Promise and Responsibility Chapter 4

PAR

Promise and Responsibility

Title : Promise and Responsibility

Author : Evilosh_HD a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Brotherhood, Friendship,Action.

Lenght : Chaptered.

Cast :

  • Oh Sehun as Kim Sehun.
  • Luhan as Kim Luhan.
  • Suho as Kim Suho.
  • Kai as Jung Jongin.
  • Kris as Kris Wu.
  • D.O as Do Kyungsoo.
  • Another EXO’s member.

Support cast:

  • Lee DongHae (Super Junior).
  • Im YoonA (Girls Generation).
  • Lee Jinki (SHINee).
  • Taeyeong (SMROOKIES)

Summary:

“Wait for daddy sons… Daddy will protect you…”

-***-

Part Before : 3

Be aware with typo(s)

Happy Reading ^^

-***-

“Mm, selama ini tidak pernah ada yang benar-benar dekat denganmu selain aku dan Taeyeong ‘kan? Aku rasa sudah saatnya kau mengenal orang lain…” Ujar Luhan sambil mentap lurus ke depan.

Sehun menatap lurus kepada kakaknya, “Apakah boleh?”

Luhan hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan tanpa mengatakan apapun, namun sebenarnya dihatinya saat ini ada kekhawatiran yang ia sembunyikan sendiri, bukan hanya kekhawatiran, namun juga rasa takut, takut jika nanti ayah mereka mengetahui hal ini, dia pasti akan langsung mengurung Sehun dan tidak akan membiarkan dia keluar selama beberapa hari, dan karena itulah, dalam hatinya Luhan berjanji bahwa dia akan selalu melindungi adiknya.

“Tapi hati-hati…” Pesannya kepada Sehun setelah beberapa saat merenung dalam hatinya.

“Selalu”

-***-

“Mr. Wu, I got some news for you…” Ujar seseorang berjas hitam kepada Kris yang sedang berada di kantor perusahaannya.

“What’s that?”

“The one who killed your wife was Igor Lewis’s son, so that means the one who’s going to take your company and kill your son is his grandson…”

Kris langsung berdiri dari duduknya dan menatap pria berjas hitam itu marah, “What did you say??!! Tell Suho to add more protection to my sons and tell him that I’m going to Korea within a few days!!”

“Yes, Sir!!” Ujar pria berjas hitam itu tegas kemudian pergi meninggalkan Kris yang kini mengacak-acak rambutnya.

“Luhan… Sehun… Wait for daddy sons… Daddy will protect you…”

-***-

Suho sedang berada di ruang kerjanya dan membolak-balikkan buku perusahaan, sesekali dia membenarkan letak kacamata dan menghela nafas berat, dia terlihat begitu serius hingga kerutan di keningnya terlihat jelas, namun segala keseriusannya itu hilang ketika dia mendengar pintu ruang kerjanya terbuka.

“Yixing? Ada apa?”

“Anak buah tuan Kris baru saja menelpon, tuan…” Ujarnya sambil mendekat ke meja kerja Suho.

“Apa yang mereka katakan?”

“Mereka hanya mengatakan untuk menambah perlindungan kepada tuan muda Luhan dan Sehun”

Kening Suho mengerut, “Menambah perlindungan? Memangnya kenapa?”

Yixing menggelengkan kepalanya pelan, “Saya kurang tau, hanya itu yang mereka katakan tadi…”

Suho menghela nafas berat, “Baiklah kalau begitu, tolong panggilkan Rudolph ke ruanganku…” Perintah Suho yang di sambutan anggukan dari Yixing.

-***-

Jongin masih mendrible bola basket yang ada di tangannya kemudian dilemparkannya ke dalam ring dan masuk, bola itu menggelinding dan Jongin hanya melihatnya tanpa sedikitpun ada niatan untuk mengambilnya.

“Ouch!”

Jongin tersentak kaget ketika sebuah benda dingin tiba-tiba menyentuh lehernya, dia menoleh, “Ahhh… Kyungsoo hyung, kenapa kau melakukan itu kepadaku?”

Kyungsoo tersenyum, “Aku hanya ingin menggodamu, ini untukmu…” Ujar Kyungsoo yang kemudian memberi minuman kaleng kepada Jongin.

Jongin menerima minuman itu dan tersenyum, “Gomawoyo hyung…”

Jongin segera membuka kaleng itu dan langsung meminumnya hingga habis, Kyungsoo hanya memandangi sepupunya itu senyuman lembut, dia sangat menyayangi Jongin sekalipun mereka baru di pertemukan sekitar satu tahun lalu.

“Jongin-ah…” Panggil Kyungsoo pelan.

“Ne?”

“Hyung rasa kita tidak bisa pulang bersama kali ini…”

Kening Jongin mengerut, “Waeyo?”

“Hyung mendapat pekerjaan baru…” Ujarnya sambil menepuk bahu Jongin.

“Apa? Hyung… Hyung jangan bekerja… Hyung tidak boleh bekerja, aku yang akan bekerja…”

“Aniya… Aku adalah kakakmu dan aku yang seharusnya menghidupimu, bukan sebaliknya…”

“Tapi hyung-”

“Jongin-ah, sudahlah… Ini saatnya hyung yang melakukan sesuatu untukmu…” Kyungsoo menepuk bahu Jongin pelan kemudian meninggalkan Jongin yang hanya terpaku di tempatnya berdiri saat ini.

-***-

Wanita cantik itu berkutat dengan laptop miliknya dan sesekali membenarkan letak kacamatanya, wajahnya benar-benar serius ketika mendapat kabar dari atasannya bahwa targetnya berada di negara yang sama dengan dia saat ini.

Dengan serius wanita itu mengamatai setiap detail profil seseorang yang tertera di laptopnya yang membuatnya sesekali menghela nafas berat, dia bahkan tidak sadar jika cangkir kopinya sudah kosong sejak tadi.

Setelah beberapa saat wanita cantik itu akhirnya menutup laptopnya dan menyandarkan punggungnya ke kursi, dia menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang, “Bagaimana aku menemukan dia? Negara ini terlalu luas…”

-***-

“Hyung, hari ini ayo ke kedai Yoona noona dengan Donghae hyung…” Tawar Sehun kepada Luhan.

Luhan menggeleng pelan, “Lebih baik kita langsung pulang, aku tidak mau appa memarahimu seperti kemarin…” Tolak Luhan halus.

Sehun mendengus, “Aku tidak mau, lagi pula hari ini jadwal kita kosong, aku ingin sedikit bersantai!”

Luhan menghela nafas panjang menyerah, “Baiklah, aku akan ke ruangan Donghae seonsaengnim dulu kalau begitu…”

“Assa!! Gomawoyo hyung!!”

Luhan hanya tersenyum kemudian pergi menuju ruangan Donghae, Luhan langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu ketika sampai, dilihatnya gurunya begitu serius dengan computer yang ada di ruangannya, Luhan pun melangkahkan kakinya pelan menuju meja gurunya. Luhan mengerutkan keningnya ketika melihat situs yang dilihat oleh Donghae saat ini.

“Marvell Corp?” Ujar Luhan lirih yang sontak membuat Donghae kaget dan menekan tombol off pada komputernya.

“Oh? Luhanie? Ada apa kau kesini?” Ujar Donghae dengan memasang wajah sebiasa mungkin.

Luhan masih memandang Donghae dengan tatapan bertanya-tanya, “Sehun ingin mengajak seonsaengnim ke kedai Yoona noona…”

“Eh? Mau apa lagi anak itu…” Ujar Donghae dengan wajah datar.

“Mollayo…” Ujar Luhan masih menatap Donghae dengan tatapan yang sama.

Donghae pun bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum, “Baiklah kalau begitu, aku juga kebetulan sedang merindukan wajah cantik Yoona” Ujarnya kemudian tertawa pelan, sedangkan Luhan hanya diam.

Kedua orang itu pun menuju ke tempat parkir dimana Sehun sudah menunggu keduanya di samping mobil Donghae.

“Hyu.. Eh, Seonsaengnim!!” Teriak Sehun sambil melambaikan tangannya kepada Donghae, Donghae membalas lambaian tangan Sehun serta tersenyum lebar, sedangkan ekspresi Luhan masih belum ada perubahan sama sekali.

Donghae membukakan pintu belakang mobil untuk kedua orang kakak-beradik itu masuk, dia sendiri kemudian masuk ke dalam mobil tepatnya di belakang kemudi, Donghae mengemudikan mobilnya menuju kedai milik Yoona, sepanjang perjalanan Donghae selalu melihat ekspresi Luhan dari kaca mobilnya yang tidak pernah berubah dan itu membuat rasa takut di hati Donghae muncul, sedangkan Sehun yang sedari tadi bernyanyi-nyanyi tidak jelas dan menggoda Luhan sekarang telah tertidur dengan kepala yang di sandarkan pada bahu kakaknya.

Luhan membangunkan Sehun ketika mereka tiba di kedai milik Yoona, saat hampir sore seperti ini kedai itu memang sedikit sepi sehingga membuat ketiga orang itu mempunyai kesempatan untuk berbincang-bincang dengan sang pemilik.

“Ini pesanan kalian…”

Yoona menyodorkan pesanan ketiga orang itu dengan senyuman yang manis, membuat manik-manik mata Donghae tak pernah lepas mengagumi kecantikan wanita yang ada di depannya itu.

“Noona…” Panggil Sehun pelan, Yoona menatap Sehun dan mengangkat kedua alisnya, “Bisakah kita mengobrol bersama-sama?” Lanjut Sehun yang disambut senyuman oleh Yoona, tak hanya itu, dia langsung mendudukkan dirinya di samping Donghae dan mengundang godaan dari Luhan dan Sehun.

“Noona, lihatlah, wajah guruku merah seperti kepiting rebus!!” Celetuk Sehun yang langsung di sambut tawa keras oleh Luhan.

Yoona menolehkan wajahnya menatap Donghae, “Kenapa kau terlihat gugup?” Tanyanya yang makin membuat Donghae salah tingkah, Yoona mengalihkan pandangannya kepada Luhan dan Sehun, “Ya! Bagaimana bisa kalian mengubah guru kalian yang killer ini menjadi gugup seperti ini di depanku?” Tanya Yoona yang langsung membuat Donghae menoleh kaget.

“Bagaimana anda tau kalau aku ini… Emm…”

“Guru killer?” Ujar Yoona yang hanya di sambut anggukan dari Donghae, Yoona hanya menggerakkan dagunya mengarah kepada Sehun dan Luhan, “Mereka berdua yang selalu menceritakan tentang kau kepadaku…”

Donghae langsung menatap Luhan dan Sehun menahan marah, “Ya!!!”

-***-

Minggu pagi itu Sehun dan Luhan meminta izin kepada ayah mereka untuk keluar rumah, Suho mengizinkan namun dengan satu syarat, mereka harus dikawal dan itu tidak boleh di bantah, Sehun dan Luhan hanya bisa menerima keputusan ayahnya dengan sangat berat hati.

“Ahjussi, antarkan kami ke Myeongdong” Ujar Luhan saat berada di dalam mobil.

“Myeongdong? Ada apa tuan kesana?”

“Hanya membeli beberapa kebutuhan” Jawab Sehun singkat.

“Ne? Kenapa tidak ke Garosugil saja? Disana lebih berkualitas dan aman…” Saran supir mereka.

“Tapi kami lebih suka Myeongdong!!” Ujar Sehun dan Luhan bersamaan, supir mereka pun hanya menghela nafas berat tanpa bisa membantah kedua kakak-beradik itu.

Sampai di Myeongdong, Luhan dan Sehun yang dikawal enam orang berjas hitam, berkaca mata hitam dengan alat komunikasi yang yang terpasang di telinga mereka sontak mendapat perhatian dari orang-orang yang ada di sana.

“Hyung, bagaimana kalau misalnya ada teman kita yang melihat hal ini? Bukannya itu malah beresiko membongkar identitas appa?”

“Benar juga” Ujar Luhan yang langsung menatap salah satu bodyguardnya. “Ya! Kalau kalian seperti ini sama saja kalian membongkar identitas kami jika ada teman kami yang melihat, jaga jarak!” Ketus Luhan yang hanya dibalas anggukan oleh bodyguardnya.

Akhirnya Luhan dan Sehun pun sedikit bisa bernafas lega karena penjagaan kepada mereka sedikit longgar, mereka kemudian masuk ke dalam toko topi dan membeli beberapa yang kemudian dilanjut ke toko baju dan yang terakhir mereka membeli ice cream.

Kedua kakak beradik itu saling bercanda sambil memakan ice cream sepanjang perjalanan, tapi sepertinya insting mereka yang tajam membuat canda tawa mereka berhenti untuk sesaat.

“Sehun-ah, kau merasakan itu?”

“Mm, aku merasakannnya hyung” Jawab Sehun yang langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar, begitu pula Luhan.

Mata Sehun membulat ketika melihat benda hitam itu berada di balik jaket seorang yang menundukkan kepalanya dalam, seringaian yang terukir di wajahnya bersamaan dengan jari telunjuk yang bersiap menarik pelatuk benda hitam tersebut.

“HYUNG AWAS!!”

DORR!!

-***-

-TBC-

Iklan

18 thoughts on “Promise and Responsibility Chapter 4

  1. siapa itu kena tembak ?
    jangan HunHan :’
    hmm itu donghae knpa dy nyari marvels crop ?
    apa ada hubuhannya dengan hunhan ?
    heol jadi penasaran

  2. wah, mkin seru… daebakk!!
    jangan ada yang ketembak dong chingu, penasaran nih sama kelanjutannya…
    ditunggu next chapternya… ^^

  3. Thor…itu yg ketembak siapa luhan pa sehun atau ga’ dua2x? Trus knapa donghae takut ma luhan, gara2 liat marvel corp mang itu pershaanx luhan ya?
    Trus wanita cantik itu siapa? Trus yg dicri dia itu siapa? Apa hunhan yg dia cri dia itu jahat pa baik? Aduh author ini sich naruh tbcx kecepetan q jd pensrn bnget…dah thor cpat lanjut jgn lama2 ya…

  4. Ping-balik: Promise and Responsibility Chapter 5 | Acha's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s