The Covenant Chapter 12

The Covenant

The Covenant

Title : The Covenant

Author : Heen Doongie a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brotherhood, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Cast :

  • All EXO Member
  • L Infinite
  • Other (find by yourself)

-The Covenant Chapter Twelve-

Summary :

“Biarkan aku memandangi wajah tampan adikku ini agar saat aku telah pergi aku bisa menjadikannya sebuah kenangan yang terindah yang pernah aku miliki di hidupku…..”

-***-

A/N :

Yeheh~

Mendekati akhir dari FF The Covenant ini, Author mau ngucapin terimakasih buat seluruh readers Author, neomu kamsahabnida yeorobun….. /bow

Chepter sebelumnya : Chapter 11

Yang lain bisa di lihat di library ^^

Be aware with typo(s)

Happy Reading ^^

-***-

Sehun menatap kesebelas hyungnya juga L dengan pandangan menuntut, bukan dengan tatapan yang tajam karena Sehun sadar dengan betul bahwa tatapan tajamnya bisa saja dia menyakiti bahkan membunuh saudara-saudaranya, namun seluruh keturunan Ipswich hanya diam, tidak ada satupun dari mereka yang berani membuka mulut mereka.

“Kalian tidak mau menjelaskan kepadaku?” Desis Sehun dingin, dia memandangi seluruh keturunan Ipswich satu persatu.

“Sehun-ah…” Akhirnya sebuah kata meluncur dari mulut Luhan, Sehun dan Luhan saling menatap, terlihat jelas ada sebuah kerinduan yang amat besar di kedua mata yang saling bertatapan itu, mata Luhan mulai berkaca-kaca, sebuah senyuman tipis terbentuk di wajah namja tampan itu, dia berjalan ke arah Sehun dengan langkah yang terasa sangat ringan, saat jarak antara mereka hanya tinggal beberapa senti Luhan langsung memeluk namja berwajah datar itu dengan erat, dia menangis.

“Bogoshipo…. neomu bogoshipo…..” Ujarnya di sela-sela tangisan dan pelukannya, berbeda dengan Luhan yang mengekspresikan seluruh kerinduannya, Sehun hanya diam tak bergeming, Luhan pun melepas pelukannya kemudian menatap tepat ke dalam mata Sehun.

“Kau tidak merindukanku??” Tanya Luhan sambil terisak.

“Hyung belum menjelaskan kepadaku tentang proses kematian itu” Jawab Sehun dingin yang seketika membuat Luhan membelalakkan matanya sejenak karena pertanyaan itu terlontar lagi dari mulut adiknya, namun dengan segera Luhan menguasai dirinya dan mencoba tersenyum.

“Proses kematian apa? Kau hanya salah dengar…” Ujar Luhan sambil menepuk-nepuk pundak adiknya.

“Hyung lupa kalau aku ini juga keturunan Ipswich? Kita mempunyai kelebihan indra dari pada manusia biasa, aku tidak mungkin salah dengar!” Ujar Sehun yang terdengar sedikit berteriak, Luhan langsung membeku, air matanya mengalir lagi, tanpa mengatakan apapun dia tiba-tiba membawa Sehun ke dalam dekapannya, dia memeluk adik kesayangannya itu erat.

“Mianhae….” Ucap Luhan lirih sambil menyembunyikan kepalanya di dada Sehun yang sedikit lebih tinggi darinya, sama seperti tadi, Sehun masih saja diam.

“Cukup sudah!!!” Teriak Tao tiba-tiba, dia langsung memisahkan Luhan dan Sehun dan mendorong Sehun hingga punggung Sehun membentur tembok, debaman yang cukup keras terdengar, Tao menatap Sehun tajam, namun di sudut-sudut mata namja yang tak banyak bicara itu terdapat bulir-bulir air mata yang mendesak keluar.

“Kau…. Kau penyebab semua ini… Kau pembunuh!!” Teriak Tao marah, setetes air matanya lolos dari mata kiri namja itu, Sehun mengerenyitkan keningnya tidak mengerti.

“Apa maksudmu?? Dan kenapa kau seperti ini kepadaku??!!!” Balas Sehun berteriak, dia melepaskan kedua tangan Tao yang ada di bahunya kasar.

“Kau yang menyebabkan Luhan-”

“TAO-AH HENTIKAN!!!!!” Teriak Luhan dengan suaranya yang terdengar serak, dia memotong omongan Tao, Tao menoleh ke arah Luhan dengan tatapan marah.

“Kenapa kau menghentikanku untuk mengatakannya? Dia sudah kembali dan itu artinya dia harus tau!!!” Teriak Tao, air mata yang mengalir di pipi Luhan semakin deras mengalir, Luhan berlutut dan memandang Tao dengan menggelengkan kepalanya.

“Andwe… Tao-ah…. Andwe…” Pinta Luhan lirih.

“Kenapa kau masih saja melarangku memberitahunya??!!! Dia penyebab semua ini!!” Teriak Tao, kali ini teriakannya diiringi dengan sebuah tangisan.

“Tao-ah!! Berhenti menyalahkan Sehun!! Dia tidak bersalah!!!” Kali ini Xiumin ikut berteriak, dia memandang Tao tajam, Tao balas menatap Xiumin dengan tatapan yang sama tajamnya walaupun air matanya menggenang.

“Tidak bersalah katamu?? Seandainya dia tetap bersama kita dan tidak pergi menolong vampire itu semuanya pasti akan baik-baik saja, semuanya tidak akan seperti ini dan kita akan terus utuh!!!” Teriak Tao tidak terima, Luhan yang berlutut di depan Tao kini mengatupkan kedua tangannya memohon.

“Jebal Tao-ah… Andwe… Jebal…” Pinta Luhan dengan suara yang bergetar, butiran air mata yang sepertinya tidak ada habisnya itu mengalir membentuk sungai bening di pipi namja tampan itu.

Seluruh keturunan Ipswich –kecuali Sehun- yang melihat apa yang dilakukan Luhan saat ini tidak bisa menahan air mata mereka lebih lama, mereka semua meneteskan butiran bening itu di pipi mereka masing-masing, D.O memeluk Kai erat dan menangis di dada namja itu, sedangkan Kai sendiri…. dia menangis dengan tatapan kosong.

Kris berjalan ke arah Luhan, memegang kedua pundak namja itu dan membuatnya berdiri, dia menatap namja itu dengan pandangan yang sulit diartikan, dia kemudian memeluk Luhan erat dan menangis, tangisan Kris terdengar begitu pilu, membuat siapa saja yang mendengarnya pasti juga dapat merasakan kesedihan dalam yang tersirat dari tangisannya, dia melepaskan pelukannya dan menatap Luhan lagi.

“Sudah saatnya dia tau…” Ujar Kris pada akhirnya, suaranya bergetar akibat tangisannya barusan.

“Aku merasa seperti orang bodoh!!” Ujar Sehun tiba-tiba, kini semua perhatian tertuju padanya. “Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Apa yang terjadi selama aku tidak disini? Dan kenapa Tao tiba-tiba menyalahkanku? Aku sama sekali tidak mengerti….” Lanjutnya dengan suara yang terdengar semakin lirih, sebulir air mata akhirnya mengalir di pipinya. “Aku seperti bukan bagian dari keluarga ini…..” Lanjutnya dengan menundukkan kepalanya dalam.

L mengusap air matanya dan menghela nafas berat, dia berjalan ke arah Luhan dan Kris, dia menepuk bahu Luhan, Luhan menatap L dengan matanya yang mulai membengkak akibat terlalu banyak menangis, L bisa melihat jelas bibir Luhan yang bergetar.

“Apa kau sanggup mengatakannya kepada Sehun?” Tanya L, Luhan menggeleng, sebuah gelengan yang mewakili ketidak sanggupannya untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Sehun, L menghela nafas berat lagi.

“Kalau kau tidak sanggup memberitahunya, biar aku saja yang melakukannya…” Ujar L yang kemudian berjalan ke arah Sehun, dia menatap Sehun dengan pandangan yang menyiratkan sebuah kesedihan, L menepuk pundak Sehun, Sehun menatap L.

“Ikut aku…”

-***-

Minho bersama L.Joe sedang berada di balkon kamar Sehun di istana Minho yang kini sudah di tinggal oleh pemiliknya, mereka berdua diam, padahal biasanya jika ada Sehun diantara mereka berdua mereka pasti akan selalu mempunyai bahan candaan.

“Istana tiba-tiba terasa sangat sepi tanpa Sehun…” Ujar Minho mencoba membangun percakapan antara dirinya dan L.Joe.

“Mm, seperti ada sesuatu yang hilang” Timpal L.Joe, Minho melihat jamnya kemudian tersenyum.

“Biasanya kalau jam-jam seperti ini dia akan merengek minta di belikan bubble tea kemudian memaksaku dan Mommy untuk keluar bersama untuk membelikannya, dia sangat lucu..” Ujar Minho sambil tersenyum, hanya mengingat kenangannya dengan Sehun di istana ini sudah membuatnya bahagia, atau mungkin lebih tepatnya bahagia karena rasa terima kasih kepada namja yang berhasil mempersatukan keluarganya itu, L.Joe juga tersenyum mendengarnya.

“Ahh… aku jadi merindukannya, apa sebaiknya aku berkunjung ke rumahnya saja?” Ujar L.Joe tiba-tiba.

“Kau? Ke rumahnya? Bukannya keluarga kalian saling bermusuhan?” Tanya Minho heran.

“Yang bermusuhan nenek buyutku dan kakek buyutnya, kalau aku dan dia ‘kan bersahabat, jadi apa salahnya kalau aku bermain ke rumahnya?” Ujar L.Joe, Minho hanya mengangguk mengerti.

“Tapi bagaimana dengan kesebelas saudaranya? Apa mereka bisa menerimamu?” Tanya Minho.

“Aku rasa Sehun pasti sudah menceritakan tentang persahabatanku dengannya kepada kakak-kakaknya, jadi aku sama sekali tidak khawatir dengan hal itu, lagi pula aku yakin hati mereka sama baiknya dengan Sehun…..” Jawab L.Joe sambil menatap lurus ke depan.

-***-

D.O saat ini berusaha untuk tidak menangis karena dia tidak ingin membuat seluruh saudaranya makin terbebani, beban mereka saat ini sudah cukup berat karena setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik jiwa Luhan berkurang, membuat kulit Luhan yang mempunyai kepribadian hangat itu kini semakin terasa dingin, tapi rupanya namja bermata bulat itu tidak berhasil, sebesar apapun usahanya untuk menahan butiran bening itu agar tidak keluar, tetap saja butiran itu lolos, Kai yang lebih bisa menahan air matanya dari pada D.O pun berusaha menenangkan namja itu walaupun sejujurnya saat ini dia juga sangat ingin rasanya menangis dan berteriak sekencang-kencangnya, namun dia tak mampu, dia tak bisa.

-***-

Tao yang duduk sendiri disalah satu sudut ruang tengah rumah hanya menatap lantai rumahnya dengan tatapan kosong, matanya membengkak akibat tangisannya tadi, Kris yang melihat Tao seperti itu menghampirinya dan memeluknya, Tao hanya diam.

“Aku tau kau sangat menyayangi keluarga ini sekalipun kau tidak mengatakannya, aku juga sangat mengerti kalau tadi maksudmu melakukan itu kepada Sehun untuk membuat Sehun mengerti bahwa Luhan sangat menyayanginya, bukankah begitu?” Ujar Kris, Tao lagi-lagi hanya diam, Kris mengeratkan pelukannya sambil mengelus-elus rambut Tao.

“Mulai sekarang bersandarlah padaku lebih banyak lagi dan mari kita lewati hal ini dengan hati yang kuat… bukankah sebuah kesedihan jika di tanggung bersama maka kesedihan itu akan terasa sedikit ringan?” Ujar Kris lagi, kali ini Tao menatap Kris, mata Tao mulai berkaca-kaca lagi, dan tanpa mengatakan apapun Tao memeluk salah satu kakak tertuanya itu dengan pelukan erat.

-***-

Baekhyun, Chanyeol, Chen dan Xiumin berada di samping kolam renang rumah mereka, mereka semua mencelupkan kaki-kaki mereka ke dalam kolam renang.

“Sekarang kita harus bagaimana?” Tanya Baekhyun.

“Apa maksudmu dengan bagaimana? Tentu saja kita harus menghadapinya” Jawab Chanyeol sambil memainkan kakinya di dalam air.

“Apa kau yakin kau kuat menghadapinya?” Kali ini Xiumin yang bertanya kepada Chanyeol, Chanyeol hanya memandang Xiumin dengan tatapan ragu.

“Lihat… kau saja masih terlihat ragu…” Ujar Chen sambil mengerucutkan bibirnya, Xiumin menghela nafas berat.

“Kuat ataupun tidak lagi pula kita akan menghadapinya…” Ujar Xiumin yang kali ini terdengar begitu pasrah, membuat Chen, Baekhyun dan Chanyeol menghembuskan nafas berat bersamaan setelah mendengar perkataannya.

-***-

Luhan yang sampai saat ini masih saja menangis di kamarnya sedang berusaha di tenangkan oleh Suho dan Lay, walaupun mereka berdua rasanya juga ingin menangis tapi mereka tidak punya pilihan lain selain berpura-pura menjadi kuat dan menahan air mata mereka agar tidak membuat hyungnya yang satu ini menjadi semakin sedih.

“Lay-ah… Suho-ah… Sekarang bagaimana???” Tanya Luhan yang terlihat begitu khawatir, Lay dan Suho saling berpandangan, mereka kemudian hanya mengelus-elus bahu Luhan untuk menenangkannya.

“Jawab aku!!!!” Teriak Luhan akhirnya, dia makin menangis, Suho dan Lay menghembuskan nafas berat sembari berusaha menahan air mata mereka masing-masing.

“Mollayo hyung…” Jawab Suho pada akhirnya, dan satu jawaban dari Suho itu membuat tangisan Luhan makin tidak mau berhenti.

-***-

“Apa katamu barusan?” Tanya Sehun dengan mata berkaca-kaca.

“Luhan akan meninggal sepuluh hari lagi….” Jawab L sambil menatap Sehun dengan pandangan iba.

“Jangan bercanda!!!!” Teriak Sehun pada akhirnya, dia berdiri dan menatap L dengan mata yang telah di penuhi air mata.

“Apa kau pikir ini adalah sesuatu yang bisa di jadikan bahan candaan?” Tanya L, Sehun diam. “Itulah alasannya aku tidak menjagamu dan ikut sekolah bersamamu seperti rencana awal, aku harus menjaga Luhan… menjaga dia yang akan pergi….” Lanjutnya lirih, Sehun diam terpaku, air matanya mengalir semakin deras, dia berharap apa yang dia dengar barusan hanyalah sebuah kebohongan, kebohongan yang biasanya hyung-hyungnya lakukan untuk menggodanya, dia berharap ini adalah sebuah kebohongan, bukan sebuah kenyataan.

“Kau bohong!” Teriak Sehun, kedua tangannya mengepal.

“Aku tidak bohong…. Luhan telah menandatangani perjanjian itu dan tidak ada yang bisa mengubah atau membatalkannya… Luhan akan meninggal dalam sepuluh hari…” Sehun menutup telinga dan matanya, walaupun air matanya sudah mengalir namun dia masih ingin menganggap ini hanyalah salah satu kejahilan dari kakak-kakaknya.

“Aku tidak dengar… Aku tidak dengar…” Ujar Sehun mencoba menghindar, dia berjalan meninggalkan L dengan air mata yang membasahi pipinya, L mengejar Sehun dan menarik bahu Sehun, membalikkan badan namja itu kasar agar menatapnya.

“Lihat mataku!” Perintah L tegas, Sehun pun menatap ke dalam mata namja itu dengan mata yang berkaca-kaca. “Apa kau melihat sebuah kebohongan di sana? Apa kau melihat kebohongan di mataku?” Tanya L, wajah Sehun memerah kemudian menggeleng dengan air mata yang mengalir deras, serta merta dia memeluk L dan menangis di dadanya.

“Ini semua bukanlah kenyataan… Luhan hyung tidak akan mati… dia akan terus hidup.. dia akan hidup…” Ujar Sehun di sela-sela tangisannya, isak tangis Sehun membuat L mengeratkan pelukannya kepada keturunan termuda di keluarga Ipswich ini.

“Kita tak bisa mengingkari kenyataan Sehunie…. yang perlu kau lakukan sekarang hanyalah membuat sepuluh hari terakhir Luhan menjadi sepuluh hari paling bahagia dalam hidupnya… Kau harus kuat dan bahagia, setidaknya dengan hal itu dia tidak akan merasa sia-sia telah mengorbankan hidupnya agar kau bisa terus hidup….” Ujar L sambil mengelus-elus rambut Sehun lembut.

“Tidak bisakah aku menggantikan posisinya? Tidak bisakah aku yang mati agar Luhan hyung bisa terus hidup?” Tanya Sehun, L menggeleng, menyebabkan tangisan Sehun semakin menjadi.

Tanpa L dan Sehun sadari sepasang mata mengawasi dan mendengarkan percakapan mereka, sepasang mata itu pun berkaca-kaca dan hampir menangis.

“Aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan kakaknya” Ujar pemilik sepasang mata itu dengan tangan kanan yang mengepal.

-***-

Hari-hari selanjutnya dilalui Sehun hanya berdua dengan Luhan, dia membawa Luhan kemanapun yang Luhan inginkan, dengan kekuatan vampirenya tidak mustahil baginya untuk membawa Luhan ke tempat yang ingin di kunjunginya hanya dalam hitungan menit, bahkan detik, dia mengikuti perkataan L untuk membuat sepuluh hari terakhir Luhan hidup sebagai sepuluh hari terakhir terindah dalam hidupnya, Sehun memang terlihat bahagia dan tersenyum cerah ketika bersama Luhan di tempat-tempat itu, tapi ketika malam tiba, ketika Luhan telah terlelap, Sehun akan menangis sendirian di atap rumah, menangisi kebersamaan mereka yang tidak akan lama lagi berakhir, meruntuki dirinya yang tidak tau besarnya pengorbanan Luhan untuknya.

Hari ini Luhan dan Sehun mengunjungi taman bermain yang sering sekali mereka kunjungi ketika mereka masih kecil, Sehun membelikan Luhan permen kapas dan menyuapinya, sesuatu yang sering mereka lakukan dahulu, saling menyuapi permen kapas satu sama lain, jika dulu hal itu terasa begitu menyenangkan, sekarang hal itu terasa begitu menyakitkan, bukan hanya bagi Sehun, namun juga bagi Luhan, setelah Luhan meninggal, mereka tidak mungkin bisa melakukan hal ini lagi.

“Hyung, hyung mau aku belikan permen kapas lagi?” Tanya Sehun kepada Luhan yang tengah memakan permen kapasnya yang tinggal sedikit.

“Aniya, ini sudah cukup” Jawab Luhan.

“Ya sudah” Ujar Sehun kemudian memakan permen kapasnya sendiri. “Oh iya, besok hyung ingin kemana?” Tanya Sehun lagi, Luhan terlihat berfikir.

“Emmm…. karena besok hari terakhirku aku rasa lebih baik berada di rumah saja, aku tidak ingin kemana-mana besok” Jawab Luhan sambil menatap Sehun dengan tersenyum, senyum yang dipaksakan, Sehun bisa melihat dengan jelas bahwa di sudut-sudut mata itu sebuah butiran bening bersiap untuk mengalir.

“Baiklah…” Ucap Sehun kemudian, “Em.. hyung, aku ingin ke toilet sebentar, hyung tunggu di sini..” Lanjut Sehun kemudian berlari meninggalkan Luhan.

“Jangan lama-lama!!” Teriak Luhan.

Sehun tidak berlari ke toilet namun berlari ke belakang tembok bagian pengontrol permainan di taman bermain ini, dia menyandarkan punggungnya di tembok dan mulai menangis, dia menundukkan kepalanya dalam, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, Sehun tetap berada di posisi itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke depan.

“Aku harus kuat!” Ujarnya pada dirinya sendiri, dia segera mengusap air matanya dan kembali kepada Luhan dengan senyum cerah palsunya.

“Hyung!!” Panggil Sehun dengan melambaikan tangan, Luhan pun membalas lambaian tangan Sehun dengan sebuah senyuman yang sangat cerah dan menghangatkan, hati Sehun menjadi sakit lagi, besok adalah hari terakhirnya untuk melihat senyuman itu, air mata Sehun hampir mengalir kembali, namun dia menahannya kuat-kuat, dia langsung duduk di sebelah Luhan dan merangkul pundak hyungnya.

“Hyung, hyung masih mau bermain atau bagaimana?” Tanya Sehun.

“Sudah senja, lebih baik kita pulang…” Jawab Luhan.

“Baiklah”

-***-

Dan hari itu pun tiba, hari di mana sebuah kata yang disebut perpisahan itu akan menjadi nyata, seluruh keturunan Ipswich juga L berkumpul di ruang tengah, wajah-wajah yang berada di ruangan tengah itu adalah wajah-wajah kesedihan, sekalipun beberapa di antara mereka yang berusaha tersenyum, itu hanyalah sebuah kepalsuan untuk menyembunyikan tangisan tanpa suara mereka, sekalipun gelak tawa terdengar dari beberapa di antara mereka, itu hanyalah untuk menyembunyikan hati mereka yang saat ini tengah menjerit dan menangis dengan keras, alasan mereka melakukan itu hanya satu, membahagiakan hari terakhir Luhan.

“Sehun-ah..” Panggil Luhan, Sehun langsung menoleh.

“Ye?”

“Aku ingin ke taman belakang rumah, bisakah kau menemaniku?” Pintanya, Sehun mengangguk dan segera mengikuti Luhan untuk ke taman belakang rumah.

Sesaat setelah Luhan dan Sehun pergi gelak tawa dan senyuman yang tadi ditunjukkan oleh keturunan Ipswich seketika menjadi sebuah tangisan kesedihan yang memilukan, hari ini mereka akan kehilangan salah satu dari mereka dan itu tidak akan mudah, mereka sudah terbiasa berdua belas, melakukan segala hal berdua belas, jika salah satu saja dari mereka pergi itu akan butuh waktu yang lama untuk menyesuaikannya.

Luhan dan Sehun duduk di bangku putih di taman belakang rumah mereka, bangku di mana Sehun sering sekali bermanja-manja dengan Luhan.

“Ahhhh… apa kau ingat ketika kau marah kepada Tao karena dia mengambil mainanmu saat kecil dulu? Kau menangis dengan keras di sini…” Ujar Luhan.

“Mm, aku masih mengingatnya, saat itu hyung menenangkanku dengan memukuli pantat Tao” Ujar Sehun dengan tersenyum tipis.

“Dan kau tertawa bahagia saat aku melakukan itu, dasar anak nakal!” Ujar Luhan sambil mengelus puncak kepala Sehun, bibir Sehun mengerucut. “Tapi kau sangat lucu waktu itu… sangat lucu dan kekanakan..”

“Tck, intinya kau hanya ingin mengatakan kalau aku adik yang kekanakan dan nakal ‘kan?” Ujar Sehun, suaranya bergetar, saat ini dia berusaha sangat keras untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.

“Haha, aniya… kau itu adikku yang sangat baik, sangat lucu dan manja kepadaku, tapi sekarang adikku telah berubah menjadi adik yang dewasa, adikku ini bahkan bisa mengembalikan kasih sayang di keluarga yang sudah tidak akur selama berabad-abad… uwaahh… aku sangat bangga sekali dengan adikku ini…” Ujar Luhan sambil tersenyum, namun kali ini dia tidak bisa menahan air matanya lebih lama, dia menangis namun segera di usapnya air mata itu dengan tangannya, Sehun membeku.

“Sehun-ah” Panggil Luhan lagi, dia menggenggam tangan Sehun erat, kening Sehun mengerenyit, tangan Luhan saat ini terasa begitu dingin, wajahnya pun mulai memucat.

“Hyung, hyung gwenchana?” Tanya Sehun khawatir, Luhan tersenyum.

“Aku tidak apa-apa… kau tenang saja, sekarang biarkan aku memandangi wajah tampan adikku ini agar saat aku telah pergi aku bisa menjadikannya sebuah kenangan yang terindah yang pernah aku miliki di hidupku” Jawab Luhan sambil mengeratkan genggamannya.

“Hyung…”

“Sssstttt…” Luhan meletakkan jari telunjuknya di mulut Sehun agar dia diam, Luhan menatap adiknya itu dengan pandangan bahagia, namun mata rusanya telah di genangi air mata, untuk beberapa saat mereka saling memandang dan diam.

Perlahan genggaman tangan Luhan mulai melemah, matanya pun mulai kehilangan sinar kehidupan dan akhirnya tertutup, dia jatuh ke dalam dekapan Sehun, Sehun terdiam sejenak dengan air mata yang seketika menetes, namun beberapa saat kemudian dia segera memeluk erat tubuh dingin tak bernyawa kakak yang paling disayanginya.

“LUHAN HYUNG!!!!!!” Sehun menjerit meneriakkan nama kakaknya yang sudah menutup mata dan tidak akan pernah terbuka lagi itu, di sisi lain, keturunan Ipswich yang melihat itu hanya bisa menundukkan kepala dan ikut menangis bersama Sehun, mereka telah kehilangan.

-TBC-

Iklan

16 thoughts on “The Covenant Chapter 12

  1. aku juga mau ikut nangis hiks…hiks *lebay deh*
    Luhan bakalan tetep mati ???
    Jangan mati dulu donk !!!
    Sebener nya sih rada sebel sama sehun. Kalau aja sehun gak nolongin minho, pasti luhan bakal tetep hidup.

  2. Ping-balik: The Covenant Chapter 13 | Acha's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s