Believe (1/3)

Believe

Believe

Title: Believe.

Author: Evilosh_HD a.k.a @Cha_FishyHae

Genre: Brotherhood, a little bit action.

Lenght: Three Shoot (1/3).

Cast:

  •          EXO’s Xiumin as Kim Minseok.
  •          EXO’s Chen as Kim Jongdae.
  •          EXO’s Kris as Chief Police.
  •          Some EXO’s members.

-***-

A/N :

FF ini terinspirasi dari foto XiuChen yang ga sengaja berjalan-jalan di dashboard tumblr author, kekeke~

Senyum mereka itu loh bikin gemes :3

Be Aware with typo(s)

Happy reading ^^

-***-

“Hyung, jangan bekerja terlalu keras, kau bisa sakit nanti…” Ujar Jongdae sambil memijit-mijit kaki Minseok –kakaknya- pelan.

Minseok tersenyum tipis dan menepis tangan Jongdae lembut dari kakinya bermaksud agar Jongdae berhenti memijitnya,“Kalau aku tidak bekerja keras, kita mau makan apa nanti?”

Jongdae menghela nafas beratnya, “Tapi aku ‘kan juga bekerja hyung, aku akan membantumu sebisa mungkin agar meringankan bebanmu…” Ujarnya dengan mata sendu.

Minseok mengacak rambut Jongdae pelan, “Jongdae-yah, aku sangat bersyukur tuhan memberiku adik sepertimu…”

Jongdae hanya tersenyum tipis tanpa menanggapi perkataan Minseok barusan, dia kemudian melemparkan pandangannya ke luar rumah, menatap bulan yang bersembunyi di balik mendung malam dan menghembuskan nafasnya berat.

Pikiran Jongdae kembali melayang ke masa di mana kedua orang tuanya dan Minseok masih hidup, sekalipun mereka bukan orang kaya namun mereka bahagia, mereka tidak memerlukan banyak uang untuk membuat sebuah senyuman tulus menghiasi wajah mereka. Bukan berarti sekarang Jongdae tidak bahagia, dia masih bahagia karena kakaknya yang begitu menyayangi dirinya, hanya saja tanpa adanya kehadiran seseorang yang ia panggil ‘ayah’ dan ‘ibu’ membuat hidupnya terasa kurang.

“Jongdae-yah, apa yang kau lamunkan?” Tanya Minseok yang menyadari adiknya diam terlalu lama.

“Aku hanya teringat ayah dan ibu…” Jawab Jongdae tanpa menatap kakaknya.

Jongdae mendengar kakaknya menghela nafas berat kemudian merasakan tangan hangat kakaknya menyentuh pundaknya. Kedua orang itu pun saling diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

-***-

Jongdae bangun jam empat pagi untuk mengantar koran, ini memang salah satu pekerjaan sampingannya selain bekerja menjadi penjaga toko buku di daerah Insadong, sebelum berangkat, Jongdae sempat membuatkan kopi untuk Minseok yang masih tertidur pulas, mungkin Minseok terlalu lelah bekerja.

Jongdae meletakkan kopi buatannya di dekat kasur lipat Minseok, Jongdae tersenyum mendapati wajah polos kakaknya ketika tidur, dia kemudian membenarkan selimut Minseok dan mulai berangkat bekerja.

Jongdae mengayuh sepedanya dan melemparkan koran ke halaman masing-masing rumah yang tercatat sebagai pelanggan koran dengan senyum mengembang, “Ternyata menjadi pengantar koran menyenangkan juga!” Ujarnya pada dirinya sendiri.

Jongdae pun melanjutkan pekerjaannya hingga sang matahari mulai muncul dari peraduannya untuk memberi kehangatan pada dunia. Setelah selesai mengantarkan seluruh korannya, Jongdae pun pergi ke pusat pendistribusian koran untuk mengambil gajinya kemudian melanjutkan pekerjaannya menjaga toko buku di Insadong.

Di sisi lain, Minseok mulai menggeliat pelan ketika sinar matahari menembus lewat celah-celah rumah kecilnya dan membuat matanya silau, dengan malas Minseok bangun dan mengusap-usap matanya pelan, dia kemudian mengedarkan pandangannya mencari jam dinding, matanya seketika membelalak.

“Ya ampun!!! Jam 7!! Aku bisa terlambat!!” Teriaknya heboh kemudian segera beranjak ke kamar mandi.

Rasanya tidak sampai lima menit Minseok mandi kemudian mengganti bajunya menjadi seragam seorang office boy, saat dia akan memakai sepatunya, dia mendapati kopi yang ada di samping tempatnya tidur tadi, dengan cepat Minseok meminum kopi itu namun ekspresinya terlihat begitu aneh setelah meminumnya.

“Jongdae ternyata masih belum bisa membuat kopi yang enak” Gerutunya kemudian kembali bergegas menuju tempatnya bekerja.

-***-

-Police Office-

Kepala polisi berambut blonde itu mengamati berkas-berkas yang tadi di berikan anak buahnya kepada dirinya, matanya yang tajam mengamati dengan sangat detail pada setiap informasi yang tertera dilaporan itu. Beberapa saat kemudian dia menutup berkas itu dan mengamati anak buahnya.

“Polisi Kim, ikut aku ke daerah Insadong!” Perintahnya kepada salah satu polisi yang bernama Kim Jongin.

“Siap, Pak!” Ujar polisi Kim tegas.

Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil Kris –kepala polisi yang berambut blonde tadi- tadi menuju ke daerah Insadong, lebih tepatnya ke pusat kota, kedua orang itu hanya diam di sepanjang perjalanan karena mata mereka fokus menyisir daerah yang mereka lewati, mungkin saja mereka menemukan target yang mereka cari.

“Pak kepala, bukankah itu Xi Luhan?” Tanya Jongin yang melihat seorang pria yang menutupi wajahnya dengan topi hoodie biru miliknya.

Kris pun segera menghentikan mobil dan melihat ke arah yang di tunjukkan oleh Jongin, mata tajamnya mengamati pria itu dan kemudian membelalakkan matanya, “Kau benar, cepat ambil pistolmu dan bekuk dia!!” Perintah Kris yang langsung mengambil pistolnya dan keluar dari mobil, begitu pun Jongin.

“Hey yang di situ!!! Angkat tanganmu!!” Teriak Kris.

Pria bernama Xi Luhan itu menolehkan wajahnya dan membelalak kaget ketika melihat dua orang polisi sedang mengarahkan pistol mereka kepadanya, dengan segera pria bernama Xi Luhan itu berlari yang langsung di ikuti oleh Kris dan Jongin.

Luhan berlari menuju bekas pasar lama yang sudah tidak terpakai lagi dan itu sangat menguntungkan bagi dirinya yang sangat hapal dengan daerah itu karena markas bosnya bertempat disitu juga, Luhan pun dengan lincah mencari celah menghindari kejaran Jongin dan Kris yang berkali – kali menembakkan pistol mereka namun tetap tidak mengenai sasaran.

Kris dan Jongin melihat Luhan berlari ke arah kiri dan mengikutinya, namun betapa kagetnya mereka ketika mendapati bahwa di sana hanyalah jalan buntu, Kris dan Jongin kemudian mencari Luhan dengan menyingkirkan berbagai kardus dan berbagai hal lain yang bisa dijadikan tempat persembunyian namun nihil, mereka berdua tidak menemukan apa-apa.

“Sial! Kemana perginya anak itu tadi?!” Runtuk Kris kesal sambil menendang tumpukan kardus tak terpakai, dia kemudian menatap Jongin. “Polisi Kim, sebaiknya kita telusuri kembali tempat ini, siapa tau kita bisa menangkapnya!” Ujarnya yang dibalas hormat oleh Jongin.

-***-

Minseok tersenyum ketika waktu bekerjanya telah usai dan tidak lembur seperti kemarin, dia pun memakai jaketnya bersiap pulang kemudian melihat jam dinding.

“Masih sore, Jongdae pasti belum pulang, lebih baik aku ke tempat kerjanya dan mengajaknya makan diluar sekali-kali…” Ujarnya dengan senyuman mengembang.

Minseok pun pergi menuju Insadong, lebih tepatnya ke tempat adiknya bekerja, dari kejauhan Minseok bisa melihat adiknya dengan ramah melayani beberapa pelanggan yang datang dan tanpa sadar ada sebuah senyuman tulus yang terukir di wajah Minseok.

“Ahhh… Seandainya saja keramahan ibu menurun kepadaku juga…” Gumannya sambil tersenyum kecil.

Minseok pun melangkahkan kakinya ke toko buku tempat Jongdae bekerja, dia masuk ke dalamnya dan membuat Jongdae tersentak kaget.

“Minseokie hyung? Kenapa hyung bisa ada disini?” Tanyanya setengah kaget.

Minseok mengerucutkan bibirnya, “Apa tidak boleh aku ke sini?”

“Ani… Hanya saja tidak biasanya hyung mengunjungku…”

“Haha, aku ke sini karena aku ingin mengajakmu makan di luar setelah kau selesai bekerja, kau mau ‘kan?” Ujar Minseok mengutarakan maksudnya.

Mata Jongdae berbinar-binar, “Tentu saja aku mau!! Tunggu sebentar hyung, waktu bekerjaku tinggal lima belas menit, hyung bisa menungguku di ruang baca!” Ujar Jongdae bersemangat.

“Arrasseo”

Minseok pun menuju ruang baca dan memilih salah satu buku untuk dibacanya selagi menunggu Jongdae selesai bekerja.

“Hyung, waktu bekerjaku sudah habis!” Jongdae yang telah selesai bekerja menghampiri Minseok yang terlihat begitu fokus dengan buku yang di bacanya.

Minseok pun menolehkan wajahnya dan tersenyum, “Kau sudah selesai? Baiklah kalau begitu, mari kita makan sundae di sana…” Minseok menujuk sebuah tempat makan kecil di pinggir jalan dan itu membuat senyuman Jongdae kembali mengembang lebar.

“Kajja!!”

Jongdae menarik tangan Minseok dan membawanya ke tempat yang di tunjuk Minseok tadi, mereka memilih tempat duduk di dekat jendela agar lebih mudah melihat pemandangan, Jongdae dan Minseok memesan dua porsi sundae dengan cola sebagai minuman mereka.

Saat mereka sedang asyik menikmati makanan mereka tiba-tiba mereka mendengar suara sirine polisi mendekat ke tempat mereka makan saat ini, mereka mengalihkan pandangan mereka ke luar untuk melihat apa terjadi, mereka melihat segerombolan orang berjaket hitam yang mengendarai motor besar sedang berkejaran dengan beberapa mobil polisi di belakang mereka.

“Mungkin mereka mafia…” Ujar Minseok kemudian kembali menyantap sundaenya, sedangkan Jongdae masih menatap lurus kepada aksi kejar-kejaran antara polisi dan para mafia itu.

Minseok menatap adiknya yang masih tidak bergeming itu kemudian mengalihkan pandangannya kepada polisi dan mafia tadi, mata Minseok melebar ketika melihat seorang mafia dengan rambut merah mengendarai motornya di trotoar dan di sisi lain seorang polisi berambut pirang mengarahkan pistolnya kepada mafia itu.

Dorr!!

“JONGDAE AWAS!!!”

PRANG

Minseok sempat menarik Jongdae untuk menunduk namun sepertinya mereka masih kurang beruntung, mereka terkena pecahan kaca. Minseok yang sedari tadi menutup matanya akibat tembakan itu kini membuka matanya perlahan ketika mendengar isakan Jongdae.

“JONGDAE-YAH!!”

Minseok berteriak histeris ketika mendapati bahwa pecahan kaca tadi itu menancap di kedua mata Jongdae, bukan hanya Minseok, tapi beberapa pengunjung tempat makan itu, pemilik tempat makan yang melihat salah satu pembelinya terkena serpihan kaca langsung menelpon 911.

Tidak lama sebuah ambulance pun datang dan langsung membawa Jongdae dan Minseok ke rumah sakit, selama perjalanan Minseok tidak bisa berhenti menangis melihat keadaan adiknya seperti itu, sedangkan Jongdae, dia hanya bisa terisak tanpa bisa meneteskan air mata karena kedua matanya terus mengeluarkan darah.

Jongdae langsung di bawa ke ruang operasi, sedangkan Minseok di bawa menuju tempat pertolongan pertama untuk mengobati luka-lukanya, sesaat setelah ditangani, Minseok langsung menuju ruang tunggu di depan ruang operasi, dia mondar-mandir dengan perasaan kalut. Ada kekahwatiran yang dalam di hatinya kepada adik satu-satunya itu.

Setelah menunggu cukup lama, seorang dokter akhirnya keluar dan dengan segera Minseok menghampiri dokter itu, “Dokter, bagaimana keadaan adik saya?” Tanyanya hampir menangis.

Dokter itu membuka maskernya dan menghela nafas berat, “Minseok-ssi, sebelumnya kami memohon maaf kepada anda… Tapi luka di kedua mata Jongdae-ssi terlalu parah… Dengan kata lain… Kim Jongdae-ssi mengalami kebutaan permanen…”

-***-

-TBC-

 

Iklan

5 thoughts on “Believe (1/3)

  1. thor.. #ambil sabit

    itu bias saya diapain T T. Suamikuuu trollku… chehchen kuuu

    pertama kirain bakalan luhan yang ketembak ternyata.. mengejutkan sekali
    :v keep write

  2. Ping-balik: Believe (2/3) | Acha's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s