Promise and Responsibility Chapter 1

PAR

 

Promise and Responsibility

Title : Promise and Responsibility

Author : Evilosh_HD a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Brotherhood, Friendship,Action.

Lenght : Chaptered.

Cast :

  •          Oh Sehun as Kim Sehun
  •          Luhan as Kim Luhan
  •          Suho as Kim Suho
  •          Kai as Jung Jongin
  •          Kris as Kris Wu
  •          Chanyeol as Park Chanyeol
  •          Another EXO’s member

Support cast:

  •          Lee DongHae (Super Junior)
  •          Im YoonA (Girls Generation)
  •          Lee Jinki (SHINee)

Summary :

“Would you promise to your mom that you always protect your little brother?”

-***-

A/N :

One of the teaser is out!!

Happy Reading ^^

-***

Suara ledakan dan timah panas yang saling memburu terjadi di salah satu sudut kota New York, terlihat seorang wanita yang tengah menggendong anaknya yang masih bayi dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan anaknya yang berusia dua tahun, mereka bertiga bersembunyi di kamar rumah mereka, menghindari timah panas serta percikan-percikan material yang bisa saja melukai atau bahkan membunuh mereka.

Anak kecil berusia dua tahun itu bersembunyi di balik ibunya ketika sebuah ledakan keras terjadi di dekat rumah mereka dan menimbulkan kobaran api yang amat besar, sang ibu langsung berjongkok dan merengkuh anaknya yang kini menangis ketakutan.

“Mom… I so scared… Where is daddy?”

Sang ibu merengkuh anaknya lebih erat, “Don’t be scared honey, Mom always beside you… Your daddy will return soon, and he will bring us to safer place than here…” Sang ibu mengecup puncak kepala anaknya pelan, sedangkan sang anak tersenyum manis kemudian mencium pipi ibunya.

“Thanks mom, I’m not scared anymore…”

Lagi-lagi ibu anak kecil itu tersenyum lembut, dia mengelus puncak kepala anaknya pelan, “Luhan… Would you promise something to me?” Tanyanya pada anaknya yang bernama Luhan.

Luhan kecil mengangguk, “Anything, Mom…”

“Would you promise to your mom that you always protect your little brother?” Pinta ibunya lembut.

Luhan mengacungkan jempol kecilnya kepada sang ibu sebagai jawaban, “Yes mom, I promise, I will always protect him, I will always protect Sehun…” Ujarnya kemudian mencium pipi adiknya yang masih pulas tertidur di gendongan ibunya.

“Tck, He’s really sleep well even in situation like this…” Decak Luhan yang heran karena bisa-bisanya Sehun tertidur pulas dalam kondisi yang mencekam, Luhan menggembungkan pipinya lucu, sang ibu kembali merengkuh Luhan dan menciuminya penuh kasih sayang.

BRAKK

Pintu kamar yang awalnya tertutup rapat bahkan terkunci itu itu tiba-tiba terdobrak dan terbuka dengan keras, segera saja sang ibu tadi mengeratkan dekapannya kepada Luhan yang terlihat benar-benar takut, bahkan di mata beningnya kini menggenang air yang bisa mengalir kapan saja. Seseorang pria yang mengenakan jaket kulit hitam tiba-tiba muncul dari balik pintu dan menodongkan pistol kepada ibu Luhan, sebulir air mata mulai mengalir di pipi wanita cantik itu.

“Finally I found you… My boss would be very pleased if I kill your sons and bought you to him, Seohyun…” Ujarnya dingin, seringaian menyeramkan juga tak luput dari wajahnya yang sebenarnya tampan.

“Don’t kill my sons… I will go to him by my own foot but with one condition, you should keep my sons alive…” Ujar Seohyun sambil menangis.

Pria tadi itu menggeleng pelan dan berdecak prihatin, “Tck, if that so, I’ve no choice but kill you three…”

“NO!!!”

Dorr dorr dorr

Tiga kali tembakan timah panas mengenai kepala, dada dan perut pria berjaket kulit hitam itu, darah segar langsung mengucur dari tubuh pria itu, dengan sisa-sisa kekuatannya, dia menoleh melihat siapa yang menembaknya.

“You…”

“Don’t you dare to kill my wife and my sons, Peter!!” Ujar sang penembak yang ternyata adalah suami dari Seohyun.

Dorr

Suami Seohyun sekali lagi menembakkan timah panas yang tepat mengenai kepala pria bernama Peter yang langsung membuatnya menghembuskan nafas terakhir, dengan tergesa-gesa dia langsung berlari kepada anak dan istrinya yang masih meringkuk ketakutan, terutama Luhan yang menyembunyikan wajahnya di dada ibunya sambil menangis.

“Luhan, are you alright baby?”

Luhan menoleh dan langsung memeluk ayahnya, “I’m alright, Dad… But I’m so scared…”

Ayah Luhan mengelus-elus kepala putranya pelan, “It’s okay, now… Don’t be scared anymore, Son…”

Dorr

Satu tembakan kembali terdengar jelas yang langsung membuat ayah Luhan menoleh, di lihatnya dada Seohyun kini sudah mengucurkan darah merah segar, sedangkan Sehun yang ada di gendongannya mulai menangis keras, di belakangnya ada seseorang yang menggunakan topeng dan langsung pergi.

Dorr!

Suami Seohyun meluncurkan timah panasnya namun sepertinya tidak tepat sasaran, terbukti dengan hanya terdengarnya sebuah pecahan gelas tanpa adanya teriakan.

“Uhukkk” Seohyun batuk dan memuntahkan darah segar dari mulutnya yang membasahi selimut bayi yang di gunakannya untuk menjaga Sehun tetap hangat di gendongannya.

“Seohyun!!”

“Mommy!!”

Kedua orang itu langsung menghambur, suami Seohyun langsung memegangi istrinya yang limbung, tapi mata Seohyun masih menatap suaminya dengan  penuh kasih, bahkan pada saat ini, saat dimana sang dewa kematian sebentar lagi akan menjemputnya. Suami Seohyun menyandarkan punggung istrinya ke pinggiran ranjang dan menggendong Sehun yang masih saja belum berhenti menangis, tangisannya malah makin keras dan kini di ikuti oleh Luhan walaupun tidak sekeras tangisan Sehun.

“Kris… Please save our children… I think I can’t hold it any longer…”

“Don’t say something like that, you’ll be survive, you are not going to die…” Kris terisak, dia mengelus pipi istrinya pelan.

Seohyun hanya diam dan tetap memandang suaminya dengan penuh kasih walaupun butiran bening yang keluar dari sudut mata indahnya itu masih setia mengalir, perlahan kelopak mata Seohyun mulai menutup hingga akhirnya benar-benar tertutup rapat, Kris makin menangis kemudian merangkul Luhan.

“Luhan… Mommy was gone, son… Mommy was gone…” Ujarnya dengan suara bergetar, Luhan balik merangkul ayahnya dengan tangan-tangan kecilnya dan ikut menangis bersama ayah dan adiknya.

“Kris!!!”

Kris mendongakkan kepalanya melihat siapa yang memanggil, yang memanggilnya adalah Suho, sahabat terbaiknya selama ini di FBI, kedua orang itu memang anggota FBI yang sudah bekerja sama selama kurang lebih sepuluh tahun, dan ini pertama kalinya mereka di serang karena yang mereka selidiki kali ini adalah gembong mafia dari Rusia yang secara terang-terangan mengatakan bahwa dia menyukai istri dari kedua orang itu.

Suho terpaku ketika tanpa sengaja menatap tubuh bersimbah darah Seohyun yang mulai memucat, “Kris… Your wife… She’s…” Suho tak mampu melanjutkan ucapannya karena melihat mata tajam sahabatnya itu sembab, di tambah bibir Luhan kecil yang bergetar dengan mata yang tergenangi cairan bening, kedua mata indah yang ia warisi dari ibunya itu menyiratkan kesedihan yang mendalam membuatnya seakan kehilangan kata untuk bicara.

Kris mengangguk dan mengeratkan pelukannya kepada Luhan, ayah-anak itu kembali menangis tanpa suara, Suho melangkahkan kakinya pelan dan menepuk bahu Kris, dia sangat mengerti bagaimana perasaan Kris karena dia memang juga mengalaminya. Dua hari lalu, istri Suho yang bernama Luna juga di bunuh, padahal dia dan istrinya baru saja menikah selama tiga bulan, walaupun itu adalah salah satu pukulan terberat dalam hidup Suho, tapi Suho adalah sosok yang kuat, dia hanya berkabung beberapa saat namun setelah itu dia kembali menjalankan tugasnya seperti biasa walaupun dengan hati yang berat.

Kris menegapkan tubuhnya kemudian menatap Suho memelas, “Suho, would you do something for me?”

“What’s that? What can I do for you?”

“Please protect my sons, I’ll go to someplace and try to find a way to destroy Igor Lewis and his people…”

“What? Are you crazy? How can you ask me to do something hard like that?”

“Please, Suho… You’re the only person whom I can trust… Please…”

Suho menghela nafas berat kemudian mengangguk, Kris tersenyum dan memeluk sahabatnya itu sejenak sebelum menyerahkan Sehun kepadanya. Suho menerima Sehun dengan sangat hati-hati karena bayi itu masih berumur dua bulan.

“Suho, you know that I have a big company in South Korea, take my sons there, change their last name and raise them well until I comeback, until that time… You have to raise them strong and unbeatable like their father, but soft-hearted like their mother…” Ujarnya kemudian berdiri.

Saat Kris melangkahkan kakinya, Luhan kecil menarik salah satu sudut baju ayahnya, Kris menoleh dan berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan anaknya yang masih berusia dua tahun tersebut.

“What’s up baby?”

“Where are you going daddy? Are you going to leave me and Sehun just like mom?” Tanya Luhan dengan mata berkaca-kaca.

Kris menggeleng pelan, “Luhan… It just for a while, not forever son… Daddy will coming back after daddy find a way to repay your mother’s death… Until then, you’ll live with Uncle Suho, he will be your second dad…”

“But…”

“Ssshh…” Kris meletakkan jari telunjuknya di bibir mungil Luhan, “Baby… You’ve to obey all what your daddy’s said… Okay?”

Luhan tidak menjawab, dia hanya memeluk ayahnya erat sebelum sang ayah pergi meninggalkan dirinya, Sehun dan Suho. Suho yang sampai saat ini masih menggendong Sehun yang kini kembali tertidur menggenggam tangan kecil Luhan erat. Luhan menoleh dan mendongakkan wajahnya menatap pria yang akan menjadi ayah keduanya.

Suho tersenyum lembut kemudian berjongkok, “Luhan… You and your brother are my responsibility now… I’m not going to be your uncle anymore, but I will be your daddy, and I’ll always protect you and Sehun as my promise to Kris until he’ll return, and now… Call me Appa, Son…”

Mata Luhan berkaca-kaca dan mulai menitikkan air mata, dia langsung menghambur memeluk Suho erat, “Appa…”

-***-

17 years later…

Seoul, South Korea.

BUGG

Tinjuan demi tinjuan terus dilontarkan oleh namja tampan yang tubuhnya mulai dibasahi keringat itu, rambut cokelatnya yang pagi tadi masih tertata dengan rapi kini sudah tak beraturan lagi, begitupun seragam sekolahnya, namun dia tidak memperdulikan hal itu, mata tajamnya hanya fokus pada tiga orang yang menyerangnya saat ini.

Tiga lawan satu, mungkin sangat tidak seimbang bagi orang awam yang melihat, namun tidak bagi mereka yang mengenal namja tampan berambut cokelat itu, semua orang tau bahwa namja berambut cokelat itu memang hobi berkelahi dan biang onar paling berprestasi di sekolah, termasuk namja bermata bulat yang memar dibeberapa bagian wajahnya yang meringkuk di salah satu sudut tempat keempat orang itu berkelahi, mata bulatnya tidak hentinya bergerak mengawasi setiap pergerakan namja berambut cokelat yang menyelamatkannya itu.

BUGG

Namja itu meninju perut lawannya hingga lawannya itu tersungkur, lawannya yang lain mencoba menyerangnya dari belakang menggunakan balok kayu, namun matanya yang awas sudah memprediksi hal itu terjadi, dengan sebuah tendangan keras, namja itu menjatuhkan balok kayu sekaligus lawannya, kini hanya tinggal satu orang yang menatapnya penuh kebencian.

“Sudah berapa kali aku bilang kepadamu untuk tidak mengganggu siswa yang lemah, heuh?” Tanya namja berambut cokelat tadi dengan nafas yang menderu.

“Apa hakmu mencampuri urusanku, heuh??!!” Balas lawannya tidak kalah sengit.

“Aku sama sekali tidak berniat mencampuri urusanmu, tapi aku tidak pernah tahan jika melihat orang lemah di siksa, dan kau tau, dengan kau menyiksa mereka yang lemah itu menunjukkan kalau kau sama lemahnya dengan mereka, kau pengecut!!”

“Tutup mulut besarmu itu, Kim Sehun!!!”

Lawan Sehun menggeram, dia mengambil balok kayu yang bersiap di pukulkannya kepada namja yang ada di depannya saat ini, Sehun hanya memasukkan kedua tangannya ke saku celana menunggu serangan, dia tidak perlu mengeluarkan terlalu banyak tenaga karena arah serangan lawannya ini sangat mudah dibaca.

“Kim Sehun!!! Park Chanyeol!!! Hentikan perkelahian kalian sekarang juga!!”

Kedua orang yang sedang bersitegang itu menoleh ke arah sumber suara.

“Sial!” Umpat lawan Sehun yang ternyata bernama Chanyeol itu, Chanyeol melempar balok kayu yang ada di tangannya ke tanah, sedangkan Sehun masih sama seperti tadi, bersikap begitu santai dengan kedua tangan yang di masukkan ke saku celana.

“Kalian berdua ikut aku ke kantor sekarang juga!!”

“Jinki seonsaengnim, aku rasa selagi kau menggiring kami ke kantor kau harus memanggil orang lain untuk membawa mereka ke UKS…” Ujar Sehun sambil mengarahkan dagunya kepada dua orang yang terkapar di tanah. “Oh iya, aku rasa si mata bulat itu juga harus di bawa ke UKS juga…” Lanjutnya sambil menunjuk namja bermata bulat yang masih meringkuk dengan setia di sudut tempat itu.

Jinki menghela nafas panjang, “Kim Sehun… Kapan kau akan berhenti membuat masalah?” Ujarnya lirih, sedangkan Sehun, dia hanya mengendikkan bahunya dan memberikan senyuman manis yang di buat-buat kepada guru matematikanya itu.

-***-

“Seonsaengnim, anda memanggil saya?” Tanya Luhan sesaat setelah ia tiba di kantor guru, lebih tepatnya ada di meja Jinki. “Eh? Sehunie?” Ujar Luhan kaget ketika mendapati adiknya juga ada disitu, tentu saja dengan penampilan yang sudah sangat berantakan.

“Kim Luhan, adikmu berkelahi lagi tadi…” Ujar Jinki sambil menyerahkan sepucuk surat yang sudah mereka ketahui apa isinya, surat panggilan orang tua.

“Jweseonghamida seonsaengnim, lain kali saya akan lebih mengawasi adik saya…” Ujarnya meminta maaf.

Jinki mengangguk pelan, “Geurae… Sekarang kau dan adikmu boleh pergi…”

“Ne, gomapseumida…” Ujar Luhan sedikit membungkuk, dia menarik tangan Sehun dan mengajaknya keluar, sedangkan Sehun hanya mengikutinya dengan malas.

Luhan dan Sehun tidak kembali ke kelas mereka tapi malah menuju lapangan sepak bola, mereka mendudukkan diri mereka di tempat penonton. Luhan merogoh sakunya dan mengambil plester dan botol alcohol kecil serta kapas yang memang selalu ia sediakan untuk mengantisipasi hal seperti ini, Luhan mengusap luka Sehun dengan alcohol terlebih dahulu sebelum memasangkan plester dengan hati-hati di pipi Sehun yang tergores agar tidak terjadi infeksi.

“Kali ini siapa yang kau tolong?” Tanya Luhan sambil kembali merapikan bekas peralatannya mengobati Sehun barusan.

“Aku tidak tau namanya, yang ku tau dia mempunyai mata yang bulat…” Jawab Sehun pelan, Luhan hanya tersenyum mendengar jawaban adiknya.

Sehun mengamati kakaknya dengan tatapan yang sulit diartikan, kakaknya selalu seperti ini, dia selalu mempunyai pikiran yang berbeda dengan orang-orang sekitar maupun guru-guru yang mengincarnya untuk dihukum, dan dia akan selalu menanyakan pertanyaan yang sama ketika melihat beberapa luka memar yang menghiasi wajah tampan Sehun.

“Hyung, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” Ujar Sehun tiba-tiba, Luhan mengangguk mengiyakan. “Hyung, kenapa hyung tidak pernah marah saat aku berkelahi?”

Luhan tersenyum tipis mendengar pertanyaan adiknya, dia menghela nafas berat sebelum menjawab pertanyaan Sehun, “Karena kau akan membutuhkannya nanti…”

Kening Sehun mengerut, dia sama sekali tidak mengerti dengan jawaban Luhan barusan, “Maksud hyung?”

“Sudahlah, lagi pula kau berkelahi karena membela yang benar dan bagiku itu tidak masalah, setidaknya bela diri yang kau pelajari sejak kecil ada gunanya…”

“Tck, bagaimana dengan hyung? Hyung juga sama-sama belajar bela diri denganku, belajar menembak dan masih banyak lagi ilmu pertahanan diri yang kita pelajari bersama, tapi kenapa hyung tidak pernah mempraktekkannya secara langsung?”

Luhan menghela nafas beratnya lagi, “Karena aku mempersiapkannya untuk yang lebih besar…”

“Apa?” Sehun mengerutkan keningnya makin tidak mengerti.

“Tidak ada… Oh iya, kau mau ikut aku dan Donghae seonsaengnim ke kedai bubble tea langganan kita sepulang sekolah nanti?” Tanya Luhan mengalihkan kebingungan Sehun dan sepertinya itu sangat berhasil, mata Sehun langsung berbinar senang.

“Tentu saja!!”

-***-

-TBC-

Iklan

48 thoughts on “Promise and Responsibility Chapter 1

  1. sedikit kaget mdengar seo nyebut nama kris 😦
    tph yy tak apa lah 😥
    hmmm apa pas kris balik sehun thu siapa dy?
    apa pas kris balik luhan ingat siapa dy?
    apa pas kris balik, dy mjadi tua?
    kkk
    lnjutin 🙂

  2. aku kira hunhan anaknya yoonhae 😀
    yoonhae jadi apa mreka disini ? hmmm
    eh iyaa yg ngebunuh seo sapa ?
    kriss prgi kmana dia ? anaknya uda gde kris ga ada kabar :O
    lanjut author ..

  3. Ping-balik: Promise and Responsibility Chapter 2 | Acha's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s