The Covenant Chapter 11

The Covenant

 

The Covenant

Title : The Covenant

Author : Heen Doongie a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brotherhood, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Cast :

  • All EXO Member
  • L Infinite
  • Other (find by yourself)

-The Covenant Chapter Eleven-

Summary :

“Karena aku yang akan mengorbankan hidupku demi Luhan hyung!!”

-***-

A/N :

Part Sebelumnya : Chapter 10

Yang lain bisa dilihat di library ^^

Be aware with typo(s)

Happy Reading ^^

_**-

“Se… Sehunie…” Ucap Kai tergagap ketika melihat siapa yang datang menghampirinya dan D.O, Sehun berjalan dan duduk di sebelah Kai.

“Apa yang kalian sembunyikan dariku?” Tanyanya lagi, Kai dan D.O saling memandang, D.O menangis lagi dan menyembunyikan wajahnya di dada Kai, Sehun memandang mereka berdua dengan kening mengerenyit.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tingkah kalian begitu aneh dari pagi tadi?” Desis Sehun dingin, dia memandang Kai dengan tatapan tajam.

“Akkhhh…” Kai berteriak kesakitan karena tatapan tajam yang di berikan Sehun kepadanya, membuat Sehun langsung sadar akan apa yang dilakukannya barusan, dia segera mengubah tatapan matanya menjadi normal dan mengontrol emosinya.

“Mian.. aku tidak sengaja..” Ujar Sehun menyesal, dia menundukkan kepalanya.

“Gwenchana… aku tau kau tidak sengaja melakukannya..” Ujar Kai lembut.

“Walaupun itu tidak sengaja bisa saja aku tadi membunuhmu…. Kau tau betapa merasa bersalahnya aku jika sesuatu yang buruk terjadi kepadamu karena ulahku tadi?”  Ujar Sehun dengan mata berkaca-kaca dan hampir menangis, baik Kai maupun D.O langsung membeku setelah mendengar ucapan Sehun.

D.O  memeluk Sehun erat, dia menumpahkan segala tangisnya kepada adiknya yang termuda itu, membuat Sehun juga ikut menangis di pelukan kakaknya walau dia tidak mengerti apa makna sebenarnya dibalik tangisan D.O, D.O mengelus-elus rambut Sehun penuh kasih sayang.

“Mianhae… jinjja mianhae…” Ujar D.O di sela tangisnya.

Kai memandang kedua orang itu dengan air mata yang menggenangi pelupuk matanya, dia memandang langit siang agar genangan air mata itu tidak jatuh dan membasahi pipinya, namun usahanya gagal, tetap saja genangan itu mengalir di pipi namja berkulit agak gelap itu.

‘Melihatmu seperti ini aku rasa kami memang tidak akan pernah bisa mengatakan kepadamu akan proses kematian Luhan hyung , Sehunie… Luhan hyung benar, hatimu terlalu lembut, kini aku mengerti kenapa Luhan hyung mati-matian meminta kami untuk menyembunyikan ini darimu… aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau nanti Sehunie… aku tidak bisa… aku tidak bisa melihatmu menangis…’ Batin Kai.

D.O melepaskan pelukannya kepada Sehun dan mengelus pipi Sehun lembut.

“Mianhae…” Ujar D.O dengan suara yang bergetar.

“Kenapa hyung dari tadi meminta maaf? Ada apa sebenarnya?” Tanya Sehun dengan suara yang juga bergetar, D.O menggeleng.

“Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja….” Ujar D.O lembut.

“Lalu apa yang membuatmu menangis tadi? Apa yang kau sembunyikan dariku?” Tanya Sehun lagi.

“Aku hanya mengatakan kepada Kai betapa aku rindu padamu dan rasa bahagiaku bisa melihatmu baik-baik saja di sekolah.. tidak lebih…” Ujar D.O masih dengan suaranya yang bergetar, setetes air mata kembali membasahi pipi putihnya, Kai yang tidak dapat menahan air matanya lebih lama akhirnya memutuskan untuk meninggalkan dua orang itu, dia berjalan dengan langkah gontai dengan tangan yang dia masukkan kedalam saku celana.

“Kai-ah, odiga?” Tanya Sehun saat melihat kepergian Kai.

“Aku perlu ke toilet..” Jawabnya tanpa menoleh kepada Sehun, dia takut Sehun mengetahui bulir-bulir air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.

“Mwoya… dia meninggalkan D.O hyung sendiri..” Gerutu Sehun sambil mengerucutkan bibirnya, D.O mengacak rambut Sehun gemas.

“Hyung… semuanya benar-benar baik-baik saja kan? Tidak ada yang kalian sembunyikan dariku ‘kan?” Tanya Sehun sekali lagi, D.O hanya mengangguk mengiyakan walaupun rasa bersalah dihatinya semakin meninggi.

‘Maafkan aku telah membohongimu… ini semua demi kebaikanmu…’ Batin D.O dalam hati.

-***-

“Aisshhh… kenapa air mata ini tidak mau berhenti mengalir??!!!” Gerutu Tao kepada dirinya sendiri, dia sedang berada di atap sekolah, tempat favoritnya ketika dia sedang di landa masalah seperti hari ini. Tiba-tiba sebuah tangan muncul di depannya memberikannya tissue, dia mendongak melihat siapa pemilik tangan tersebut.

“Suho hyung…” Ujar Tao setelah melihat sang pemilik tangan, Suho tersenyum.

“Igo… usap air matamu dengan ini..” Ujarnya sambil memberikan tissue tersebut.

“Gomawoyo hyung…” Ucap Tao sambil menerima tissue pemberian Suho.

Suho duduk di sebelah Tao dan mengarahkan pandangannya ke langit.

“Hari ini hari yang berat bukan?” Ujarnya memecah keheningan.

“Sangat…”

“Aku rasa hari-hari selanjutnya akan lebih berat dari ini…” Ujar Suho sembari memandang mata hari senja yang terlihat begitu indah dari atap sekolah mereka.

-***-

Bel pulang berbunyi saat jam menunjukan pukul delapan malam, seluruh keturunan Ipswich keluar dari kelas mereka masing-masing dengan langkai gontai, kecuali Sehun yang terlihat begitu bersemangat, entah apa yang membuatnya seperti itu yang jelas dia terlihat begitu bahagia.

“Sehun-ah…” Panggil Chanyeol yang melihat langkah ceria Sehun dari gerbang sekolah mereka.

“Mwoeyo?” Tanya Sehun.

“Kau terlihat begitu gembira, apa ada kejadian yang membuatmu bahagia seperti ini?” Tanya Chanyeol, Sehun mengangguk sambil tersenyum. “Apa?” Tanyanya lagi.

“Misi satu sukses!!!” Jawab Sehun sambil melompat-lompat kekanakan.

“Misi satu? Maksudnya?” Tanya Baekhyun yang tau-tau ikut mencampuri percakapan Chanyeol dan Sehun.

“Lihat saja sebentar lagi…” Ujar Sehun yang membuat Chanyeol dan Baekhyun penasaran.

Tidak lama kemudian, sebuah mobil ferrari berwarna merah menyala muncul di hadapan ketiga orang itu, dari pintu kemudi keluar Minho yang tersenyum cerah dan membungkukkan badannya sedikit ketika melihat Chanyeol dan Baekhyun.

“Annyeonghaseyo..” Sapa Minho ramah.

“Ahh ne.. anneyeonghaseyo..” Jawab Chanyeol kikuk, dari kursi penumpang keluar seorang laki-laki dengan karisma vampirenya yang bisa membuat siapa saja langsung berlari ketakutan, Baekhyun langsung menggandeng tangan Chanyeol takut, Minho menoleh ke belakang dan mengerti apa yang membuat Baekhyun ketakutan seperti itu.

“Itu ayahku, King Siwon..” Ujar Minho memperkenalkan.

“Prince Minho, Prince Sehun, bisa kita langsung pulang? Aku tidak tau aku apakah bisa menahan bau darah manusia ini lebih lama…” Ujarnya dingin, badan Baekhyun dan Chanyeol langsung bergetar.

“Ok!!” Jawab Sehun bersemangat, dia kemudian melihat kedua hyungnya “Misi satu, mendekatkan Minho dengan Siwon, sukses!!” Ujarnya sambil memberi mereka wink, kemudian meninggalkan mereka berdua dan masuk kedalam kursi belakang mobil ferrari itu, Sehun membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya kepada kedua hyungnya.

“Hyungdeul annyeong!!!!”

Setelah mobil ferrari itu sudah tidak lagi terlihat Baekhyun dan Chanyeol bernafas lega, badan mereka tidak lagi bergetar.

“Vampire benar-benar makhluk yang menakutkan…” Ujar Baekhyun lirih.

“Kau benar…”

-***-

“Lu… kau harus makan..” Ujar Kris sambil mengantarkan makanan di kamar Luhan.

“Gomawo..” Ujar Luhan pelan tanpa menoleh baik kepada Kris ataupun makanan yang diantarkan padanya, Kris menghela nafas berat.

“Berhenti bersikap seperti itu!” Desis Kris tajam, Luhan tidak bergeming, dia masih sama seperti tadi, tetap saja duduk termenung dengan tatapan kosong, walaupun kali ini dia telah mau bicara dengan saudara-saudaranya, tapi tetap saja, keadaannya tetap mengkhawatirkan.

“Luhan Graham!!!!” Teriak Kris marah, Luhan hanya mengangkat salah satu ujung bibirnya kemudian berdiri malas, dia menatap Kris dengan matanya yang semakin kehilangan sinar kehidupan.

“Berhenti bersikap seakan kau tuli dan buta!!” Lagi-lagi Kris berteriak marah, dia menatap Luhan dengan mata tajamnya.

“Lalu kau ingin aku bersikap bagaimana? Kau ingin aku bertingkah seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru? Bertingkah seakan-akan tidak terjadi apa-apa??!!” Tanya Luhan sambil berteriak.

“Yes, I wanna see you behave like that!! Aku ingin melihatmu bertingkah seakan tidak ada yang terjadi, aku ingin melihat Luhan yang ceria, bukan Luhan yang seperti ini!!!” Jawab Kris yang juga berteriak.

“Mudah bagimu untuk mengatakan kalau aku harus bertingkah seakan-akan tidak ada sesuatu yang terjadi, tapi bagaimana dengan diriku???!! Aku tidak dapat membohongi diriku seakan semuanya baik-baik saja!! Aku… yang sebentar lagi akan mati tidak bisa membohongi diriku sendiri, kau juga tau hal itu, kita semua tau kalau aku akan segera mati!!!!” Teriak Luhan sambil menangis, tangannya mengepal.

“Apa kau menyesal karena kau telah memilih untuk mati? Apa kau menyesal telah mengorbankan hidupmu?” Tanya Kris pelan, suara manly Kris bergetar, namja dingin itu kini berusaha menahan air mata yang akhir-akhir ini sering sekali keluar dari sudut-sudut matanya.

“Tidak, dan aku tidak akan pernah menyesal telah memberikan hidupku untuk adik yang sangat ku sayangi!” Desis Luhan dengan suaranya yang makin bergetar.

“Kalau kau tidak menyesal kenapa kau beringkah seperti ini? Seharusnya kau bertingkah kuat… seharusnya kau menunjukkan kepada Sehun kalau kau baik-baik saja, bukan malah membuatnya curiga dengan keadaanmu yang makin memprihatinkan ini…. apa kau tidak memikirkan kami yang setiap hari mengkhawatirkanmu? Apa kau tidak menganggap kami saudaramu? Kami juga sangat menyayangimu meskipun tidak sebesar rasa sayang Sehun…” Ujar Kris sambil menangis, Luhan terdiam, memikirkan apa yang baru saja Kris katakan, Luhan berjalan dengan langkah-langkah berat dan memeluk saudaranya itu, ikut menangis bersama namja tinggi yang telah bersamanya selama lebih dari dua puluh tahun itu.

“Maafkan aku… aku hanya terlalu menyayangi Sehun sampai aku tidak menyadari bahwa saudaraku yang lain juga sangat menyayangiku… maafkan aku… ” Ujar Luhan di sela-sela tangisnya, Kris memeluk Luhan erat.

“Kau tau Kris, ketakutanku akan kematian sekarang makin bertambah… aku takut berpisah dengan kalian…” Ujar Luhan lagi.

Lay yang sedari tadi melihat kedua kakaknya berdebat dari pintu kamar Luhan tanpa mereka berdua sadari kini meneteskan air matanya, dia menangis dalam keterdiaman, dia menundukan kepalanya dalam, membiarkan butiran air bening itu jatuh tanpa sedikitpun berniat menghapusnya karena saat ini dia merasa terlalu lemah, bahkan sangat lemah, sama seperti Luhan, dia juga sangat takut akan satu kata, yakni ‘perpisahan’. Saat Lay akan pergi dari situ dia melihat L yang memandangnya lembut.

“Kemarilah… aku akan memberikanmu sebuah pelukan…” Ujar L sambil merentangkan kedua tangannya, L mengerti, saat ini Lay sangat membutuhkan orang yang bisa dia jadikan sandaran.

Lay langsung menghambur kedalam pelukan L dan melampiaskan seluruh kesedihannya pada namja yang selalu menjaga keluarganya ini.

“L hyung..” Panggil Lay dengan suara bergetar akibat tangisannya tadi.

“Mm?”

“Terima kasih telah menjaga kami selama ini…” Ujar Lay sambil mengeratkan pelukannya, L hanya tersenyum tipis sambil mnegusap-usap rambut Lay lembut.

-***-

“Chen-ah, apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Xiumin kepada Chen yang kini tengah sibuk membaca buku di perpustakaan rumah mereka.

“Mempelajari vampire dan perjanjian dengan iblis” jawab Chen tanpa menoleh, Xiumin berjalan dan duduk di sebelah Chen yang sibuk membolak-balikkan halaman buku, sesekali keningnya mengekerut.

“Untuk apa kau mempelajari hal itu? Bukankah keluarga kita sudah mengalaminya?” Tanya Xiumin heran, Chen menutup bukunya kemudian memandang Xiumin.

“Justru itu yang membuatku mempelajarinya” Ujar Chen.

“Maksudmu?”

“Aku mempelajarinya karena siapa tau aku bisa menemukan solusi agar Luhan hyung tidak meninggal dan membatalkan perjanjian dengan iblis tanpa adanya efek buruk” Jelas Chen, Xiumin tersenyum mendengar penjelasan Chen, dia memandang adiknya itu dengan penuh kasih sayang.

“Kau memang adik yang sangat baik…”

-***-

“Boleh aku tidur di kamarmu?” Tanya L.Joe kepada Sehun yang kini telah mendapatkan kamarnya sendiri.

“Tentu saja” Jawab Sehun ceria.

“Terima kasih” Ujar L.Joe kemudian duduk di ranjang Sehun.

“Maafkan aku…” Ujar Sehun tiba-tiba.

“Untuk apa kau meminta maaf?” Tanya L.Joe yang tidak mengerti apa alasan Sehun meminta maaf kepadanya.

“Aku meminta maaf karena aku telah membunuh saudaramu…” Jelas Sehun.

“Ahh.. tidak apa-apa, lagi pula memang sudah takdir kami untuk di musnahkan oleh keturunan Ipswich kan?”

“Tapi apa kau tidak apa-apa?” Tanya Sehun khawatir.

“Tentu saja, biar aku beritahu padamu, aku tidak pernah mempunyai dendam kepada siapapun termasuk keluargamu, hanya kakak-kakakku saja yang begitu terobsesi, aku sendiri sebenarnya sama sekali tidak tertarik dengan hal ini” Jawab L.Joe sambil tersenyum.

“Aku rasa kebaikan hatimu ini yang telah membuat takdir menyelamatkanmu…” Ujar Sehun, L.Joe mengendikkan bahunya.

“Mungkin saja” Ujar L.Joe. “Oh iya, kau sepertinya sangat dekat dengan kakak-kakakmu ya?” Tanya L.Joe, Sehun mengangguk antusias.

“Aku sangat dekat dengan mereka, mereka semua sangat menyayangiku, begitu pula aku, aku sangat menyayangi mereka, dan di antara sebelas kakakku aku paling dekat dengan Luhan hyung, dia adalah kakak yang sangat baik, selalu menuruti permintaanku, bahkan aku rasa dia akan mengorbankan hidupnya demi diriku, tapi aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Luhan hyung tidak boleh mengorbankan hidupnya demi aku!”

“Kenapa?”

“Karena aku yang akan mengorbankan hidupku demi Luhan hyung!!” Jawab Sehun sambil tesenyum cerah.

“Sebegitu besarnya ‘kah rasa sayangmu padanya?” Tanya L.Joe.

“Mm!!” Jawab Sehun tegas dengan senyum yang mengembang di wajahnya, dia sama sekali tidak tau bahwa nyatanya Luhan telah mengorbankan hidupnya demi dia, kakak yang paling disayanginya telah menyerahkan kehidupannya demi dia.

“Kalau begitu kau harus cepat-cepat membuat keluarga Choi ini harmonis agar kau bisa segera kembali kepada kakak-kakakmu..” Celetuk L.Joe

“Tentu saja, aku akan segera mempersatukan mereka”

-***-

Sehun melakukan banyak hal untuk mendekatkan Tiffany, Siwon dan Minho, dia bahkan mengajak mereka untuk melakukan hal-hal remeh seperti berkebun, menata ulang kamar mereka bersama, bahkan Sehun mengajak mereka untuk mendaki gunung, Siwon dan Tiffany menuruti segala kemauan Sehun karena mereka menganggap Sehun adalah permata yang harus selalu di jaga dari incaran para pencuri, dan rupanya seluruh hal yang dilakukan Sehun membuahkan hasil, kini Siwon, Tiffany dan Minho sedikit menjadi dekat.

Sehun berada di puncak gunung sendiri sembari menikmati pemandangan matahari terbit, setiap hembusan nafas Sehun membentuk uap-uap kecil menandakan udara disana sangat dingin, Sehun memejamkan matanya sejenak kemudian membukanya lagi.

“Aku rasa aku tau cara untuk membuat Minho hyung mempunyai kekuatan istimewa…” Gumannya pada dirinya sendiri.

-***-

A few days later…

Lucifer dan L tengah berada di atap rumah keluarga Ipswich, L menatap Lucifer dengan tatapan dinginnya.

“Kau benar-benar tidak bisa menghentikan kematian Luhan?” Tanya L dingin.

“Tentu saja aku tidak bisa, Luhan telah menandatangani perjanjian dan tidak ada yang bisa mengubah itu..” Jawab Lucifer tak kalah dinginnya dengan L.

“Bukankah kau dan George telah membuat perjanjian untuk melindungi seluruh keturunannya? Tapi kenapa sekarang kau membiarkan salah satu dari mereka meninggal??” Teriak L.

“Itu yang namanya Give and Take…” Ujar Lucifer sambil menyeringai yang kemudian menghilang seiring dengan asap hitam yang mengiringi kepergiannya, meninggalkan L yang kini terdiam terpaku ditempatnya.

-***-

Pagi hari di istana vampire di gemparkan oleh teriakan Sehun yang membuat semua orang tergesa-gesa untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

“Prince Sehun, ada apa?” Tanya Queen Tiffany kepada Sehun.

“Kau tidak akan percaya, dia sungguh hebat!!! Sungguh!!!!” Jawab Sehun antusias, namun Tiffany dan Siwon tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Sehun.

“Apa maksudmu? Siapa yang hebat?” Tanya Siwon.

“Ikut aku!” Ujar Sehun sambil menarik tangan Siwon dan Tiffany, dia mengajak mereka ke belakang istana untuk melihat hal yang membuat Sehun berteriak heboh tadi.

Tiffany dan Siwon membelalakkan matanya kaget, mereka sama sekali tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini, mereka melihat seorang namja tengah membunuh orang hanya dengan jentikan jarinya, Tiffany dan Siwon mendekati namja itu dan menepuk bahunya, namja itu menoleh.

“Mom… Dad..??” Ujar namja itu kaget setelah melihat siapa yang menepuk bahunya, tanpa banyak bicara Tiffany langsung memeluk namja itu.

“Kau benar-benar anakku, Prince Minho, kau istimewa.. kau sama istimewanya dengan Minhyuk dan Royal Blood lain, kau benar-benar istimewa…” Ujar Tiffany.

Minho hanya diam saat Tiffany memeluknya, dia tidak tau apa yang harus di lakukannya saat ini, Siwon menepuk bahu Minho dan merentangkan kedua tangannya.

“Masuklah kedalam pelukan Daddy…” Ujar Siwon sambil tersenyum, mata Minho berkaca-kaca, dia segera memeluk ayahnya dan menangis, dia bahagia.

“Kenapa kau menangis? Vampire bukanlah makhluk yang berperasaan…” Ujar Siwon, Minho melepaskan pelukannya dengan bibir yang mengerucut, Siwon tertawa melihat tingkah lucu anaknya.

Sehun yang melihat itu bersama L.Joe tersenyum lega, Sehun melihat tangannya yang terdapat bekas sayatan dengan senyuman kebanggaan.

“Apa masih sakit?” Tanya L.Joe, Sehun menatap L.Joe dan menggeleng.

“Sudah tidak sakit lagi, rasa sakit ini telah tergantikan dengan kebahagiaan melihat keluarga mereka utuh kembali” Jawab Sehun, L.Joe menghembuskan nafas berat.

“Aku penasaran dari apa hatimu terbuat, kau begitu baik, sampai-sampai kau menyayat tanganmu sendiri dan meminumkan darahmu kepada Minho agar dia memiliki kekuatan istimewa”  Ujar L.Joe sambil menggelengkan kepalanya.

“Itu hanya pengorbanan kecil untuk keluarga baruku…” Ujar Sehun, L.Joe mengacak-acak rambut Sehun gemas.

Sehun berjalan kepada keluarga Choi yang tengah merayakan kebahagiaan atas kekuatan istimewa Minho, Sehun berdehem dan membuat seluruh perhatian tertuju padanya.

“Maafkan aku mengganggu kebahagiaan kalian, tapi bisakah sekarang aku pulang ke rumah?” Pinta Sehun, Siwon dan Tiffany saling memandang sejenak kemudian memandang Sehun lagi, mereka mengangguk, mata Sehun membesar, dia bahagia.

“Terima kasih!!” Ujarnya sambil memeluk Siwon dan Tiffany bergantian “Aku menyayangi kalian!!!” Lanjutnya.

“Persiapkan barang-barangmu, aku yang akan mengantarmu pulang sebagai ucapan terima kasih” Ujar Minho, saat Sehun akan berlari ke kamarnya, tangan dingin nan lembut Tiffany menahannya, Sehun menoleh.

“Meskipun kau pulang ke rumah keluargamu kami akan tetap menjagamu dari incaran vampire lain” Ujar Tiffany lembut, Sehun mengangguk dan segera berlari ke kamarnya di istana vampire ini.

-***-

“Sepuluh hari tersisa..” Ujar Luhan yang saat ini tengah melihat kalender di  dinding ruang tengah.

“Berhenti menghitung hari hyung, apa hyung tidak tau betapa bencinya aku mendengar kata-kata itu keluar dari mulut hyung!!” Protes Chen.

“Nado!!!” Ujar Chanyeol dan Baekhyun bersamaan, keturunan Ipswich dan juga L kini memang sedang berada di ruang tengah, Luhan menoleh kepada saudara-saudaranya, dia tersenyum tipis.

“Sebenci apapun kalian terhadap hal itu, itu tetap tidak mengubah takdir ‘kan?” Ujar Luhan.

“Lu, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan hal ini lagi?” Desis Kris sambil menatap Luhan tajam.

“Arraseo arrasseo, mianhae, aku tidak akan membuat kalian membanjiri rumah ini dengan air mata kalian lagi, maafkan aku atas yang kemarin-kemarin” Ujar Luhan yang kemudian duduk di samping L, sesaat setelah Luhan duduk, tatapan namja tampan itu berubah menjadi sendu lagi, L menepuk bahu Luhan dan merangkulnya, Luhan memandang L dengan senyuman tipis.

“Terima kasih..” Ujar Luhan tiba-tiba.

“Terima kasih untuk apa?” Tanya L tidak mengerti.

“Jangan pura-pura tidak tau, aku kemarin melihatmu berdebat dengan Lucifer di atap rumah, kau memohon kepadanya agar menghentikan proses kematianku ‘kan?”

“Ah.. I..Itu..”

“Tidak usah mengelak, yang jelas aku sangat berterima kasih padamu telah berusaha walaupun kenyataannya proses kematianku tetap saja tidak dapat di hentikan” Ujar Luhan dengan senyuman tipisnya.

“Proses kematian? Maksud hyung??” Sebuah suara yang telah lama dirindukan Luhan terdengar, Luhan langsung menolehkan wajahnya ke arah sumber suara dan berdiri, sosok itu telah kembali, sosok yang selama ini sangat dirindukannya sehingga membuatnya hampir gila karena rasa rindu itu begitu menyiksa, sosok itu memandangnya dengan wajah datar namun dengan tatapan menuntut.

“Sehun-ah….”

“Jelaskan padaku sekarang juga!!!”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-TBC-

Iklan

22 thoughts on “The Covenant Chapter 11

  1. jadi mau nangis bacanya. kenapa sih luhan nekad banget.
    apa dia gak kasian sama keturunan Ipswich yang lain ???
    yang paling kasian itu d.o, setiap kali ada d.o mata nya pasti lagi banjir. *di tunggu chapter selanjut nya*

  2. Kesel sebenernya sama luhan tpi ya gimana lagi wkwk
    hayo sehun kembali lagi, gimana ya reaksi semuanya ?
    Kyungsoo oppa jangan nangis *pelukkasihtisu* wkwk

  3. Ping-balik: The Covenant Chapter 12 | Acha's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s