History of MAMA Chapter 20

HoM copy

History of MAMA

Title : History of MAMA

Author : Evilosh_HD a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brotherhood, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Cast :

  • EXO Member
  • Super Junior’s Lee Donghae
  • SNSD’s Im YoonA
  • Other (find by yourself)

-History of MAMA Chapter Twenty-

Summary :

“Luhan hyung membohongiku…”

-***-

A/N:

Chapter sebelumnya -> 19

be Aware with typo(s)

happy reading ^^

-***-

Para MAMA membuka mata mereka dan saling berpandangan, mereka saling melempar senyum bahagia, kini mereka telah ada di taman belakang rumah Sehun.

“Ahhh… Aku merindukan tempat ini…” Ujar Tao yang langsung menghempaskan badannya ke rerumputan, dia menutup matanya merasakan udara bumi yang tidak di hirupnya selama beberapa hari menurut hitungan para MAMA, namun bagi manusia bumi, kepergian mereka ke Sanguinets hanya berlangsung selama sepuluh menit.

Mengikuti Tao, Kris melakukan hal yang sama dengan membaringkan tubuhnya di samping namja yang menguasai wushu itu. Sedangkan MAMA lain lebih memilih untuk menuju kamar mereka masing-masing dan mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah.

Resiko ketika mereka berada di bumi, energi manusia biasa mereka akan kembali dan itu yang menyebabkan mereka bisa merasakan lelah dan lapar, tapi tetap, lambang MAMA dan kekuatan mereka masih mereka memiliki sekalipun mereka telah kembali, karena mereka adalah yang terpilih.

Sehun melangkahkan kakinya pelan menuju kamarnya, dia membuka pintu itu dan menatap barang-barangnya yang masih tetap sama seperti saat terakhir dia meninggalkannya, dia kemudian menuju meja belajar dan mengambil foto masa kecilnya bersama Donghae dan Yoona, seulas senyuman tipis terukir di wajahnya namun ada air mata yang menggenang di sudut matanya.

‘Jangan sedih sayang… Mama dan Papa akan mengunjungimu sesering mungkin…’

Sehun mendengarkan suara Yoona di dalam pikirannya dan membuat senyumnya langsung melebar, dia mengangguk kemudian mengusap air matanya yang belum sempat terjatuh, setelah menghela nafas berat, dia meletakkan foto itu kembali ke tempatnya.

Jongin yang melihat Sehun dari pintu kamarnya tersenyum tipis, dia kemudian masuk kedalam dan menududukkan dirinya di ranjang Sehun, “Apa yang kau lakukan?” Tanyanya.

Sehun menoleh, “Hanya melihat foto kedua orang tuaku…” Jawab Sehun singkat, dia kemudian mendudukkan dirinya disamping Jongin.

“Kenapa Donghae hyung dan Yoona noona tidak ikut ke bumi?”

“Tentu saja karena mereka raja dan ratu di sana, kau tau, mereka yang bertanggung jawab menjaga Tree of Life dan keseimbangan jagad raya…”

Kening Jongin mengerut, “Bukankah keseimbangan jagad raya ada di tangan kita?” Tanya Jongin tidak mengerti.

“Memang… Tapi kita hanya bertugas jika keadaan Tree of Life terancam seperti kemarin… Penjaga sebenarnya tetaplah para Guardian…” Jelas Sehun pelan, Jongin pun menganggukkan kepalanya pertanda ia mengerti.

“Ngomong-ngomong kenapa kau ke kamarku?” Tanya Sehun penasaran.

Jongin menghela nafas berat kemudian menatap Sehun, “Aku hanya ingin melihat keadaanmu, kau tau, aku mulai khawatir kepadamu saat kau kehilangan ayahmu waktu itu, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja walaupun orang tuamu tidak ikut ke bumi…”

Sehun tersenyum tipis mendengar jawaban Jongin, dalam hatinya dia mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada para MAMA yang mengkhawatirkan dirinya, termasuk Jongin yang saat ini berada di sampingnya.

Sehun merangkul pundak Jongin dan tersenyum cerah, “Gomawo… Tapi kau tidak perlu khawatir kepadaku, utuhnya kedua orang tuaku sudah cukup membuatku bahagia sekalipun mereka berada di tempat yang jauh… Lagi pula, ada kalian yang selalu di sisiku…”

-***-

“Luhan-ah, kau ada waktu sebentar?” Tanya Minseok kepada Luhan yang sedang memakan hanwoo di kamarnya.

Luhan menoleh dan menganggukkan kepalanya, “Mm, apa ada yang ingin kau bicarakan denganku?” Tanya Luhan balik dengan mulut yang penuh.

Minseok mengangguk, “Tapi bukan aku saja, yang lain juga kecuali Sehun…” Ujar Minseok pelan.

Luhan mengerutkan keningnya bingung, “Memangnya ada apa?”

“Kau akan tau nanti, sekarang semuanya sudah menunggumu di taman belakang…” Jawab Minseok yang membuat Luhan menghela nafas beratnya.

Luhan meletakkan piringnya di meja kemudian mengikuti Minseok untuk ke taman belakang, dan seperti apa kata Minseok, MAMA yang lain –kecuali Sehun- telah menunggu kedua orang itu, Luhan dan Minseok mendudukkan dirinya di antara MAMA, Luhan memandangi para MAMA satu per satu dengan kening yang mengerut, dia tidak bisa membaca pikiran mereka karena pikiran mereka saat ini terlalu kompleks, membuat Luhan susah menerka apa yang sebenarnya ingin mereka bicarakan.

“Aku mengumpulkan kalian disini karena aku ingin mengungkapkan satu hal…” Ujar Kris membuka percakapan.

Kris menghela nafas berat sebelum mulai melanjutkan perkataannya, “Tadi malam, aku dan Suho sudah membicarakan hal ini dan memikirkannya matang-matang, dan itu untuk kebaikan kita semua…” Kris menjeda ucapannya sejenak. “Kita harus keluar dari rumah Sehun…”

“Apa? Aku tidak mau!!!” Luhan langsung protes setelah Kris mengakhiri kalimatnya.

Kris menghembuskan nafas panjang dan menatap Luhan dengan pandangan lembut, “Luhan, kenapa kau tidak mau? Apa kau tidak berfikir berapa banyak biaya yang harus di keluarkan Sehun untuk menampung kita bersebelas? Apalagi dia memasukkan kita ke sekolah dan kampus paling elite di Korea, apa kau tidak berfikir akan hal itu? Lagi pula kita sudah mempunyai fasilitas dan rumah masing-masing… Kita tidak mungkin menelantarkannya begitu saja…”

Ucapan Kris langsung membuat Luhan diam, Luhan mulai berfikir dan dia teringat apa kata Donghae, orang tua mereka tidak akan lagi merawat mereka ketika mereka telah kembali ke bumi, mereka harus bekerja sendiri dengan memanfaatkan fasilitas yang telah di berikan oleh Donghae sebelum mereka terpilih menjadi para MAMA.

Luhan menundukkan kepalanya dalam, “Tapi aku…”

Minseok yang duduk disebelah Luhan langsung mengelus punggung sahabatnya itu lembut, “Luhan-ah, aku yakin kau tidak ingin mejadi beban untuk Sehun, walaupun kita semua tau bahwa harta Sehun tidak akan habis hanya karena membiayai kita sampai lima puluh tahun ke depan tapi tetap saja… Aku yakin ada saatnya dia akan terbebani dengan kehadiran kita…”

Luhan menatap Minseok dan menggeleng pelan, “Aku tidak bisa meninggalkan Sehunie… Aku tidak tega melihat dia hidup sendiri…” Ujar Luhan dengan suara bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.

“Hyung, bukan hanya hyung saja yang tidak bisa meninggalkan Sehun, tapi kita semua juga seperti itu, tapi mau bagaimana lagi…” Baekhyun ikut mengelus-elus punggung Luhan mencoba menenangkannya, Luhan kembali menundukkan wajahnya dalam.

“Kris hyung, setelah kita keluar dari rumah Sehun kita akan tinggal di mana?” Tanya Jongdae yang mewakili para MAMA dengan pikiran yang sama.

“Bukankah kita mempunyai tempat tinggal masing-masing sebelum kita semua bertemu dan tinggal di rumah Sehun? Lebih baik kita kembali ke rumah kita yang dulu dan mulai bekerja untuk menghidupi diri kita sendiri…” Ujarnya bijak, para MAMA pun menganggukkan kepala mereka pertanda mereka menyetujui apa yang tadi dikatakan Kris, kecuali Luhan tentunya, dia masih berperang dengan hatinya sendiri.

Mata bulat Kyungsoo menatap Luhan prihatin, dia beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju Luhan, “Luhan hyung… Aku yakin kau bisa melakukannya, keluar dari rumah Sehun bukan berarti kau tidak akan pernah melihatnya lagi ‘kan? Kau masih bisa mengunjunginya, entah itu di rumahnya atau di sekolah, kita semua juga masih satu sekolah dengan Sehun, jadi kita tidak benar-benar terpisah, kita keluar dari rumahnya hanya untuk mengurangi bebannya saja…”

Perkataan dewasa Kyungsoo membuat Luhan kembali berfikir, memang apa yang dikatakan  Kyungsoo barusan sangatlah benar, tapi hatinya masih menolak untuk meninggalkan Sehun, dia masih ingat dengan jelas bagaimana Sehun bercerita tentang rasa sepinya ketika mereka baru pertama  bertemu dan mulai bersama-sama mencari MAMA, Luhan tidak ingin Sehun merasa kesepian lagi, dan tangisan Sehun adalah sesuatu yang sangat ia hindari, dia sangat tidak bisa melihat Sehun menangis.

“Hyung, kapan kita akan pindah?” Tanya Chanyeol kepada Kris yang menatap Luhan yang hanya diam.

Kris menghembuskan nafas beratnya, “Kita akan pergi besok, nanti malam kemasi seluruh barang-barang kalian, aku dan Suho akan mengantarkan kalian ke tempat tinggal kalian dulu…”

-***-

Pagi itu, kesebelas MAMA pergi dari rumah Sehun sebelum Sehun terbangun, mereka di bagi menjadi dua, ada yang menaiki mobil Kris, dan satu lagi menaiki mobil Suho, Luhan yang naik mobil Kris hanya bisa menghela nafas beratnya sepanjang perjalanan, dia menatap langit lewat kaca mobil yang makin membuat hatinya sakit, tanpa ia sadari air mata perlahan menetes dari sudut matanya.

Yixing yang duduk di sebelah Luhan menggenggam tangan Luhan erat dan mengusap air mata Luhan, Luhan menoleh menatap Yixing dengan mata yang berkaca-kaca, dia menangis lagi dan memeluk Yixing.

“Aku tidak bisa meninggalkan Sehunie…”

Yixing melepaskan pelukan Luhan, dia menggenggam tangan Luhan erat lagi, “Kau bisa ge… Aku yakin kau bisa…”

Di mobil Suho, para MAMA tenggelam ke dalam pikiran mereka masing-masing, mereka hanya diam dan sesekali menghembuskan nafas berat mereka. Entahlah, hati mereka terasa begitu sakit, mereka seperti sedang menahan beban berat yang entah dari mana beban itu berasal.

-***-

Sehun menggeliat kemudian mencoba bangun dengan mata yang masih setengah terbuka, dia menuju kamar mandi untuk membasuh muka, Sehun melangkahkan kakinya menuju kamar Luhan, dia ingin mengajak namja itu bermain bola karena dia tau kalau Luhan sangat menyukai permainan itu.

“Luhanie hyung…”

Sehun mengetuk pintu kamar dan memanggil nama Luhan beberapa kali, tapi tidak ada sahutan sama sekali dari dalam, Sehun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan mencoba membuka pintu kamar.

Ceklek.

Pintu kamar Luhan ternyata tidak dikunci, Sehun membuka pintu itu lebar-lebar dan mendapati bahwa kamar itu telah bersih dan kosong, Sehun memasuki kamar Luhan dan menggeledah lemari serta laci yang ternyata sudah kosong, air mata Sehun mulai menetes, dia kemudian berlari menuju kamar MAMA lain, memeriksa kamar itu satu per satu namun dia hanya mendapati kamar mereka sama halnya dengan kamar Luhan, tidak ada satupun barang mereka yang tertinggal.

Sehun jatuh terduduk di kamar Tao yang berada di lantai bawah, dia menyembunyikan tangisannya di balik kedua tangan yang menutupi wajahnya namun isakannya terdengar sangat jelas.

“Sehunie…”

Sehun menengadahkan wajahnya melihat siapa yang memanggil, ternyata yang memanggil adalah ayahnya, serta merta ia berlari dan memeluk ayahnya dan mulai menangis.

“Pa… Hyungdeul jahat… Mereka meninggalkanku sendiri… Mereka tidak menyayangiku…” Adu Sehun didalam pelukan ayahnya dan makin menangis.

“Tidak, Nak… Mereka sangat menyayangimu… Jangan menangis…” Donghae menangkan anaknya dengan mengelus-elus rambut Sehun perlahan.

Sehun mendongakkan wajahnya, mata sendu miliknya bertemu mata sendu milik ayahnya, “Kalau mereka menyayangiku kenapa mereka meninggalkanku sendiri?”

“Mereka takut membebanimu jika mereka tetap tinggal disini… Mereka tidak ingin kau merasa seperti itu… Bukankah itu menunjukkan betapa besar rasa sayang mereka terhadapmu? Mereka begitu menyayangimu hingga mereka tidak mau kau terbebani karena mereka…” Jelas Yoona yang tau-tau sudah ada di samping Donghae.

Sehun melepaskan pelukannya kepada Donghae dan menatap kedua orang tuanya bergantian, kedua tangannya mengepal erat, “Mereka salah, justru dengan tidak adanya mereka disisiku akan membuatku makin sakit!!” Sehun menumpahkan segala kekesalan dan kesedihannya dalam bentuk air mata dan teriakan, dia jatuh berlutut.

“Luhan hyung membohongiku… Dia mengatakan kalau dia dan sebelas hyung yang lain akan selalu ada di sisiku sekalipun Papa dan Mama tidak ikut ke bumi, tapi sekarang… Mereka malah meninggalkanku tanpa ada satupun kalimat perpisahan yang mereka ucapkan, bahkan secarik kertas yang bertuliskan selamat tinggal pun tidak ada… Mereka jahat… Aku tidak mempercayai mereka lagi… Aku membenci mereka…” Suara Sehun makin terdengar lirih dan bergetar.

Yoona hanya tersenyum melihat anaknya, dia memeluk Sehun erat, “Sehunie… Kau tidak membenci mereka, Nak… Justru kau sangat menyayangi mereka…”

Sehun menggeleng, “Aku membenci mereka…”

Donghae ikut memeluk Sehun dan mendekap anak dan istrinya erat, “Mamamu benar sayang, kau sama sekali tidak membenci mereka, rasa sayangmu lah yang membuat kau seperti ini… Jika kau membenci mereka, kau tidak akan menangis ketika mereka pergi, justru kau akan tersenyum, tapi nyatanya? Kau bahkan tidak bisa menghentikan aliran bening dimatamu itu… Kau tidak bisa membohongi hatimu sendiri kalau kau sangat menyayangi mereka, Nak…”

-***-

Suho merebahkan tubuhnya di kasur, dia memandangi langit-langit kamarnya dan sesekali menghembuskan nafas berat, dia kemudian bangkit dan menuju meja belajarnya, terdapat beberapa berkas yang tidak dikenali Suho, Suho mengambil berkas-berkas itu dan membalikkan lembaran demi lembaran kertas yang ada ditangannya.

Suho menghela nafas panjang, “Hanya laporan perusahaan…” Gumannya.

Suho menoleh ketika mendengar suara pintu kamarnya terbuka, ternyata Shin Ahjussi, sopir sekaligus orang kepercayaan keluarganya.

Tuan Shin terlonjak ketika mendapati Suho ada di kamar, “Tuan muda? Kapan anda pulang? Saya tidak melihat tuan muda masuk tadi…”

Suho tersenyum, “Aku pulang tadi pagi…”

“Oh…”

Suho kemudian menatap berkas yang ada ditangannya kemudian menatap tuan Shin, dia melakukan itu beberapa kali dan membuat tuan Shin mengerutkan keningnya bingung.

“Ahjussi…”

“Ye?”

“Ahjussi mau tidak mengurusi perusahaan orang tuaku?”

Mata tuan Shin membulat, “Ye??!!”

Suho berjalan mendekati tuan Shin dan menyerahkan berkas perusahaan itu kepadanya, “Aku tau ahjussi pernah mengurusi perusahaan sebelumnya… Lagi pula aku masih terlalu muda untuk mengurusi perusahaan… Tolong jaga perusahaan orang tuaku sampai aku siap…”

“Tap… Tapi tuan muda…”

“Tidak ada tapi-tapian, sekarang mana kunci mobilnya?” Pinta Suho sambil menjulurkan tangannya, tuan Shin pun merogoh sakunya dan memberikan kunci mobil kepada Suho.

“Tuan muda mau kemana?”

“Aku hanya ingin jalan-jalan…”

-***-

“Kris hyung, boleh aku tinggal bersamamu?” Rengek Chanyeol sambil memegangi tangan Kris, Kris menatap Chanyeol dan menghembuskan nafas panjang menghadapi tingkahnya yang kekanakan.

“Boleh saja kau tinggal bersamaku, tapi bagaimana dengan rumahmu?”

“Aku sudah menyewakannya…” Jawab Chanyeol enteng.

Mata Kris membelalak lebar, “Apa??! Kau gila??”

Chanyeol mengerucutkan bibirnya dan menggeleng, “Aku tidak gila hyung… Aku hanya benci sendirian, berada di rumah besar namun hanya seorang diri sama saja dengan burung yang dikurung dalam sangkar emas, kau mendapatkan segalanya namun kau tidak pernah merasa bahagia…”

“Aku yakin Sehun sekarang merasakan apa yang kau katakan barusan…”

Kris dan Chanyeol menoleh menatap Jongdae yang kini meletakkan buku tebal di meja Kris, Jongdae menatap kedua orang itu dan menghela nafas beratnya.

“Kris hyung, apa keluar dari Sehun merupakan pilihan terbaik?” Jongdae menatap Kris dengan mata yang menyiratkan kepedihan dan hal itu membuat hati Kris terasa sakit.

“Tentu saja, apa kau ingin selamanya menyusahkan Sehun?”

Jongdae beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju Kris, dia menepuk pundak Kris pelan, “Aku rasa hyung salah, kita seharusnya ada di sampingnya, bukan meninggalkannya seperti ini, kita bisa menyewakan rumah kita sama seperti Chanyeol dan menggunakan uang itu untuk membiayai hidup kita, kita tidak akan merepotkan Sehun…”

Kris diam, tidak menjawab atau menanggapi perkataan Jongdae barusan, bahkan dia masih diam ketika Jongdae meninggalkannya masuk ke dalam kamar.

-***-

Kyungsoo lebih memilih untuk tinggal dengan Baekhyun, Yixing dan Tao dari pada dengan Suho, dia mengatakan kalau dia ingin mandiri dan tidak bergantung kepada Suho, sebenarnya dia juga ingin mengajak Jongin dan Minseok, hanya saja dia mengurungkan niatnya karena sama saja dia akan menyusahkan Baekhyun, lagi pula Jongin dan Minseok sudah tinggal di rumah lama Minseok.

“Kyungsoo-yah… Aku lapar…” Baekhyun merengek manja kepada Kyungsoo.

Kyungsoo menoleh dan menatap Baekhyun dengan tatapan datar, “Bilang saja kalau kau ingin aku masakkan sesuatu…”

Baekhyun tersenyum cerah, “Aigoo… Kau pintar sekali…”

“Tck,” Kyungsoo berdecak, tapi tetap saja menuruti permintaan Baekhyun untuk memasakkan sesuatu untuknya.

Di sisi lain di rumah Baekhyun, Tao hanya mengawasi Yixing yang berlatih dance, namun ada yang aneh dengan gerakan Yixing, berkali-kali gerakannya tidak sesuai dengan beat lagu yang di mainkan, akhirnya Yixing menyerah, dia mematikan pemutar musik dan menyelonjorkan kakinya.

“Ge, gege kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiran gege?”

Yixing mengangguk, “Aku memikirkan Sehun…” Ujarnya lirih.

Tao menghela nafas panjang, “Ternyata bukan hanya aku yang memikirkan dia…”

Yixing menoleh, dia menatap Tao dengan mata membulat lebar, “Kau juga?”

Tao mengangguk, “Aku bahkan bisa sangat mengerti bagaimana perasaannya… Dia pasti sangat sedih…”

Yixing terdiam, Tao memang yang paling bisa mengerti dan merasakan perasaan MAMA, di balik wajah garang dan kemampuan wushunya yang luar biasa, dia adalah MAMA dengan hati paling sensitive di bandingkan yang lain dan itu yang membuatnya spesial.

-***-

Luhan duduk sendiri di samping Sungai Han, dia hanya memandangi bubble tea yang ada di tangannya tanpa sedikitpun berniat untuk meminumnya. Sesekali kali dia memejamkan matanya merasakan angin yang berhembus, dan angin itu semakin mengingatkan dirinya kepada Sehun.

‘Sehun-ah, di tempat ini pertama kali kita bertemu dan di tempat ini juga untuk pertama kalinya kau tau identitasmu yang sebenarnya…’ Batin Luhan dengan air mata yang mengalir, dia terlalu merindukan Sehun.

“Luhan hyung…”

Luhan membuka matanya dan menoleh.

“Suho? Ada apa kau ke sini?” Tanya Luhan kaget, tak lupa dia juga menghapus bekas air mata yang mengalir dipipinya.

“Entahlah, aku hanya menuruti hatiku dan ternyata aku melihat hyung disini…” Jawab Suho yang menatap lurus ke depan.

“Oh…”

“Hyung sendiri apa yang hyung lakukan di sini?” Tanya Suho balik, dia kini menatap Luhan yang menatap aliran Sungai Han yang ada di depannya.

“Aku hanya bosan di apartment, aku sendirian di sana, kalau seandainya aku berada di rumah Sehun saat ini mungkin aku akan bermain game dengannya…” Ungkap Luhan sedikit bergetar.

“Sepertinya hyung sangat merindukan Sehun…”

Luhan tersenyum tipis, “Aku rasa aku memang sangat merindukannya…”

-***-

Next day…

@Seoul International High School

Sehun memarkirkan mobil sportnya di parkiran yang di sediakan khusus untuknya, membuat murid-murid merasa heran karena ini pertama kalinya mereka melihat Sehun membawa mobilnya sendiri, biasanya dia diantar supir atau yang kemarin-kemarin dia diantar oleh orang-orang yang dia sebut sebagai kakaknya.

Sehun membanting pintu mobil kasar dan berjalan dengan langkah-langkah lebar, siapapun yang melihat Sehun saat ini pasti akan tau bahwa namja berwajah datar itu sedang marah, dia berjalan menuju kelasnya dan menarik tangan Jongin dan Tao kasar, kedua orang itu hanya menurut tanpa mengatakan apapun, mereka sudah memprediksi hal ini akan terjadi. Bukan hanya Tao dan Jongin, Sehun juga menarik Suho, Yixing, Baekhyun, Chanyeol, Jongdae juga Kyungsoo dan mengumpulkan mereka di lapangan sekolah.

“Tunggu aku di sini, kalian jangan coba-coba untuk pergi!” Desis Sehun tajam sebelum meinggalkan para MAMA menuju sebuah tempat menggunakan mobilnya.

Tidak lama, Sehun pun kembali ke lapangan sekolah di sertai dengan tiga orang di belakangnya, mereka adalah Kris, Minseok dan tentunya Luhan, Sehun mengumpulkan kesebelas orang itu dan menatap mereka satu persatu dengan tatapan tajam.

“Kenapa kalian pergi dari rumah tanpa mengatakan apapun?” Tanya Sehun dingin. “Apa kalian tidak tau betapa bingungnya aku setelah kalian pergi? Apa kalian tidak memikirkan perasaanku heuh?” Suara Sehun mulai bergetar.

“Sehun-ah, kami hanya tidak ingin membebanimu…” Jawab Kris pelan, dia melangkahkan kakinya maju dan menepuk pundak Sehun halus.

Luhan yang tanpa di ketahui MAMA lain telah meneteskan air matanya hanya bisa diam, dia tidak tau bagaimana harus bersikap, sebenarnya dia sangat ingin bersama Sehun, tapi setiap kalimat Kris selalu terulang di kepalanya, membuat dia selalu mengurungkan niatnya.

“Membebaniku? Apakah aku pernah mengatakan kalau aku terbebani dengan hadirnya kalian dalam hidupku?” Sehun menangis, mengeluarkan seluruh kesedihannya lewat air mata yang mengalir.

Para MAMA terdiam, muncul rasa bersalah di hati mereka kepada namja berwajah datar itu, apalagi melihat dia menangis seperti ini, rasa bersalah di hati mereka makin bertambah besar.

“Aku tanya kepada kalian sekali lagi, apa aku pernah mengatakan hal itu?” Sehun terisak, dia menundukkan wajahnya dalam.

Dengan langkah pelan, Luhan melangkahkan kakinya dan merengkuh Sehun ke dalam dekapannya.

“Sehunie uljima… Kau tau aku paling benci melihatmu menangis…” Luhan menangkan Sehun walaupun saat ini dia juga sama menangisnya seperti Sehun, Sehun memeluk Luhan erat.

“Hyungdeul jahat… Kalian tega meninggalkanku…” Ujarnya masih terisak, Luhan melepaskan pelukannya kepada Sehun dan menatap Sehun dengan mata yang berkaca-kaca, kali ini dia hanya diam tanpa tau bagaimana harus bicara.

“Sehun-ah, kita tidak benar-benar meninggalkanmu… Kita masih bisa bertemu di sekolah setiap hari, apa itu masih belum cukup untukmu?” Tanya Suho pelan.

Sehun menggeleng, “Aniyo… Aku hanya akan merasa bahagia jika hyungdeul tinggal bersama denganku…”

“Sehun-ah, jika kami tinggal di rumahmu, nanti kau akan-”

“Aku sudah bilang aku tidak pernah terbebani dengan kehadiran kalian!!!” Sehun memotong ucapan Chanyeol sedikit berteriak. “Apakah hyungdeul tau seberapa besar kebahagiaanku ketika satu persatu dari kalian masuk ke dalam kehidupanku? Waktu itu adalah salah satu saat yang paling membahagiakan dalam hidupku… Aku benci sendiri… Aku benci jika aku harus melewati hariku tanpa kalian… Kalian semua telah menjagaku dengan begitu baik dan aku tidak mau kehilangan itu…”

Lagi-lagi Luhan memeluk Sehun erat, membiarkan Sehun untuk menumpahkan kesedihannya kepada dirinya, kalung MAMA Sehun tiba-tiba berpendar biru, diikuti kalung Luhan, dan akhirnya seluruh kalung MAMA berpendar.

Kalung itu memutar memori mereka semenjak mereka baru diciptakan, menjaga Tree of Life dan membagi jantungnya menjadi dua kemudian membawanya ke bumi, hingga akhirnya mereka mengalahkan Dark Lord namun mereka juga harus musnah sementara. Kalung itu kemudian memutar memori mereka ketika pertama kali terpilih menjadi para MAMA dan mulai mencari satu sama lain hingga akhirnya mereka semua berkumpul di rumah Sehun. Memori tentang beberapa hari yang mereka lewati di rumah Sehun membuat hati mereka terenyuh.

Kalung itu memutar kembali bagaimana perjuangan mereka di Sanguinets, tangis, tawa, bahkan tingkah konyol mereka kembali berputar di otak mereka seperti sebuah film, film yang mampu membuat mereka menitikkan air mata.

“Ini adalah pertarunganku dengan dia, kalian tidak perlu melindungiku tapi lindungilah mereka…”

Jangan bersikap egois!!”

“Mereka tidak mempan dengan senjata kita… Bagaimana ini??”

“Kau menangis?”

“Suho hyung menghilang!!!!”

“Kyungsoo-ah, kau tidak perlu menyalahkan dirimu, ini bukan kesalahanmu…”

“Bagaimanapun kalian harus menghadapinya, tapi hati-hati, jangan sampai kalian menyakiti orang yang salah, karena diantara mereka ada saudara kalian, diantara mereka ada Suho…”

“Jika kekuatan Suho hyung sudah tidak ada itu artinya seluruh perjuangan kita akan sia-sia…”

“Kau tidak boleh menyerah, kau mengerti?”

“Aku percaya padamu…”

“Sekalipun ayahmu sudah tidak ada lagi setidaknya kau masih mempunyai kami…”

“Taeyeon sudah musnah?”

“Kemana Heechul?”

“Kau bahagia?”

“Besok kita akan kembali ke bumi… Besok kita pulang…”

“Let’s love…”

Masih memeluk Luhan, Sehun menatap MAMA lain dengan pandangan nanar, “Kita sudah mengalami banyak hal bersama, apa hyungdeul masih ingin berpisah satu sama lain?”

-***-

-TBC-

Iklan

32 thoughts on “History of MAMA Chapter 20

  1. ah, sedih banget.. kenapa harus ninggalin sehun…
    hiks… kan kasihan sehunniee..
    kelanjutannya ditunggu chingu, next!!

  2. Sehun ditinggal pergi sendiri .. tanpa salam perpisahan ..
    Mama harus kumpul rumah sehun lagi kkkk
    Lanjut author ^^/
    Fighting

  3. Aigoo kasian sehunie di tinggal oleh hyungdeul’a 😦
    Apa kalian lupa dgn yel2 yg sering kalian sebutkan??
    ” We Are One ” ingat itu??, kalian semua itu adalah satu dan takkan terpisahkan oleh apapun 🙂

    Di lanjut chingu, aku pnsran bingitt sama kelanjutan’a
    Mudah2an para MAMA berkumpul kembali dgn sehunie 🙂
    Gk tega ngeliat sehun nangis dan tersiksa kya bgtu

  4. Cuup cup, thehun thayang jangan nangith yaa *ini knp jdi ikutan cadel coba?
    Aaah bener kta jongdae, ga sharusnya mreka ninggalin pacar ane tercinta, dianya jadi mewek kn? Udah ga tnggal sma emak bapaknya eeh abang*nya jg ninggalin dia
    Balik cepet sono, kathian magnae 😀

  5. Ping-balik: History of MAMA Chapter 21 [END] | Acha's Blog

  6. Hiks.. hiks..
    Sedih deh jadi sehun
    Knpa sehun ditinggal sendiri..
    Kan masih banyak cara untuk menyelesaikan masalah..
    Tp knpa harus pergi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s