The Covenant Chapter 13

The Covenant

The Covenant

Title :The Covenant

Author :Heen Doongie a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brotherhood, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Cast :

  • All EXO Member
  • L Infinite
  • Other (find by yourself)

-The Covenant Chapter Thirteen-

Summary :

“Sehunie… mereka yang pergi tidak benar-benar meninggalkanmu… dia masih tetap disini… dihatimu…”

-***-

A/N :

Kemaren author janji sama salah satu reader buat post hari ini dan akhirnya kesampean, mian yah udah bikin nunggu lama ^^

Part Sebelumnya : Chapter 12

Happy Reading ^^

-***-

Wajah tampan nan pucat itu kini terbaring di dalam peti kayu yang berukir lambang kerajaan Grandeur, menandakan bahwa yang terbaring di dalamnya adalah salah satu keturunan dan pewaris kerajaan tersebut, wajahnya yang terlihat begitu tenang dan damai sangat berbeda dengan wajah saudara-saudaranya yang terlihat begitu sedih, ditambah dengan mata mereka yang membengkak akibat terlalu banyak menangis, terutama namja berwajah datar yang saat ini berada di samping peti dan hanya menatap lurus ke dalam isi peti.

Mungkin bagi siapa saja yang melihat namja itu mereka akan mengira bahwa namja itu terlihat baik-baik saja karena wajah tanpa ekspresinya, namun bagi keluarga Ipswich, mereka sangat tau dan mengerti bahwa dialah yang paling terluka dan bersedih karena hal ini, bahkan jika kesedihan seluruh keluarga Ipswich di satukan masih saja kesedihan namja itu mengalahkan kesedihan mereka, namja itu adalah Sehun.

Sehun bahkan sama sekali tidak bicara semenjak kematian Luhan kemarin, dia hanya diam dan sesekali sesekali menangis di sebelah tubuh tak bernyawa Luhan, dia juga sama sekali tidak menyentuh makanannya, dia hanya mengusap-usap wajah tampan kakaknya dengan air mata yang mengalir dalam keterdiaman, berharap Luhan akan membuka matanya walaupun itu hanyalah sebuah khayalan yang tidak akan menjadi kenyataan, Sehun tetap setia di samping Luhan, dia tidak beranjak sedikitpun dari  peti matinya. Sehun menggenggam tangan dingin Luhan dan menangis lagi, mencium tangan pucat itu dan menangis tanpa suara.

“Hyung… irona… aku ingin bermanja-manja dengan hyung lagi… ironayo hyung…. hiks”

Keturunan Ipswich tidak mampu melakukan apapun, mereka hanya mampu melihat itu dengan bulir-bulir air bening yang setia mengalir di pipi mereka. Sakit… sangat sakit rasanya jika hanya bisa melihat saudara mereka menangis seperti itu tanpa mampu melakukan apapun, bahkan hanya untuk sekedar mengusap air matanya dan mengatakan ‘jangan menangis, masih ada kami disisimu’

-***-

Minho dan L.Joe melihat keluarga Ipswich yang tengah berkabung atas kematian Luhan dari puncak pohon cemara yang tumbuh di dekat rumah keluarga Ipswich, L.Joe berkali-kali mengusap air matanya yang dia sendiri tidak tau kenapa air matanya terus saja mengalir, sedangkan Minho, hanya bisa melihat adik ‘sedarah’nya itu dengan tatapan iba dan hati yang sangat sakit, sangat sakit karena dia juga tak mampu untuk menjadi tempat bersandar bagi Sehun.

“Bagaimanapun juga aku harus menolong Sehun dan aku rasa aku tau caranya….” Ucap L.Joe yang seketika membuat Minho menoleh.

“Kau tau caranya??!! Bagaimana?? Cepat katakan padaku..” Paksa Minho, L.Joe menatap Minho.

“Aku rasa aku tau caranya, tapi maaf, aku tidak bisa memberitahukannya padamu…”

“Kenapa?”

“Karena hanya Ipswich dan Hawk yang boleh melihat ‘dia’…” Jawab L.Joe yang seketika membuat Minho diam, Minho mengerti yang L.Joe maksud dan dia tidak mau klan vampire musnah jika Minho melihat dan berurusan dengan‘dia’, Minho menepuk bahu L.Joe.

“Meskipun kali ini aku tidak bisa terjun secara langsung untuk membantumu dalam urusan ini, tapi aku akan tetap berusaha keras untuk membantumu melalui jalan lain…” Ujar Minho, L.Joe hanya tersenyum tipis.

“Thanks..”

-***-

D.O melihat Sehun yang masih setia duduk di samping peti Luhan melalui kaca, hatinya sakit lagi, sakit karena tidak bisa memeluk adiknya dan menjadikan dirinya sebagai tempat sandaran untuk Sehun, sebulir air mata lolos dari sudut mata kiri namja bermata bulat itu, dia pun segera mengusapnya dengan tangan kirinya, namun tindakannya itu hanya membuat air matanya semakin deras mengalir, bukan hanya dari mata kirinya, namun dari kedua matanya.

Kai tiba-tiba memeluk D.O dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu namja bermata bulat itu dan ikut menangis.D.O kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Kai dan menangis di dada adik yang paling dekat dengannya itu, Kai pun memeluk D.O erat, ikut meluapkan kesedihannya bersama namja bermata bulat yang selama ini selalumenyayanginya dan menjaganya dengan sangat baik.

“Aku tidak sanggup lagi melihat Sehun seperti itu…” Ujar D.O lirih masih sambil menangis didada Kai.

“Aku juga, hyung… aku juga tidak sanggup…”

-***-

L yang saat ini tengah bersama Xiumin, Kris, Suho dan Lay hanya bisa memijat keningnya yang pening, dia menatap keempat orang itu bergantian.

“Apa kalian punya ide?” Tanya L memecah kediaman di antara mereka, keempat keturunan Ipswich itu serempak menggeleng. “Kalau seperti ini kita tidak akan bisa memakamkan Luhan…” Ujar L kemudian menghembuskan nafas beratnya.

“Bukankah tubuhnya tidak akan membusuk? Menurutku tidak akan masalah jika kita tetap membiarkan Luhan di dalam peti matinya” Ujar Lay polos.

“Lay-ah… ini bukan masalah membusuknya tubuh Luhan atau tidak, ini masalah psikologis Sehun!!” Hardik Suho sedikit berteriak, Lay mengerjap-kerjapkan matanya kaget karena baru kali ini Suho berteriak padanya.

“Aku kan hanya mengungkapkan pendapatku….” Ujar Lay lirih sambil mengerucutkan bibirnya, mata sendunya semakin terlihat redup setelah mendapat teriakan dari Suho, Suho yang menyadari apa yang dia lakukan tadi langsung berusaha meminta maaf kepada Lay.

“Lay-ah, mianhae…. bukan maksudku berteriak kepadamu.. aku hanya lelah karena memikirkan jalan keluar masalah ini.. kau tau ‘kan kalau aku tidak pernah bermaksud berteriak terhadapmu? Mianhae….” Suho menggenggam tangan Lay erat, Lay pun menatap Suho dengan bibir yang masih mengerucut dan mengangguk.

“Aku tau… lagi pula aku tidak marah, aku mengerti kalau kau lelah, semuanya juga lelah sepertimu…” Ujar Lay sambil tersenyum, Suho pun tersenyum dan memeluk Lay erat.

“Gomawo…”

Kris, L dan Xiumin yang melihat hanya menghembuskan nafas berat masing-masing dan menatap satu sama lain dengan tatapan ‘sekarang-apa?’, namun tidak ada satupun dari mereka yang membuka mulut, Kris pun berdiri.

“Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Xiumin.

“Berusaha membujuk Sehun” Jawab Kris.

“Kau tau itu hal yang tidak mungkin…” Desis Xiumin dingin.

“Aku tau, tapi setidaknya aku akan mencoba…” Ujar Kris kemudian berjalan keluar meninggalkan L, Xiumin, Lay dan Suho yang hanya menatap kepergian namja berambut blonde yang selalu bertanggung jawab atas seluruh keturunan Ipswich itu.

-***-

Tao berlatih wushu di taman belakang rumahnya dengan keras, keringat mengalir deras di tubuhnya, sebenarnya dia tidak berlatih, dia hanya menyalurkan kemarahan dan kesedihannya lewat seni bela diri yang ia pelajari sejak kecil itu, bisa terdengar suara nyaring pedangnya yang mengenai tiang besi yang menjadi patner latihannya, seluruh gerakan yang ia kuasai dia keluarkan semuanya hari ini dan ketika gerakan puncak, yakni memukulkan pedang ke tiang besi, Tao menggunakan seluruh kekuatannya dengan penuh.

“KYAAAAA!!!!!!!”

PRANGGGGG

Suara pecahan dari dua benda yang terbuat dari besi itu terdengar, baik tiang besi maupun pedang Tao kini pecah berkeping-keping, Tao hanya melihat kedua benda yang telah pecah itu dengan nafas terengah-engah dan peluh yang mengalir.

“Arrghh..”

Tao merasakan perih pada tangan kanannya, dia pun melihat apa yang terjadi dengan tangan kanannya, darah segar berwarna merah mengalir dari tangan kanannya akibat terkena pedangnya sendiri tadi, air mata Tao mengalir, dia kemudian terduduk dan menundukkan kepalanya, tangisannya saat ini sebenarnya bukan karena tangan kanannya yang berdarah, melainkan karena dia tidak bisa melakukan apapun untuk saudaranya, yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah menyakiti dirinya sendiri sebagai pelampiasan atas rasa sakit dan kesedihannya, perlahan tetes-tetes air hujan turun dari langit, ikut menjadi satu dengan air mata Tao yang kini menengadahkan wajahnya, langit sepertinya mengerti tentang kesedihan yang di rasakan keturunan Ipswich sehingga menurunkan hujannya untuk menyembunyikan air mata yang yang mengalir dari tiap-tiap mereka.

“AAAARRRRGGGGHHHH!!!!!”

-***-

Baekhyun dan Chanyeol yang tengah berada di atap rumah juga hanya bisa diam ketika air hujan mengguyur tubuh mereka, setidaknya air mata mereka bisa tersamarkan dengan air hujan itu, Baekhyun dan Chanyeol yang mempunyai kepribadian paling cerah dari seluruh keturunan Ipswich kini sama muramnya dengan yang lain, tidak ada lagi lelucon-lelucon aneh yang keluar dari mulut mereka berdua, mulut mereka seakan kelu untuk bicara, bahkan hanya untuk mengucapkan satu huruf saja terasa begitu sulit.

Chanyeol dan Baekhyun saling berpegangan tangan dengat erat untuk saling menguatkan hati satu sama lain, mereka saling memandang dengan mata yang sembab walaupun air mata mereka telah tersamarkanoleh hujan, Chanyeol pun menarik Baekhyun kedalam dekapannya, membiarkan namja yang lebih kecil darinya itu untuk meluapkan tangisnya di dadanya.

“Kita pasti kuat Baekhyun-ah…. Kita pasti kuat…” Ujar Chanyeol sambil mengelus rambut basah Baekhyun, Baekhyun mengeratkan pelukannya.

“Tidak Chanyeol-ah, bukan pasti, tapi harus… kita harus kuat…..”

-***-

“Sehunie..” Panggil Kris pada adiknya, Sehun menoleh dan menatap Kris, Kris bisa melihat dengan jelas mata bengkak Sehun dan wajah Sehun yang pucat, hampir menyamai pucatnya Luhan yang terbaring di dalam peti matinya.

“Waeyo hyung?”

“Kau sakit? Kenapa wajahmu begitu pucat?” Tanya Kris khawatir, dia langsung meletakkan telapak tangannya di kening Sehun. “Badanmu sedikit hangat…” Ujar Kris setelah memeriksa kening Sehun.

“Aku tidak apa-apa hyung, selama Luhan hyung ada disisiku aku tidak apa-apa…” Ujar Sehun sambil tersenyum.

DEG

Hati Kris yang telah sakit atas kematian Luhan kini makin sakit setelah mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Sehun, setetes air mata pun lolos dari salah satu sudut mata Kris.

“Sehun-ah…”

“Mm?”

“Luhan… dia.. dia sudah meninggal Sehun-ah… dia sudah tidak ada….” Ujar Kris lirih, mata Sehun langsung berubah menjadi merah setelah mendengar ucapan Kris barusan, dia langsung berdiri dan menatap Kris tajam.

“AARRGGHH!!!” Kris memegang dadanya yang sakit akibat tatapan tajam dari Sehun.

“LUHAN HYUNG TIDAK MATI!!! DIA HANYA TIDUR!!!!!” Teriak Sehun marah, tatapannya kepada Kris semakin menajam, membuat Kris terjatuh dengan masih memegangi dadanya, dia menatap Sehun dengan mata yang berkaca-kaca.

“Sehun-ah… aku kakakmu.. Kris Tvez….” Kris berusaha menyadarkan Sehun akan apa yang dilakukannya saat ini dan berhasil, mata Sehun perlahan kembali normal dan rasa sakit di dada Kris menghilang, perlahan Kris mencoba bangkit dan menatap adik bungsunya itu dengan tatapan iba, dia memegang kedua bahu Sehun.

“Sehun-ah… sadarlah… Luhan meninggal dan dia harus di makamkan…” Ujar Kris, mendengar itu Sehun berubah marah lagi.

“Pergi!” Ujar Sehun dingin.

“Se-”

“PERGI KATAKU!!!!!” Teriak Sehun marah, Kris menghembuskan nafas berat, untuk saat ini memang tidak ada pilihan lain selain mengalah.

“Baiklah…” Ujar Kris kemudian pergimeniggalkan Sehun yang saat ini kembali duduk di samping peti Luhan.

Chen yang dari awal melihat apa yang terjadi antara Sehun dan Kris pun mencoba berinisiatif, dia membawa dua kopi dikedua tangannya dan berjalan menuju Sehun yang masih setia menemani Luhan.

“Kau mau kopi?” Tawar Chen sambil memberikan kopi yang ada di tangannya kepada Sehun, Sehun menggeleng.

“Baiklah..” Ujar Chen kemudian meletakkan kedua kopi tadi di atas meja. “Luhan hyung sangat tampan.. bahkan ketika matanya tertutup seperti itu..” Lanjut Chen hati-hati, Sehun langsung menolehkan wajahnya menatap Chen yang saat ini tersenyum lembut kepadanya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Chen, Sehun menggelengkan kepalanya kemudian menatap Luhan lagi, dia memegang tangan dingin Luhan dan mengelusnya lembut.

“Sehun-ah..” Panggil Chen.

“Mm?”

“Lihat aku…” Perintah Chen lembut, Sehun menurutinya, Chen berjongkok didepan Sehun dan memegang kedua bahu namja tersebut dengan senyuman lembut.

“Meskipun aku tidak terlalu dekat denganmu, tapi kau tetap adikku… aku menyayangimu… sangat menyayangimu…. seluruh kakakmu yang lain juga sepertiku, mereka menyayangimu, apa kau tau betapa sakitnya melihat kau seperti ini? Hati kami sangat sakit… dan aku juga yakin jika Luhan hyung yang melihatmu dari sana hatinya juga akan sama sakitnya seperti kami..” Ujar Chen lembut dengan suara yang sedikit bergetar menahan air mata.

“Hyung…” Mata Sehun mulai berkaca-kaca.

“Sekarang katakan padaku, kau menyayangi kakak-kakakmu atau tidak?” Tanya Chen sambil menangis, dia sudah tidak mampu menahan air mata itu lebih lama, Sehun mengangguk juga sambil menangis, Chen memegang kedua pipi Sehun dan mengusap air mata adiknya itu.

“Kau sangat menyayangi Luhan hyung ‘kan? Kau tidak ingin hatinya sakit karena melihatmu seperti ini kan?” Tanya Chen lagi, Sehun makin menangis dan menggeleng.

“Tatap aku Sehunie…” Ujar Chen dengan suara bergetar, Sehun yang terisak menatap dalam ke dalam mata Chen. “Kami semua tau betapa kau sangat menyayangi Luhan hyung… tapi bukan begini caranya kau menunjukkan kasih sayangmu padanya, dengan membuat hatinya sakit karena melihatmu seperti ini, dia melihatmu dari sana Sehunie… selalu.. kalau kau menyayangi Luhan hyung maka bahagiankanlah dia dengan membiarkan dia beristirahat dengan tenang dan kau harus bahagia Sehunie… kebahagiaanmu juga akan membahagiakan Luhan hyung….” Ucap Chen panjang lebar masih dengan menangis, tangisan Sehun pun makin deras setelah mendengar seluruh perkataan Chen.

“Sehunie… mereka yang pergi tidak benar-benar meninggalkanmu… dia masih tetap disini… dihatimu…” Ujar Chen sambil memegang dada Sehun dengan salah satu tangannya, Sehun pun langsung memeluk Chen erat dan menangis dengan keras.

“Seandainya saja aku tidak menolong Minho hyung saat itu dan memilih untuk tinggal bersama kalian!! Seandainya aku bisa memutar balikkan waktu seperti membalikkan sebuah halaman buku… aku akan lebih memilih kalian dan Luhan hyung pasti masih akan hidup saat ini… dia pasti masih akan hidup… hiks… ini semua salahku… semuanya…” Ujar Sehun sambil menangis di pelukan Chen, Chen mengelus-elus rambut Sehun dan mengecup puncak kepala adiknya itu sejenak.

“Aniya… semua bukan salahmu… ini hanyalah sebuah takdir untuk keluarga kita Sehunie… hanya sebuah takdir yang sudah tertulis…” Ujar Chen kemudian melepaskan pelukan Sehun, dia memegang kedua pipi Sehun dan menatap kedua mata adiknya itu lembut.

“Kau menyayangi Luhan hyung dan kakak-kakakmu yang lain ‘kan?” Tanya Chen sekali lagi, Sehun mengangguk. “Kalau begitu sekarang biarkanlah Luhan hyung beristirahat dengan tenang dengan memakamkannya.. kau mengerti?” Ujar Chen, Sehun mengangguk lagi dan lagi-lagi memeluk Chen erat, Chen menepuk-nepuk punggung Sehun lembut kemudian mengecup puncak kepala keturunan termuda keluarga Ipswich itu.

-***-

“Kau yakin?” Sebuah suara dingin yang mampu membuat siapa saja yang mendengarnya akan merinding terdengar.

“Sangat yakin… kau bisa melakukannya ‘kan?” Tanya L.Joe kepada pemilik suara dingin itu.

“Tentu saja, itu hal yang sangat mudah… tapi kenapa kau tiba-tiba melakukan ini?”

“Sebagai pengorbanan seorang sahabat… juga sebagai penyempurna takdir keturunan Hawk yang akan di musnahkan oleh keluarga Ipswich, bukankah begitu.. Lucifer?” Ujar L.Joe kepada pemilik suara dingin yang ternyata Lucifer itu, Lucifer hanya menyeringai.

“Baiklah… aku akan mengabulkan permintaanmu…” Ujar Lucifer akhirnya.

“Terima kasih, tapi aku mempunyai satu permintaan lain….”

“Apa?”

“Setelah kau melakukannya, bisakah kau memberiku hidup walaupun hanya satu hari?”

“Baiklah, aku akan mengabulkannya juga, setidaknya untuk balasan kebaikan hatimu…” Jawab Lucifer, “Sekarang tanda tanganilah The Covenant ini…” Lanjutnya.

“Baiklah…”

-***-

Seluruh keturunan Ipswich dan L sedang berada di pemakaman umum untuk memakamkan Luhan, wajah tampan Luhan yang masih bisa dilihat di dalam peti kayu yang atasnya berlapis kaca itu tampak begitu tenang, L merangkul pundak Sehun setidaknya agar keturunan termuda Ipswich itu mempunyai orang yang bisa dia jadikan tempat sandaran, dan ketika peti Luhan akan di masukkan kedalam liang lahat mendung yang sangat gelap dan angin yang sangat kencang tiba-tiba muncul, membuat proses itu terhentikan, dan tidak jauh dari tempat para keturunan Ipswich sosok berjubah hitam dan berbibir ungu itu muncul dan dalam sedetik sudah berada di depan seluruh keturunan Ipswich.

“Lucifer?” Kris kaget atas kedatangan Lucifer, dia menatap Lucifer dengan kening yang mengerenyit.

“Mau apa kau kesini?” Desis Sehun dingin.

“Oho~ rupanya Mr. Sehun Tvez sudah kembali ke rumah keluarga Ipswich, bagaimana perasaanmu?” Tanya Lucifer.

“Jangan bertele-tele dan katakan apa maksud kedatanganmu kemari!!!!” Teriak Sehun tidak sabar yang lebih di dominasi oleh kemarahannya.

“Wow wow wow… Calm down Mr. Tvez… kedatanganku kemari hanya untuk mengembalikan jiwa Luhan, dengan kata lain aku akan menghidupkannya kembali…..”

“Apa…???!!”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-TBC-

Iklan

37 thoughts on “The Covenant Chapter 13

  1. Ping-balik: The Covenant Chapter 14 [END] | Acha's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s