[One Shoot] – Last Moment

Last Mo

Title : Last Moment.

Author :Heen Doongie a.k.a @Cha_FishyHae

Lenght : One Shoot.

Genre : Romance, Sad, Hurt.

Main Cast :

–          EXO’s Kris Wu

–          Lee Arra (OC)

Support Cast :

– Girls Generation’s Jessica.

– F(x)’s Luna.

– EXO’s Chen.

-***-

A/N:

Ocha Eonnie!! Saya udah nepatin janji saya pan? Hope you like it and I’m sorry if this fanfiction is out of your expectation :3

-**-

Arra PoV

Senyumnya indah, bahkan menurutku terlalu indah, setiap kali aku melihatnya aku selalu merasa Tuhan begitu tidak adil karena Dia menciptakan namja itu dengan wajah tampan tanpa cela dengan segala kesempurnaannya yang lain, tapi tidak seharusnya aku mencela Tuhan, Tuhan menciptakannya untuk di kagumi, dan aku… Aku adalah satu dari sekian banyak pengagumnya, aku adalah pengagum Kris, namja sempurna yang tanpa aku sadari telah membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya dua tahun lalu.

-***-

Disinilah aku, di tepi lapangan basket dengan buku-buku tebal yang berada di kanan-kiriku, tempat ini selalu menjadi tempat favoritku ketika sedang istirahat, selain karena tempat ini rindang sehingga membuatku nyaman belajar, di tempat ini aku bisa melihat orang yang membuat hatiku bergetar setiap aku melihatnya, di tempat ini aku bisa leluasa melihat Kris memainkan bola basket yang memang menjadi olah raga kesukaannya, yah, walaupun konsentrasiku memang lebih banyak tersita oleh buku-buku tebal yang selalu aku bawa, tapi setiap aku menemukan kesulitan untuk memahami isinya, cukup melihat Kris sejenak kemudian kembali melihat buku membuatku pada akhirnya mengerti apa yang dimaksud di buku tersebut, terdengar aneh memang, tapi memang begitu kenyataannya, Kris… dia semacam oasis di padang pasir bagiku.

Aku tersentak ketika sebuah tangan menepuk bahuku, aku pun menolehkan wajah dan tersenyum ketika melihat siapa yang melakukannya.

“Luna? Tumben sekali kau kesini? Mana Jongdae?” Tanyaku ketika melihat Luna hanya sendiri, biasanya dia bersama dengan Jongdae, kekasih –ah, tidak, masih belum, saat ini status kedua orang itu masih sebagai sahabat, dan keduanya adalah sahabatku, kedua sahabatku itu memang saling menyukai, tapi mereka berdua masih malu untuk mengungkapkan perasaan satu sama lain.

Luna mendudukkan dirinya disampingku dan menatap lurus kedepan, “Hari ini jadwal Jongdae mengikuti kelas menyanyi…” Ujarnya sambil menyepak-nyepakkan kakinya tidak jelas.

Aku terkekeh kecil melihat tingkahnya, “Luna-yah, kenapa kau juga tidak ikut kelas menyanyi saja? Bukankah suaramu sangat merdu? Lagi pula dengan begitu kau bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan dia…” Saranku.

Luna menoleh dan menatapku seakan meminta persetujuan, “Haruskah?”

Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepalaku sebagai jawaban, Luna kembali menolehkan wajahnya menatap lurus kedepan dan aku kembali fokus dengan buku-buku tebalku.

“Arra-yah…”

“Hmm?”

“Apa kau masih memendam perasaanmu kepadanya?”

Aku menoleh dan tersenyum tipis, “Kenapa kau menanyakan hal itu?”

Luna menghela nafas panjang dan mengalihkan tatapannya ke lapangan basket, aku pun mengikutinya, tatapanku terjatuh tepat kepada namja yang sedang melakukan selebrasi setelah mencetak threepoint, senyumnya tanpa sadar membuatku ikut menarik sudut bibirku dan tersenyum, selalu seperti ini.

“Lihat, bahkan hanya melihatnya tersenyum kau juga ikut tersenyum”

Ucapan Luna barusan membuatku tersadar, serta merta aku merubah ekspresiku dan menatap Luna kikuk, “A-aniya, siapa yang tersenyum?”

“Tck, siapa? Hey, aku punya mata untuk melihat, jelas-jelas aku melihat kau tersenyum tadi, Arra-yah… Aku ini sahabatmu lebih dari lima tahun, aku sangat mengenal dirimu…”

Aku hanya bisa tersenyum tipis.

“Kenapa kau tidak mencoba mengungkapkan perasaanmu padanya saja?”

Mataku terbelalak, “Hah? Apa kau bilang?”

“Nyatakan perasaanmu kepadanya” Ulangnya seakan hal itu adalah hal yang mudah untuk dilakukan.

“Kau gila” Ujarku kemudian mengalihkan perhatianku kepada buku-buku tebalku yang rasanya saat ini lebih bisa membuatku nyaman dari pada sahabatku sendiri.

“Ya!!” Luna berteriak kepadaku.

Aku menutup bukuku dan menatap Luna tajam, “Kalau kau menganggap hal yang kau katakan barusan itu mudah, kenapa kau tidak melakukan hal yang sama kepada Jongdae?”

Luna terdiam, aku tau dia tidak mampu menjawab pertanyaanku barusan, aku pun merapikan bukuku dan beranjak, meninggalkan Luna tanpa mengatakan apapun, aku tidak marah kepadanya, hanya saja hatiku merasa tidak nyaman dengan apa yang baru saja diucapkannya, sebenarnya aku juga ingin melakukan hal itu, tapi aku tidak bisa, sekalipun aku dan Kris berada di kelas yang sama, tapi kami seperti orang yang tidak saling mengenal, yah, Kris memang teman sekelasku, teman sekelas yang bahkan sekalipun tidak pernah melakukan interaksi. Aku dan Kris… Kami seperti hidup di dunia berbeda sekalipun berada dalam satu ruangan yang sama.

-***-

Pikiranku masih disibukkan dengan kata-kata Luna sehingga tanpa ku sadari aku berjalan di koridor yang hanya akan membawaku ke gudang sekolah, aku meruntuki kebodohanku sendiri karena bisa-bisanya aku tersesat di sekolah yang sudah hampir dua tahun aku tempati ini. Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah. Sepi, tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri tanpa ku mengerti.

Sebuah bola basket menggelinding dan mengenai kakiku, bulu kudukku kembali berdiri, pikiranku mulai berisi tentang adegan-adegan di film horror yang sering kali ku tonton, oke, mungkin mulai hari ini aku harus mengehentikkan kebiasaan burukku yang satu itu. Aku menutup mataku rapat ketika mendengar derap langkah kaki mendekat ke arahku. Tuhan… Tolong aku.

“Hey…”

“EOMMA!!!!” Aku berteriak keras dan hampir menangis ketika aku merasa seseorang menyentuh bahuku dan tanpa sengaja menjatuhkan seluruh buku yang aku bawa.

“Ouch!!”

Aku membuka mataku ketika mendegar seseorang merintih, aku hanya bisa mengangakan mulutku ketika melihat siapa yang ada di depanku.

“K-Kris?”

Kris mendongakkan kepalanya dan tersenyum, oh tidak, tolong jangan tersenyum seperti itu kepadaku, aku benar-benar lemah dengan senyumannya. Kris menegapkan tubuhnya dan menatapku., “Arra? Apa yang kau lakukan disini?”

DEG

Jantungku berdebar begitu keras, ini pertama kalinya dia berbicara kepadaku setelah dua tahun, dan tidak ku sangka dia mengetahui namaku, tapi sesaat kemudian aku meruntuki kebodohanku lagi, tentu saja dia mengetahui namaku, kita berada di kelas yang sama selama dua tahun.

“Eh? Em, itu… Aku…”

Ya Tuhan, ada apa denganku? Kenapa aku tidak bisa berbicara dengan benar? Nilai diskusiku bahkan sempurna, tapi kenapa dihadapannya aku malah tergagap seperti ini?

“Kau?”

“Aku tersesat” Jawabku sekenanya, mungkin tidak sekenanya karena memang itu kenyataannya.

Kris terlihat menahan tawanya sebelum benar-benar tertawa, aku yakin saat ini wajahku memerah karena malu, bagaimana mungkin interaksi pertamaku dengan dia aku mempermalukan diriku sendiri?

“Kau lucu”

“Eh?”

“Kau lucu…” Ulangnya, aku hanya bisa tersenyum kikuk tanpa tau harus berkata apa.

Sedetik kemudian Kris berjongkok dan mengambil bukuku yang berjatuhan, aku pun langsung tersadar dan ikut membantunya mengambil bukuku, kami berdua pun berdiri, tanpa sengaja aku dan Kris saling menatap ke dalam manik mata masing-masing, aku yakin wajahku kembali memerah. Kris tersenyum tipis, tangannya terjulur dan meletakkan rambutku di belakang telinga.

“Begini lebih cantik, aku mau mengembalikan bola basket ke gudang dulu, bye!”

Kris pun mengambil bola basketnya dan menuju gudang, sedangkan aku, aku kembali ke kelas dengan perasaan yang sulit untuk aku sendiri menjelaskannya. Hari ini indah.

-***-

Aku hanya bisa berguling-guling diatas ranjangku tanpa bisa menutup mata, pikiranku masih terisi dengan kejadian tadi siang, apalagi senyum pertama Kris yang ia tujukan kepadaku, ahh… Aku benar-benar bisa gila jika terus saja tersenyum tidak jelas begini.

Aku menatap langit-langit kamarku yang dihiasi dengan sticker bintang yang bersinar jika lampunya dimatikan, hanya dengan melihatnya saja membuatku nyaman dan kembali mengingatkanku dengan Kris. Kris, aku memang selalu menganggapnya bintang yang sulit untuk ku raih, tapi aku rasa kejadian tadi siang bisa membawaku mendekati dan meraih bintang yang selama ini hanya bisa aku lihat saja.

Sebenarnya aku mempunyai beberapa alasan kenapa aku menyukai Kris, aku menyukainya bukan karena wajah tampannya, aku menyukainya karena dia berbeda. Berbeda? Yah, dia berbeda dari kebanyakan namja lain, namja lain yang dianugerahi ketampanan dan kesempurnaan seperti Kris pasti akan menggunakan itu untuk mempermainkan yeoja, tapi Kris tidak, sekalipun dia tidak pernah melakukannya, kalau seandainya dia mau dia bahkan bisa mengencani seluruh yeoja di sekolah, yeoja mana yang tidak menyukainya? Dia tampan, ketua basket, kaya, dan pintar, bahkan tidak sedikit namja yang iri dengan dirinya.

Aku memeluk bantalku dan menatap jam weker yang berada di atas meja, aku menghembuskan nafas berat ketika melihat jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam, aku tidak menyangka jika efek dari percakapan singkat itu akan sehebat ini, aku pun hanya melihat jarum jam yang terus berputar hingga akhirnya aku terlelap perlahan.

-***-

“Arra-yah!!”

Apa ini? Pagi-pagi Kris sudah menyapaku dengan senyuman lebar, apa dia mau membuatku masuk rumah sakit karena mendapat serangan jantung? Dengan kikuk aku menolehkan wajahku dan membalas sapaannya dengan melambaikan tangan, aku berharap lambaian tanganku tidak terlihat aneh karena aku sangat gugup.

Kris membalas lambaian tanganku dan berlari ke arahku, aku bisa melihat kini semua pasang mata menatap kami berdua, mungkin mereka heran karena ini pertama kalinya Kris dekat dengan seorang yeoja, aku bisa melihat ada beberapa yeoja yang menatapku sinis namun aku berusaha untuk tidak memperdulikannya.

“Hey, boleh pinjam ponselmu tidak?”

“Eh?” Aku sedikit terkejut ketika mendengar permintaannya, untuk apa dia meminjam ponsel kepadaku? Tapi walaupun aku bingung, aku tetap saja memberikan ponselku kepada dirinya, Kris menerimanya dengan senyuman manis, dia mengetikkan beberapa hal disana sebelum mengembalikannya kepadaku.

“Aku sudah menuliskan nomorku diponselmu, aku juga sudah mempunyai nomormu, akan lebih baik jika kita bisa terus berhubungan…” Ujarnya sebelum mengacak rambutku sebentar dan pergi meninggalkanku yang masih terpaku, apa maksudnya melakukan semua itu kepadaku? Kita bahkan hanya baru bicara kemarin, tapi sekarang dia? Ahh… Kepalaku pening hanya dengan memikirkannya.

-***-

Tadi malam Kris menelponku dan mengajakku bertemu di restoran di tepi sungai Han dan aku mengiyakan. Sekarang aku berada di depan kaca dan berkali-kali mengecek penampilanku, sahabatku, Luna dan Jongdae yang kini telah resmi berpacaran berkali-kali mengatakan kalau aku sudah cantik –menurut mereka-, tapi tidak menurutku.

“Arra-yah, kau itu sudah cantik, Kris pasti akan sangat terpesona denganmu, aku jamin itu” Jongdae menyemangatiku, aku hanya bisa tersenyum kikuk tanpa bisa menyembunyikan kegugupanku.

Tiba-tiba terdengar klakson mobil dari luar, aku yakin itu Kris, aku pun keluar dan diikuti dua sahabatku dari belakang, dan itu memang Kris, Kris keluar dari pintu kemudi untuk membukakan pintu untukku, dia sangat tampan bahkan dengan pakaian kasual seperti ini.

“Gomawo…” Aku berterimakasih untuk menghilangkan kegugupanku.

Kris menahan tanganku ketika aku hendak memasuki mobilnya, aku menoleh dan menatapnya bingung.

“Kau sangat cantik…”

Aku yakin saat ini wajahku memerah, aku hanya bisa memberikan senyuman tipis kemudian masuk ke dalam mobil. Aku tidak tau bagaimana menjelaskan perasaanku saat ini, duduk di mobil bersama dengan pria yang aku cintai, aku sungguh tidak bisa menjelaskannya.

“Arra-yah…” Kris memanggil namaku pelan.

“Mm?”

“Boleh aku minta tolong kepadamu?”

Aku menolehkan wajahku menatapnya, Tuhan… Bagaimana mungkin Engkau menciptakan manusia seindah dia? Bahkan dari samping dia terlihat begitu tampan, “Apa?” Ujarku setelah aku menghentikan kegiatanku mengaguminya diam-diam.

“Bisakah kau berpura-pura menjadi kekasihku ketika kita berada di sana nanti?”

“Eh?”

Kris menepikan mobilnya, dia menolehkan wajahnya kemudian menggenggam tanganku erat, tangannya terasa begitu dingin, “Aku mohon… Berpura-puralah menjadi kekasihku ketika kita ada disana, kau mau ‘kan?” Ekspresi memelas Kris membuatku tidak sanggup untuk menolak.

“Baiklah…”

Kris tersenyum, dia mengacak rambutku sejenak sebelum akhirnya kembali mengemudikan mobilnya. Sejujurnya saat ini hatiku sakit, sangat sakit, kenapa dia memintaku berpura-pura untuk menjadi kekasihnya? Apa alasannya melakukan ini semua? Aku hanya bisa memejamkan mataku menahan air mata yang rasanya mendesak keluar. Berkali-kali aku menghembuskan nafas berat dan aku rasa Kris menyadarinya.

“Arra-yah…”

“Mm?”

“Maafkan aku jika aku menyakiti hatimu…”

-***-

Dan disinilah aku dan Kris, sebuah restoran mewah di tepi sungai Han, kami berdua duduk berdampingan namun saling diam, tidak ada satu pun diantara kami yang mengajak bicara kecuali saat memesan makanan tadi.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba ada seorang yeoja yang sangat cantik dengan rambut blonde duduk di hadapan kami berdua, dia memberikan senyuman manis, yeoja itu sangat cantik, terlalu cantik hingga membuatku merasa tidak nyaman.

“Jadi dia yang kau ceritakan padaku, Kris?” Yeoja itu langsung bertanya kepada Kris, sepertinya dia dan Kris terlihat sangat akrab.

Aku melihat Kris mengangguk, dia kemudian menatapku, “Arra-yah, kenalkan, ini noonaku, Jessica noona”

“Oh, ne, anneyeonghaseyo, Lee Arra imnida…” Aku menjabat tangan Jessica kikuk.

Jessica tersenyum dan membalas jabatan tanganku, “Jessica Jung”

“Jung?” Aku mengulang nama belakangnya dengan kening mengerut, bukankah marga Kris adalah Wu? Lalu kenapa noonanya bermarga Jung?

Jessica terkekeh kecil, dia sepertinya mengerti kenapa aku mengerutkan keningku bingung, “Aku dan Kris bukan saudara kandung, aku dan Kris sebenarnya adalah mantan kekasih…”

DEG

Apalagi ini? Apa maksud Kris mengajakku bertemu dengan mantan kekasihnya? Aku menatap Kris meminta penjelasan, namun sebenarnya lebih dari ingin meminta penjelasan aku sebenarnya ingin pergi dari sini, aku ingin berada di tempat dimana aku bisa sendiri dan menangis sepuas hatiku.

“Arra-ssi, kau tenang saja, aku sudah memiliki kekasih sekarang dan Kris yang mengenalkannya kepadaku… Aku tidak akan mengambil Kris darimu, lagi pula aku sudah mau menikah dengan kekasihku yang sekarang”

Aku makin tidak mengerti, aku hanya bisa memandangi Jessica dan Kris tanpa bisa mengatakan apapun, sebenarnya aku ingin menanyakan banyak hal tapi aku tidak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk menyampaikannya.

“Arra-ssi, kau beruntung memiliki Kris”

“Ne?”

Jessica tersenyum tipis, “Kris adalah orang yang baik, kau tau, dia mengatakan kepadaku kalau dia begitu mencintaimu, tolong jaga dia untukku, dia sudah seperti adikku sendiri sekarang…”

Aku hanya diam dan menatap Kris, tapi kenapa Kris terlihat seperti… ingin menangis?

-***-

Aku hanya memegang cup plastic kopiku tanpa berniat untuk meminumnya, aku dan Kris kini duduk berdampingan di bangku di tepi sungai Han sambil menunggu matahari tenggelam, lagi, tidak ada satupun dari kami yang memulai pembicaraan, kami hanya diam.

“Mianhae…”

Hingga akhirnya satu kata dari Kris membuatku menoleh dan menatapnya, wajah Kris terlihat begitu sendu, aku bahkan melihat matanya berkaca-kaca, ada apa sebenarnya dengan dia? Aku pun memberanikan diriku untuk bertanya kepada dirinya.

“Kris…” Dia menoleh menatapku, aku menelan ludahku kasar sebelum melanjutkan ucapanku, “Kris… Kenapa kau terlihat bersedih?”

Kris tersenyum tipis, tanpa ku duga dia tiba-tiba memelukku dan menangis, aku hanya diam, tak membalas pelukannya atau berusaha menenangkan tangisannya.

“Arra-yah… Mianhae” Suara Kris terdengar bergetar, entah kenapa hatiku terasa begitu sakit melihatnya seperti ini, aku seakan ikut merasakan kesedihannya, ingin rasanya aku ikut menangis bersamanya tapi aku menahannya.

“Kenapa kau meminta maaf? Tidak ada yang perlu dimaafkan… Kau tidak melakukan kesalahan apapun kepadaku…”

Kris melepaskan pelukannya, dia menatapku dengan mata yang sembab, oh Tuhan… Aku sama sekali tidak ingin melihatnya seperti ini, aku ingin menghapus air matanya tapi aku merasa aku tidak mempunyai hak untuk melakukannya, apa yang harus aku lakukan, Tuhan?

Kris menggenggam tanganku, “Arra-yah… Aku ingin mengatakan sesuatu padamu…”

“Kau ingin mengatakan apa?”

“Aku… Aku mengidap leukemia…”

Mataku membulat tidak percaya, Kris mengidap leukemia? “Jangan bercanda, Kris! Hal seperti itu bukan untuk candaan!” Aku menghardik Kris sedikit meninggikan nada bicaraku, namun Kris masih tetap sama, masih menatapku dengan mata sembabnya.

“Aku tidak bercanda, aku memang mengidap penyakit ini hampir satu tahun…”

DEG

Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan, aku hanya diam dan memandangi Kris antara percaya atau tidak, tapi genggaman tangannya yang dingin membuatku sedikit mempercayai apa yang baru saja ia bicarakan.

“Saat pertama kali aku mengetahui aku mengidap penyakit ini aku dan Jessica noona masih menjadi sepasang kekasih, aku tidak ingin noona terbebani dengan penyakitku sehingga aku berbohong padanya kalau aku menyukai wanita lain dan memutuskan hubungan kita, hingga akhirnya aku mengenalkannya kepada salah satu hyung yang aku kenal dan hyung itu kini yang akan menjadi suami noona…” Kris menceritakan kisahnya sedikit terisak, kini aku mengerti apa alasannya melakukan semua ini.

“Apa kau masih mencintainya?” Tanyaku hati-hati.

Kris menghela nafas panjang dan menatapku, “Selalu…”

Entah apa yang membuat air mata yang aku tahan dengan susah payah akhirnya mengalir, Kris membulatkan matanya ketika melihatku menangis, dia langsung memegangi wajahku dengan kedua tangannya dan makin membuatku tak mampu membendung lagi air mata ini.

“Arra-yah…”

Aku memeluk Kris tiba-tiba dan menumpahkan segala tangisku di dada namja yang aku cintai itu, Kris membalas pelukanku dan mengeratkan pelukannya, aku tau dia merasa bersalah kepadaku, tapi setelah mendengar alasannya, aku sama sekali tidak merasakan sakit pada hatiku, yang ku rasakan kini hanyalah takut… Aku takut kehilangannya.

“Arra-yah… Aku takut aku tidak mempunyai waktu untuk mengatakan ini padamu, aku ingin mengatakan maaf karena telah menyakiti hatimu… Aku sadar aku adalah laki-laki yang buruk”

Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya, aku menggelengkan kepalaku pelan, “Aniya… Kau adalah lelaki paling baik yang pernah aku kenal… Saranghae, Kris…” Aku mengucapkan satu kata yang telah aku pendam selama dua tahun ini, sama seperti Kris, aku takut jika aku tidak mengatakannya sekarang semuanya akan terlambat.

Kris membulatkan matanya, sepertinya dia cukup terkejut dengan pernyataanku barusan, sedetik kemudian dia menjulurkan tangannya dan meletakkan rambutku di belakang telinga, “Bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau kau lebih cantik jika seperti ini?”

Kris tersenyum tipis, begitu pula aku, dia kemudian menjulurkan tangannya lagi mengusap air mataku yang masih membekas dipipiku, Kris mendekatkan wajahnya kepadaku, aku hanya bisa menutup mataku ketika merasakan bibir dingin menyentuh bibirku, aku kembali menangis, menangis karena cinta pertamaku, orang yang pertama kali menciumku, tidak akan ada disampingku untuk waktu yang lama.

Tiba-tiba aku merasa tubuh Kris semakin berat, aku membuka mataku dan sedikit mendorong tubuh Kris hingga ciuman kami terlepas, aku melihat Kris menutup matanya tapi dia masih bernafas, nafas yang sungguh pendek, dengan segera aku menghubungi 911 meminta bantuan.

Arra PoV end.

-***-

Hari ini semua orang berbaju hitam, mereka mengelilingi satu pusara dengan foto seorang namja tampan dengan senyum menghangatkan yang ada di atas nisannya, beberapa dari mereka terisak kehilangan, termasuk yeoja yang hanya memandangi pusara itu dengan tangisan tanpa suara, namun air mata yang mengalir di pipi putihnya jelas menyiratkan betapa dia merasa kehilangan sosok itu. Hujan tiba-tiba mengguyur, membuat para pelayat meninggalkan pusara itu satu per satu.

“Arra-yah, ayo kita pulang, kau akan sakit jika kehujanan…” Luna, sahabat yeoja itu mengajaknya pulang.

Arra menggeleng pelan, “Aku bisa pulang sendiri nanti, kau tidak usah mengkhawatirkanku, aku masih ingin disini…”

“Tapi-”

“Chagi-yah, sudahlah… Biarkan Arra disini lebih lama, kau tau bagaimana dia mencintai Kris…” Jongdae, kekasih Luna mencegah Luna untuk memaksa Arra lebih lanjut, Jongdae bisa mengerti perasaan Arra dan akhirnya Luna pun menyerah dan memutuskan untuk pulang dengan kekasihnya.

Kini hanya tinggal Arra seorang yang jatuh tersimpuh, dia mengarahkan tatapannya ke bingkai foto Kris, di foto itu Kris tersenyum, senyum yang selalu membuat Arra tanpa sadar ikut tersenyum, begitupun sekarang, tanpa sadar kedua sudut bibir Arra tertarik sehingga membuat sebuah senyuman manis terukir di wajah Arra, setidaknya senyuman itu bisa mengelabui tangisnya yang tersamarkan oleh air hujan.

“Aku tau kebersamaan kita memang hanya sebentar, bahkan aku hanya hadir dalam hidupmu pada saat-saat terakhir, tapi aku harap saat-saat terakhirmu juga menjadi saat-saat terindah dalam hidupmu, Gomawo Kris… Gomawo telah menyisakan sedikit waktumu untuk mendengar pernyataan cintaku… Saranghae…”

-***-

-END-

Iklan

3 thoughts on “[One Shoot] – Last Moment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s