For Tomorrow Might Not Comes [4-END]

For Tomorrow

Title : For Tomorrow Might Never Come

Author : Heen Doongie a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Brotherhood, Family, Sad.

Cast :

–          EXO’s Park Chanyeol

–          EXO’s Byun Baekhyun

–          EXO’s Oh Sehun

–          SNSD’s Kim Taeyeon

–          Super Junior’s Leeteuk

–          Kim Yoo Jung

–          Others (Find By Yourself)

-***-

A/N :

Author kasih tau sekali lagi, ini film yang Author jadikan FF loh ya 😀

Cuma ada beberapa bagian yang ga Author adaptasi dari Film tsb.

Part Sebelumnya -> 1, 2, 3

-***-

Hari-hari berlalu seperti biasa, Baekhyun akan selalu datang ke rastauran keluarga Chanyeol dan membantu mereka, tak lupa dia selalu bercengkrama dengan Yoo Jung dan Sehun, tapi ada satu hal yang berubah, kini Chanyeol tidak pernah lagi menanggapi candaan Baekhyun yang dia lontarkan kepadanya.

-***-

Chanyeol sedang duduk sendiri di tepi sungai Han, dia menangis.

“Eomma tau kau sangat menyayangi Baekhyun..” Chanyeol menoleh, dia kaget ibunya berada di sini, dia segera menghapus air matanya. “Kau belum memberitahunya kalau kau akan di seleksi untuk salah satu tim di Amerika ‘kan?” Lanjutnya, Chanyeol hanya diam, ibu Chanyeol mulai menangis.

“Kenapa sekarang eomma yang menangis?”

“Karena aku sangat mengetahuimu! Kau tidak pernah mendapat kasih sayang yang begitu besar dari orang lain selain Baekhyun, kau tidak pernah bahagia sebelum bertemu Baekhyun!”

“Aku memang sangat menyayanginya eomma, dia selalu menjahiliku, memberi motivasi, bahkan dia yang membantuku menggapai impianku! Dia yang mengisi posisi appa yang kosong dalam hatiku, kemanapun aku pergi dia selalu mengikutiku, dan dia selalu menguping pembicaraan semua orang, aku sangat menyayanginya eomma, yang ku inginkan hanyalah dia akan selalu berada di sampingku dan memberikanku semangat, tapi sekarang… aku bahkan tidak bisa mengatakan kepadanya kalau aku akan ikut seleksi… hatiku masih sangat sakit jika mengingat dia tidak datang ke pertandingan pertamaku karena pacarnya!”

“Tenanglah Chanyeolie, eomma tau bahwa malaikat kita sekarang sedang melihat ke arah kita dan akan meyakinkan kepadamu bahwa luka di hatimu akan tertutup rapat… semuanya akan baik-baik saja..” Ujar Ny. Park sambil mengelus rambut Chanyeol, dan Ny. Park memang benar, malaikat mereka sekarang sedang melihat mereka dengan jarak yang tidak begitu jauh, dia bahkan bisa mendengar seluruh percakapan mereka, malaikat itu adalah Byun Baekhyun.

-***-

Chanyeol mengikuti seleksi pemain basket untuk bergabung dengan salah satu tim terbaik di Amerika serikat, dan dia berhasil, dia bahkan berhasil menjadi pemain inti dalam tim basket tersebut, semua orang bergembira, dan Baekhyun adalah orang yang paling bahagia atas keberhasilan Chanyeol, kebahagiaannya bahkan melebihi kebahagiaan Chanyeol sendiri.

Hari ini adalah hari di mana Chanyeol akan di interview tentang keberhasilannya masuk kedalam tim internasional di Amerika, beberapa orang reporter berkumpul di rumah Chanyeol, nenek, ibu, serta dua adiknya juga ikut di wawancara.

“Chanyeol-ssi, apa penyebab meninggalnya ayah anda?” Tanya salah seorang reporter.

“Serangan jantung” Jawab nenek Chanyeol cepat. “Aku sangat merindukan anakku, dan aku sangat ingin melihat Chanyeol dan Sehun hidup bahagia sebelum aku meninggal nanti” Lanjutnya.

“Bagaimana dengan Yoo Jung-ssi?” Tanya reporter yang lain.

“Dia bukan keluarga kami”

“Nenek!” Sergah Chanyeol.

“Yoo Jung adalah keluarga kami, dia anakku sama seperti Chanyeol dan Sehun” Tukas ibu Chanyeol sambil mengelus rambut Yoo Jung yang kini menundukkan kepalanya. “Dan suamiku… dia tidak meninggal karena serangan jantung, dia meninggal karena bunuh diri..” Lanjut ibu Chanyeol yang hanya di balas dengan tatapan kaget para reporter dan tatapan tajam ibu mertuanya.

Setelah interview selesai para wartawan pun pulang dari rumah Chanyeol, meninggalkan keluarga Chanyeol yang saat ini di penuhi ketegangan.

“Kenapa kau mengatakan kepada mereka yang sebenarnya?!” Ucap nenek Chanyeol.

“Kita tidak bisa membohongi publik!”

“Dengarkan menantuku…”

“Aku hanya akan jadi menantumu di hari Yoo Jung menjadi cucumu!”

“Yoo Jung bukanlah cucuku dan tidak akan pernah menjadi cucuku!! Darahku tidak mengalir dalam tubuhnya!!”

“Aku tidak mau mendengar omongan omoni tentang darah yang mengalir lagi!”

“Kenapa kau begitu keras kepala? Degarkan aku! Yoo Jung bukanlah cucuku!! Dia bukanlah bagian dari keluarga, dia hanyalah kesialan, kesialan yang akan menimpa keluarga yang mengadopsinya! Kesialan yang mengambil seluruh kebahagiaan keluarga… mengambil kedamaian.. mengambil anakku!! Aku membencinya! Sangat membencinya!!” Teriak nenek Chanyeol meledak-ledak, baik nenek Chanyeol maupun ibunya tidak tau jika dari lantai dua Yoo Jung menangis tanpa henti melihat pertengkaran antara keduanya.

Yoo Jung pun berlari keluar rumah menuju rumah Baekhyun, dia mengetuk pintu rumah Baekhyun berkali-kali, Baekhyun keluar dan mendapati Yoo Jung yang kini tengah menangis.

“Yoo Jung-ah, kau kenapa?”

“Oppa… tolong aku…” Pinta Yoo Jung sambil terisak.

-***-

“Jika kita membahas kesalahan anakku, kesalahan pertamanya adalah menikahimu dan yang ke dua adalah mengadopsi Yoo Jung!” Nenek Chanyeol masih terus saja berkoar.

“Dia juga membuat kesalahan yang ketiga..” Ujar Baekhyun yang tiba-tiba sudah berada di rumah Chanyeol.

“Kau? Kau itu siapa? Berani-beraninya kau mencampuri urusan keluarga kami?!” Teriak nenek Chanyeol.

“Aku bukan siapapun, aku hanyalah sebuah suara yang seharusnya menyadarkan halmoni sejak dulu, menyampaikan kebenaran yang seharusnya kau ketahui dari awal”

“Baekhyunie.. andwe..” Ny. Park melarang Baekhyun.

“Aniyo, biarkan saja ahjumma.. biarkan dia tau” Ny. Park hanya bisa menangis, “Karena halmoni selalu mendewakan kebenaran, maka aku akan memberitahu halmoni sebuah kebenaran juga, sebuah kebenaran tentang perselingkuhan putra halmoni..” Mata nenek Chanyeol melebar. “Hubungan gelap yang selama ini dia sembunyikan darimu namun dia tidak bisa menyembunyikan hasilnya, dan apa halmoni tau apa hasilnya?”

“Baekhyunie, jebal…” Ny. Park memeluk Baekhyun dari belakang dengan menangis, meminta agar Baekhyun tidak meneruskan ucapannya.

“Aniyo ahjumma, biarkan saja.. sudah saatnya dia tau..” Ujar Baekhyun. “Hasilnya adalah Yoo Jung” Lanjut Baekhyun sambil menatap nenek Chanyeol tajam. “Yoo Jung, yang tidak diterima oleh ibu kandungnya, namun di terima oleh menantu halmoni, Byulhee ahjumma, Yoo Jung yang di bawa ke dalam rumah ini oleh menantumu, Byulhee ahjumma, Byulhee ahjumma… yang bisa saja melihat wajah wanita lain di wajah Yoo Jung… yang bisa saja melihat kesalahan suaminya di wajah itu… tapi yang dia pilih adalah merawat Yoo Jung dengan penuh cinta sebagaimana anak kandungnya sendiri.. itulah Byulhee ahjumma… menantu halmoni..” Jelas Baekhyun panjang lebar sambil memeluk Ny. Park yang masih saja menangis, dan kali ini… air mata juga jatuh dan mengalir di pipi nenek Chanyeol yang akhirnya mengetahui sebuah kebenaran yang seharusnya harus dia ketahui sejak lama.

“Anak halmoni pasti mengerti bagaimana sakit hati dan marahnya Byulhee ahjumma, tapi anakmu tidak dapat mengerti bagaimana Byulhee bisa menerima semua kesalahan yang di lakukannya, ketabahan Byulhee ahjumma selalu membuatnya mengingat akan kelemahannya sendiri, perasaan menyesal dan gagal itulah yang membuatnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya… bukan Byulhee ahjumma”

Satu lagi fakta pahit yang terkuak malam itu, membuat malam itu di selimuti oleh tangisan yang memenuhi masing-masing kamar di rumah Chanyeol.

Di dalam kamarnya, Ibu Chanyeol berdiri di depan foto suaminya yang tergantung di dinding, memandanginya dengan tatapan kosong namun dengan air mata yang terus mengalir.

“Byulhee-ah…” Panggil nenek Chanyeol, Ny. Park hanya diam.

Nenek Chanyeol memeluk Ny. Park dan ikut menangis bersamanya.

“Dia adalah laki-laki yang baik, omoni.. dia laki-laki yang baik..” Ucap Ny. Park sambil menangis. “Itu hanyalah sebuah kesalahan… hanya sebuah kesalahan….” Lanjutnya, nenek Chanyeol makin mengeratkan pelukannya kepada Ny. Park.

Chanyeol yang melihat itu berjalan kepada nenek dan ibunya kemudian memeluk mereka berdua, ikut larut ke dalam tangisan dua wanita yang di sayanginya itu.

“Dia ayah yang baik, Chanyeolie…. itu hanya sebuah kesalahan..” Ucap Ny Park sambil terisak.

-***-

Dan akhirnya, impian Yoo Jung untuk mendapatkan kasih sayang dari neneknya telah tercapai, neneknya begitu menyayanginya, kini tidak ada lagi perbedaan perlakuan antara Yoo Jung dan Sehun, kerenggangan di rumah Chanyeol telah hilang, mereka kini bahkan berdoa bersama, seperti keluarga besar yang amat bahagia.

Baekhyun masih mengisi hari-hari Chanyeol dan keluarganya dengan kebahagiaan, namun Chanyeol masih merasa canggung kepada Baekhyun, walaupun sikap Baekhyun terhadapnya masih tetap sama seperti dulu, tetap sangat menyayangi Chanyeol.

Hari ini keluarga Park merayakan keberhasilan Chanyeol menjadi pencetak skor terbanyak di pertandingan terakhirnya, mereka mengadakan pesta dan mengundang teman-teman Chanyeol, Baekhyun tentu menjadi nama paling atas yang harus di undang, tapi lagi-lagi Chanyeol masih ragu dan canggung terhadap Baekhyun.

Pesta di rumah Chanyeol sangat meriah, Baekhyun juga rupanya sangat menikmati pesta tersebut, tapi di tengah-tengah pesta tiba-tiba Baekhyun mengalami kesulitan bernafas, dengan sempoyongan dia berusaha pulang ke rumahnya sendiri yang berada di depan rumah Chanyeol.

Baekhyun memegangi dadanya kuat-kuat, keringat bercucuran di tubuhnya, dia tergeletak di lantai kamarnya, saat pintu kamarnya terbuka.

“Baekhyun-ahh!!!!” Ibu Baekhyun berteriak kencang kemudian segera melarikan Baekhyun ke rumah sakit.

-***-

Chanyeol sedang berbelanja dengan Yoo Jung dan Sehun, Yoo Jung membawa Sehun berkeliling dengan kursi rodanya selagi Chanyeol memilih sepatu basket, saat memilih sepatu, tanpa sengaja Chanyeol melihat seorang wanita yang wajahnya sangat dia hafal, dia berjalan ke arah wanita itu dan menyapanya.

“Anneyeonghaseyo… anda Taeyeon-ssi ‘kan?”

“Ne, dari mana anda tahu tentang saya?” Tanya Taeyeon heran.

“Saya Park Chanyeol, teman Baekhyun..”

“Ahhh Park Chanyeol-ssi… Baekhyun bercerita banyak kepadaku tentangmu, panggil saja aku noona”

“Ne, apa yang anda lakukan di sini?” Tanya Chanyeol.

“Hanya sedang berbelanja untuk kebutuhan pernikahan dengan pacarku”

“Apakah Baekhyun ada disini juga?”

“Baekhyun? Untuk apa dia disini?” Taeyeon terlihat bingung “Leeteuk oppa!!!” Taeyeon memanggil seseorang, seorang namja yang sama sekali tidak di kenal Chanyeol menghampiri mereka.

“Perkenalkan ini pacarku, Leeteuk” Taeyeon mengenalkan pacarnya.

“Ne? Bukankah anda pacar Baekhyun?” Tanya Chanyeol tidak mengerti.

“Chagi-ah? Sejak kapan kau berpacaran dengan Baekbom?” Tanya Leeteuk menggoda Taeyeon.

“oppa, hentikan!” Hardik Taeyeon manja, Leeteuk kemudian memandang Chanyeol sambil tersenyum tipis.

“Sebenarnya.. kami di pertemukan oleh Baekhyun, dia adalah dongsaeng yang sangat baik, hidupnya penuh motivasi ingin membahagiakan orang lain, tapi hari ini… ketika aku melihatnya..”

“oppa, cukup…”

“Taeyeon-ah… jujur saja, saat aku melihat Baekhyun hari ini, aku tidak bisa percaya Baekhyun tidak mempunyai banyak waktu lagi… Tapi aku sangat senang karena kau berada di sampingnya, dia selalu bercerita kepada kami bahwa kau adalah saudara yang sangat baik, dia sangat menyayangimu.. dia bahkan pernah menangis kepada Taeyeon ketika dia tidak bisa datang pertandingan pertamamu untuk memberi semangat, dia tidak bisa datang karena saat itu dia harus menjalani perawatan, dia mengatakan kepada kami bahwa dia amat sangat menyesal, aku bahagia karena kau ada di sampingnya di saat terakhirnya…”

DEG

Mata Chanyeol melebar, kakinya seakan tak mampu lagi menopang berat tubuhnya, air mata seketika mengalir di pipinya, Chanyeol kemudian berlari, dia tidak peduli jika dia menabrak orang lain, pikirannya kalut saat ini.

“Anneyonghaeseyo.. Baekhyun imnida”

“Aku tidak kurang ajar… aku hanya ingin meringankan masalah keluarga kalian”

“Apa manfaat berdoa kepada Tuhan jika kau tidak tau betapa berharganya hidup yang telah Dia berikan?”

“Tidak banyak, tapi cukup untuk mengatakan bahwa mungkin di matamu kau mungkin merasa hidup ini tidak adil, tapi jika hidupmu di lihat dari mata orang lain kau akan tau berapa banyak yang kau dapatkan selama ini”

“Dengarkan aku Chanyeol-ah… selagi hidup… berbahagialah, tersenyumlah.. siapa tau hari esok mungkin tidak datang…”

“Dengarkan aku, one… two…. three… then smile!!!”

“…..kejarlah impianmu..”

“Aku ingin kau meraih impianmu”

“Aku juga sangat menyayangimu Chanyeol-ah.. bahkan aku menganggapmu saudaraku”

Seluruh perkataan Baekhyun saat ini tengah berputar seperti sebuah film pendek di kepala Chanyeol, Chanyeol menangis di tepi sungai Han.

“Dasar Baekhyun bodoh, kenapa kau begitu menyayangiku? Kenapa kau harus menganggapku saudara?!” Runtuk Chanyeol pada dirinya sendiri, dia masih menangis.

“Heh, telinga besar!” Chanyeol menoleh, matanya melebar, yang berada di depannya saat ini adalah orang yang baru saja ia runtuki, senyumnya masih sama, hanya saja sekarang wajahnya terlihat begitu pucat.

Masih dengan senyum yang lebar, pria berwajah pucat itu kini berjalan ke arah Chanyeol dengan memegangi dadanya, dia berjalan dengan terseok-seok, bisa terlihat bahwa namja itu sedang menggunakan seluruh tenaga akhir yang dimilkinya untuk menemui Chanyeol.

“Apa yang kau lakukan di sini, bodoh? Seharusnya kau di rawat di rumah sakit!!!” Chanyeol meneriaki namja itu sambil menangis, dia kemudian memeluk namja itu erat.

“Chanyeol-ah, apa kau ingin membuatku mati lebih cepat? Pelukanmu terlalu erat!!” Chanyeol langsung melepaskan pelukannya.

“Kenapa kau ke sini?” Tanya Chanyeol masih terisak.

“Untuk menemuimu”

“Kenapa kau menemuiku? Seharusnya aku yang menemuimu!! Seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu, seharusnya aku!! Bukan kau Byun Baekhyun!!!” Teriak Chanyeol, namja tinggi itu makin menangis.

“Hei kuping besar, kenapa kau begitu cengeng?” Ejek Baekhyun yang sebenarnya saat ini juga menangis.

“Ya!! Kau juga menangis!!” Teriak Chanyeol kemudian mengusap air matanya. “Baekhyun-ah mianhae, aku telah salah paham kepadamu..” Ujar Chanyeol sambil menunduk, menyembunyikan air mata yang kini keluar kembali.

“Gwenchana, aku akan selalu memaafkan saudaraku” Jawab Baekhyun kemudian memeluk Chanyeol, Chanyeol membalas pelukan Baekhyun.

“Gomawo… kau telah mengembalikan kebahagiaan yang hilang di dalam keluargaku.. aku menyayangimu Baekhyun-ah.. sangat menyayangimu..” Ucap namja tinggi itu sambil terisak.

Baekhyun melepaskan pelukannya kemudian menatap Chanyeol dalam.

“Chanyeol-ah, maukah kau berjanji kepadaku?”

“Apa?”

“Berjanjilah kau akan terus tersenyum dan bahagia dengan ada atau tidaknya aku, arrachi?”

“Shireo!!” Tolak Chanyeol mentah-mentah, dia menangis lagi.

“Ah wae?!!” Teriak Baekhyun. “Ayolah… eung eung eung..” Baekhyun mengeluarkan aegyonya.

“Arrasseo!!!!!” Chanyeol berteriak lagi, tentu saja masih dengan air mata yang mengalir, Baekhyun tersenyum cerah, senyum yang selalu menghangatkan, dan membahagiakan.

“Gomawo!!!” Ucap Baekhyun kemudian memeluk Chanyeol lagi, Chanyeol balas memeluk Baekhyun, lama kelamaan tubuh Baekhyun terasa berat, Chanyeol segera melepaskan pelukannya dan melihat keadaan Baekhyun, dan benar saja, saat ini Baekhyun tengah menutup matanya.

“BAEKHYUN-AH!!!”

-***-

Baekhyun membuka mata dan menyadari dirinya kini ada di rumah sakit, dia di kelilingi oleh orang yang beberapa bulan terakhir ini berada di sampingnya, Chanyeol dan keluarganya, ibu dan pamannya, tak lupa pula Shin Bongsun.

Yoo Jung berjalan ke samping ranjang Baekhyun sembari menangis, dia menyerahkan setangkai bunga mawar kepada Baekhyun.

“Yoo Jung-ah, apa kau mau menikah dengan oppa jika sudah dewasa nanti?” Tanya Baekhyun lemah, Yoo Jung menggeleng. “Jebal…..” Baekhyun memohon, Yoo Jung hanya menganggukkan kepala kemudian memeluk Baekhyun sebentar.

Kali ini giliran Sehun, sama seperti Yoo Jung, Sehun juga tidak hentinya menangis.

“Hyung.. cepatlah sembuh, aku ingin bermain sepak bola lagi…” rengek Sehun kepada Baekhyun.

“Arraseo, aku akan segera sembuh..” Jawab Baekhyun lemah.

Ny. Park dan nenek Chanyeol hanya memeluk Baekhyun tanpa mengatakan apapun, rasa terima kasih mereka di wakili oleh air mata tak mau kehilangan yang mengalir di pipi mereka, Ny. Park mencium kening Baekhyun lama, membuat Baekhyun akhirnya mengeluarkan air matanya juga.

Semua orang akhirnya keluar dan meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol berdua di ruangan itu, Chanyeol duduk di sebelah ranjang Baekhyun, dia menggenggam tangan Baekhyun erat-erat.

“Hei kuping besar, kau ingat janjimu ‘kan?” Tanya Baekhyun sambil terisak.

“Aku akan selalu ingat itu, kau tenang saja, pendek!” jawab Chanyeol juga sama terisaknya dengan Baekhyun.

“Ya…. aku tau aku memang pendek walau tidak kau sebutkan…” Ujar Baekhyun sambil mengerucutkan bibirnya, Chanyeol hanya tersenyum kecut. “Chanyeol-ah, jika sekarang kau sudah menjadi salah satu pemain basket internasional, maka nanti aku ingin kau menjadi pemain basket luar angkasa…” lanjutnya.

“Apa kau sudah gila?”

“Tidak, aku serius! Mungkin saja kita nanti bisa bertemu di langit dan bertanding basket bersama!!” Jawab Baekhyun.

“Jangan bicara hal seperti itu”

“Memangnya kenapa?” Tanya Baekhyun dengan suara yang makin melemah.

“Aku tidak suka”

“Baiklah” Jawab Baekhyun singkat. “Chanyeol-ah..” Panggil Baekhyun lagi, genggaman tangannya kepada Chanyeol makin erat.

“Mwo?”

“Aku sangat menyayangimu…..” Ucap Baekhyun sambil tersenyum, bersamaan dengan kalimat terakhirnya, mata Baekhyun akhirnya tertutup, genggaman tangannya kepada Chanyeol terlepas dan kardiograf yang selama ini menunjukkan bahwa jantungnya masih bekerja kini hanya tinggal garis lurus, Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun yang kini sudah tidak bernyawa dengan sebuah tangisan tanpa suara.

“Aku juga sangat menyayangimu… terima kasih telah mengembalikan senyum dan kebahagiaan dalam keluargaku”

 

 

 

 

 

-END-

Iklan

3 thoughts on “For Tomorrow Might Not Comes [4-END]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s