History of MAMA Chapter 10

HoM copy

History of MAMA

Title : History of MAMA

Author : Heen Doongie a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brotherhood, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Cast :

  • Super Junior’s Lee Donghae
  • SNSD’s Im YoonA
  • Super Junior’s Cho Kyuhyun
  • EXO Member
  • Other (find by yourself)

-History of MAMA Chapter Ten-

Summary :

“Seharusnya saat ini dia sudah mati!!!”

-***-

A/N:

Rencananya sih mau publish besok, tapi rasanya besok Author sibuk karena mau download EXO’s Showtime episode 3, hehe~

Dan kalau di itung-itung sekalian Character profile.nya ini adalah Chapter ke 22, *fuihhh *elap keringet, Author sangat berterima kasih buat readersdeul, chingudeul, eonnideul, oppadeul(?) dan dongsaengdeul yang baca FF ini, makasih (banget) juga yang udah komen, like dan sebagainya… neomu kamsahaeyo *bow

Part Sebelumnya : Chapter 9

Untuk yang lan bisa d lihat di library ^^

be aware with typo(s)

Happy Reading :*

-***-

“Jin… Jinwoon?” Ucap Suho tergagap, dia bukan tergagap karena takut, melainkan tergagap karena kaget.

“Lama tidak bertemu… temanku…” Ujar Jinwoon dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Dan rupanya saat ini kau telah berubah, kau bukan lagi Kim Suho yang lemah, melainkan Kim Suho yang merupakan salah satu leader dari MAMA, apa aku harus memberikan ucapan selamat dan tepuk tangan padamu?” Lanjutnya yang lebih terdengar sebagai ucapan yang meremehkan, Suho menarik salah satu ujung bibirnya ke atas, dia tersenyum menyeringai.

“Apa kau takut?” Ujar Suho tak kalah meremehkan, kepribadiannya yang berbeda keluar.

“Apa katamu? Takut? Ya! Kim Suho… apa kau sudah lupa kalau seorang Jung Jinwoon adalah seorang yang selalu menindasmu?” Desis Jinwoon sedikit marah.

“Menindas? Hah, bukankah kau selalu gagal menindasku? Apa itu masih bisa kau sebut dengan menindas?”

“Kau….” Jinwoon menunjuk Suho, matanya berubah menjadi merah yang sangat menyala, Jinwoon menembakkan cahaya merah yang ia arahkan tepat ke arah Suho, namun oleh Suho tembakan Jinwoon dia halangi dengan air yang diciptakannya dari udara, Suho menyeringai lagi.

“Masih mencoba untuk ‘menindas’ku? Jung Jinwoon-ssi?” Tanya Suho meremehkan.

Jinwoon makin geram, cahaya merah yang berpendar tubuhnya makin terang, dia mengepakkan sayapnya dan terbang, kemudian menembakkan cahaya merahnya lagi kepada Suho, lagi-lagi Suho menghindarinya dengan gerakan wushu yang ia pelajari dari Tao, membuat tembakan itu meleset mengenai pohon dan menyebabkan pohon itu terbakar, Suho menatap pohon yang terbakar itu kemudian menatap Jinwoon lagi, dia menggeleng dan berkacak pinggang.

“Kau merusak pohon di sekolah ini…” Ujarnya dingin kemudian menyiramkan air yang di ciptakannya ke pohon yang terbakar itu, Suho menatap Jinwoon lagi, tapi tatapan Jinwoon kepada Suho kali ini berbeda, dia tidak lagi menatap Suho dengan mata penuh kemarahan melainkan dengan tatapan yang tidak dapat dimengerti, baik oleh Suho sendiri maupun oleh MAMA lain.

Jinwoon menjentikkan jarinya, sebuah bola hitam muncul dari sisi kirinya membuat semua yang ada di situ mengerenyitkan kening mereka heran, Jinwoon menjentikkan jarinya lagi, bola itu langsung meluncur dan menyerang tepat di dada Suho, membuat Suho langsung terpental jauh dari tempatnya tadi, Kris segera terbang untuk menolong Suho yang saat ini tengah pingsan, dia membaringkannya dan menyuruh Yixing untuk segera memberi pertolongan.

Kris terbang lagi dan berhadapan dengan Jinwoon yang memandangnya remeh, Kris melipat kedua tangannya di depan dada, dia balas memandang Jinwoon remeh pula.

“Kau memang kuat tapi kau sama sekali tidak pintar…” Ujar Kris dingin, kening Jinwoon seketika mengerenyit, dia tidak mengerti dengan apa yang Kris maksud.

“Maksudmu?”

“Kau tau, bola hitam yang kau tembakkan kepada Suho tadi tidak akan melukainya, malah akan semakin membuatnya kuat..” Ujar Kris sambil menyeringai. “Pingsannya Suho saat ini adalah karena energi di dalam bola itu sedang berpindah di ke dalam tubuhnya, bukan karena dia terluka…” Lanjut Kris lagi yang semakin membuat Jinwoon kaget.

“Apa katamu? Itu tidak mungkin!!! Seharusnya saat ini dia sudah mati!!!” Teriak Jinwoon marah.

“Silahkan saja kalau kau tidak mau percaya, tapi memang itulah kenyataannya, sekarang aku memberimu pilihan, kau mau aku musnah disini atau berperang melawanku dan Suho saat di Sanguinets?” Ancam Kris, Jinwoon semakin geram, kepalan tangannya semakin kuat.

“Tunggu pembalasanku di Sanguinets!” Desisnya sebelum menghilang bersama asap hitam yang mengiringi kepergiannya.

Sesaat setelah Jinwoon menghilang, Kris langsung terbang ke arah Suho dan memandangnya khawatir, dia memangku Suho dan mengusap-usap wajah namja kecil itu.

“Yixing, apa dia baik-baik saja?” Tanya Kris, Yixing mengangguk.

“Tenang saja ge, dia baik-baik saja, sepertinya ada sesuatu yang melindunginya tadi”

“Sesuatu yang melindunginya?” Ulang Kris.

“Mm, seandainya dia tidak terlindung apapun tidak mungkin dia hanya akan pingsan setelah mendapatkan tembakan yang mematikan dari orang itu” Jelas Yixing.

“Syukurlah kalau begitu” Ujar Kris lega.

“Tapi ge, kenapa kau tadi berbohong?” Tanya Tao.

“Berbohong? Kapan aku berbohong?” Tanya Kris tidak mengerti.

“Tadi saat kau menghadapi orang bersayap hitam itu kau berbohong, kau mengatakan bahwa Suho hyung akan bertambah kuat setelah ditembak, tapi nyatanya?” Tanya Tao yang heran.

“Haha, itu hanya untuk mengancamnya” Jawab Kris santai, para MAMA hanya mengangakan mulut mereka setelah mendengar jawaban dari Kris.

“Kau benar-benar…” Ujar Luhan lirih, Kris menatap Luhan.

“What? Any problem with that?” Tanya Kris, Luhan menggelengkan kepalanya.

“Ada baiknya kita bawa Suho hyung ke rumah sakit atau pulang untuk mendapatkan perawatan” Ujar Sehun tiba-tiba, para MAMA mengalihkan perhatian mereka kepada Sehun.

“Sehun benar, kalau begitu aku, Minseok dan Luhan akan membawa Suho ke rumah sakit” Ujar Kris yang hanya ditanggapi oleh anggukan para MAMA.

-***-

“AAAGGGHHHHHHH!!!!!!!” Teriakan keras Kyuhyun berhasil menggetarkan istananya sendiri, membuat Taeyeon yang kini tidak lagi di kurung di dalam sangkar, melainkan diikat di dekat singasana Kyuhyun meringkukkan badannya takut.

“Yang mulia, anda kenapa?” Tanya Heechul.

“Kalung milik Aiden, Roxanne dan Wind menghilang!!!” Teriak Kyuhyun dengan mata membara.

“Ne? Bagaimana bisa?” Heechul heran dengan hilangnya tiga kalung yang secara tiba-tiba itu.

“Jangan tanya aku bagaimana kalung itu bisa menghilang!!! Yang perlu kau lakukan saat ini adalah segera mencarinya!!!!” Perintah Kyuhyun masih dengan berteriak.

“Saya mengerti” Ujar Heechul yang dengan sekejap langsung menghilang.

“AAARRRGGGHHH!!!! Kyuhyun berteriak lagi, dia terbang kemudian menghantam kaca besar di ruangan itu dengan tongkat panjangnya.

PRRANGGGGG

Suara pecahan kaca terdengar nyaring di ruangan itu, membuat beberapa penjaga Dark Kingdom masuk kedalam untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, para penjaga itu melihat kaca besar yang terpajang di ruangan Kyuhyun tak lagi berbentuk, mereka juga melihat Taeyeon yang masih meringkuk dengan badan yang gemetar, sedangkan Kyuhyun sendiri dia terbang di langit-langit ruangan itu dengan mata menyala, dia menatap para penjaganya marah.

“MATI!!!”

Ucap Kyuhyun dingin kemudian menembakkan cahaya merahnya kepada para penjaga yang seketika itu langsung terbakar dan musnah, tanpa sengaja percikan api yang di timbulkan oleh tembakan Kyuhyun tadi mengenai tali yang mengikat Taeyeon, tali itu terlepas.

Kyuhyun turun dan memandangi abu prajuritnya yang baru saja dia musnahkan, dia kemudian menatap lukisan wanita yang tengah memakan buah apel yang terpajang di salah satu sudut ruangannya, tatapan Kyuhyun berubah menjadi sendu, mata merahnya berubah menjadi normal, Kyuhyun terduduk dengan tatapan kosong, Taeyeon yang ikatannya telah terlepas melihat Kyuhyun dengan pandangan iba, walaupun pada kenyataannya Kyuhyun telah menyekapnya dan membuatnya menderita, di tambah dengan dendam Kyuhyun kepada para MAMA yang salah satu dari mereka adalah adiknya –Kyungsoo- Taeyeon tetap saja merasa kasihan kepada pangeran berjubah hitam ini.

Dengan langkah hati-hati Taeyeon mencoba mendekati Kyuhyun dan menepuk pundaknya, Kyuhyun menoleh dan menatap Taeyeon dengan tatapan sendunya, entah dari mana Taeyeon mendapatkan dorongan, dia tiba-tiba memeluk Kyuhyun erat, Kyuhyun hanya diam.

-***-

Sehun sedang berada di taman belakang rumahnya sendiri, dia memandangi air mancur kecil di belakang yang tidak benar-benar di pandanginya karena saat ini fokusnya tidak pada air mancur itu melainkan hal yang lain yang kini membebani pikirannya. Sehun berpikir tentang siapa sebenarnya Yoona dan Donghae, kenapa mereka begitu mirip dengan orang tuanya? Di tambah dengan mimpi Sehun akhir-akhir ini yang sering memimpikan Yoona menggunakan tiara dengan permata berwarna biru di tengahnya dan memberikannya sebuah kalung dengan bandul Wind yang sama dengan lambang MAMA-nya, apa hubungan mimpi itu dengan dirinya dan tangisan Yoona semalam?

Sehun memijat-mijat keningnya yang pening karena memikirkan hal itu, untuk kali ini namja jenius itu tidak bisa memikirkan kemungkinan-kemungkinan tentang hubungan antara dirinya Donghae, Yoona dan mimpinya, dia kemudian melempari air mancur miliknya dengan bebatuan berwarna untuk sedikit mengalihkan pikirannya dari hal yang dipikirkannya tadi, Sehun tidak menyadari jika Luhan dari tadi mengawasi tingkah lakunya.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Luhan yang saat ini sudah duduk di sebelah Sehun, Sehun menatap Luhan dengan wajah datarnya, dia menggeleng, Luhan tersenyum dan mengacak rambut Sehun gemas.

“Kau tidak bisa berbohong kepadaku, aku bisa membaca pikiranmu” Ujar Luhan, Sehun mendengus.

“Kalau begitu hyung seharusnya tidak usah bertanya apa yang sedang aku pikirkan..” Ujar Sehun sembari mengerucutkan bibirnya.

“Oe? Kau benar juga, kenapa aku begitu bodoh ya?” Ujar Luhan polos sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Hyung babo…”

“Yaaakkk!!!!!!” Luhan berteriak sambil memukul bahu Sehun.

“Ya!!! Appo!!!!” Sehun balas meneriaki Luhan, bibir Luhan mengerucut kemudian membalikkan badannya tidak mau menatap Sehun.

“Hyung marah?” Tanya Sehun khawatir, dia menggerak-gerakkan bahu Luhan kecil, Luhan tidak bergeming, dia masih tidak mau menatap Sehun.

“Hyung….” Panggil Sehun sekali lagi, Luhan masih juga tidak mau menatap Sehun, Sehun menghembuskan nafas berat dan menundukkan kepalanya. “Mianhaeyo…” Ucapnya lirih, dia tidak tau saat ini seulas senyum tipis terukir di wajah tampan Luhan, Luhan mengambil sebuah bungkusan yang sedari tadi di sembunyikannya kemudian menatap Sehun.

“Tada!!!!!” Ujar Luhan sambil menunjukkan bungkusan yang tadi diambilnya di hadapan Sehun, Sehun mengangkat kepalanya dan menatap Luhan tidak mengerti.

“Ini untukmu…” Ujar Luhan sambil menyerahkan bungkusan itu.

“Ini apa?” Tanya Sehun tidak mengerti.

“Buka saja dan lihat sendiri apa isinya” Jawab Luhan sambil tersenyum, Sehun menuruti ucapan Luhan, dia membuka bungkusan itu, di dalam bungkusan itu terdapat sebuah kotak biru kecil dengan pita ungu di atasnya, Sehun membuka kotak itu dan melihat sebuah kalung dengan lambang Wind, mata Sehun membelalak, bukankah ini adalah kalung yang selalu muncul dalam mimpinya akhir-akhir ini? Sehun menatap Luhan dengan pandangan menuntut sebuah penjelasan.

“Saengil Chukae!!!!!” Ujar Luhan tiba-tiba, dia serta merta memeluk Sehun yang masih belum sepenuhnya sadar dari rasa kagetnya atas hadiah yang diberkan Luhan, Luhan melepaskan pelukannya dan menatap Sehun heran.

“Apa kau tidak suka hadiah dariku?” Tanya Luhan, Sehun menggeleng.

“Lalu kenapa kau bersikap aneh?” Tanya Luhan lagi.

“Hyung… hyung bisa memberitahuku dari mana hyung mendapatkan kalung ini?” Tanya Sehun balik.

“Aku membelinya tadi” Jawab Luhan.

“Membelinya? Membelinya dimana?”

“Di toko antik             dekat rumah sakit setelah memeriksakan keadaan Suho tadi, aku tidak benar-benar membelinya sebenarnya karena penjual di toko itu memberikannya gratis kepadaku, dia juga memberiku dua buah kalung lagi dengan bandul rusa dan ikan, dia menyuruhku untuk memberikan itu kepada Donghae hyung dan Yoona noona, dan aku sudah memberikan kedua kalung itu kepada mereka tadi…” Jelas Luhan.

“Luhan hyung… apa kau tidak merasa ada yang aneh?” Tanya Sehun.

“Aneh? Apanya yang aneh?”

“Penjual di toko itu tiba-tiba memberikan hyung kalung dengan lambangku dan dua kalung lain untuk Papa dan Mama, dari mana orang itu tau tentang Papa dan Mama? Bukankah Papa dan Mama bukan makhluk bumi?” Jelas Sehun, Luhan membelalakkan matanya kaget.

“Kenapa aku sama sekali tidak terpikirkan hal itu? Jangan-jangan orang itu juga tau kalau aku adalah salah seorang MAMA” Ujar Luhan.

“Tentu saja orang itu pasti tau, tidak mungkin dia memberikan kalung itu secara cuma-cuma kalau dia tidak tau siapa hyung sebenarnya!”

Luhan diam, apa yang dikatakan Sehun memang sangat benar, Luhan mengalihkan pandangannya ke langit senja dan menatap Sehun lagi.

“Aku tidak tau ada apa sebenarnya dibalik semua ini, entah itu hal baik ataupun buruk, tapi satu, apapun yang terjadi aku akan selalu mencoba melindungimu” Ujar Luhan sambil menepuk bahu Sehun.

-***-

Jongdae mendekorasi ruangan tengah untuk ulang tahun Sehun hari ini dengan bernyanyi, dia memasang berbagai macam pernak-pernik untuk membuat ruangan itu lebih terasa suasana ulang tahunnya, Baekhyun yang mendengarkan nyanyian Jongdae mulai mengikuti Jongdae bernyanyi, mereka akhirnya berduet, membuat semua orang yang ada di ruangan itu menatap mereka kagum, saat Baekhyun dan Jongdae mengakhiri duet mereka, tepuk tangan riuh dari para MAMA yang ikut mendekorasi ruangan tengah bersama mereka terdengar, Tao bahkan bersiul.

“Kalian seharusnya menjadi penyanyi, suara kalian sangat merdu!” Puji Chanyeol kepada kedua sahabatnya itu, dia mengacungkan kedua jempol tangannya untuk mereka berdua, baik Jongdae maupun Baekhyun hanya tersipu malu.

“Kami tidak sebagus itu” Ujar Jongdae merendah.

“Tidak bagus katamu? Apa kau tau saat kau menyanyikan bagian dengan nada tinggi tadi? Itu benar-benar sangat keren!!!” Puji Baekhyun yang juga mengakui kemampuan menyanyi Jongdae yang luar biasa, Jongdae hanya tersenyum kikuk.

Kyungsoo muncul dari dapur dengan membawa kue buatannya sendiri dengan bantuan Yixing sebagai penghias, dia meletakkan kue itu tepat di tengah meja, dia memandangi karyanya bangga, namun tiba-tiba dia berlari ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar Jongin.

“Jongin-ah!!!” panggil Kyungsoo ceria, Jongin yang saat ini tengah ganti baju menoleh kepada Kyuungsoo sambil tersenyum.

“Waeyo hyung?”

“Apa kau sudah tidak apa-apa?” Tanya Kyungsoo, Jongin mengangguk, senyum Kyungsoo pun melebar melihat anggukan Jongin, dia segera menarik Jongin dan menggandeng tangannya.

“Kajja! Kita ke bawah!” Ajak Kyungsoo, Jongin hanya menurut, tapi baru tiga langkah mereka menuruni tangga, langkah Kyungsoo terhenti, matanya yang bulat semakin membulat, Jongin memandang Kyungsoo heran.

“Hyung, kau kenapa?” Tanya Jongin, Kyungsoo menatap Jongin dengan mata bulatnya.

“Jongin-ah, kau tunggu aku disini sebentar” Ujar Kyungsoo kemudian berlari ke lantai dua lagi, dia meninggalkan Jongin sendiri di tangga, tidak lama kemudian Kungsoo muncul, namun dia tidak sendiri, kali ini dia menggandeng Suho yang masih terlihat sedikit pucat.

“Kajja!!!” Ujar Kyungsoo sambil menggandeng Suho dan Jongin, Suho dan Jongin hanya tersenyum melihat tingkah cute namja bermata bulat ini.

Tiba di bawah, seluruh persiapan pesta ulang tahun sudah siap, Luhan yang bertugas untuk menahan Sehun agar tidak masuk ke dalam rumah rupanya juga menjalankan tugasnya dengan sangat baik, Kris mengirimkan telepati singkat kepada Luhan mengatakan kalau semuanya telah siap, Kris memberi kode kepada Baekhyun untuk memadamkan lampu rumah Sehun, Baekhyun menjentikkan jarinya satu kali dan akhirnya semua penerangan di rumah Sehun padam, semuanya pun sepakat diam.

Sehun yang berada di taman belakang kaget dengan penerangan rumahnya yang tiba-tiba padam, dia melihat sekeliling dengan menyipitkan matanya untuk mempertajam pandangannya, Luhan yang ada disampingnya terlihat begitu santai walaupun mereka saat ini diselimuti kegelapan.

“Kenapa penerangan di rumah tiba-tiba padam?” Tanya Sehun pada dirinya sendiri.

“Mungkin sedang ada pemadaman listrik” Ujar Luhan.

“Hal itu tidak berpengaruh untuk rumahku hyung, aku memiliku genset pribadi” Ujar Sehun, Luhan hanya menganggukkan kepalanya kemudian berdiri.

“Kajja!” Ajak Luhan sambil menarik tangan Sehun.

“Odi?”

“Ke dalam, apa kau tidak merasa kedinginan di luar?” Jawab Luhan, Sehun pun menghembuskan nafas beratnya dan mengikuti ajakan Luhan.

Sehun dan Luhan berjalan bergandengan dalam kegelapan, Luhan sangat berhati-hati karena mungkin saja dia tanpa sengaja menabrak dan merusakkan prabotan mahal Sehun walaupun Sehun telah mengatakan pada Luhan kalau dia sama sekali tidak mempersalahkan jika hal itu benar-benar terjadi. Sampai di ruangan tengah Luhan berhenti kemudian menutup mata Sehun dengan kedua tangannya.

“Hyung, kenapa kau menutup mataku??!! Rumahku sudah gelap, tanpa kau menutup mataku pun aku sudah tidak bisa melihat apapun dengan jelas!!” Teriak Sehun sambil berusaha melepaskan tangan Luhan dari kedua matanya.

“Sssttt…” Luhan menyuruh Sehun untuk diam tapi Sehun menolaknya, dia masih berusaha melepaskan tangan Luhan dari kedua matanya.

“Baekhyun-ah!!!!!!!!” Teriak Luhan yang rupanya sudah tidak tahan dengan perlawanan Sehun, lampu rumah Sehun pun tiba-tiba menyala dan Luhan melepaskan tangannya.

Sehun mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan pandangannya dengan cahaya, dia melihat sekeliling ruangan tengah yang kini telah di dekorasi dengan indah dengan tulisan selamat ulang tahun yang sangat besar di tengah ruangan.

“Saengil chukkahamida… saengil chukkahamida..” Nyanyian selamat ulang tahun terdengar dari salah satu sudut ruangan membuat Sehun langsung menolehkan wajahnya ke arah sumber suara. Dari sudut ruangan tersebut seluruh MAMA muncul dengan memakai topi khas ulang tahun yang langsung mengundang senyum di bibir Sehun.

Para MAMA memeluk Sehun satu persatu, mereka mengacak-acak rambut Sehun dan mentoleti wajahnya dengan cream kue ulang tahunnya, tidak mau hanya mukanya sendiri yang penuh cream, Sehun mengejar hyung-hyungnya dan melakukan hal yang sama dengan yang hyungnya lakukan padanya. Sehun tertawa lepas, baru kali ini namja berwajah datar itu bisa tertawa seperti itu semenjak kematian orang tuanya.

“Hyungdeul gomawoyo!!!!” Teriak Sehun kemudian memeluk hyungnya satu persatu.

“Sepertinya aku dan Yoona ketinggalan berpesta” Suara yang begitu familiar ditelinga para MAMA terdengar, mereka semua menoleh ke arah sumber suara, mereka melihat Donghae dan Yoona sedang bergandengan tangan turun dari tangga, Para MAMA mengangakan mulut mereka karena saat ini Donghae menggunakan jubah putih khas seorang raja, di kepalanya terdapat mahkota putih yang dihiasi dengan permata biru berbentuk hexagon di tengahnya, dia terlihat begitu tampan dan berwibawa, sama seperti Donghae, Yoona juga memakai gaun putih dengan tiara berhias permata yang sama dengan yang ada di mahkota Donghae, Yoona tampak begitu anggun dan cantik, membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan terpesona dengan kecantikannya.

Namun ada satu hal yang membuat Sehun memandang Yoona dan Donghae dengan tatapan kaget, kalung yang mereka pakai, kalung yang di pakai Donghae dan Yoona adalah kalung perak berbandul ikan dan rusa yang selalu muncul dimimpinya. Donghae dan Yoona berjalan ke arah Sehun, mereka berdua masing-masing memegang satu tangan Sehun, tatapan Sehun langsung berubah menjadi kosong.

Beberapa kejadian berputar di kepala Sehun layaknya sebuah film lama yang diputar, dia melihat Donghae sedang beradu mulut dengan seorang berjubah hitam yang tampak sedikit tua, Sehun juga melihat seseorang lain yang juga berjubah hitam namun muda hanya memandang pertengkaran itu malas, pertengkaran itu berakhir dengan kepergian Donghae dari tempat tersebut, kejadian dipikiran Sehun memburam kemudian berganti dengan sebuah tempat dengan rumput hijau yang menenangkan, dia melihat Donghae sedang berjalan dengan seorang yang mempunyai wajah hangat dan berjubah putih, tiba-tiba Yoona menghampiri mereka, seseorang berjubah putih itu mengelus kepala Yoona kemudian tampak mengenalkan Yoona kepada Donghae.

Kejadian itu buram lagi kemudian berganti dengan peletakkan mahkota di kepala Donghae dan Yoona oleh orang yang berwajah hangat tadi, mereka melakukan itu di depan sebuah pohon yang daunnya berkilauan bagai emas.

“Mulai saat ini, kau adalah guardian Aiden, penjaga Tree of Life sekaligus raja di Sanguinets….” Ujar seseorang berwajah hangat itu sebelum akhirnya menghilang menjadi butiran debu, dia meninggalkan Donghae dan Yoona yang kini saling memandang kemudian mengalihkan pandangan mereka ke pohon kehidupan tersebut.

Sehun terhuyung sejenak setelah melihat kejadian yang tidak dimengertinya itu di dalam pikirannya, Donghae memegangi Sehun agar tidak jatuh, Yoona mengambil kalung berbandul Wind yang ada di tangan Sehun kemudian memakaikan kalung itu di leher Sehun, Yoona tersenyum kemudian mencium kening Sehun lama.

“Untuk saat ini hanya itu yang kami tunjukkan kepadamu, kami akan memberitahukan segala sesuatunya kepadamu saat semuanya benar-benar berakhir…” Ujar Donghae sambil menepuk bahu Sehun.

“Chanyeol-ie…” Panggil Donghae kepada Chanyeol.

“Ye?”

“Bisa kau kembalikan catatanku yang ada padamu?” Pinta Donghae.

“Ne, algeussimida” Ujar Chanyeol yang dengan segera berlari ke kamarnya untuk mengambil buku catatan milik Donghae yang diwariskan oleh kakeknya, tidak lama kemudian Chanyeol turun dengan membawa sebuah buku usang yang langsung ia berikan kepada Donghae, Donghae menerimanya dengan tersenyum.

“Terimakasih telah menjaganya dengan baik” Ujar Donghae, Donghae meletakkan tangannya di atas buku tua itu, cahaya biru berpendar dari tangan Donghae dan sebuah kepingan logam yang membentuk tanda hexagon seperti yang terukir di leher para MAMA muncul. Donghae mengambil logam itu dan memberikannya kepada Kris.

“Percepatlah seluruh gerhana para MAMA hari ini, setelah kalian semua mendapatkan kekuatan penuh kalian, letakkanlah benda ini di tengah, berdirilah melingkar di sekelilingnya dan satukan kekuatan kalian, setelah itu kita akan bertemu tiga hari lagi di Sanguinets…” Ujar Donghae, Kris mengangguk mengerti, Donghae berjalan ke arah Sehun dan mencium kening Sehun dengan penuh kasih sayang, dia kemudian menatap Sehun lembut.

“Papa sangat menyayangimu….” Ujarnya sebelum berjalan ke arah Yoona dan menggandeng tangannya.

“Aku dan Yoona akan ke Sanguinets untuk mempersiapkan prajurit yang akan membantu kalian, sampai jumpa tiga hari lagi…” Ujar Donghae sambil tersenyum hangat kepada kedua belas MAMA, dia kemudian mengarahkan tatapannya tepat ke arah Sehun “Sampai bertemu disana… Anakku…” Lanjutnya sebelum menghilang bersama Yoona. Sehun terpaku mendengar ucapan Donghae barusan, dia terdiam bahkan ketika Luhan menepuk bahunya dan memeluknya.

Disisi lain Kris memandangi benda pemberian Donghae dengan tatapan ragu, Minseok yang dapat melihat keraguan Kris menepuk bahu temannya itu dan meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Kita semua percaya padamu, Duizhang…” Ujar Minseok dengan senyumannya yang menggemaskan, Kris tersenyum dan merangkul Minseok sebagai ucapan terima kasih.

Kris memejamkan matanya dan berkonsentrasi, beberapa saat kemudian terjadi gempa bumi kecil di seluruh dunia dengan disertai gerhana bulan terpekat yang pernah ada, para MAMA yang belum mendapatkan gerhana mereka berteriak kesakitan, dan pingsan sesaat setelah gerhana mereka telah menutupi bulan seluruhnya.

Kris membuka matanya dan melihat para MAMA yang kini tergeletak pingsan, segera saja Kris menolong mereka. Chanyeol, Suho dan Baekhyun yang melihat segera membantu Kris untuk menolong para MAMA, perlahan, satu persatu dari mereka mulai sadar, mereka saling memandang satu sama lain, Kris menunggu agar kesadaran para MAMA pulih sebelum melakukan penyatuan kekuatan.

“Apa kalian sudah siap?” Tanya Kris saat kesadaran mereka telah benar-benar kembali, para MAMA mengangguk yakin.

Kris meletakkan benda yang diberikan Donghae kepadanya tadi di tengah, para MAMA berdiri melingkar dan saling berpegangan tangan, mereka berkonsentrasi, perlahan benda itu mengeluarkan cahaya biru yang menyilaukan, begitu pula lambang para MAMA, benda itu melayang kemudian menghilang, bersamaan dengan itu para MAMA kembali pingsan.

-***-

@Seoul International High

Para MAMA heran karena hari ini Hyemi dan Daeun absen, yang lebih mengherankan lagi, seluruh siswa di sekolah ini seperti tidak pernah mengenal mereka berdua.

-***-

Tiga hari berlalu begitu cepat dan hari ini adalah hari dimana para MAMA akan pergi ke Sanguinets, mereka berkumpul di taman belakang rumah Sehun untuk menunggu logam berbentuk hexagon yang akan menteleportasi mereka ke sana.

“Kenapa benda itu belum muncul juga?” Gerutu Minseok yang rupanya lelah, tidak lama setelah Minseok mengatakan hal tersebut benda itu muncul, segera saja para MAMA mengelilingi benda tersebut sembari saling berpegangan tangan, benda itu mulai bercahaya lagi, begitu pula lambang para MAMA, dan ketika kekuatan para MAMA dengan lambang itu bersatu, sinar putih yang sangat menyilaukan muncul, para MAMA telah menghilang dari bumi.

-TBC-

Iklan

19 thoughts on “History of MAMA Chapter 10

  1. sekarang aku seneng chen di puji di situ, hahaha. tapi, kayak nya sebentar lagi ff nya mau tamat. gak sabar nih pengen baca chapter selanjut nya, soal nya kan mereka bakal perang. jadi makin penasaran, hehe.

  2. Ping-balik: History of MAMA Chapter 11 | Acha's Blog

  3. Sepertinya pertarungan bnr2 akan terjadi..
    Kira2 siapa pemanenangnya..
    Dan sedikit demi sedikit rahasia sehun akan terungkap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s