History of MAMA Chapter 16

HoM copy

History of MAMA

Title : History of MAMA

Author : Heen Doongie a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brotherhood, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Cast :

  • Super Junior’s Lee Donghae
  • SNSD’s Im YoonA
  • SNSD’s Kim Taeyeon
  • EXO Member
  • Other (find by yourself)

-History of MAMA Chapter Sixteen-

Summary :

Masih dengan tatapan kesalnya, Sehun mencengkram kerah baju Luhan, matanya berkilat biru beberapa kali

-***-

A/N :

Author ternyata punya waktu hari ini, besok bakal sibuk banget, dan minggu depan Author akan post chapter pertama dari sequel The Covenant, hehe~

Part Sebelumnya -> Chapter 15

Be Aware with typo(s)

Happy Reading ^^

-***-

“Jongin-ah…” Suho berujar lirih.

Suho menatap tubuh bersimbah darah Jongin yang tergeletak lemah, matanya yang tadi berkilat merah telah normal kembali, begitupun kalung MAMA-nya, Suho jatuh berlutut, pedang yang ia gunakan untuk menusuk Jongin terlepas dari tangannya. Kyungsoo berjalan dengan langkah-langkah lebar, mata dan tubuhnya berpendar biru terang, dia menarik bahu Suho kasar.

BUGGG

Suho tersungkur, darah segar mengalir dari sudut bibirnya, dia mengusap darah itu dan menatap Kyungsoo nanar.

“Mianhae…” Suho meminta maaf dengan mata yang berkaca-kaca.

BUGGG

Sekali lagi Kyungsoo melampiaskan perasaan kemarahan sekaligus kesedihannya dengan menghajar Suho, Suho hanya diam tidak melawan, dia sadar kalau dia memang pantas menerima hal itu.

“K.. K.. Kyungsoo hyung… H.. Hajima…”

Suara Jongin yang terbata-bata dan lemah membuat Kyungsoo menoleh, dengan sisa kekuatan yang dimilikinya Jongin membuka matanya dan berusaha bangkit, namun terlihat bahwa dia begitu kesulitan dan kesakitan, Yixing segera berlari dan membantu Jongin, bukan hanya membantu Jongin untuk berdiri, dia juga mencoba untuk menyembuhkan Jongin dan menutup lukanya.

Masih dengan wajah yang pucat dan tubuh yang lemah, Jongin berjalan –juga dengan bantuan Yixing- menuju Kyungsoo, dia menepuk bahu namja bermata bulat itu dan menggeleng.

“Jangan memukuli Suho hyung lagi, dia tidak bersalah… Dia hanya sedang terpengaruh…” Ujarnya lemah, Jongin menatap Kyungsoo dengan pandangan lembut.

Bola mata Kyungsoo yang biru berubah menjadi normal, air matanya menetes, dia menundukkan wajahnya dalam.

“Semuanya memang bukan karena Suho hyung… Itu semua karenaku…”

Kyungsoo terisak, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan miliknya, Jongin meraih tangan Kyungsoo dan memegangi wajah namja itu sembari mengusap air mata yang mengalir dipipi putih Kyungsoo.

“Aniyo… ini juga bukan karena hyung… Uljimayo…”

Jongin merengkuh Kyungsoo kedalam pelukannya, dia menutup matanya dan mengeratkan pelukannya.

“AARRRGGGHHHH!!!!”

Sebuah teriakan yang ternyata berasal dari Suho membuat para MAMA langsung mengalihkan perhatiaannya kepada pria kecil itu, mereka hanya bisa membelalakkan mata mereka tanpa mampu berkata-kata, tenggorokan mereka tercekat.

Ternyata tanpa sepengetahuan para MAMA, Taeyeon yang terluka akibat tusukan Heechul berhasil mengambil kalung berbandul merahnya yang tadi terjatuh dan mendapatkan kekuatannya kembali, dengan halus dia juga mengambil pedangnya dan menusukkannya tepat di jantung Suho, Taeyeon menyeringai, dia kemudian menghilang bersama Suho seiring dengan asap hitam yang mengiringi kepergiannya.

“Tidak…” Luhan berguman lirih sesaat setelah Taeyeon menghilang, Kris menolehkan wajahnya.

“Ada apa, Lu?”

“Pedang Taeyeon yang tertancap di jantung Suho menyerap energi dan kekuatan Suho…”

“What?”

“Bukan hanya itu saja… Jika energi dan kekuatannya habis maka Tree of Life akan tidak seimbang kembali… Kekuatan Suho adalah air, dan air adalah salah satu elemen terpenting dalam kehidupan, tanpa adanya air, kita tidak mungkin bisa meneruskan kehidupan, selain itu dia adalah yang membawa setengah jantung Tree of Life dulu selain dirimu…” Luhan menatap lurus kedepan dengan tatapan nanar, tatapan yang menyiratkan sebuah kepedihan yang ia simpan sendiri.

“MWO??!!” Teriak MAMA hampir bersamaan.

“Kalau begitu artinya… jika kekuatan Suho hyung sudah tidak ada itu artinya seluruh perjuangan kita akan sia-sia…” Baekhyun berkata lirih, Chanyeol merangkul pundak Baekhyun untuk sekedar memberi kekuatan bagi sahabatnya walaupun sebenarnya dia sendiri sangat butuh seseorang yang juga memberinya semangat.

“Hyung, apa tidak ada jalan agar energi Suho hyung tidak habis??” Tanya Chanyeol dengan suara beratnya yang langsung membuat Luhan terkisap dari lamunannya.

“Eh? Mm.. Eee… Aniya, tidak ada..” Mata Luhan bergerak ke kiri dan ke kanan seakan menghindari kontak mata dengan para MAMA.

“Hyung berbohong…” Ujar Sehun lirih, Luhan langsung menatap Sehun kaget.

“M.. Mwo? Aniya… aku tidak berbohong, aku benar-benar tidak tau bagaimana agar energi Suho tidak habis…” Luhan mencoba meyakinkan Sehun kalau dirinya tidak berbohong, namun nyatanya, mata Luhan tidak bisa menyembunyikannya.

“Hyung, aku tau hyung berbohong… sekalipun hyung mungkin bisa berbohong kepada mereka tapi hyung tidak pernah bisa berbohong kepadaku, kita sudah bersama cukup lama, dan aku tau semua tentang hyung begitupun hyung yang tau semua tentangku…”

Luhan menatap Sehun dan MAMA lain dengan pandangan nanar.

“Aniya… aku benar-benar tidak berbohong…” Luhan masih kukuh mengatakan bahwa dia tidak berbohong, tapi dia tetap menghindari tatapan matanya dengan Sehun.

“Hyung!! Aku tau hyung berbohong, aku tau hyung mengetahuinya, tidak bisakah kau mengatakannya pada kami??” Sehun berteriak keras, dia mulai kesal, Luhan menggeleng pelan.

“Aku tidak bisa…” Ujarnya lirih, dia menundukkan kepalanya dalam.

“Kenapa? Kenapa hyung tidak bisa mengatakannya?” Nada Sehun melembut, dia menatap Luhan penuh harap, berharap Luhan mau mengatakan caranya karena dia ingin segera mengakhiri semuanya.

“Mianhae Sehun-ah… Aku tidak bisa…” Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Sehun pedih.

“Hyung, apa hyung ingin jagad raya kembali tidak seimbang dan semua makhluk akan musnah? Apa hyung tidak memikirkan itu??” Sehun mengguncang-guncangkan tubuh Luhan, memaksa hyungnya itu untuk mengatakan hal yang disembunyikannya.

“Aku tidak bisa… Sungguh…. Aku benar-benar tidak bisa…” Luhan menangis, dia kembali menundukkan wajahnya dalam.

“Hyung egois!” Desis Sehun kesal, dia menatap Luhan marah.

“Aku memang egois!!!” Balas Luhan berteriak, dia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

“Kau tidak pantas menjadi seorang MAMA…” Desis Sehun dingin. Masih dengan tatapan kesalnya, Sehun mencengkram kerah baju Luhan, matanya berkilat biru beberapa kali.

“CUKUP!! HENTIKAN PERTIKAIAN KALIAN!!!” Kris menarik bahu Luhan dan Sehun kasar, dia memisahkan keduanya sekaligus melerai, Kris menatap kedua orang itu bergantian.

“Kalian berdua dengarkan aku, saat ini Jongin terluka, hentikan dulu pertikaian kalian, sekarang juga kita kembali ke istana!” Perintah Kris tegas, matanya yang setajam elang berkilat biru beberapa kali.

“Tapi Suho-”

“Tidak ada tapi-tapian, sekalipun kau seorang pangeran tapi sebagai MAMA aku adalah pemimpinmu dan kau harus mendengarkanku, kau harus menuruti perintahku!” Kris memotong ucapan Sehun yang hanya dibalas dengusan kesal oleh namja berwajah datar itu.

-***-

Taeyeon memakai kalung berbandul merahnya itu dan menatap kaca, sesekali wajahnya meringis kesakitan akibat luka dari tusukan pedang Heechul tadi, dia memegangi lukanya dan dengan kekuatan kalungnya luka itu perlahan tertutup walaupun masih menyisakan rasa sakit dan perih yang tidak seberapa dibandingkan tadi.

Taeyeon berjalan pelan menuju sangkar emas yang dulu digunakan Kyuhyun untuk mengurungnya, mengingat Kyuhyun hatinya menjadi sakit lagi, sakit karena dia tidak bisa lagi melihat senyuman dari namja berjubah hitam itu.

Taeyeon membuka tirai sangkar itu perlahan dan mendapati Suho yang tergeletak dengan mata terpejam, pedang yang Taeyeon gunakan saat berperang tadi juga masih tertancap didada Suho, pedang itu kini berpendar biru, tanda bahwa pedang itu masih menyerap sisa kekuatan Suho.

“Dengan hilangnya kekuatanmu seluruh jagad raya akan kembali tidak seimbang dan perlahan musnah ‘kan?” Taeyeon berbicara kepada dirinya sendiri, dia memiringkan kepalanya menatap Suho dengan pandangan prihatin.

“Semuanya hanya masalah waktu hingga energimu terserap seluruhnya, semuanya hanya tinggal menghitung hari…”

-***-

Keadaan di istana terasa begitu suram, bahkan Baekhyun yang biasanya tidak pernah bisa diam hanya bisa menyandarkan kepalanya kepada Chanyeol yang dengan setia menjadi sandaran bagi Baekhyun, kedua orang itu kini menjadi dekat, sangat berbeda dengan saat pertama kali mereka bertemu dulu, selalu dilalui dengan pertengkaran kecil yang lucu, tapi seiring berjalannya waktu pertengkaran-pertengkaran kecil itu berubah menjadi sebuah ikatan persahabatan yang sangat kuat, seperti ada tali transparan yang mengikat kedua orang itu untuk selalu bersama.

“Aku lelah… Aku ingin menyerah saja…” Baekhyun melingkarkan tangannya ke leher Chanyeol dan menyembunyikan kepalanya di balik punggung namja jangkung itu, Chanyeol menghela nafas berat dan mengelus punggung Baekhyun perlahan.

“Kita tidak boleh menyerah, kita pasti akan bisa melewatinya!” Chanyeol memberikan energi positifnya kepada sahabatnya itu.

“Molla…” Baekhyun beringsut, dia melepaskan pelukannya dan menatap Chanyeol dengan bibir mengerucut, di mata kecilnya terdapat air yang menggenang.

“Baekhyun-ah, apa kau menangis?” Chanyeol memegangi kedua pipi Baekhyun dan menatap dalam ke bola mata Baekhyun.

Baekhyun tidak menjawab, dia hanya mampu mengekspresikan perasaannya lewat air matanya yang kini mengalir, Chanyeol menghembuskan nafasnya kuat dan langsung memasukkan Baekhyun ke dalam pelukannya, dia mengelus rambut Baekhyun lembut.

“Kalau kau ingin menangis, menangislah… aku akan menjadi orang yang menampung air matamu dan menggantinya dengan senyuman…”

-***-

Jongdae menemani Kyungsoo yang merawat Jongin, selagi Jongin tidur, dia yang mendengarkan seluruh keluh kesah Kyungsoo dan apa yang Kyungsoo rasakan saat ini.

“Jongdae-ah, apa yang harus aku lakukan? Semua ini terjadi kerenaku, seandainya aku dulu tidak membunuh bibi kita pasti sudah kembali di bumi dan hidup normal…” Kyungsoo bercerita dengan sedikit terisak.

“Kyungsoo-ah, kenapa kau terus saja menyalahkan dirimu, ini bukan salahmu… Apa yang dilakukan Sehun kemarin masih tidak cukup untuk meyakinkan bahwa bukan kau yang bersalah?” Jongdae memegang tangan Kyungsoo erat, helaan nafasnya terdengar begitu berat, menggambarkan betapa beratnya beban yang di tanggungnya sekarang ini.

Jongdae sangat mengerti bagaimana hancur dan bingungnya Kyungsoo, perasaan yang sama yang ia rasakan ketika dokter yang merawat ibunya dulu menolak memberikan perawatan karena mereka tidak mempunyai uang, mungkin masalah mereka memang berbeda, namun perasaan yang ada di hati mereka sama, karena perasaan dan hati mereka saling terhubung, hati dan perasaan mereka satu, hati para MAMA.

“Kyungsoo-ah, berhentilah menyalahkan dirimu… sekarang tugasmu hanyalah membantu kami untuk segera mengakhiri semuanya tanpa ada yang terluka atau menghilang, arrachi?” Jongdae menepuk bahu Kyungsoo pelan, Kyungsoo menatap Jongdae dengan tatapan –terima-kasih-, Jongdae tersenyum lembut dan langsung memeluk Kyungsoo, membuat Kyungsoo menumpahkan seluruh air mata kesedihan pada namja berhati lembut itu.

-***-

Yixing berjalan-jalan di istana untuk mencari udara segar, setelah mengobati Jongin tadi dia merasa dia juga perlu mendapatkan healing time dengan menghirup udara segar Sanguinets, dia berjalan di sekeliling taman dan sesekali mencium aroma bunga yang membuatnya rileks, membuatnya sejenak melupakan masalah yang sedang ia hadapi.

Dia melangkahkan kakinya lagi kemudian berhenti di dekat air mancur kecil, Yixing mengambil air itu sedikit untuk membasuh mukanya, saat ia membuka matanya dia melihat Sehun dan Kris yang tengah duduk di bangku taman namun mereka berdua saling diam, seperti ada sekat transparan yang memisahkan kedua orang itu, Yixing melangkahkan kakinya menuju mereka.

“Kris ge!! Sehunie!!” Yixing menyapa kedua orang itu dengan ceria, namun kedua orang itu sama sekali tidak menanggapi sapaannya, mereka bahkan juga masih diam ketika Yixing menempatkan dirinya duduk di antara mereka.

Yixing menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia menatap kedua orang itu bergantian dan mengerucutkan bibirnya, tidak hanya itu Yixing menyandarkan punggungnya ke bangku taman dan melipat kedua tangannya di depan dada.

“Tck, Choding…”

Satu kata dari Yixing itupun langsung membuat Kris dan Sehun menoleh menatapnya, Yixing tidak mempedulikan dua pasang mata yang memandangnya kesal, dia hanya menatap lurus ke depan.

“Masalah ini tidak akan selesai jika kalian saling diam dan menghindar, masalah ini hanya akan selesai jika kita mencari jalan keluarnya bersama-sama…” Ujar Yixing penuh penekanan di setiap katanya, dia melepaskan lipatan tangannya dan menatap kedua orang itu bergantian dan berdiri.

“Aku pergi, sebaiknya kalian pikirkan apa yang aku katakan barusan…” Ujarnya sebelum meninggalkan Sehun dan Kris yang masih diam beberapa saat setelah kepergian Yixing.

“Sehun-ah…”

“Kris hyung….”

Kedua orang itu menyebut nama orang yang ada di sebelahnya hampir bersamaan.

“Kau dulu saja, hyung… kau leadernya…” Ujar Sehun tanpa menatap Kris, Kris menghela nafas berat.

“Sorry…” Kris mengatakan permintaan maafnya dengan lirih, Sehun pun menolehkan wajahnya dan menatap Kris dengan kening mengerut.

“Untuk apa hyung meminta maaf? Harusnya aku yang meminta maaf kepadamu…”

“Tidak, kau tidak perlu meminta maaf, kau sama sekali tidak bersalah…” Kris tersenyum lembut.

“Tapi tetap saja aku membuat keadaan semakin rumit karena pertikaianku dengan Luhan hyung tadi…” Sehun menundukkan wajahnya menyesal.

“Aniya… jika ada yang harus di salahkan, maka orang itu adalah aku, seandainya aku bisa bersikap lebih tegas pasti kalian berdua tidak akan bertikai seperti tadi, dan aku yakin saat ini semuanya pasti akan baik-baik saja…”

Sehun mendongakkan wajahnya menatap Kris.

“Hyung, kau tau ‘kan kalau aku sangat menyayangi dan menghormatimu?” Tanya Sehun tiba-tiba.

“Mm, kenapa memang?”

“Jangan menyalahkan dirimu dan memikul semuanya sendiri, bukankah kami semua ada di sampingmu? Bagilah bebanmu kepada kami agar bebanmu terasa lebih ringan, aku benci melihatmu mengalami waktu sulit…” Kris tersenyum, dia mengacak rambut Sehun gemas.

“Thanks…”

-***-

“Apa kau akan melakukannya?” Tanya Yoona kepada Donghae yang tengah menatap lurus ke luar jendela, dia memandangi anaknya –Sehun- yang tengah berbincang dengan Kris di bangku taman.

“Mm, aku akan melakukannya…”

Tanpa mengatakan apapun Yoona langsung memeluk Donghae dari belakang, dia menangis, Donghae memegangi kedua tangan Yoona yang melingkar di perutnya.

“Kau tau peraturannya… Kau tidak akan bisa-”

“Aku tau…” Potong Donghae cepat.  “Walaupun begitu aku harus tetap melakukannya, aku tidak mungkin menyuruh anak kita, Roxanne…” Lanjutnya.

Donghae melepaskan pelukan Yoona dan berbalik, dia memegangi kedua pundak Yoona dan menatapnya lembut.

“Tapi aku tidak bisa-”

Donghae meletakkan jari telunjuknya di bibir Yoona, membuat Fove-nya itu tidak melanjutkan ucapannya.

“Kau pasti bisa, aku yakin itu…” Ujar Donghae kemudian memeluk Yoona, Yoona menangis.

“Aku benar-benar tidak sanggup Aiden… Aku tidak tau harus menjawab apa jika anak kita bertanya…”

Donghae melepaskan pelukannya dan menatap Yoona lembut, mengusap air di kedua pipi Fove-nya dan memeluknya lagi.

“Roxanne, dengarkan aku… Anak kita sudah dewasa, dia akan mengerti sendiri nantinya…” Ujar Donghae lembut, Yoona mengeratkan pelukannya.

“Aku mencintaimu, Aiden… Sangat…”

-***-

Suho membuka matanya perlahan dan menatap sekitar, dia sadar kalau dia sedang di kurung dan dia yakin kalau yang mengurungnya adalah Taeyeon.

“Arrghh”

Suho mengeram kesakitan, dia kemudian melihat sebuah pedang yang berpendar biru sedang tertancap di dadanya. Suho memejamkan matanya lagi, kini di dalam pikirannya terbayang wajah para MAMA juga Donghae dan Yoona yang tengah tersenyum lembut kepadanya, air matanya menetes, dia membuka matanya dan menatap nanar ke depan.

“Maafkan aku…” Suho bergumam lirih.

Suho kemudian melihat punggung tangan kanannya, air matanya menetes lagi, lambang Droplet miliknya, lambang keagungannya sebagai seorang MAMA kini semakin memudar, dia mengepalkan tangannya lemah dan meletakkannya di dada dengan mata yang terpejam.

Di sisi lain, Tao yang sedang melatih kemampuannya menggunakan pedang di salah satu sudut istana juga memegang dadanya, tatapan matanya tiba-tiba berubah menjadi sendu.

“Ini kesedihan Suho hyung… Aku bisa merasakannya…” Gumannya pada dirinya sendiri.

Tao mendongakkan wajahnya ke atas, masih sambil memegang dadanya, ia menutup mata dan berusaha menghubungi Suho dengan telepatinya, namun koneksi antara mereka seakan terhalang sesuatu yang tidak bisa tertembus. Membuka matanya, Tao menatap langit Sanguinets yang tiba-tiba saja mendung.

“Suho hyung… Aku tau kau saat ini bisa merasakan kesedihan kami… Dan aku tau kau saat ini juga sama sedihnya dengan kami, tapi kau tau kami menyayangimu ‘kan? Uljimayo hyung…”

-***-

Luhan masih terisak di kamarnya saat Minseok masuk, Minseok menempatkan dirinya duduk di sebelah Luhan, Luhan pun mendongakkan wajahnya menatap Minseok dengan matanya yang sembab.

“Sampai kapan kau akan menangis?” Tanya Minseok tanpa menatap Luhan.

“Eh?”

Minseok menolehkan wajahnya.

“Sampai kapan kau akan menangis heuh? Menangis tidak akan menyelesaikan masalahmu…”

Luhan diam, dia hanya memandangi Minseok dengan mata sembabnya.

“Hey! Jangan hanya memandangiku, aku tau kalau aku lebih tampan darimu”

“Tck,” Luhan berdecak, dia pun menyungging senyum tipis di wajahnya berkat lelucon Minseok barusan, Minseok pun menyungging senyumannya sama seperti Luhan.

“Merasa lebih baik?” Tanya Minseok hati-hati, Luhan mengangguk pelan.

“Gomawo…”

Minseok menepuk punggung Luhan pelan, Luhan mengembuskan nafas beratnya, dia menatap marmer yang ia pijak dengan tatapan nanar.

“Luhan…” Panggil Minseok pelan, Luhan mendongakkan wajahnya menatap Minseok. “Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, apa kau mau membaginya denganku?” Minseok bertanya dengan hati-hati.

Sebisa mungkin dia membuat Luhan merasa nyaman agar namja itu bisa dengan leluasa bercerita kepadanya, Luhan menatap Minseok ragu, tapi tatapan Minseok kepadanya seperti mendorongnya untuk percaya kepada namja berpipi chubby ini. Setelah berdebat dengan pikirannya sendiri Luhan berpikir tidak ada salahnya jika dia hanya bercerita kepada Minseok.

“Saat ini memang ada sesuatu yang mengganggu pikiranku…” Ujar Luhan akhirnya, Minseok tersenyum, akhirnya dia berhasil membuat Luhan bicara.

“Apa ini ada hubungannya dengan perdebatanmu dengan Sehun tadi?” Selidik Minseok, Luhan mengangguk.

“Mm,  bahkan hal ini menyangkut dirinya”

“Benarkah? Bolehkah aku mengetahuinya?” Pinta Minseok masih hati-hati, profesinya sebagai mafia dulu ternyata sangat berguna pada saat seperti ini, Luhan menghembuskan nafas beratnya.

“Kau tau energi dan kekuatan Suho yang terserap pedang yang menancap di jantungnya itu ‘kan? Kau juga pasti juga sudah tau tentang akibat hilangnya kekuatan Suho…”

“Mm, aku tau itu, lalu?”

“Sebenarnya….”

-***-

-TBC-

Iklan

37 thoughts on “History of MAMA Chapter 16

  1. makin penasaran…
    cepet dilanjut ya?
    tp tambahin dong momen yoonhaehunnya.. bener2 kepingin baca cerita keluarga lee..
    setelah sehun oppa tau kalau mereka beneran ortu dia…
    keep writing… FIGHTING

  2. hua, penasaran apa yang disembunyyin donghae, yoona, sama luhan…
    apa hubungan’a sama sehun??
    semoga semua’a cepet berakhir tanpa ada yg ngorbanin nyawanya…

  3. huuah knpa hrus tbc, penasaraaaan…….
    knapa luhan oppa gak mau blang trus apa hub nya sama sehun oppa???
    itu donghae oppa mau ngapain lagi???
    ditunggu next part nya yaaa… 🙂

    ohh iyaa, gk nyangka trnyata the covenant ada sequel, kirain kyak gitu aja endingnya…
    gk sabar nih nggu nya, cepet2 di post yaa…..
    gomawo dan mianhae baru bsa komen skarang padahal udah baca semua ff disini… 😥

  4. ya ya ya sebenernya apa itu ? hmm penempatan TBC yg tepat buat penasaran readers ._.
    kenapa sehun berpengaruh sma kekuatan suho ? apa karna dy seseorang yg dilahirkan ? trus maksud donghae menggantikan sehun apa ?
    aigo bener2 penasaran nih ..
    ah part ini sedih :’
    lanjut author ^^
    hwaiting ‘-‘9

  5. Suka part baekyeol nya apalagi pas chanyeol bilang kata” yg terakhir itu wkwk
    kenapa hunhan hrus berantem? Kasihan kan luhannya.
    Uri jongin oppa kenapa dibuat sakit gitu *aduhgarela*
    next cha dtnggu…

  6. Ping-balik: History of MAMA Chapter 17 | Acha's Blog

  7. Ahhh..
    Penasaran knpa tbc disitu..
    Luhan mau ngmng apa?
    Dan terus apa maksud donghae itu
    Sampai membuat yoona menangis..
    Pasti ada rahasia besar yang disembunyiin..
    suho kasian kalau sampai harus kehilangan
    Kekuatannya..
    Ayo dong para mama
    Selamatkan suho..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s