The Covenant Chapter 14 [END]

The Covenant

 

The Covenant

Title : The Covenant

Author : Heen Doongie a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brotherhood, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Cast :

  • All EXO Member
  • L Infinite
  • Other (find by yourself)

-The Covenant Chapter Fourteen (END)-

Summary :

“kau tau… aku bahagia melakukannya karena aku musnah bukan atas nama permusuhan, tapi atas nama persahabatan…..”

-***-

A/N:

Author post ini hari ini karena Author bakalan sibuk sampai tahun baru, Author panitia acara tahun baru di desa dan Author itu pengurus inti *gyyaaahh!!! /flip life/* padahal Author pengen memaksimalkan liburan buat ngetik FF, eh ada tanggung jawab yang datang *mendadak curhat* untuk yang nunggu History of MAMA, Author usahain secepatnya di publish, mohon pengertiannya ya readers.. dan maaf kalau misalnya endingnya mengecewakan :*

Part sebelumnya -> Chapter 13

Be Aware with typo(s)

Happy Reading ^^

-***-

“Apa?” Ujar Seluruh keturunan Ipswich hampir bersamaan.

“Aku akan mengembalikan jiwa Luhan” Jawab Lucifer dingin, tangan Sehun mengepal dan bola matanya berubah menjadi merah, dia berjalan dengan langkah lebar kepada Lucifer dan menatap Iblis itu dengan pandangan membunuh.

“Mr. Tvez, percuma saja kau menatapku seperti itu, aku tidak akan terbunuh karena tatapan matamu…” Ujar Lucifer meremehkan.

“Kau mau mempermainkan keluargaku?” Desis Sehun.

“Tidak” Jawab Lucifer santai.

“Lalu apa maksudmu mengambil jiwa Luhan hyung dan mengembalikannya lagi?”

“Mr. Tvez… Mereka yang jiwanya telah diambil sebenarnya tidak bisa dikembalikan lagi kecuali dengan pengorbanan jiwa dari musuhnya, dan hal itu hanya akan berhasil jika musuhnya itu mengatakan dengan mulutnya sendiri…”

“Musuh? Siapa yang kau maksud?” Kali ini Kris yang bertanya kepada Lucifer.

“Kalian tidak perlu tau” Ujarnya kemudian menuju peti mati Luhan, Lucifer membuka kaca peti itu kemudian meletakkan tangannya di kening Luhan, cahaya hijau muncul dari tangannya dan menyelimuti tubuh tak bernyawa Luhan, kemudian seakan terserap ke dalam tubuh Luhan, perlahan kulit pucat Luhan berubah menjadi lebih hidup, aliran darah di dalam tubuhnya kini terlihat jelas, Luhan membuka matanya perlahan dan melihat kanan dan kiri.

“Sehunie….”

Ucapan yang pertama keluar dari mulut Luhan setelah hidup kembali adalah nama adik yang paling disayanginya, Sehun yang sudah tak kuasa untuk menahan air mata bahagianya pun menangis, dia berjalan kepada Luhan dan serta merta memeluk kakaknya yang saat ini juga sama menangisnya dengan dia, bukan tangisan kesedihan, melainkan tangisan kebahagiaan.

“Hyung…. bogoshipo….” Ujar Sehun sambil mengeratkan pelukannya.

“Nado….”

Dan wajah-wajah muram dari keturunan Ipswich itu pun hilang sudah, berganti wajah penuh kebahagiaan serta senyuman yang menghiasi tiap-tiap mereka, walaupun saat ini mereka menangis, tangisan mereka bukanlah tangis kesedihan, melainkan tangisan kebahagiaan, mereka bahagia, sangat bahagia, keluarga mereka kembali utuh dan tetap dua belas, tidak berkurang satupun.

“Hmm, baiklah, sepertinya aku harus pergi….” Ujar Lucifer dan bersiap pergi.

“Tunggu!” Cegah Kris membuat Lucifer membalikkan badannya.

“Ada apa lagi?” Tanya Lucifer, Kris berjalan menuju Lucifer dan menatap iblis itu dengan tatapan nanar.

“Kau belum mengatakan kepadaku siapa yang mengorbankan jiwanya untuk Luhan…” Ujarnya lirih, Lucifer hanya menyeringai.

“Sudah ku katakan kau tidak perlu tau”

“Tapi-”

“Sudahlah Kris Tvez, jika aku memberitahumu tentang hal ini kau akan membuat Sehun bersedih sekali lagi, lebih baik kau dan keluargamu tidak usah tau…” Ujarnya dingin kemudian membalikkan badannya lagi dan menghilang, meninggalkan asap hitam yang mengiringi kepergiannya. L menepuk pundak Kris yang terpaku setelah kepergian Lucifer, Kris pun menoleh.

“Sudahlah, lebih baik sekarang kita merayakan kembalinya Luhan, jangan merusak kebahagiaan saudara-saudaramu saat ini…” Ujar L lembut, Kris hanya mengangguk.

Dari jauh dua pasang mata yang mengawasi keturunan Ipswich mengeluarkan air mata haru, dua orang itu menusap air mata mereka dengan tangan masing-masing.

“Senang rasanya melihat Sehun tersenyum lagi” Ujar salah satu dari mereka.

“Memang, tapi apa kau yakin kau akan baik-baik saja, L.Joe?” Tanya seseorang yang lain kepada L.Joe, L.Joe mengangguk tanpa menatap orang yang memberinya pertanyaan tadi.

“Tentu saja, lagi pula aku sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini, sekalipun aku mati tidak akan ada yang menitikkan air mata kesedihan atas kepergianku, bukankah begitu, Minho?”

“Apa yang kau katakan?! Tentu saja ada, aku pasti akan menangisi kepergianmu!!” Ujar Minho sedikit berteriak.

“Benarkah?”

“Tentu saja!!” Teriak Minho lagi, L.Joe pun tersenyum tipis.

“Ternyata masih ada yang menyayangiku, begini saja aku sudah bahagia….” Ujarnya sambil menatap lurus kepada keuturunan Ipswich yang kini sedang berpelukan bahagia.

“L.Joe-ah….” Panggil Minho lirih.

“What?” Jawab L.Joe menoleh, tanpa berkata apapun Minho langsung memeluk L.Joe.

“Kau salah satu sahabat terbaikku, aku pasti akan merindukanmu…” Ujar Minho dengan suara yang bergetar.

“Hey, apa kau menangis?” Tanya L.Joe, masih dalam posisi memeluk L.Joe Minho menggeleng.

“Baguslah kalau kau tidak menangis, aku mau kau berjanji satu hal padaku…” Minho melepaskan pelukannya dan menatap L.Joe.

“Apa?”

“Besok, ketika aku telah pergi, berjanjilah untuk tidak menangis…” Ujarnya sambil menepuk kedua bahu Minho.

“What? Aku tidak bisa! Aku pasti akan menangis!!” Ujar Minho dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

“Hey… ayolah, ini adalah sebuah janji yang mudah…”

“Mudah katamu? Apa kau tidak tau seberapa besar rasa sayangku padamu? Kau dan Sehun adalah sahabat pertamaku, bagaimana bisa aku tidak menangis jika dirimu pergi??!” Kali ini Minho menangis, L.Joe hanya tersenyum tipis dan memasukkan Minhokedalam dekapannya, dia mengelus-elus rambut namja itu lembut.

“Thanks… Tapi aku masih ingin kau berjanji padaku untuk tidak menangis, tidak bisakah kau melakukannya?” Pinta L.Joe sekali lagi, Minho lagi-lagi menggeleng, L.Joe melepaskan pelukannya dan menatap Minho.

“Aku mohon…. berjanjilah kepadaku untuk tidak menangis…” Sekali lagi L.Joe meminta kepada Minho, dan akhirnya vampire itu mengangguk mengiyakan, L.Joe pun tersenyum cerah dan sekali lagi memeluk Minho.

“Thanks…”

-***-

Raut bahagia keturunan Ipswich juga L masih setia terpancar dari wajah tampan mereka, saat ini mereka telah beradadi rumah, lebih tepatnya ada di taman belakang rumah, mereka sedang mengadakan pesta barbeque untuk merayakan kembalinya Luhan.

“Ya! Kalau pesta barbeque diadakan di siang hari apa masih bisa di sebut pesta barbeque?” Tanya Baekhyun kepada Chanyeol yang saat ini sedang memanggang daging bersama Lay.

“Tentu saja” Jawabnya singkat, Baekhyun mendengus kesal karena jawaban singkat Chanyeol, dia kemudian pindah untuk mengganggu D.O dan Kai yang saat ini tengah mempersiapkan bumbu, dengan jahil dia sengaja memasukkan potongan bawang yang sangat banyak kedalam bumbu racikan D.O.

“Hyung!!!!!” Teriak Kai keras, Baekhyun hanya tersenyum tanpa merasa bersalah kemudian pergi meninggalkan Kai dan D.O.

“Aissshhh… Baekhyun hyung benar-benar…” Gerutu Kai kesal.

“Sudahlah, tidak apa-apa” Ujar D.O santai.

“Tidak apa-apa? Tapi bagaimana nanti rasanya?? Aku benci bau bawang!!” Dengus Kai sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kai-ah, kau meragukan kemampuanku?” Ujar D.O sambil mengangkat satu alisnya ke atas.

“Ne?”

D.O tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil mengedipkan matanya kepada Kai dan kembali berkutat dengan bumbu barbeque yang telah dirusak oleh Baekhyun.

Xiumin, Kris dan Tao memperoleh bagian untuk menata meja dan kursi untuk pesta mereka, mereka bekerja dengan kompak sehingga pekerjaan mereka cepat selesai, sedangkan Chen dan Suhoyang bertanggung jawab untuk peralatan makan juga telah selesai melaksanakan tugas mereka, Chen tersenyum cerah dan mengusap peluh yang mengalir di keningnya.

“Selesai sudah…” Ujarnya lega, Tao menepuk bahu Chen dan ikut tersenyum.

“Ya sudah, lebih baik sekarang kita memanggil Sehun dan Luhan kemudian memulai pestanya” Ujar Kris.

“Aku akan memanggil mereka” Ujar Chen kemudian pergi untuk memanggil Luhan dan Sehun yang ada di dalam rumah.

Beberapa saat kemudian Luhan, Sehun dan Chen datang ke taman belakang kemudian duduk di kursi masing-masing, L sebagai paman mereka duduk di kursi paling ujung.

“Aku bahagia karena kalian tetap utuh…” Ujarnya sambil tersenyum. “Aku harap, baik sekarang ataupun nanti kalian akan tetap seperti ini, saling menyayangi dan saling menjaga satu sama lain, dan aku harap kebersamaan kalian akan bertahan selamanya…” Lanjutnya, keturunan Ipswich pun tersenyum dan mengamini ucapan L barusan, mereka ingin seperti yang L katakan, bersama dan utuh selamanya.

“Maaf, apakah kami mengganggu?” Sebuah suara membuat seluruh keturunan Ipswich menoleh, mereka terbelalak kaget kecuali Sehun yang melihat kedatangan kedua orang itu dengan senyuman cerah.

“Minho hyung, L.Joe-ah!!!” Teriak Sehun bersemangat dan berdiri, dia langsung menghambur kepada kedua orang itu dan memeluk mereka. “Aku merindukan kalian!!” Lanjut Sehun sambil melompat-lompat kegirangan.

“Kami juga…” Jawab Minho dengan suara yang sedikit bergetar, namun dengan segera L.Joe mencubit Minho, Sehun melepaskan pelukannya kemudian menatap mereka bergantian.

“Apa yang membuat kalian kesini?” Tanya Sehun.

“Tentu saja karena kami merindukanmu!” Jawab L.Joe bersemangat.

“Benarkah?”

“Mm”

“Kalau begitu ikutlah berpesta bersama kami!!” Ujarnya bersemangat.

“Eee…. Sehun-ah, bagaimana dengan kakak-kakakmu?” Tanya Minho, Sehun langsung menoleh kepada kakak-kakaknya.

“Hyungdeul, mereka boleh berpesta bersama kita ‘kan?” Tanya Sehun sedikit memohon.

“Tentu saja, mereka ‘kan sahabat juga keluargamu, dan itu artinya mereka adalah sahabat juga keluarga kami juga…” Jawab Kris bijak, senyuman Sehun kian cerah setelah mendengar perkataan Kris.

“Gomawoyo hyungdeul!!!!”

Sehun dengan besemangat menciptakan dua kursi lagi untuk L.Joe dan Minho, seluruh keturunan Ipswich, Minho dan L.Joe menikmati pesta itu bersama, obrolan yang diselingi canda tawa juga mengiringi pesta mereka, apalagi lelucon dari Baekhyun, Chanyeol dan Chen yang seakan tidak ada habisnya membuat pesta semakin menyenangkan dan hidup, hanya satu orang yang tidak bisa sepenuhnya menikmati pesta ini, orang itu adalah L, yang dari tadi hanya mengawasi L.Joe dengan pandangan yang tidak bisa di artikan, Kris yang menyadari tingkah L menepuk bahu L.

“Apa ada yang ingin kau ceritakan padaku?” Tanya Kris, L membenarkan posisi duduknya kemudian menatap Kris, L mengangguk. Kedua orang itu kemudian meninggalkan pesta dan masuk ke dalam rumah.

“Apa yang ingin kau ceritakan?” Tanya Kris langsung.

“L.Joe”

“L.Joe? Ada apa dengan dia? Apa dia membahayakan keluarga kita?” Tanya Kris, L menggeleng.

“Lalu?”

“Dia yang telah menukarkan hidupnya agar Luhan kembali hidup, dia yang meminta kepada Lucifer untuk menghidupkan Luhan dan mengambil jiwanya sebagai gantinya”

“Mwo? Apa katamu? Untuk apa dia melakukan itu?”

“Dia melakukannya untuk Sehun…” Jawab L lirih, sedangkan Kris hanya membelalakkan matanya lebar.

Dan tanpa L dan Kris sadari seluruh keturunan Ipswich kini menatap L.Joe dengan tatapan yang sulit diartikan, mereka semua mendengar percakapan antara L dan Kris, dan hal itu lagi-lagi membuat hati Sehun sakit.

“Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?” Tanya L.Joe kemudian memeriksa dirinya.

“L.Joe-ah… kau telah mengorbankan jiwamu agar aku hidup kembali, benarkah begitu?” Tanya Luhan lirih, L.Joe terkisap, namun dengan segera dia menguasai dirinya.

“Apa yang kau katakan? Aku tidak mungkin melakukan itu!!” Elak L.Joe sambil tersenyum, Minho hanya diam seribu bahasa tanpa berani mengangkat kepalanya, Sehun kemudian berdiri dan menatap lurus kepada L.Joe, air mata menggenangi pelupuk matanya.

“Kau jahat…” Ujar Sehun lirih kemudian pergi meninggalkan mereka semua.

“Sehun Tvez!!” Teriak L.Joe kemudian berlari mengikuti Sehun, setelah L.Joe dan Sehun pergi, kediaman pun menyelimuti taman belakang rumah keturunan Ipswich, mereka tidak tau lagi apa yang harus di katakan.

-***-

“Sehun Tvez!!!” L.Joe berteriak memanggil nama Sehun yang saat ini sedang berlari menuju puncak gunung dengan air mata yang mengalir di pipinya, dia bahkan tidak peduli jika tubuhnya terluka akibat ranting pohon yang ia terabas melukai kulitnya, saat ini tujuannya hanya satu, berlari kepada sahabatnya dan memeluknya.

“Sehunhh… hh.. hh..” Nafas L.Joe terengah ketika sudah mencapai puncak gunung, dia memegangi kedua lututnya yang serasa telah terlepas dari persendian, dia mengangkat kepalanya dan melihat punggung namja yang telah menjadi salah satu sahabat terbaik yang pernah ia miliki dalam hidupnya.

Dengan langkah terseok-seok L.Joe berjalan dan menepuk bahu Sehun, namun namja yang memiliki wajah datar itu tetap tidak menoleh.

“Sehun…”

“…..”

“Hey…. Are you angry?”

“…..”

“Hey…” L.Joe membalikkan tubuh Sehun agar namja dingin itu menatapnya, dan betapa kagetnya L.Joe ketika melihat mata Sehun saat ini berbeda warna, mata kirinya berwarna merah dan mata kanannya berwarna hitam sehitam kolam di malam hari, Sehun hanya menatap L.Joe nanar, dan tanpa mengatakan apapun L.Joe langsung memeluk Sehun dan menangis dipundak sahabatnya.

“Maafkan aku jika aku membuatmu seperti ini, maafkan aku jika aku membuatmu bersedih… tapi kau harus tau, aku menyayangimu lebih dari hidupku sendiri, dan karena itulah aku melakukannya… aku tidak ingin kau kehilangan kakak yang kau sayangi…. aku juga tidak ingin kakak-kakakmu yang lain terkena imbas atas kesedihanmu…. maka dari itu aku korbankan dirimu untuk membuat keluargamu kembali utuh dan menyempurnakan takdir keluargaku yang akan di musnahkan oleh keturunan Ipswich, dan kau tau… aku bahagia melakukannya karena aku musnah bukan atas nama permusuhan, tapi atas nama persahabatan… aku menyayangimu kawan…. sangat….”

Bulir air bening mengalir perlahan dari sudut-sudut mata Sehun, matanya kini telah kembali normal, dia memejamkan matanya dan balas memeluk L.Joe erat.

“Maafkan aku….” Sehun makin mengeratkan pelukannya kepada L.Joe, L.Joe menepuk punggung Sehun agar sahabatnya itu berhenti menangis.

“Dalam persahabatan tidak perlu ada kata maaf karena memang tidak ada yang perlu dimaafkan atau dimintai maaf, seluruh sahabat sejati di dunia ini juga akan begitu, saling berkorban satu sama lain demi sahabat mereka… dan aku yakin kau akan melakukan hal yang sama jika kau berada di posisiku… karena rasa sayang itu memang ada, persahabatan itu memang nyata…..”

Sehun makin terisak dan mengerutkan pelukannya kepada L.Joe, sedangkan L.Joe hanya tersenyum tipis walau dipipinya juga mengalir sungai kecil sama seperti Sehun.

“Besok ketika aku pergi… jangan ada air mata yang mengiringi kepergianku… aku benci itu..”

-***-

Sinar mentari pagi menyinari kamar tiap-tiap keturunan Ipswich dari celah-celah jendela, namun mereka tidak lagi berada di alam mimpinya, mereka semua sudah bangun dan berkumpul di taman belakang rumah, tidak hanya keturunan Ipswich, namun L, Minho dan L.Joe juga ada bersama mereka.

“Aku tidak tau bagaimana mengucapkan rasa terima kasihku kepadamu… aku hanya merasa sangat berterima kasih dan aku tidak tau kata yang tepat untuk mengungkapkannya… Aku juga tidak tau bagaimana membalas pengorbanan yang kau lakukan demi keluargaku…” Luhan memegangi kedua pundak L.Joe yang tersenyum pada kakak yang paling di sayangi oleh sahabatnya itu, kakak yang paling di sayangi oleh Sehun.

“Cukup jaga Sehun untukku, jangan biarkan dia menangis karena aku tidak ingin ada air mata lagi yang mengalir dipipinya, hatiku sangat sakit jika melihat sahabatku seperti itu, bisakah kau melakukannya?” Pinta L.Joe sedikit berkaca-kaca.

“Mm, aku berjanji padamu…” Luhan mengelus-elus rambut pirang L.Joe dan memeluknya sejenak dan melepaskannya. “Terima kasih…”

“Tidak perlu berterima kasih karena ini memang takdir antara keluargaku dan keluargamu…” L.Joe masih bisa tersenyum kepada seluruh orang yang ada disitu, berbeda dengan satu orang yang memisahkan diri dari mereka, dia hanya bersandar disalah satu pilar di taman belakang rumah dengan melipat kedua tangannya di depan dada dan kepala yang menengadah ke langit.

“Dia masih tidak mau berbicara padaku?” Tanya L.Joe sambil menunjuk namja yang menyandarkan dirinya ke pilar tadi.

“Sepertinya, dia pasti masih belum bisa menerima keputusanmu…” Ujar Kris sambil menepuk bahu L.Joe.

“Tck, dia terlalu menyayangi semua orang…” Decak L.Joe tersenyum.

Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap disertai dengan angin besar yang tiba-tiba muncul menyelimuti wilayah dimana keturunan Ipswich berada, mereka semua menengadahkan wajahnya ke langit.

“Sudah waktunya…” Guman L.Joe lirih, dia memejamkan matanya namun tiba-tiba seseorang memeluknya dan membuatnya membuka mata lagi, namja yang tadi memisahkan diri dari orang-orang kini memeluknya erat sambil menangis.

“Hey, bukankah aku sudah mengatakan alau aku benci ada air mata yang mengalir di saat aku pergi, kau melanggar janjimu, Sehun…” Sehun tidak peduli dan hanya mengeratkan pelukannya, dia tidak mau L.Joe pergi, L.Joe melepaskan pelukan Sehun dan menatap namja itu dengan senyuman hangat, dia memegang wajah Sehun dengan kedua tangannya dan mengusap air mata Sehun dengan jari-jarinya kemudian menggeleng, dia kemudian menutup mata Sehun dengan satu tangannya, Sehun memegang tangan L.Joe yang menutup matanya dengan tangan yang bergetar, perlahan tangan L.Joe menghilang begitu pula tubuhnya, menyisakan abu putih yang terbang mengikuti angin, Sehun pun pingsan.

-***-

1 Year Later…

Dua orang pria membawa bunga berjalan di area pemakaman, mereka kemudian berhenti di depan sebuah monumen yang mereka buat satu tahun lalu untuk mengenang seorang sahabat yang mengorbankan dirinya agar keluarga mereka utuh, mereka berdua meletakkan bunga yang mereka bawa di depan monumen itu kemudian memejamkan mata mereka sejenak dan membukanya lagi.

“Hari ini tepat satu tahun L.Joe pergi… Kau pasti merindukannya ‘kan Sehunie?” Tanya salah satu dari mereka kepada salah seorang yang lain.

.“Setiap hari aku merindukannya dan hari ini membuatku makin merindukannya…” Ujar Sehun. “Luhan hyung…” Panggil Sehun kepada Luhan.

“Mm?” Luhan menoleh dan menatap adiknya.

“Terima kasih telah menepati janjimu kepada L.Joe untuk menjagaku dan membuatku tidak menangis lagi…” Luhan tersenyum dan mengacak-acak rambut adiknya gemas.

“Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikannya…”

-***-

Kini di buku sejarah keluarga Ipswich tertulis bahwa keturunan Hawk bukan lagi musuh mereka melainkan sahabat mereka, sahabat sejati yang mau mengorbankan nyawanya demi keutuhan dan kebahagiaan mereka, dan L.Joe Hawk adalah nama penting yang harus selalu diingat seumur hidup mereka, Sehun menutup buku bersampul hitam itu kemudian membaca tulisan yang ada disampul belakang buku dan tersenyum.

‘Karena rasa sayang itu memang ada… Persahabatan itu memang nyata……’-L.Joe.

 

 

 

 

 

 

 

-END-

Iklan

25 thoughts on “The Covenant Chapter 14 [END]

  1. Huaaaaa udah end ya.
    So sweet bgt yg pas bagian l.joe nya *nangisbombai* wkwk
    ah ga nyangka udh end ajah.
    EXO JJANG SUPER JUNIOR JJANG *apadahini*

  2. Mianhae ru kmen nya d part ini . .
    Sumpah thor cerita ea daebak . . . Bikin aku nangis bombay apha lg part 12+13 meleleh dah tuch air mata . . .
    Jd ikutn merasakan luapan emosi+kesedihan mreka . . .

  3. Kereeeeeeeen 😀 ceritanya keren banget
    .
    .
    Mianhae chingu, saking asiknya baca sy cuma komen d part terkahirnya hehe :3
    .
    .
    Idenya bner2 out of the box bgt, sy kira ini ttg perng2an ternyata tentang kebaikan seseorg membantu org lain dan tanpa sdar mengorbankan saudara sendiri.
    Benar2 d luar dugaan (y)
    .
    .
    Terima kasih atas karya yg sgt menghbur ini 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s