History of MAMA Chapter 18

HoM copy

History of MAMA

Title : History of MAMA

Author : Heen Doongie a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brotherhood, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Cast :

  • Super Junior’s Lee Donghae
  • SNSD’s Im YoonA
  • SNSD’s Kim Taeyeon
  • EXO Member
  • Other (find by yourself)

-History of MAMA Chapter Eighteen-

Summary :

“Aku benci kalian karena Kyungsoo adalah bagian dari kalian, aku benci kalian karena kalian yang telah membunuh Kyuhyun, dan aku membenci kalian karena aku ingin menguasai jagad raya!!”

-***-

Part Sebelumnya -> Chapter 17

Be Aware with typo(s)

Happy Reading ^^

-***-

“PAPA!!!!”

Sehun meneriaki ayahnya keras namun Donghae sama sekali tidak menolehkan wajahnya, dia tidak ingin Sehun dan Yoona tau kalau saat ini ada air bening yang mengalir dari matanya meskipun bibirnya menyungging sebuah senyuman. Jujur… Donghae sama sekali tidak mampu meninggalkan mereka berdua, dan jika dia melihat mereka sekali lagi walaupun untuk yang terakhir kalinya, dia takut dia akan menjadi lemah dan akan menjadi raja yang egois yang lebih mementingkan dirinya di banding kelangsungan planetnya dan jagad raya.

Donghae terus saja melangkahkan kakinya ke tengah danau, kini tinggi air sudah sampai di lehernya, Sehun yang tak sanggup melihat itu berlari menuju ayahnya, dia ingin menahan Donghae untuk lebih ke tengah lagi, Sehun berlari dengan air mata yang mengalir, menciptakan angin semilir yang membawa serta kepedihannya yang merasuk di hati siapa saja yang diterpa angin Sehun.

Terlambat, Donghae sudah menenggelamkan dirinya sepenuhnya sebelum Sehun sempat menggapai ayahnya dan menariknya ke tepi, Sehun jatuh tersimpuh dengan air mata yang makin deras mengalir, kini dia hanya diam memandangi Danau Sicoz yang airnya mulai bergejolak, langit Sanguinets pun mendung, seakan mengerti kalau seorang pangeran di planet itu sedang menangis kehilangan.

Hati Yoona dan para MAMA terenyuh iba, terutama Yoona, sebagai seorang ibu, dia yang paling merasakan kesedihan Sehun yang tak bisa Sehun ungkapkan dengan kata-kata, kesedihan itu hanya bisa terungkap lewat air matanya. Dengan langkah pelan, Yoona menuju Sehun dan memeluknya dari belakang, Yoona menyembunyikan wajahnya dari balik punggung anaknya dan ikut menangis dalam diam.

“Ma… Papa…”

Sehun menatap gejolak air danau itu dengan tatapan nanar, tetes-tetes air matanya masih mengalir di pipi putihnya, baru saja dia merasakan kasih sayang kedua orang tuanya yang telah lama tak ia rasakan, baru saja dia bahagia bisa berpelukan dengan kedua orang tuanya dengan begitu erat, dia masih bisa merasakan kecupan penuh kasih sayang dari Donghae di keningnya, elusan lembut ayahnya di rambut cokelatnya, namun dalam hitungan menit, semua itu kini hanya tinggal kenangan, kini ayahnya sudah pergi meninggalkannya… Lagi.

Masih berkabung dalam kesedihan, dari tengah danau tiba-tiba muncul cahaya yang begitu menyilaukan, cahaya itu bahkan menembus langit Sanguinets yang mendung, perlahan cahaya itu mulai hilang, menyisakan sebuah bola cahaya yang masuk ke dalam tubuh Suho, tubuh Suho berpendar biru, luka tusukan yang ada di jantungnya tertutup perlahan, bukan hanya itu, lambang MAMA-nya yang hampir tak terlihat kini mulai terlihat kembali.

Tubuh Suho melayang, cahaya yang berpendar dari tubuhnya makin terlihat terang, kalung MAMA Suho juga mengeluarkan cahaya biru yang tak kalah terangnya dengan cahaya yang berpendar dari tubuhnya, dari kalung MAMA Suho keluar asap hitam yang menggumpal kemudian melayang pergi entah kemana. Tubuh Suho perlahan turun kembali ke tanah, cahaya biru yang berpendar dari tubuh Suho pun perlahan menghilang.

Bersamaan dengan cahaya matahari yang mulai menembus mendung langit Sanguinets, Suho membuka matanya perlahan. Mengerjapkan matanya berkali-kali, kini Suho bisa melihat apa yang ada di sekelilingnya dengan jelas, Suho mencoba bangun dan duduk, ditatapnya para MAMA yang memandangnya dengan tatapan berbeda, ada beberapa di antara wajah mereka yang senang, namun ada juga yang sedih, dan di antara mereka yang berwajah sedih, terlihat mereka memaksakan senyum mereka untuk menyambut kembalinya Suho.

Suho mengedarkan pandangan dan mendapati Sehun yang menatap danau yang ada di sampingnya nanar dengan air mata mengalir, dia juga melihat Yoona yang memeluk Sehun dengan erat dan sepertinya ikut menangis bersama Sehun, entah kenapa, melihat air mata Sehun membuat hati Suho sangat sakit, apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat namja tanpa ekspresi itu menangis?

“Suho hyung… Selamat datang kembali…”

Suara lembut Kyungsoo menyadarkan Suho dari pikirannya, entah kapan Kyungsoo berjalan, tapi dia sekarang berada di samping Suho dan menjulurkan tangannya kepada Suho, Suho bisa melihat dengan jelas senyum terpaksa Kyungsoo dan kesedihan yang di sembunyikannya, Suho menerima uluran tangan Kyungsoo dan mulai berdiri.

“Kyungsoo-ah, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Sehun dan noona menangis seperti itu?” Tanya Suho sesaat setelah ia berdiri, Kyungsoo menundukkan wajahnya dalam kemudian menatap Suho lagi, dia menghela nafas berat.

“Aku rasa aku bukan orang yang tepat untuk menjelaskannya hyung…” Ujar Kyungsoo lirih, Suho menghembuskan nafas berat dan mengalihakan perhatiannya lagi kepada Sehun dan Yoona.

“Suho…” Kini suara manly milik Kris yang memanggil dirinya, Suho menoleh ke arah sumber suara.

“Ada apa?”

“Bisa bicara denganku sebentar?” Ajak Kris, Suho hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju, dia kemudian mengikuti Kris yang berjalan ke sisi danau yang lebih rindang.

“Aku yakin kau pasti bingung dengan reaksi kami ketika kau telah kembali…” Ujar Kris memulai pembicaraan.

“Mm, aku sangat bingung dengan reaksi kalian, sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Suho dengan tatapan menuntut, Kris menepuk bahu Suho dan menghela nafas berat.

“Donghae hyung… Dia… Dia menukarkan dirinya dengan energi dan kekuatanmu agar tidak hilang… Agar jagad raya tetap seimbang…”

“Apa?” Suho berkata lirih, dia langsung menolehkan wajahnya menatap Sehun dan Yoona yang belum beranjak satu sentipun dari tempat mereka, sedangkan para MAMA lain hanya bisa melihat kedua orang itu tanpa mengerti apa yang harus mereka lakukan.

Sebulir air bening ikut menetes dari sudut mata Suho, tubuhnya terhuyung namun Kris segera memeganginya.

“Apa kau baik-baik saja?” Tersirat sebuah kekhawatiran yang amat besar dari pertanyaan Kris barusan, Suho menggeleng.

“Hatiku tidak baik-baik saja, aku merasa sangat bersalah kepada Sehun…”

“Suho, jangan seperti itu, aku yakin Sehun akan mengerti dengan keputusan ayahnya, Sehun sangat memperjuangkan kelangsungan jagad raya, kau tau? Saat kau masih menjadi tawanan Taeyeon dia sempat bertengkar dengan Luhan karena keputusan Luhan untuk menyembunyikan sesuatu darinya bisa berdampak kebinasaan seluruh makhluk… Sehun akan mengerti, kau tidak perlu merasa bersalah…”

Suho membalikkan badan menatap namja jangkung yang ada di depannya, Kris tersenyum lembut.

“Percayalah…”

Suho menghela nafas beratnya lagi, dia mengangguk. Kris kemudian menggandeng tangan Suho untuk mengkutinya kembali ke para MAMA, para MAMA masih menunjukkan senyum terpaksanya kepada Suho karena mereka masih belum tau bagaimana harus bersikap, dan Suho mengerti itu, jika Suho berada di posisi mereka mungkin dia akan melakukan hal yang sama, mereka memeluk Suho satu per satu sebagai salah satu wujud kebahagiaan mereka yang tidak bisa mereka ekspresikan selain hanya memberi pelukan.

Suho kemudian melangkahkan kakinya pelan, dia memegang pundak Sehun perlahan.

“Sehun-ah…”

Bukan Sehun yang menoleh, namun Yoona, Yoona mendongakkan kepalanya menatap Suho, sedangkan Sehun masih tetap seperti posisi awalnya, menatap nanar ke Danau Sicoz. Yoona menegapkan badannya kemudian mengusap bekas air matanya walaupun masih terlihat jelas.

“Maafkan aku menangis di depan kalian…” Ujar Yoona lembut, dia memaksakan senyumnya kepada Suho.

“Seharusnya aku yang meminta maaf kepada noona… Karena aku Donghae hyung-”

“Tidak apa-apa itu memang sudah tanggung jawabnya, dan aku mengerti akan hal itu…”

“Tapi tetap saja-”

“Sudahlah…” Yoona memotong ucapan Suho. “Aku tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, lagi pula bersamanya untuk beberapa saat kemarin sudah mengobati kerinduanku pada dia… Oh iya, apa kau ingin bicara dengan Sehun? Aku akan meninggalkanmu bersamanya…” Ujar Yoona kemudian berjalan pergi.

Suho menghela nafas beratnya lagi, meskipun dia tidak terlalu lama mengenal Sehun, tapi setidaknya dia sedikit banyak sudah mengerti tentang namja tanpa ekspresi ini, dan Suho cukup tau jika Sehun adalah orang yang sangat keras kepala, meluluhkan hatinya sama saja dengan melubangi batu dengan air, butuh waktu yang lama.

Suho berjongkok dan memegang pundak Sehun sekali lagi.

“Sehun-ah…”

Sehun menoleh, tatapan mereka bertemu dan matanya itu, mata sendunya yang ia warisi dari Donghae kini tergenang oleh air bening yang setiap saat bisa saja mengalir, membuat hati Suho makin sakit dan rasa bersalahnya kepada Sehun semakin besar, tanpa berkata apapun dan tanpa Suho duga, Sehun langsung memeluknya erat.

“Suho hyung… Aku sangat bahagia kau telah kembali… Tapi aku juga sedih… Aku sedih karena aku kehilangan papaku sekali lagi…”

Sehun menangis, entah tangisnya saat ini karena bahagia karena kembalinya Suho, ataupun tangis kesedihan karena sekali lagi dia kehilangan ayahnya, tidak ada yang bisa mengartikan itu.

“Sehun-ah mianhae… Karena aku Donghae hyung-”

“Hyung tidak perlu meminta maaf, aku mengerti kalau ini memang tanggung jawab papaku, dan aku bangga karena dia memilih keputusan yang benar…”

Kini Suho belajar satu hal, namja tanpa ekspresi seperti Sehun juga bisa mengekspresikan perasaannya ketika dia bersedih, ia juga mempunyai hati, dan hati Sehun adalah salah satu hati terlembut yang pernah ia ketahui, selembut hati ibunya, selembut hati Yoona.

Suho mengeratkan pelukannya pada Sehun, rasa sayangnya terhadap namja ini makin besar, bahkan lebih besar dari pada rasa sayangnya kepada dirinya sendiri. Dalam hatinya Suho sangat berterima kasih kepada Donghae, Sehun dan Yoona yang rela mengorbankan keutuhan keluarga mereka demi dirinya, bukan hanya diri demi dirinya sebenarnya, tapi juga untuk kelangsungan jagad raya.

-***-

Taeyeon berjalan mondar-mandir di aula istana sambil memegang sebuah pedang, dia tau kalau racun yang ia berikan di kalung Suho kini telah berbalik kembali ke dirinya, matanya berkilat merah beberapa saat.

Taeyeon melemparkan pedangnya yang tanpa ia sengaja menancap tepat diantara lukisan dua orang bayi yang di yakininya adalah Donghae dan Kyuhyun, entah kenapa sebuah seringaian tiba-tiba menghiasi wajah cantik Taeyeon, dia berjalan ke lukisan itu dan mencabut pedangnya.

“Aku akan ke Sanguinets dan membunuh Yoona dan Sehun…”

-***-

Untuk pertama kalinya, Sehun berkeliling desa di Sanguinets bersama Tao, dia ingin melihat bagaimana warganya hidup kembali setelah peperangan dengan Dark Kingdom berabad-abad silam, dan bagi Sehun ini adalah kesempatannya, selain itu, dia ingin sejenak melupakan kerinduannya kepada sang ayah, Sehun tidak ingin menangis lagi dan membuat kakak-kakaknya khawatir, dia telah belajar dari Yoona untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan, dia ingin menjadi seorang yang dewasa.

Sepanjang perjalanan, setiap orang yang mereka temui pasti akan membungkukkan badan mereka hormat, utamanya kepada Sehun, seorang pangeran yang dengan ramahnya menyapa setiap orang yang di temuinya walaupun ia sendiri tidak mengenal nama mereka.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari dan memberikan setangkai bunga kepada Sehun, Sehun berjongkok menerima bunga itu dan mengelus kepala anak kecil itu lembut, Sehun tersenyum.

“Terima kasih…”

Anak kecil itu tersenyum lebar dan tiba-tiba memeluk Sehun.

“Aku juga berterima kasih kepada pangeran dan para MAMA yang telah kembali dan mengembalikan kehidupan kami…” Ujarnya kemudian melepaskan pelukannya kepada Sehun, Sehun memandang anak kecil itu penuh kasih sayang.

“Siapa namamu?” Kali ini Tao yang bicara, dia juga ikut berjongkok di samping Sehun agar anak kecil itu tidak mendongakkan kepalanya ketika berbicara dengan mereka.

“Namaku Jeno…” Ujarnya lucu, Sehun mencubit pipi anak itu gemas, Jeno memandang Sehun lagi dan memegang pipi Sehun dengan kedua tangannya.

“Pangeran jangan bersedih karena kepergian raja, kami akan selalu ada untuk pangeran…”

Hati Sehun terenyuh, mendapat kasih sayang serta dukungan dari warganya membuat hati Sehun bertambah kuat, Sehun memeluk Jeno sebagai ungkapan terima kasihnya kepada anak itu.

“Sekali lagi terima kasih…”

Tao ikut tersenyum, dia mengelus kepala Jeno lembut, Sehun dan Tao kemudian berdiri dan mengucapkan selamat tinggal kepada Jeno, tapi sebelum mereka meninggalkan Jeno, mereka sempat mencubit pipi anak itu karena keimutannya.

“Kau dengar apa kata rakyatmu tadi? Mereka akan selalu ada untukmu…” Ujar Tao setelah mereka agak jauh.

“Mm, dan aku sangat berterima kasih akan hal itu, tidak hanya kepada mereka, aku juga berterima kasih kepada kesebelas hyungku yang juga selalu ada di sisiku…”

“Tck, hyung? Pernahkah kau memanggilku dengan sebutan Tao hyung?” Decak Tao sedikit menyindir Sehun.

“Itu adalah sebuah pengecualian…” Sehun tertawa kecil, sedangkan Tao, dia hanya mendengus.

-***-

“Noona…”

Kyungsoo memanggil Yoona yang terlihat melamun dan hanya memandang ke luar jendela, untuk sejenak Yoona kaget dan menolehkan wajahnya.

“Kyungsoo? Ada apa?”

“Apa noona tidak apa-apa?”

Yoona tersenyum lembut, dia mengangguk pelan.

“Aku tidak apa-apa, kau jangan khawatir kepada akkhh..”

“NOONA!!!”

Teriakan Kyungsoo di dengar oleh MAMA lain yang ada di dalam istana, mereka segera berlari ke sumber suara, mereka kaget ketika melihat Taeyeon mencekik Yoona dari belakang, dia menyeringai kepada para MAMA.

“Taeyeon, apa yang sebenarnya membuatmu begitu membenci kami?” Kris bertanya dengan emosi yang meluap-luap, bola matanya berubah menjadi biru.

“Aku benci kalian karena Kyungsoo adalah bagian dari kalian, aku benci kalian karena kalian yang telah membunuh Kyuhyun, dan aku membenci kalian karena aku ingin menguasai jagad raya!!”

Para MAMA makin geram setelah mendengar jawaban dari Taeyeon, bahkan Kyungsoo, yang notabene adalah adik sepupu dari Taeyeon kini juga ikut geram, sepertinya rasa sayangnya untuk noonanya telah hilang, rasa sayang di hatinya kini hanya untuk  para MAMA.

Entah apa yang membuat Jongdae menyeringai, tanpa mengatakan apapun, dengan gerakan halus Jongdae menggerakkan tangannya menciptakan petir kecil yang ia arahkan tepat mengenai dada dan kalung Taeyeon.

“Akkkhhh!!!”

Cekikan Taeyeon kepada Yoona terlepas, Yoona pun segera menjauh, Taeyeon memegang dadanya dan menatap para MAMA geram, dia akan menembak para MAMA dengan kekuatannya namun digagalkan oleh tali api Chanyeol yang memukul tangan Taeyeon sehingga membuatnya terluka.

Tak mau ketinggalan, Kyungsoo mengendalikan batu dan menjepit Taeyeon agar tidak bisa bergerak lagi, dengan langkah pelan dia berjalan kepada noonanya itu dan mencabut kalung yang Taeyeon kenakan kemudian di lemparkannya kepada Kris, Kris menangkap tepat kalung itu kemudian menyeringai, dia mengambil pedang kecil pemberian Donghae yang selalu ia simpan di celananya untuk berjaga-jaga, bukan hanya bola mata Kris yang berubah menjadi biru, kini tubuh Kris juga berpendar dengan warna yang sama, dia menancapkan pedang kecilnya tepat di tengah bandul.

“TIDAKKKK!!”

Taeyeon berteriak memilukan, membuat para MAMA sedikit merasa kasihan kepadanya, bayangkan saja, tubuh Taeyeon yang terjepit batu itu kini mulai mengelupas dan hancur perlahan, sama hancurnya seperti bandul kalung yang di hancurkan oleh Kris.

Kini yang tersisa dari Taeyeon hanyalah debunya yang hilang tertiup angin milik Sehun yang baru saja datang bersama Tao, Sehun mengedarkan pandangannya mencari ibunya, dia menemukan Yoona sedang berdiri di salah satu sudut ruangan dengan tubuh yang gemetar, segera saja Sehun menghampiri Yoona.

“Ma, Mama tidak apa-apa ‘kan?”

Yoona menolehkan wajahnya menatap Sehun kemudian menjatuhkan dirinya dipelukan anaknya.

“Ma?”

“Aku tidak pernah setakut ini dalam hidupku… tidak sebelum Donghae pergi…” Ujarnya sambil menangis, Sehun menghembuskan nafas beratnya, dia mengelus-elus rambut ibunya pelan.

“Ma, bukankah kita masih bisa membangkitkan Papa?”

“Kali ini tidak, Nak… ayahmu tidak lagi membagi jiwanya… Dia menciptakan Onew dan Ryeowook kemarin tanpa membagi jiwanya…”

Air mata Sehun menetes lagi, sebelum ini dia memang membayangkan bahwa meskipun Donghae menukarkan nayawanya dengan energi dan kekuatan Suho, dia akan bisa membangkitkan ayahnya lagi bersamaan dengan kebangkitan orang tua MAMA yang lain, namun ternyata itu semua kini hanya menjadi khayalannya yang semu, itu semua hanya menjadi khayalannya yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Di sisi lain, MAMA yang mendengarkan percakapan antara Sehun dengan Yoona juga hanya bisa menghela nafas berat mereka, mereka juga tidak tau apa yang harus mereka lakukan, tapi setidaknya beban mereka kini telah menjadi ringan setelah kepergian Taeyeon.

“Kyungsoo-ah, apa tidak apa-apa kalau noonamu sudah musnah?” Tanya Chanyeol yang penasaran dengan perasaan Kyungsoo saat ini, Kyungsoo mengangguk cepat.

“Mm, aku tidak apa-apa, lagi pula aku sudah mendapat pengganti noona, aku mendapatkan kalian semua…”

Chanyeol dan Kyungsoo sama-sama melempar senyuman manis, sekalipun ada kesedihan di balik senyuman mereka, setidaknya dengan itu kesedihan mereka bisa tertutupi untuk sejenak bukan?

-***-

Baekhyun yang baru bangun dari tidurnya terlonjak kaget ketika melihat Minseok tiba-tiba ada di sampingnya tertidur, dengan hati-hati Baekhyun menggerak-gerakkan bahu Minseok pelan.

“Hyung… Minseokie hyung…”

Minseok menggeliat, dia membalikkan tubuhnya dan menatap Baekhyun dengan bibir mengerucut.

“Ada apa kau membangunkanku?” Dengusnya sedikit kesal, matanya yang masih merah menandakan dia masih belum sepenuhnya pulih dari alam mimpinya.

“Kenapa hyung ada disini?”

“Aku hanya ingin beristirahat, kau tau… aku lelah setelah melihat kemusnahan Taeyeon tadi…” Jawab Minseok dengan suara seraknya.

“Ne??? Taeyeon sudah musnah??? Kapan?? Kenapa aku tidak tau?? Kenapa mereka tidak membangunkanku? Bagaimana bisa hal itu terjadi??” Baekhyun memborbardir Minseok dengan pertanyaan yang ia ajukan dengan setengah berteriak, mungkin bukan setengah, tapi dia memang berteriak kepada Minseok.

Minseok yang malas menanggapi Baekhyun hanya melempari Baekhyun dengan bantal agar mulutnya bisa diam. Baekhyun mendengus, dia segera turun dari ranjangnya dan berkeliling istana, targetnya satu, mencari Chanyeol dan memborbardirnya dengan pertanyaan seperti apa yang ia lakukan kepada Minseok.

Sampai di taman istana, Baekhyun melihat banyak MAMA yang berkumpul di situ, dia pun memutuskan untuk ikut bergabung dengan mereka, dia berdiri di samping Jongin yang sepertinya sangat berkonsentrasi dengan bola cahaya yang ada di depannya.

“Ya! Kkamjong-ah, ada apa ini?”

“Sssstttt” Jongin meletakkan jari telunjuknya di depan bibir mengisyaratkan Baekhyun untuk diam.

“Dasar pelit!!!”

Jongin tidak menanggapi ungkapan kekesalan Baekhyun, dia dan beberapa MAMA lain masih berkonsentrasi dengan apa yang ada di depan mereka, bola cahaya itu tiba-tiba berpencar menjadi beberapa bagian, dan dari bagian-bagian itu, mereka membentuk tubuh yang kemudian memperlihatkan wujud mereka saat cahaya itu hilang.

“Eh? Bukankah itu… Halmoni? Eh? Itu juga Haraboji?” Baekhyun membelalakkan matanya kaget ketika melihat dua orang yang sangat dirindukannya ada di hadapannya.

Baekhyun berjalan pelan menuju dua orang yang memberinya senyum lembut itu, makin dekat Baekhyun makin percaya kalau yang dilihatnya bukanlah khayalan semata, itu memang kakek dan neneknya, dia langsung menghambur ke pelukan kedua orang yang selama ini selalu mendapatkan kesusahan akibat kenakalannya.

Bukan hanya Baekhyun, tapi MAMA lain juga mendapatkan orang tua mereka kembali, dan sama seperti yang mereka perkirakan, orang tua Suho dan Tao berakhir menjadi butiran debu karena gagal menjalankan tugas mereka dengan baik, mereka gagal membuat Suho dan Tao menyayanginya.

-***-

“Orang tua hyungdeul sudah kembali ke rumah mereka masing-masing di Sanguinets?” Tanya Sehun kepada Luhan yang duduk di sebelahnya.

“Mm, mereka sudah kembali ke tempat mereka yang sudah seharusnya, tapi mereka tetap bisa ke sini setiap hari ‘kan?”

“Mm, mereka masih bisa ke istana setiap hari…” Ujar Sehun sedikit lirih, dan Luhan mengerti kenapa Sehun seperti ini, dia pasti sedang merindukan ayahnya, Luhan menghembuskan nafas berat.

“Tapi tetap saja… mereka tidak akan bisa ikut kita kembali ke bumi…” Luhan sengaja mengatakan hal itu agar Sehun merasa bahwa bukan hanya dia yang tidak mempunyai kedua orang tua jika mereka telah kembali, Sehun tersenyum tipis.

“Hyung benar…”

“Sehun-ah, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu…” Ujar Luhan tiba-tiba, Sehun menatap Luhan dengan wajah penuh tanda tanya.

“Mengatakan sesuatu? Apa?”

“Aku ingin mengatakan hal yang aku sembunyikan darimu…”

-***-

-TBC-

Iklan

53 thoughts on “History of MAMA Chapter 18

  1. Bahagia tapi sedih juga :’)
    Knp donghae’a harus mati sii chingu T_T
    Buat mereka semua bahagia ya chingu 🙂
    Aku juga penasaran sama apa yg di sembunyikan oleh luhan

    Di lanjut ya chingu jgn lama2 🙂

  2. Annyeong thor, saya reader baru disini, sebnernya saya blm prnah baca ff exo, tpi brhubung krn ini ada YoonHae ditambah lagi sehun jadi anaknya, saya jd suka *maklum saya YHS tingkat akut 😀
    Donghaenya jgn mati dong thori kembaliin lagi, pngen liat momen yoonhaehun 😦
    Ahya satu lagi, mian baru bisa komen d’part ini, jwosonghamnida *bow 🙂

  3. Ping-balik: History of MAMA Chapter 19 | Acha's Blog

  4. Wah masih ada lagi yang disembunyiin luhan?
    Apa itu?
    Apa masih ada hubungannya dgn donghae?
    Masa donghaenya gk bisa dibangkitin lagi sih..
    Ayo dong bangkitin lagi donghaenya
    Biar sehun sama yoona gk sedih lagi..
    Dan supaya mereka bisa berkumpul kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s