Luhan, kali ini dia menangis. Sehun menghela nafas berat, menegapkan tubuhnya kemudian menatap Luhan.

“Memangnya kenapa kalau aku sudah mulai haus darah hyung? Aku tidak akan mati jika aku tidak meminum darah, aku bukan vampire murni, di dalam tubuhku masih ada darah penyihir dan werewolf…. lagi pula aku tidak mungkin menggigit manusia demi meminum darah mereka, aku masih bisa meminum darah hewan…” Jawab Sehun tenang, dia memeluk Luhan.

“Aku merasa bersalah kepadamu, Sehunie…. kau seperti ini karena kau melindungiku… mianhae…” Ucap Luhan terisak, Sehun menepuk-nepuk punggung Luhan.

“Hyung tidak perlu merasa bersalah, bukankah saling melindungi adalah kewajiban sesama saudara?” Ujar Sehun.

“Aku hanya takut terjadi sesuatu padamu, Sehunie… sangat takut….” Luhan mengeratkan pelukannya kepada Sehun.

-***-

“L…” Panggil Kris kepada L.

“Hmm?”

“Apa kau sudah tau kalau saat ini Sehun sudah mulai haus darah?” Tanya Kris.

“Mm, aku sudah mendengarnya dari Lay tadi..” Jawab L sambil menatap Kris.

“Apakah hal itu berbahaya?”

“Aku masih belum tau, Sehun bukanlah vampire murni, jadi aku rasa dia mungkin masih bisa menahan rasa hausnya, tapi aku rasa ada baiknya jika kita berjaga-jaga..” Jawab L dingin.

“Tapi dia adalah Royal Blood….”

“Aku tau, bukan berarti karena dia ‘sedarah’ dengan Royal Blood berarti dia harus selalu membutuhkan darah seperti mereka, Sehun tetaplah seorang penyihir dan werewolf yang tidak membutuhkan darah untuk melanjutkan hidup, dia masih bisa makan makanan yang normal…”

“Apa maksudmu dengan ‘sedarah’”? Tanya Kris tidak mengerti.

“Sedarah adalah sebutan untuk orang – orang yang dalam tubuhnya sama-sama mengalir Royal Blood, dengan kata lain, seseorang yang merupakan bagian dari kerajaan…. seorang keluarga…”

“Apa kau bilang?”

“Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu kemarin tentang hal ini? Darah vampire yang mengalir di tubuh Sehun bukanlah darah vampire biasa, melainkan Royal Blood, Sehun masih bisa terlindung dari serangan vampire murni biasa karena mereka tidak bisa melukai orang yang di dalam tubuhnya mengalir darah kerajaan, yang aku khawatirkan adalah bagaimana jika Sehun di serang oleh vampire yang di dalam tubuhnya sama-sama mengalir darah kerajaan sama sepertinya? Hanya mereka yang ‘sedarah’ yang bisa menyerangnya, dan Royal Blood sama sekali tidak bisa di remehkan, masing-masing dari mereka mempunyai keistimewaan sendiri… dan mempunyai nafsu yang besar terhadap darah….” Jelas L panjang lebar.

“Kalau begitu apa yang harus kita lakukan untuk melindunginya?” Tanya Kris khawatir.

“Aku masih memikirkan tentang hal itu..” Jawab L.

“Apakah memungkinkan baginya untuk melanjutkan sekolah?” Tanya Kris lagi.

“Apa kau khawatir Sehun tidak bisa menahan rasa hausnya karena di sekolah terlalu banyak manusia?” Tanya L balik.

“Mm, kau benar” Kris membenarkan.

“Untuk hal itu kau tidak usah khawatir, aku akan menyamar sebagai murid pindahan agar bisa menjaga Sehun dari dekat”

“Kau menyamar sebagai anak sekolah? Jangan bercanda!!” Ujar Kris setelah mendengar perkataan L.

“Why? Wajahku masih cukup muda untuk masuk ke sekolah…”

“Tapi apa kau mengerti bahasa dan pelajaran yang nanti di ajarkan?” Tanya Kris yang terdengar seperti menghina L.

“Apa kau menghinaku?” Tukas L sambil menatap Kris tajam.

“Tidak, aku tidak menghinamu, aku hanya khawatir” Ujar Kris.

“Aku bisa mempelajari bahasa yang kalian gunakan kurang dari satu jam, dan untuk materi yang di ajarkan di sekolah kalian… itu hanyalah seperti secuil kertas kecil bagiku..” Kata L menyombongkan diri. “Kau tidak perlu khawatir terhadapku, yang perlu kau khawatirkan adalah keluargamu..” Lanjutnya.

Kris hanya mengangguk mengiyakan, dia kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap hamparan pohon yang tumbuh di sekitar kastil.

“Aku pasti akan merindukan tempat ini…” Gumannnya.

-***-

@Airport

Keturunan Ipswich dan juga L sedang berada di bandara, mereka menunggu pesawat yang akan mengantarkan mereka kembali ke Korea.

“L hyung, apa kau punya paspor?” Tanya Chen. L tidak menjawab, dia hanya mengangkat buku kecil bersampul biru yang saat ini tengah di pegangnya.

“Uwaahhh… daebak!!” Ucap Baekhyun yang kagum.

“Dari mana hyung mendapatkannya?” Tanya Lay penasaran.

“Aku menciptakannya” Jawab L singkat.

“Mantra penciptaan memang sangat mengagumkan…” Ujar Tao.

“L hyung..” Panggil Chanyeol.

“Bisa tidak kalian tidak memanggilku hyung? Aku risih di panggil seperti itu!!!” Protes L.

“Kami lebih risih lagi jika hanya memanggilmu L tanpa embel-embel apapun…” Tukas Kai yang di sertai anggukan keturunan Ipswich yang lain.

“Aku tidak peduli, yang jelas jangan panggil aku dengan hyung lagi!!!” L bersikeras tidak mau di panggil hyung oleh keturunan Ipswich, keturunan Ipswich hanya menggelengkan kepala mereka.

Tidak lama kemudian panggilan untuk penumpang dengan tujuan Korea terdengar, keturunan Ipswich dan L pun beranjak dari tempat duduk mereka dan menuju ke dalam pesawat. Sebelum masuk ke dalam pesawat mereka menunjukkan paspor mereka sekali lagi kepada petugas bandara, saat tiba giliran L, hati keturunan Ipswich menjadi berdebar, D.O bahkan mengatupkan kedua tangannya berdoa, setelah melihat paspor L dan sesekali menatap sang pemilik, petugas bandara pun mengangguk kemudian memberikan paspor L dan mempersilahkannya masuk, keturunan Ipswich mengehela nafas lega.

“Sudah ku katakan kalau jangan khawatir kepadaku ‘kan?” Ujar  menyombongkan diri, keturunan Ipswich hanya mengangguk malas, mengiyakan perkataan L barusan.

-***-

Keturunan Ipswich berada di kelas business, itu sebabnya mereka bisa tidur dengan nyaman selama perjalanan menuju Korea yang memakan waktu kurang lebih 14 jam, dan seperti biasa juga, D.O hanya akan bisa tertidur dengan lelap jika Kai yang berada di sebelahnya.

Di saat semuanya tertidur, Sehun hanya menatap keluar jendela, dia kemudian melihat Luhan yang tengah terlelap di sebelahnya, Sehun kemudian berdiri dan membuat Luhan sedikit beringsut, Sehun menghentikan aktivitasnya sejenak, setelah Luhan tidak lagi bergerak dia berjalan menuju toilet.

Sehun membasuh mukanya dan menatap refleksi dirinya di kaca, keningnya mengerenyit, dia mendekatkan wajahnya ke kaca, mata Sehun melebar, dia langsung menjauhkan wajahnya dari kaca dan segera keluar dengan langkah tergesa-gesa, langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja dia melihat seorang anak kecil yang jari telunjuknya berdarah yang saat ini sedang berusaha menghentikan aliran darahnya dengan mengemut jarinya, jakun Sehun bergerak naik turun, dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan segera menuju ke tempatnya tadi.

Sehun menghempaskan dirinya ke sofa dengan nafas yang memburu, membuat Luhan terbangun dari tidurnya, dia melihat Sehun yang kini tengah menutup matanya.

“Sehunie, kau kenapa?” Tanya Luhan dengan suara serak.

“Aku tidak apa-apa hyung..” Jawab Sehun masih dengan mata yang tertutup.

“Jangan bohong..” Ujar Luhan tidak percaya.

“Aku benar-benar tidak apa-apa…” Jawab Sehun.

“Kalau kau benar-benar tidak apa-apa buka matamu dan tatap mataku!” Teriak Luhan pada akhirnya, Sehun menghela nafas berat, dia membuka mata kemudian membenarkan posisinya dan menatap Luhan, Luhan langsung terlonjak ketika melihat apa yang terjadi dengan mata Sehun.

“Se..Sehunie…” Ucap Luhan tergagap.

“Hyung puas sekarang?” Tanya Sehun dingin.

“Kris!! L!! Xiumin-ah!!!” Luhan berteriak memanggil Kris, L, dan Xiumin, ketiga orang itu seketika terbangun dan menuju tempat Luhan dan Sehun.

Ekspresi Kris dan Xiumin tidak berbeda jauh dengan Luhan tadi, sedangkan L, dia hanya melihat Sehun tanpa ekspresi apapun di wajahnya.

“Sehunie, kapan itu terjadi?” Tanya Xiumin.

“Aku tidak tau, aku baru mengetahuinya saat di toilet tadi…” Jawab Sehun.

“L, kenapa mata Sehun berubah warna menjadi merah?” Tanya Kris kepada L.

“Karena dia vampire” Jawab L singkat.

“Ya!!! Ini bukan saatnya bercanda!!!” Teriak Luhan.

“Apa saat ini aku bercanda? Kau sendiri juga sudah tau ‘kan kalau Sehun adalah vampire? Ini hal yang wajar…” Jawab L dingin.

“Hal yang wajar katamu?” Tanya Kris tidak mengerti.

“Hal ini sama seperti bola mata kalian yang akan menjadi hitam seluruhnya sehitam kolam di malam hari ketika menggunakan sihir…” Jelas L.

“Apakah matanya bisa menjadi normal kembali? Apakah itu berbahaya? Apa bisa memberikan efek buruk bagi Sehun?” Xiumin memborbardir L dengan berbagai macam pertanyaan.

“Bisa, tidak dan tidak” Jawab L singkat.

“Bagaimana agar mengembalikan matanya menjadi normal?” Tanya Luhan tidak sabaran.

“Dia hanya butuh meminum darah…” Jawab L, baik Kris, Luhan, Xiumin dan Sehun melebarkan matanya kaget. “Matanya hanya akan berubah merah jika dia butuh minum darah, tidak seperti vampire murni” Lanjutnya kemudian memejamkan mata.

Tiba-tiba muncul sebuah kantong darah di pangkuan Sehun yang membuat Sehun terlojak kaget.

“Minumlah… itu golongan darah O, setidaknya itu bisa membuatmu menahan rasa hausmu akan darah selama tiga hari” Ujar L. Sehun hanya menatap kantong darah itu ragu.

“Jangan hanya menatapnya… minumlah… apa kau tidak ingin matamu menjadi normal kembali?” Tanya L, Sehun menatap Kris, Xiumin dan Luhan sejenak.

“Tidak apa-apa Sehunie… minumlah..” Ujar Kris lembut, Sehun kemudian menatap Luhan dengan mata memelas, Luhan hanya menganggukkan kepalanya dan mengelus rambut Sehun, Sehun menghela nafas berat dan mulai meminum darah yang L berikan kepadanya.

Awalnya Sehun meminum darah itu biasa saja, namun beberapa saat kemudian dia menyedot kantong darah itu dengan keras hingga membuat kantong darah itu mengkerut. Melihat Sehun meminum darah seperti itu, terdapat sedikit perasaan takut sebenarnya di hati Luhan, Kris dan Xiumin, namun mereka tidak bisa berbuat apapun, bukan mereka yang menginginkan hal ini terjadi kepada keluarga mereka, tapi takdir yang tidak mampu mereka lawan. Setelah isi di kantong darah itu telah habis, Sehun menatap kakak-kakaknya dengan senyuman yang cerah, sangat berbeda dengan ekspresi dinginnya pagi tadi, matanya juga sudah kembali normal.

“Kau suka?” Tanya L.

“Mm, sangat enak..” Jawab Sehun jujur dengan senyum yang mengembang.

Luhan, Kris dan Xiumin saling berpandangan.

“Luhan-ah, Xiumin-ah, ikut aku sebentar..” Ujar Kris kemudian, Luhan dan Xiumin menurut, meninggalkan Sehun dan L yang kini tengah duduk di tempat Luhan.

Xiumin, Luhan dan Kris berumpul di tempat duduk Kris, Xiumin dan L.

“Apa kalian lihat senyum Sehun tadi?” Tanya Kris memulai pembicaraan.

“Mm” Jawab Xiumin dan Luhan singkat.

“Aku rasa kita harus membuat tempat penyimpanan darah di rumah khusus untuk Sehun” Ujar Xiumin.

“Kau benar, tapi dari mana kita mendapatkannya?” Tanya Luhan.

“Kita bisa menciptakannya…” Jawab Kris.

“Apa kau yakin kita bisa menciptakannya? Apa kau tidak melihat tadi ada nama sebuah rumah sakit di kantong darah yang di minum Sehun?” Tanya Luhan lagi.

“Kalian memang tidak bisa menciptakan darah, aku tadi mengambilnya…” Ujar L yang tiba-tiba sudah ada di antara ketiga orang tersebut.

“Bagaimana kau melakukannya?” Tanya Luhan penasaran.

“Cukup memikirkannya, kalian juga bisa melakukannya” Jawab L.

“Apa ada mantra khusus?” Tanya Kris.

“Tidak ada” Jawab L singkat, ketiga orang itu pun saling berpandangan lagi kemudian mengangguk, mereka akhirnya kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.

-***-

Keturunan Ipswich dan L akhirnya sampai di Korea, mereka kemudian menuju tempat pengambilan koper untuk mengambil barang-barang mereka dan duduk di kursi tunggu untuk menunggu orang yang akan menjemput mereka, mereka semua tidak sadar jika dari tadi mereka sedang di awasi oleh beberapa pasang mata yang sama sekali tidak pernah melepaskan pandangan mereka terhadap ketuturunan Ipswich dan L.

“Mana pangeran?” Tanya seorang bertubuh jangkung kepada seorang seseorang yang berambut pirang yang kini tengah berda dalam posisi terikat.

“Dia……” Jawab seseorang berambut pirang itu sambil menunjuk Sehun.

Seseorang bertubuh jangkung itu pun menyerahkan seseorang berambut pirang itu kepada temannya kemudian berjalan menuju keturunan Ipswich, sesorang betubuh jangkung itu tersenyum cerah kemudian membungku 90 derajat saat berada di hadapan keturunan Ipswich, keturunan Ipswich memandang pria bertubuh jangkung itu heran.

“Nuguseyo?” Tanya D.O kepada seseorang bertubuh jangkung itu, sesorang bertubuh jangkung itu tersenyum.

“Anneyeonghaseyo… Choi Minho imnida, senang bertemu dengan kalian” Ucapnya memperkenalkan diri. “Terutama anda, Pangeran….” Lanjutnya sambil menatap Sehun.

 

 

 

 

 

 

-TBC-

Iklan

24 thoughts on “The Covenant Chapter 7

  1. ugh !!!
    knph choi minho ??
    dy siapa ???
    suruhan krajaan ato anggota krajaan ??
    waah daebak !!!
    sehunnie akhir.a mnum darah
    #claphands
    knph biasku ada smua c ??
    #fliptable
    keep writing n fighting !!!!
    🙂

  2. baru sempet komen padahal udh baca dari kemaren hehe *maklumpulsalimit* haha
    aa ada pacar aku *nunjukminhooppa* hahaha
    next part ditunggu cha.

  3. Ping-balik: The Covenant Chapter 8 | Acha's Blog

  4. Ping-balik: The Covenant Chapter 9 | Acha's Blog

  5. Ping-balik: The Covenant Chapter 10 | Acha's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s