Promise and Responsibility Chapter 2

PAR

Promise and Responsibility

Title : Promise and Responsibility

Author : Evilosh_HD a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Brotherhood, Friendship,Action.

Lenght : Chaptered.

Cast :

  • Oh Sehun as Kim Sehun.
  • Luhan as Kim Luhan.
  • Suho as Kim Suho.
  • Kai as Jung Jongin.
  • Kris as Kris Wu.
  • Chanyeol as Park Chanyeol.
  • Another EXO’s member.

Support cast:

  • Lee DongHae (Super Junior).
  • Im YoonA (Girls Generation).
  • Lee Jinki (SHINee).

Summary :

“He is the one who kill your wife seventeen years ago…”

-***-

Part before -> 1

Be Aware with typo(s)

Happy Reading ^^

-***-

Pria berkulit putih itu berkali-kali melihat jam tangannya, tidak hanya itu, dia mondar-mandir di balkon rumah dan sesekali menatap gerbang yang di jaga ketat oleh pria-pria tegap berbaju hitam, berharap ada mobil Maybach Exelero yang akan melewati gerbang itu dan membawa kedua anaknya pulang. Hingga akhirnya seorang pria menghampiri orang tadi dan membungkukkan badannya sejenak.

“Yixing-ah, Kenapa Sehun dan Luhan belum juga pulang?” Tanya pria berkulit putih itu kepada orang yang menghampirinya.

“Rudolph-ssi mengatakan kalau tuan muda Sehun dan Luhan sedang berada di kedai bubble tea bersama guru mereka…” Jawab seorang bernama Yixing tersebut.

“Apa?? Apakah mereka lupa hari ini adalah jadwal bela diri mereka? Perintahkan Rudolph dan anak buahnya yang lain untuk menjemput mereka sekarang juga!!”

“Ne, Algeussimida” Yixing membungkukkan badannya sekali lagi sebelum pergi melaksanakan perintah tuannya yang kini mengacak rambutnya geram.

-***-

“Hyung, kenapa hyung tidak ungkapkan saja kalau hyung menyukainya?” Ujar Sehun sambil menyeruput bubble tea yang ada di tangannya.

Pletak

Satu jitakan ringan di terima Sehun dari Luhan, “Panggil dia seonsaengnim, dia itu gurumu!” Desisnya karena tingkah Sehun yang tidak sopan kepada Donghae.

Donghae terkekeh, “Biar saja dia memanggilku begitu, aku tidak keberatan sama sekali asalkan dia tidak memanggilku seperti itu ketika di sekolah…”

Sehun menatap Luhan dan menjulurkan lidah, sedangkan Luhan hanya membalas ejekan Sehun dengan sebuah dengusan.

“Ini ddeokbeokkie pesanan kalian…” Ujar sang pemilik kedai kemudian meletakkan tiga porsi ddeokbokkie itu di meja.

Sikap Donghae langsung berubah kikuk ketika pemilik kedai itu ada di antara mereka bertiga, Sehun dan Luhan hanya terkikik geli melihat tingkah guru yang terkenal killer jika marah itu. Setelah pemilik kedai itu pergi, sikap Donghae kembali seperti semula, namun dia mengelus-elus dadanya dan beberapa kali menghembuskan nafas berat.

“Seonsaengnim, kalau kau tidak bergerak cepat maka dia akan segera dimiliki orang lain…” Ujar Luhan sedikit menggoda Donghae, Donghae hanya tersenyum tipis menanggapinya.

Satu alis Sehun tiba-tiba terangkat, muncul seringaian di wajahnya yang tidak di ketahui oleh kakak dan gurunya, dia tiba-tiba berdiri dan melambaikan tangannya kepada pemilik kedai, “Yoona noona!! Guruku mengatakan kalau kau sangat cantik!!” Teriaknya yang langsung membuat rona merah muncul di pipi Yoona, sedangkan pengunjung lain hanya menatap Donghae dan sedikit memberi sorakan.

Donghae yang kaget dengan sikap Sehun langsung menyeret namja itu agar duduk kembali di tempatnya, dia berdiri menatap Yoona, “Maafkan murid saya, dia memang sedikit tidak sopan…” Ujarnya sambil sedikit membungkuk.

Yoona tersenyum tipis, “Gwenchanayo…”

Donghae membungkuk sekali lagi sebelum akhirnya duduk dan menatap Sehun dengan wajah datar, “Kalau kau melakukannya sekali lagi maka aku akan menjemurmu di lapangan sekolah!”

“Hahaha, jweseonghaeyo… Tapi setidaknya Yoona noona sudah mengerti bahwa hyung tertarik dengan dia sekarang…” Ujar Sehun dengan memasang wajah paling tidak bersalah yang ia miliki.

Tiba-tiba kedai itu di masuki oleh enam orang bertubuh tegap, berjas hitam, berkaca mata hitam serta alat komunikasi tingkat tinggi yang terpasang di telinga mereka, mereka mengerubungi meja Sehun, Luhan dan Donghae yang tentu saja mengundang tatapan heran dari pengunjung lain, beberapa dari mereka bahkan terlihat takut, termasuk Donghae yang memandangi keenam orang itu bingung.

“Si… Siapa kalian?”

“Kami di perintahkan oleh tuan Kim untuk menjemput tuan muda Luhan dan Sehun pulang…” Ujar salah satu dari orang itu tegas, Donghae mengalihkan tatapannya kepada kedua muridnya, Luhan hanya memberi senyuman tipis kepada Donghae.

“Maafkan kami saem, mungkin appa kami khawatir kami belum pulang…” Ujar Luhan.

“Tapi kali ini Appa keterlaluan…” Desis Sehun kesal, dia menghela nafas berat kemudian berdiri dan mengambil tasnya, di ikuti oleh Luhan yang melakukan hal yang sama seperti Sehun.

“Seonsaengnim, saya harap seonsaengnim merahasiakan hal ini dari teman-teman, kami pulang dulu… Anneyeonghaseyo…” Ujar Luhan pamit dan sedikit membungkukkan badannya, sangat berbeda dengan Sehun yang wajahnya tertekuk semenjak kedatangan anak buah ayahnya itu. Donghae hanya memberi anggukan kikuk, kedua orang itu pun melangkahkan kakinya pergi dengan penjagaan ketat keenam orang bodyguard ayah mereka.

Langkah Sehun tiba-tiba berhenti, “Tunggu dulu!” Serunya.

Luhan menatap Sehun heran, “Ada apa?”

Sehun tidak menjawab pertanyaan Luhan, dia hanya menatap salah satu anak buah ayahnya yang berambut pirang, “Rudolph, take care the bill…” Ujar Sehun dingin, sedangkan senyum tipis terukir di wajah Luhan ketika mengetahui alasan Sehun berhenti tiba-tiba.

“Yes, sir!!”

Anak buah yang ia panggil Rudolph itu langsung memberi hormat kepada Sehun dan langsung melaksanakan perintah tuannya, dia segera ke meja kasir dan membayar apa saja yang tadi di pesan kedua tuannya sekaligus guru mereka.

-***-

Rahway – New Jersey

Pria jangkung itu duduk di kursi dekat perapian, dia menyeruput espressonya sambil menatap lurus pada foto yang berukuran sangat besar yang terpajang di tembok di atas perapian, di dalam foto itu terdapat sepasang suami istri dengan dua anak mereka yang masih berumur dua tahun dan satu bulan, foto yang di ambil 17 tahun lalu itu selalu menjadi obyek kesukaannya jika dia sedang berada di rumah, namun walaupun begitu, foto itu juga membuka kembali luka dalam hatinya karena harus kehilangan ketiga orang yang sangat di cintainya itu.

‘Luhan… Sehun… How are you now, sons? Daddy was missed you so much but Daddy can’t meet you until that time… Until the time when both of you were ready to take revenge to the one who kill your mother…’ Pria itu membatin, air matanya menggenang di sudut-sudut mata tajam miliknya namun segera ia hapus.

“Mr. Wu…” Seseorang memanggil pria jangkung itu dan membuat pria itu menoleh.

“What?”

“You may look at this…” Jawab pria itu sambil menyodorkan beberapa berkas dalam map biru.

Pria jangkung itu menerimanya dan membolak-balikkan kertas yang memuat profil seseorang yang tidak pernah di kenalnya, keningnya mengerut, dia kemudian menatap orang tadi dengan pandangan tidak mengerti.

“Who is this?”

“He is the one who kill your wife seventeen years ago…”

“What? But he was dead already!”

“Yes, he was… But not his son… His son still alive and I heard that his son is going to take your company and kill your sons…”

-***-

Pria berkulit putih itu menatap kedua anaknya bergantian dengan tatapan yang menahan marah, dia mengetuk-ngetuk meja kaca dengan jari-jarinya, di sampingnya ada asistennya yang dengan setia menemaninya.

“Bagaimana kalian bisa melupakan jadwal bela diri kalian?” Tanya pria itu sedikit tajam.

“Jweseonghaeyo appa, lain kali kami tidak akan mengulanginya…” Ujar Luhan meminta maaf, raut wajah menyesal sangat terpancar dari wajah tampannya.

“Appa, ini baru pertama kalinya kami tidak mengikuti latihan tapi kenapa Appa begitu marah? Kami bahkan sudah sangat menguasainya, Zitao laoshi bahkan mengatakan bahwa kemampuan kami sudah sangat di atas rata-rata!!” Sehun berteriak kesal, dia memandang ayahnya marah.

“Kim Sehun!! Kemampuan bela dirimu dan Luhan itu masih tidak seberapa!! Kau harus terus melatih kemampuanmu agar kau siap untuk sesuatu yang lebih besar dan harus selalu kau ingat, jangan pernah merasa puas dengan apa yang kau dapatkan!”

“Appa!! Appa selalu mengatakan hal yang sama!! Appa selalu mengatakan kalau aku harus siap untuk sesuatu yang lebih besar!! Tapi apa sesuatu yang lebih besar itu? Aku bahkan tidak tau!!”

Sehun membanting vas kaca yang langsung pecah berkeping-keping, beberapa pembantu wanita terlihat kaget dan menutup mulut mereka dengan kedua tangan, Sehun langsung beranjak pergi dengan langkah-langkah lebar menuju kamarnya yang ada di lantai dua.

“Sehun-ah!” Luhan memanggil adiknya, namun adiknya sama sekali tidak mengindahkan panggilannya.

BLAMM

Suara bantingan pintu terdengar keras hingga bawah, tempat di mana Luhan, Suho, serta beberapa pembantu mereka berada.

“Dia sangat keras kepala…” Ujar Suho lirih.

Luhan menghela nafasnya dan menatap Suho nanar, “Appa, aku rasa aku harus memberinya pengertian…”

Suho mengangguk, “Baiklah, aku rasa memang kau yang paling mengerti dia…”

-***-

-Yonsei High School

Namja berkulit gelap itu mendribble bola basketnya tanpa ada sedikitpun niat untuk memasukkannya ke dalam ring, tatapannya kosong namun tidak dengan pikirannya, pikirannya sedang menerawang jauh mengingat kejadian kemarin, kejadian yang membuat rasa marah dan benci itu menyelimuti hatinya.

“Jung Jongin, apa yang kau lakukan di sini?” Suara seseorang membuat namja yang bernama Jung Jongin itu tersadar dari lamunannya, dia menoleh.

“Tidak ada”

“Hey, ayolah, kenapa kau tiba-tiba seperti ini? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”

“Byun Baekhyun, tutup mulutmu atau aku akan menghajarmu! Aku sedang tidak ingin diganggu!!”

Baekhyun mengerjapkan matanya kaget dengan reaksi Jongin, dia langsung tersenyum kikuk dan menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. “Emm… Kalau begitu lebih baik aku pergi saja dari sini…” Ujarnya sambil melangkah mundur kemudian berbalik.

“Tunggu dulu!!”

Baekhyun yang bersiap untuk berlari pun membeku di tempatnya karena ucapan Jongin barusan, dengan hati-hati dia memutar kepalanya dan menatap Jongin kembali.

“A-Ada apa?” Tanyanya tergagap.

“Bisa kau antarkan aku pada murid yang bernama Kim Sehun?”

-***-

-TBC-

Iklan

10 thoughts on “Promise and Responsibility Chapter 2

  1. Ping-balik: Promise and Responsibility Chapter 3 | Acha's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s