Believe (2/3)

Believe

Believe

Title: Believe.

Author: Evilosh_HD a.k.a @Cha_FishyHae

Genre: Brotherhood, a little bit action.

Lenght: Three Shoot (2/3).

Cast:

  • EXO’s Xiumin as Kim Minseok.
  • EXO’s Chen as Kim Jongdae.
  • EXO’s Kris as Chief Police.
  • Some EXO’s members.

-***-

Part before-> (1/3)

Be aware with typo(s)

Happy Reading ^^

-***-

“Apa? Buta permanen?” Ulang Minseok memastikan tidak ada yang salah dengan pendengarannya, sang dokter hanya menjawabnya dengan anggukan pelan.

Air mata Minseok menetes, “A-Apa tidak ada jalan lain agar adik saya bisa melihat lagi, Dok?” Tanya Minseok dengan suara bergetar.

Dokter itu menghela nafas berat, “Jongdae-ssi bisa melihat lagi jika ada yang mendonorkan mata… Saya pergi dahulu…” Ujar dokter itu sembari menepuk bahu Minseok beberapa kali kemudian pergi.

Minseok langsung jatuh berlutut di depan pintu ruang operasi, dia menutup kedua wajahnya menyembunyikan tangis tanpa suaranya, namun air matanya yang mengalir tidak dapat dia sembunyikan.

‘Jongdae-yah… Maafkan hyung yang tidak bisa menjagamu… Tapi hyung berjanji, hyung akan berusaha sebisa mungkin untuk mencarikan donor mata untukmu dan membalas polisi yang telah membuatmu buta…’ Batin Minseok dalam tangisnya.

-***-

Kris memijat kepalanya yang pening, dia mengamati profil seseorang bernama Xi Luhan dan Zhang Yixing, Xi Luhan, orang yang dia kejar kemarin dengan Jongin adalah tangan kanan dari Zhang Yixing yang biasanya dipanggil dengan Lay, Lay adalah ketua mafia spesialis di perdagangan gelap, terutama organ tubuh manusia.

“Bagaimana aku bisa menangkap mereka? Mereka itu seperti asap yang hanya bisa dilihat namun sama sekali tidak bisa disentuh, apalagi di tangkap…” Keluhnya lirih.

Kreek

Pintu ruang kerja Kris terbuka, polisi Kim masuk dan membungkukkan badannya sejenak sebelum memberikan beberapa berkas kepada Kris.

“Pak kepala, ini adalah hasil intaian beberapa agen yang bapak tugaskan untuk mengintai bekas pasar kemarin” Ujarnya sambil menyerahkan beberapa berkas yang kemudian di terima oleh Kris.

“Terima kasih, kembalilah ke tempatmu”

“Ne!”

-***-

Minseok tertidur di samping ranjang Jongdae yang sudah di pindahkan ke ruang perawatan, walaupun dia tertidur, namun tangannya tetap menggenggam erat tangan adiknya agar dia tau jika adiknya nanti sudah sadar.

Tangan Jongdae bergerak-gerak kecil dan hal itu sontak membuat Minseok langsung bangun, dia menatap Jongdae yang mulai bergerak pelan. Jongdae menggerakkan tangannya meraba perban yang menutupi matanya.

“Hyung… Minseokie hyung, apa kau di sini?” Tanya Jongdae sambil menggerakkan tangannya ke segala arah, air mata Minseok menetes lagi.

Minseok meraih tangan Jongdae dan menggenggamnya erat, “Hyung ada di sini, hyung selalu ada di sampingmu…” Jawab Minseok dengan suara bergetar, salah satu tangannya ia guanakan untuk mengusap air matanya yang kembali berjatuhan.

Jongdae tersenyum kecil, “Untung saja hyung disini, seandainya hyung tidak ada bisa saja aku menangis kebingungan karena mataku di perban… Hyung tau ‘kan aku benci gelap…”

Mau tidak mau air mata Minseok kembali menetes, dia langsung memeluk adiknya erat, “Minhae Jongdae-yah… Mianhae…” Isak Minseok yang membuat Jongdae bingung.

“Hyung, kenapa hyung meminta maaf? Apa ada yang sesuatu yang terjadi denganku?”

Minseok tidak menjawab, dia hanya mengeratkan pelukannya kepada Jongdae dan terus menangis.

“Minseokie hyung…”

Minseok melepaskan pelukannya dan mengusap kedua air matanya, “Jongdae-yah, kau percaya kepada hyung ‘kan?” Tanya Minseok masih dengan suaranya yang bergetar, lagi-lagi air matanya mengalir.

“Tentu saja, waeyeo?” Tanya Jongdae balik.

Minseok menghela nafas panjang kemudian kembali memeluk adiknya, “Aku akan berusaha mengembalikannya, aku berjanji!” Ujar Minseok tegas kemudian melepas pelukannya.

Jongdae yang hanya menghadap lurus kedepan tanpa tau di mana posisi Minseok mengerutkan keningnya bingung, “Mengembalikan apa hyung?”

“Sudahlah, kau hanya perlu percaya pada hyung, kau bisa ‘kan?”

Jongdae menganggukkan kepalanya pelan, “Baiklah hyung…”

Minseok pun tersenyum simpul walaupun Jongdae tidak melihatnya, namun di balik senyuman itu air matanya kembali mengalir, hatinya miris melihat keadaan adiknya seperti ini, adik yang disayanginya, satu-satunya keluarga yang dia punya kini buta.

“Hyung…”

“Mm?”

“Aku harap perban ini cepat dibuka… Aku ingin melihat dan memelukmu hyung…”

Tangis Minseok kembali pecah, dia segera mengusap air matanya yang sepertinya enggan berhenti mengalir.

‘Tuhan… Seandainya aku bisa memutar balikkan waktu… Aku ingin aku saja yang merasakan sakitnya… Bukan dia… Bukan adikku…’ Batin Minseok dengan air mata yang meleleh, dia terisak.

Jongdae yang mendengar suara isakan Minseok hanya mengarahkan telinganya ke sumber suara namun wajahnya tetap menatap lurus ke depan, “Minseokie hyung, hyung menangis?” Tanyanya dengan tangan yang di arahkan ke segala arah berharap dia bisa meraih hyungnya.

Minseok menggapai tangan Jongdae dan menggenggamnya, “Aniya… Hyung tidak menangis, hyung hanya terkena flu karena tidur tidak menggunakan selimut, kau jangan khawatir…” Bohong Minseok.

Jongdae mengerucutkan bibirnya, “Hyung, hyung tidak boleh sakit, cukup aku saja yang sakit tapi hyung tidak boleh… Aku tidak mau melihat kakakku terbaring lemah, aku ingin melihat kakakku yang tersenyum dengan cerah…” Ujar Jongdae yang kembali menusuk hati Minseok.

Minseok memaksakan senyumnya walau dia tau Jongdae tidak akan melihatnya, “Jongdae-yah, bolehkan hyung meninggalkanmu sebentar? Hyung harus bekerja, nanti hyung akan kembali…”

Jongdae menganggukkan kepalanya, “Hyung bekerja saja, lagi pula rumah sakit itu aman, aku juga bisa memanggil perawat jika ada apa-apa” Jawab Jongdae masih dengan kepala yang menatap lurus ke depan.

“Baiklah, hyung pergi dulu… Anneyeong…” Pamit Minseok yang kemudian mengacak rambut Jongdae pelan sebelum pergi meninggalkan adiknya.

Minseok menutup pintu ruang rawat adiknya perlahan, namun setelah itu dia langsung menyandarkan punggungnya dan kembali menangis, dia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang lewat, dia hanya ingin terus menangis dan meluapkan segala kesedihannya.

-***-

Minseok berjalan di daerah Insadong dengan mata sembab, bahkan saat bekerja tadi tetes air mata itu seperti enggan lenyap dari wajah Minseok, sehingga membuat bosnya mengizinkan dia untuk pulang lebih awal setelah mengetahui penyebabnya menangis.

Minseok memasukkan kedua tangannya ke saku jaket hitam dan menyepak sembarangan kaleng minuman kosong yang berserakan di samping jalan, pikirannya kosong dan tanpa sadar langkahnya itu membawanya ke bekas pasar lama.

Minseok menghentikan langkahnya ketika dia menyadari kalau dia berada di lorong yang kumuh dengan sampah di sana-sini, bulu kuduk Minseok berdiri, dia kemudian melihat seorang pria berambut merah masuk ke salah satu lorong. Minseok meneguk ludahnya kasar dan memberanikan dirinya untuk menuju ke tempat pria berambut merah yang di lihatnya tadi.

Dengan langkah hati-hati, Minseok mendekatkan telinganya ke sebuah rolling door yang tidak benar-benar tertutup sehingga Minseok bisa mendengar dengan jelas percakapan beberapa orang yang ada di balik rolling door itu.

‘Bos, bagaimana kita bisa membawa mayat-mayat itu? Kris pasti akan menginspeksi setiap kendaraan yang masuk! Sehun-ah, kau tau ‘kan bagaimana sifat kepala polisi itu?’

‘Luhan hyung benar, Bos, kepala polisi itu sungguh menjengkelkan, apa dia tidak tau betapa mahalnya organ manusia bila di uangkan?’

‘Luhan-ah, Sehun-ah, sebenarnya jalan keluar untuk masalah kita ini mudah, kita hanya butuh seseorang yang bukan bagian dari kelompok kita untuk membunuhnya, hanya itu satu-satunya cara agar kita bisa menjual organ-organ itu ke rumah sakit’

Minseok membelalakkan matanya lebar setelah mendengar percakapan orang-orang dibalik rolling door itu, tanpa sadar dia membuka rolling door dan sontak membuat ketiga orang yang ada di dalamnya kaget dan langsung mengarahkan senjata mereka kepada Minseok.

Minseok menatap ketiga orang yang ada di situ dengan mata sembab dan menyedihkan, membuat seseorang yang berambut merah menurunkan pistolnya dan berjalan pelan kepada Minseok, namun dia tetap siaga.

“Siapa kau? Dan apa maksudmu menguping pembicaraan kami?” Tanya orang berambut merah itu dengan nada yang sangat dingin.

“Aku akan membunuhnya… Aku yang akan membunuh kepala polisi itu…” Ujar Minseok pelan, air matanya kembali mengalir.

Melihat itu, dua orang lain yang masing-masing berambut cokelat dan pirang ikut meurunkan senjata mereka dan ikut mendekat. “Apa alasanmu ingin membunuhnya?” Tanya salah satu dari mereka yang berambut pirang.

Air mata Minseok kembali menetes, “Karena dia yang menyebabkan adikku buta…”

Pria berambut merah itu menyeringai dan mengulurkan tangannya, “Lay…” Ujarnya memperkenalkan diri, namun Minseok hanya menatapnya dengan mata sendu tanpa membalas uluran tangan Lay, membuat Lay menarik tangannya kembali.

“Baiklah, aku mengerti kemana arah pembicaraanmu, kau akan membunuh Kris dengan syarat kami akan memberikan donor mata kepada adikmu ‘kan?” Tanya Lay yang sepertinya bisa menebak pikiran Minseok, Minseok mengangguk pelan.

Lay menghela nafas panjang, “Baiklah jika itu maumu, lagi pula mencari mata itu mudah… Aku akan memberikan sepasang mata untuk adikmu itu!” Ujarnya yang langsung membuat Minseok berlutut terima kasih, dia menangis lagi.

“Hey ayolah… Ini hal yang sangat mudah, berdirilah dan jangan menangis lagi…” Lay memberdirikan Minseok kemudian menatap namja itu tajam, “Kau bisa menggunakan senjata tidak?” Tanya Lay yang di jawab gelengan lemah Minseok.

Lay lagi-lagi menghela nafas panjang, “Baiklah, aku rasa Sehun harus mengajarimu dulu…”

Lay mengarahkan dagunya kepada pria berambut pirang yang ternyata bernama Sehun itu, pria itu memutar matanya sejenak, “Baiklah, aku akan mengajarinya hingga ahli…”

-***-

“Jongdae-yah!!” Minseok masuk ke dalam ruang rawat Jongdae dengan senyuman cerah dan ceria, namun reaksi Jongdae berbeda, dia hanya diam dan menyandarkan punggungnya.

Minseok mengerutkan keningnya heran kemudian berjalan menuju Jongdae, “Kau kenapa?” Tanya Minseok pelan.

“Kenapa hyung menyembunyikannya dariku?” Tanya Jongdae balik.

DEG

Jantung Minseok serasa berhenti sejenak setelah mendengar pertanyaan adiknya barusan, namun dia kembali menguasai dirinya, “Menyembunyikan? Menyembunyikan apa?”

Jongdae mengehela nafas panjang, “Hyung sudah tau ‘kan kalau aku ini buta?”

DEG

Lagi-lagi jantung Minseok berdebar keras, dia tidak tau harus menjawab apa, mulutnya ingin mengatakan sesuatu namun tenggorokannya serasa tercekat.

Jongdae tersenyum kecut, “Kalau begitu memang benar, hyung memang sudah tau kalau aku buta…” Suara Jongdae bergetar, wajahnya memerah menahan tangis, kedua orang iu pun saling diam.

“Hyung… Maafkan aku jika aku selalu menjadi beban untuk hyung…” Ujar Jongdae yang kini telah meneteskan air mata walaupun matanya tertutupi perban.

Melihat Jongdae menangis, mau tidak mau Minseok ikut meneteskan air matanya juga, dia langsung merengkuh Jongdae ke dalam pelukannya dan memeluknya erat, “Aniya… Kau tidak pernah membebani hyung… Jangan pernah mengatakan hal seperti itu…” Suara Minseok sama bergetarnya dengan Jongdae.

“Aku adalah beban untuk hyung!! Dengan keadaanku yang seperti ini aku pasti akan lebih merepotkanmu karena aku tidak bisa melakukan semuanya sendiri!! Lebih baik aku mati!!” Teriak Jongdae histeris di sertai dengan air mata yang setia mengalir, begitupun Minseok.

“Jongdae-yah… Hentikan… Kau sama sekali bukan beban untukku… Bagaimana mungkin adik yang aku sayangi akan menjadi sebuah beban… Tidak Jongdae-yah… Kau bukan beban… Kau hanyalah adikku… Adik kesayanganku…” Suara Minseok yang bergetar makin terdengar lirih.

Jongdae terisak, “Hyung… Aku sekarang sudah tidak berguna lagi… Aku sekarang sudah tidak bisa membantu hyung lagi… Bukankah itu akan membebani hyung? Kenapa hyung tidak membiarkan aku mati saja waktu itu?”

“Tutup mulutmu Kim Jongdae!! Jangan pernah sekali-kali kau mengatakan hal seperti itu lagi!! Kau bukan beban untuk hyung… Bukankah kau sudah berjanji untuk percaya kepada hyung?”

Jongdae lagi-lagi terisak, dia mengeratkan pelukannya kepada Minseok, “Aku memang sangat mempercayaimu hyung… Tapi aku tidak ingin begini… Aku tidak ingin menyusahkanmu…”

Minseok mengelus-elus kepala adiknya pelan, “Jongdae-yah, kau tidak akan buta selamanya, kau akan bisa melihat lagi… Hyung sudah berusaha mendapatkan donor mata agar kau bisa melihat lagi dan kau harus percaya hal itu…”

-***-

3 Days later…

Tiga hari Minseok berusaha keras untuk menguasai teknik penggunaan pistol dan cara membidik yang tepat di bawah bimbingan Sehun dan sepertinya hal itu menunjukkan hasil, Minseok bahkan bisa menembak dengan tepat obyek bergerak tepat di titik paling vital obyek tersebut.

Lay menyeringai puas dengan kemampuan Minseok dan memutuskan bahwa Minseok harus membunuh Kris hari itu juga, Luhan yang akan mengantarkannya ke tempat biasanya Kris berjaga.

Lay menepuk bahu Minseok, “Minseok-ah, ingat, kepala, leher, dan dada, kau harus menembak salah satu dari ketiga titik vital itu… Setelah kau berhasil menembaknya aku akan segera mengurus pendonoran mata untuk adikmu itu”

Minseok menganggukkan kepalanya sebagai jawaban kemudian mengikuti Luhan menuju tempat Kris biasa berada, Minseok mengintip targetnya dari balik tembok yang memungkinkan dirinya untuk tidak terlihat, Minseok menunggu tempat itu sepi sehingga akan memudahkan dia untuk kabur tanpa tertangkap nanti.

Lima belas menit menunggu akhirnya tempat itu kini benar-benar sepi, Minseok pun mengambil pistolnya kemudian membidikkannya tepat ke kepala Kris, Minseok menghela nafas panjang.

‘Jongdae-yah… Kau harus percaya kepada hyung… Hyung melakukan ini demi dirimu… Hyung menyayangimu…’

Dan satu tembakan itu pun terlepas dan tepat mengenai kepala sasarannya, Minseok melihat Kris terjatuh, tangan Minseok bergetar dan pistolnya hampir terlepas, namun dengan segera dia memasukkan pistol itu ke sakunya dan mengikuti Luhan yang menariknya untuk segera kabur dari tempat mereka tadi. Sepanjang mereka berlari, Minseok terus saja memandangi tangannya.

‘Aku telah membunuh…’

-***-

-TBC-

Iklan

5 thoughts on “Believe (2/3)

  1. O.O
    uwaaa xiumin rela relain jadi pembunnuh T.T

    brothershipnya suka banget thor… cepat lanjuut #Gebrak gebrak meja

    itu juga chen chen ku jadi buta makkk T.T Laxy hyung kurang ajaaarrr

  2. Ping-balik: Believe (3/3) | Acha's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s