Believe (3/3)

Believe

Believe

Title: Believe.

Author: Evilosh_HD a.k.a @Cha_FishyHae

Genre: Brotherhood, a little bit action.

Lenght: Three Shoot (3/3).

Cast:

  • EXO’s Xiumin as Kim Minseok.
  • EXO’s Chen as Kim Jongdae.
  • EXO’s Kris as Chief Police.
  • Some EXO’s members.

-***-

A/N :

Yehet~

Happy 2nd anniversary for EXO, it feels like yesterday you just debuted but already 2 years now :’)

Buat yang nunggu HoM II kemungkinan akan author post waktu ultahnya Baby Hunnie (12 April), keke~

Part before (2/3)

Be aware with typo(s)

Happy reading ^^

-***-

Minseok masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang di lakukannya tadi, dia terus memandangi tangannya meskipun Luhan telah menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Minseok agar pria itu sadar.

“Hey!” Luhan menggerakkan bahu Minseok pelan.

“E-eh?” Minseok mengerjap-kerjapkan matanya kaget.

“Kau sudah sadar?” Tanya Luhan, Minseok hanya menganggukkan kepalanya pelan.

Beberapa saat kemudian Lay datang dengan Sehun, keduanya menutupi wajah mereka dengan masker, Lay membuka maskernya ketika ada di depan Luhan dan Minseok, dia menepuk bahu Minseok pelan.

“Aku sudah mengurusi pendonoran mata untuk adikmu, kau tenang saja… Dan harus kau ingat setelah ini anggap kita tidak pernah bertemu, kau mengerti ‘kan akibat jika membocorkan tempat persembunyian kami?”

Minseok menganggukkan kepalanya pelan, “Aku mengerti…” Ujarnya pelan sedikit menunduk.

Lay menepuk bahu Minseok kemudian menyelipkan sebuah amplop coklat tebal ke dalam saku jaket Minseok, Minseok mengerenyitkan keningnya tidak mengerti kemudian mengeluarkan amplop itu.

“Apa ini?”

“Sedikit uang untuk biaya perawatan adikmu, aku tau kau pasti sangat membutuhkannya, bye!” Pamit Lay yang kemudian pergi dengan diikuti Luhan dan Sehun dibelakangnya.

Minseok hanya diam di tempatnya masih dengan memegang amplop coklat itu, air matanya mengalir pelan dipipinya.

‘Tuhan… Apakah yang ku lakukan ini adalah sebuah kesalahan atau memang sebuah keharusan seorang kakak?’

-***-

Polisi Kim berlari dengan tergesa-gesa ke tempat Kris karena mendapatkan fakta baru tentang jaringan perdagangan organ manusia yang diketuai oleh Lay, namun langkah Jongin terhenti ketika melihat kepala polisinya itu terkapar di tanah dengan kepala yang mengucurkan darah.

Sepersekian detik Jongin terpaku namun dengan segera ia sadar dan menghampiri Kris, Jongin berjongkok dan melihat dada Kris masih naik turun, nafas kepala polisinya memburu, Kris masih hidup, dengan segera Jongin menghubungi polisi lain untuk membawa kepala mereka ke rumah sakit.

Sambil menunggu pertolongan, Jongin menggenggam tangan Kris erat, “Pak kepala… Aku mohon bertahanlah… Kau harus tetap hidup…” Gumannya pelan, tanpa terasa air mata Jongin menetes.

-***-

Minseok membeli beberapa makanan ringan untuk Jongdae, dia yakin Jongdae pasti akan bosan dengan makanan rumah sakit yang itu-itu saja, saat sampai di depan pintu ruang rawat Jongdae, Minseok terlihat ragu antara mau masuk ke dalam atau tidak, rasa bersalah karena telah membunuh Kris masih menghantui hatinya.

Setelah berperang cukup lama dengan hatinya sendiri, akhirnya Minseok membuka pintu kamar Jongdae, dilihatnya Jongdae hanya menatap lurus ke depan –dengan mata yang dibalut perban tentunya- sedang mendengarkan musik lewat mp3 player yang memang sengaja dibelikan Minseok untuk mengusir kebosanan Jongdae.

Minseok menghela nafas panjang, kakinya melangkah pelan menuju ranjang adiknya kemudian mendudukkan dirinya di samping ranjang Jongdae.

Jongdae mengarahkan telinganya ke sumber suara ketika mendengar ada sesuatu yang bergerak, “Minseokie hyung, kau ‘kah itu?” Tanyanya.

“Iya, ini hyung…” Jawab Minseok lirih.

Seulas senyuman tipis terukir di wajah Jongdae, “Hyung, hyung tau tidak, dokter tadi mengatakan kepadaku kalau aku mendapatkan donor mata, aku akan bisa melihat lagi hyung!!” Jongdae bercerita dengan begitu antusias, senyumannya makin mengembang lebar.

Minseok tersenyum, “Aku sudah tau… Dan aku sangat bahagia mendengar itu…” Ujar Minseok dengan air mata yang menggenang, entah kenapa air matanya itu muncul, tapi Minseok merasa ingin sekali menangis.

“Hyung, bisakah kau memelukku? Aku tidak bisa memelukmu karena aku tidak tau dengan pasti dimana posisimu…” Pinta Jongdae.

Minseok menghela nafas panjang dan beranjak dari tempat duduknya kemudian memeluk Jongdae erat, dia menangis.

“Hyung, kenapa hyung menangis?”

“Karena aku bahagia… Aku bahagia karena adikku satu-satunya akan bisa melihat lagi…” Bohong Minseok kemudian mengeratkan pelukannya.

-***-

Jongin menunggu di depan ruang UGD dengan perasaan tidak karuan, dia terus saja mondar-mandir di depan ruangan itu sambil menggigit jarinya, kebiasaannya jika sedang gugup atau takut. Tidak lama kemudian seorang dokter keluar dan menghampiri Jongin.

“Jongin-ssi…”

“Ye?”

“Pak kepala polisi mengalami koma…” Ujar dokter yang langsung membuat Jongin membelalakkan matanya lebar, dokter itu menepuk bahu Jongin sebelum meninggalkan Jongin yang masih terpaku di tempatnya.

‘Kalau pak kepala koma… Siapa yang akan merawat adiknya?’ Batin Jongin masih dalam keterpakuannya.

-***-

Hari dimana Jongdae dioperasi pun tiba, Minseok mengantarkan adiknya ke dalam untuk sekedar memberi semangat untuk Jongdae kemudian keluar lagi menunggu operasi selesai, selama menunggu tiba-tiba Minseok melihat seorang namja tampan yang menaiki kursi roda dengan tatapan yang kosong, Minseok mengamati namja itu dengan kening mengerut.

‘Apakah dia buta?’ Batin Minseok.

Dan sepertinya Minseok benar, namja itu menabrak sebuah tong sampah dan menyebabkan isinya tumpah, seseorang yang rupanya salah satu keluarga pasien rumah sakit langsung memarahi namja itu, namun namja itu hanya diam.

Tak tahan melihat namja itu di perlakukan seperti itu, Minseok pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan meminta maaf atas namja itu kemudian mendorong kursi roda namja itu menuju tempatnya tadi.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Minseok.

“Mm, terima kasih atas bantuanmu tadi…” Jawab namja itu tanpa melihat Minseok, pandangannya hanya kosong dan menatap lurus kedepan, dan itu membuat Minseok makin yakin kalau namja yang ada di depannya ini memang buta.

“Bolehkah aku mengetahui siapa namamu?”

“Namaku Tao”

“Oh… Tao-ssi, namaku Minseok” Ujar Minseok memperkenalkan diri dan menjulurkan tangannya, namun untuk sejenak Minseok langsung meruntuki kebodohannya, mana mungkin Tao akan membalas uluran tangannya, dia pun menarik tangannya kembali.

“Emm… Tao-ssi, boleh aku tau mau kemana kau tadi? Mungkin saja aku bisa membantumu…” Tanya Minseok sekaligus menawarkan dirinya untuk menolong Tao.

“Aku ingin ke ruangan kakakku di rawat… Tapi karena aku buta dan lumpuh aku tidak bisa menemukan jalan…”

DEG

Dada Minseok langsung terasa sangat sakit ketika mendengar ucapan Tao barusan, namja ini tidak hanya buta, namun juga lumpuh.

“Selama ini aku hanya hidup dengan kakak karena kami sudah tidak memiliki orang tua, dia yang selalu merawatku… Tapi karena penembakan itu… Kakakku sekarang koma…” Ujarnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca hampir menangis.

DEG

‘Di tembak dua hari lalu? Koma? Bukankah dua hari lalu itu adalah waktu dimana aku menembak Kris? Aniya aniya… Kris sudah mati, banyak orang yang tertembak dihari itu, tidak mungkin dia adalah adik Kris’ Batin Minseok yang mencoba menghilangkan pikiran-pikiran negative yang ada di kepalanya.

“Emm… Tao-ssi, boleh aku mengetahui siapa nama kakakmu?” Tanya Minseok hati-hati, dalam hatinya dia berharap bahwa nama yang nanti Tao sebut berbeda dengan apa yang ada dipikirannya.

“Namanya Kris, dia adalah seorang kepala polisi di Insadong…”

-***-

Minseok melangkahkan kakinya lemas menuju ruang rawat Jongdae, setelah mengantarkan Tao tadi ke ruangan kakaknya dan untuk memastikan apakah Kris yang dimaksud adalah Kris yang sama dengan yang ia tembak, dia kembali. Dan ternyata perasaan Minseok memang tidak salah, dia melihat dengan jelas seorang pria tampan dengan kepala yang dibalut perban dan dengan selang-selang yang menopang hidupnya terbaring lemah, hanya kardiograf yang ada di sampingnya yang menunjukkan kalau dia masih hidup.

Minseok mendudukkan dirinya disamping ranjang Jongdae kemudian menggenggam erat tangan Jongdae yang kini tidur, Minseok menangis, “Hyung melakukan kesalahan besar Jongdae-yah… Kesalahan yang amat besar…” Isaknya kemudian menundukkan wajahnya dalam.

-***-

Beberapa hari setelah Jongdae dioperasi, kini akhirnya tiba waktunya untuk membuka perban yang membalut mata Jongdae, selama beberapa hari itu pula Minseok berfikir antara apakah dia akan mengakui kesalahannya atau tidak, tapi setiap dia melihat adiknya dia teringat akan Tao, adik Kris yang membuatnya merasa sangat bersalah, bahkan tidak pantas untuk hidup.

Dokter yang bertugas merawat Jongdae masuk bersama seorang suster yang memberikan senyuman ramah kepada Minseok, wajah Jongdae terlihat sangat bahagia, membuat Minseok kembali meragu untuk mengakui kejahatannya, perlahan, perban itu mulai terbuka begitu pun mata Jongdae, namun ekspresi Jongdae terlihat aneh.

“Dokter, kenapa semuanya masih gelap?” Tanya Jongdae panik, melihat kepanikan Jongdae, Minseok langsung beranjak dari tempat duduknya dan segera menggenggam tangan Jongdae erat.

“Jongdae-ssi, semuanya butuh proses, cobalah untuk memejamkan mata anda lagi dan membukanya pelan-pelan, kalau masih gelap juga ulangi langkah tadi beberapa kali…” Ujar sang dokter memberi pengarahan.

Jongdae mengikuti ucapan dokternya, setelah melakukan hal itu, perlahan segala sesuatu yang ada disekitar Jongdae mulai terlihat, namun masih belum jelas, Jongdae pun mengerjapkan matanya berkali-kali agar pandangannya jelas. Senyum Jongdae merekah, setetes air mata keluar dari sudut-sudut matanya.

“Hyung, aku bisa melihat lagi!!” Ujarnya kemudian memeluk Minseok yang juga meneteskan air mata harunya, kedua kakak-beradik itu pun berpelukan dengan erat.

“Hyung sangat bahagia Jongdae-yah… Sangat…”

-***-

Satu minggu telah terlewati semenjak Jongdae bisa melihat lagi, namun hal itu tidak membuat Minseok melupakan Tao dan Kris, justru selama seminggu itu rasa bersalah di hati Minseok makin bertambah dalam, Minseok pun akhirnya membuat keputusan.

Malam itu, ketika Jongdae bersiap untuk tidur, Minseok mencegahnya karena dia ingin mengakui satu hal kepada Jongdae, Jongdae pun menurut dan mendengarkan segala hal yang disampaikan Minseok kepadanya. Minseok menceritakan mulai dari awal pertemuannya dengan Lay hingga akhirnya memutuskan untuk membunuh Kris demi mendapatkan donor mata untuk Jongdae hingga akhirnya dia bertemu dengan Tao dan menemukan fakta baru bahwa Kris belum mati, namun hanya koma dengan air mata yang tidak berhenti mengalir, begitupun Jongdae, air matanya juga seakan tidak mau berhenti keluar.

“Hyung… Hyung memintaku untuk mempercayai hyung ‘kan? Tapi kenapa hyung melakukan itu?” Tanya Jongdae dengan suara bergetar.

Minseok menatap manik mata Jongdae dalam, air matanya yang menggenang pun perlahan jatuh kembali, “Karena hanya itu yang bisa hyung lakukan agar kau bisa melihat kembali Jongdae-yah… Hyung tidak ingin melihatmu hidup dalam kegelapan, aku sangat tau kalau adikku itu benci dengan gelap… Hyung hanya terlalu menyayangimu…” Isak Minseok.

Jongdae menundukkan kepalanya dan makin terisak, dia tiba-tiba memeluk kakaknya erat, “Kalau seandainya aku bisa mengetahui kalau ini akan terjadi aku akan lebih memilih untuk buta daripada membuatmu hidup dalam rasa bersalah hyung…”

“Jangan bicara seperti itu… Aku tidak pernah menyesal melakukannya, tapi kini aku harus melakukan satu hal… Aku harus mengakui perbuatanku terhadap Tao dan menerima segala resikonya nanti…”

Jongdae melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Minseok, “Tapi hyung, bagaimana jika nanti Lay dan anak buahnya memburu hyung?”

“Aku bisa berbohong kalau mereka sudah pergi keluar negeri…” Ujarnya lemah.

Jongdae langsung merengkuh kakaknya kedalam pelukannya lagi dan kembali menangis, “Aku menyayangimu hyung…”

-***-

Dan Minseok pun menepati perkataannya, esoknya dia langsung menuju rumah sakit untuk mengakui segala perbuatannya kepada Tao. Tao terlihat begitu marah, dia langsung menyuruh polisi Kim yang kebetulan berada disitu untuk memenjarakan Minseok dan segera menyidangnya untuk menentukan hukuman yang akan di terima Minseok, Minseok hanya bisa menerimanya dengan pasrah, setidaknya, sekalipun dia dihukum mati dia tetap bisa tenang karena adiknya sudah bisa melihat, dia percaya adiknya akan bisa hidup mandiri.

Disisi lain, Jongdae hanya bisa menangis di kamarnya tanpa bisa membayangkan hukuman apa yang akan diterima kakaknya karena telah menembak seorang kepala polisi hingga membuatnya koma, Jongdae menggigiti kuku jarinya dengan air mata yang terus saja mengalir tanpa tau kapan air mata itu kering.

Jongdae kemudian mengalihkan pandangannya kepada jam dinding, sudah hampir malam dan Minseok belum pulang, dan saat itu juga Jongdae yakin kalau kakaknya pasti sudah masuk ke dalam jeruji besi.

Tidak lama, terdengar suara ketukan dari pintu rumahnya yang membuat Jongdae segera bangkit, dia mengusap air matanya terlebih dahulu sebelum membuka pintu, dibukanya pintunya itu dan didapatinya seorang pria berseragam polisi dengan kulit agak gelap memberi hormat kepadanya sejenak.

“Anda yang bernama Kim Jongdae?”

“Ne, saya Kim Jongdae, ada apa anda mencari saya?”

“Kakak anda yang bernama Kim Minseok telah kami tahan karena pengakuan kejahatan yang ia lakukan, sidang pertama akan dilaksanakan dua hari lagi, ini surat perintahnya” Ujar polisi itu kemudian menyerahkan sepucuk surat yang diterima Jongdae dengan tangan bergetar.

“Saya pergi dahulu” Pamit polisi itu yang kemudian pergi meninggalkan Jongdae yang kini hanya bisa jatuh tersimpuh dengan air mata yang mengalir.

-***-

Sidang akan dilakukan tiga jam lagi, tapi Jongdae belum juga pergi ke pengadilan, dia malah pergi ke rumah sakit, lebih tepatnya ke tempat di mana Kris di rawat, Jongdae membuka pintu ruangan itu perlahan dan melihat seorang namja yang duduk di kursi roda menunggui Kris dengan tatapan kosong.

“Polisi Kim, kau ‘kah itu?” Tanya namja tadi tanpa menoleh.

“Aku bukan polisi Kim…” Jawab Jongdae sopan.

“Siapa kau?”

“Aku Kim Jongdae… Adik dari Kim Minseok…”

“Kim Minseok? Namja yang mencoba membunuh kakakku itu? Ada apa kau kesini? Apa kau mau membunuh kakakku juga?!” Tanya Tao penuh emosi.

Jongdae menghela nafas panjang kemudian melangkahkan kakinya pelan kepada Tao, dia berlutut di depan Tao walau dia tau Tao tidak akan melihatnya, “Aku kemari hanya ingin meminta maaf… Aku mohon maafkan kakakku…” Ujar Jongdae dengan suara bergetar, air matanya kembali menetes.

“Aku tidak sudi!!” Ketus Tao setengah berteriak.

Jongdae menggenggam tangan Tao, namun Tao berusaha menepis tangan Jongdae walaupun gagal, “Aku mohon… Kakakku melakukannya karena dia terlalu menyayangiku… Aku mohon maafkan dia…” Jongdae terisak, namun sepertinya Tao enggan menanggapi permintaan maaf Jongdae.

“Aku sekarang berlutut dihadapanmu… Aku berlutut memohon agar kau memaafkan kakakku… Aku tidak memohon kepadamu untuk meringankan hukukuman hyungku… Aku hanya ingin kau memaafkannya karena apa yang dilakukannya hanyalah semata-mata karena menyayangiku… Aku dan hyungku selama ini hanya memiliki satu sama lain… Rasanya sudah sangat sakit ketika aku harus berpisah dengannya seperti ini dan aku menganggap itu adalah hukuman untukku… Oleh karena itu… Aku mohon sekali lagi kepadamu untuk memaafkan kakakkku…” Jongdae menangis tersedu-sedu, dia menundukkan kepalanya dalam.

“Pergi…” Ujar Tao dingin.

Jongdae mendongakkan kepalanya menatap Tao masih terisak, Tao yang masih mendengar isak tangis Jongdae langsung marah kembali.

“Pergi kataku!!!” Teriak Tao yang langsung membuat Jongdae lemas, dia menghela nafas panjang.

“Baiklah… Aku akan pergi…” Ujarnya menyerah.

Sepeninggal Jongdae, kini Tao yang menangis, dia meraba-raba kakaknya untuk mencari tangan hangat kakakknya yang selama ini selalu mengelus kepalanya penuh kasih sayang.

“Ge… Apa aku salah jika aku tidak bisa memaafkan mereka?” Tanya Tao dengan air mata mengalir, tanpa ia duga, tangan Kris mulai bergerak-gerak perlahan dan itu langsung membuat Tao membelalakkan matanya, dia meraba-raba segala hal untuk mencari tombol yang digunakan untuk memanggil suster, kakaknya telah sadar.

-***-

Sidang itu terlihat begitu tegang, Minseok yang mengenakan seragam penjara berwarna orange hanya bisa menundukkan kepalanya dalam menanti setiap keputusan hakim yang dijatuhkan kepadanya, jaksa penuntut menuntut Minseok untuk dijatuhi hukuman mati, namun pengacara yang mewakili Minseok meminta hukuman Minseok diperingan dengan memenjaranya hanya antara 7-10 tahun saja.

Dari kursi peserta, Jongdae hanya bisa mengatupkan kedua tangannya dan menangis, berharap ada keajaiban yang akan membebaskan kakaknya dari hukuman, sekalipun tidak bebas, setidaknya hukuman kakaknya ringan.

Hakim dan para jaksa penuntut umum pun melakukan perundingan untuk memutuskan hukuman yang tepat untuk Minseok, sedangkan Minseok hanya bisa berdoa dalam kediaman dengan kepala menunduk.

Para hakim dan jaksa kembali ke tempat duduk mereka masing-masing, hakim utama terlihat telah memegang palunya pertanda keputusan telah dibuat, “Setelah melalui perundingan dan berbagai macam pertimbangan, maka kami memutuskan bahwa terdakwa Kim Minseok akan dijatuhi hukuman penjara selama lima belas tahun-”

“Tunggu!!”

Sebuah suara dari luar terdengar, membuat hakim yang akan mengetokkan palunya berhenti untuk melihat siapa yang mencegahnya, tak terkecuali Minseok dan yang lain. Mata mereka membulat lebar ketika melihat siapa yang mencegah mereka, seorang pria tampan berbaju rumah sakit yang duduk dikursi roda dengan kepala yang terbalut perban dan selang infus yang masih menancap ditangannya.

“Pak kepala?” Ujar sang hakim kaget.

Kris tersenyum tipis kemudian memerintahkan polisi Kim untuk mendorong kursi rodanya lebih dekat, Jongdae yang melihat Kris ada dihadapannya hanya bisa memebelalakkan matanya tidak percaya.

“Pak hakim, saya, Kris Wu, kepala polisi distrik Insadong dengan ini mencabut tuntutan keluarga saya atas saudara Kim Minseok dan membebaskannya dari segala tuduhan” Ucapnya tegas yang langsung membuat semua orang yang disana membelalakkan mata mereka kaget.

“Tapi pak-”

“Pak hakim, bukan Kim Minseok yang menembak saya, dia hanya berada ancaman seorang mafia perdagangan gelap yang sedang saya incar, dan dia adalah hanyalah korban ancamannya…” Bohong Kris, namun wajahnya terlihat begitu meyakinkan. Disisi lain Minseok hanya bisa membulatkan matanya tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Kris barusan.

Sang hakim pun dengan segera mengetok palunya dan mengatakan, “Dengan ini saudara Kim Minseok dibebaskan dari segala tuduhan dan dinyatakan tidak bersalah!”

Air mata bahagia mengalir baik dari Jongdae maupun Minseok sendiri, Jongdae langsung menghambur kepada kakaknya dan memeluknya erat, kedua kakak-beradik itu saling meneteskan air mata bahagia mereka, namun kemudian Minseok melepaskan pelukannya dan berjalan menuju Kris, tanpa mengatakan apapun, Minseok memeluk Kris dan menangis sebagai ucapan terima kasihnya, Kris hanya menepuk punggung Minseok pelan.

Minseok melepaskan pelukannya dan menatap Kris dengan penuh tanda tanya, begitupun Jongdae yang berdiri disebelahnya, “Kenapa kau melakukan itu? Padahal aku jelas adalah orang yang bersalah…”

Kris tersenyum tipis, “Karena aku juga adalah seorang kakak… Dan kasih sayang diantara kalian berdua adalah salah satu hal yang membuatku terbangun dari tidur panjangku… Terima kasih…”

“Begitu juga aku… Aku juga berterima kasih kepadamu…”

-***-

-END-

Iklan

2 thoughts on “Believe (3/3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s