History of MAMA II Chapter 4

HoM II

History of MAMA” II

Title : History of MAMA II

Author : Evilosh_HD a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brotherhood, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Main Cast :

  • EXO Member

Support Cast :

  • Super Junior’s Lee Donghae
  • SNSD’s Im YoonA

Summary :

“Kekuatanku… Aku tidak bisa mengendalikannya…”

-***-

A/N :

Author mikir dan ngerasa kalau author selfish banget kalo sampe ga post ff dan bikin readers nunggu, mian yah, dan sekarang author sudah bisa nerima segala kenyataan yang ada/?, kalau emang seandainya Kris bener-bener keluar dari EXO yaudalah, kita bisa apa, just hope the best for him, BUT, I still considered him as an EXO member, as an EXO-M leader and our galaxy, forever, since the beginning EXO is 12 and it never change in my heart.

EXO is 12

Part before : 3

Be aware with typo(s)

Happy Reading ^^

-***-

“Aku mohon hentikan…” Suara Kyungsoo bergetar, dia mencengkram bahu Baekhyun dan Jongdae sedikit keras.

“Arkhh!!” Jongdae dan Baekhyun merintih bersamaan karena tanpa sengaja Kyungsoo menggunakan kekuatannya saat mencengkram kedua orang itu.

Baekhyun menatap Kyungsoo dan mendengus, “Ya!! Apa kau mau membuat tulangku dan Jongdae retak??” Tanya Baekhyun meledak-ledak, cahaya yang berpendar dari tubuhnya makin menyilaukan sehingga membuat beberapa orang harus menutup mata mereka.

Mata Kyungsoo berkaca-kaca, dia kemudian menunduk dan memejamkan matanya rapat.

‘Jongin-ah… Datanglah ke tempatku bekerja sekarang juga, bawa aku, Baekhyun dan Jongdae pulang… Aku mohon… Aku tidak tahan lagi…’

Air mata Kyungsoo menetes bersamaan dengan dia selesai mengirimkan Jongin telepati, seseorang yang baru saja ia hubungi lewat pikirannya langsung muncul dan masih menggunakan seragam dinasnya sebagai seorang agen, Jongin sempat kaget ketika melihat banyak wartawan dan reporter yang ada disitu, apalagi Baekhyun dan Jongdae terang-terangan menunjukkan kekuatan mereka.

Sedetik kemudian Jongin berpindah tempat dari pintu masuk menjadi di samping Kyungsoo yang kemudian langsung menggandeng lengan namja mungil itu dan Baekhyun, Kyungsoo juga tidak lupa menggandeng tangan Jongdae dan dalam sedetik keempat orang itu sudah tidak ada di tempat mereka berdiri tadi.

BRUKK

Jongdae dan Baekhyun langsung ambruk sesaat setelah sampai di rumah, mereka tak sadarkan diri, MAMA lain langsung menuju kedua orang itu dan membaringkan mereka di sofa ruang tamu, Yixing maju untuk memeriksa kedua orang itu, dia meletakkan kedua telapak tangannya masing-masing di kening Jongdae dan Baekhyun kemudian memejamkan mata. Cukup lama Yixing menutup matanya hingga akhirnya dia membuka matanya dan menatap kedua orang itu bergantian.

“Ini aneh…” Gumannya lirih.

“Mereka kenapa?” Kris bersuara.

Yixing menggeleng pelan, “Aku tidak tau”

“Hah? Bagaimana bisa kau tidak tau?”

Yixing menatap Kris dan menatapnya dengan tatapan memelas, “Aku benar-benar tidak tau, tidak ada yang salah dengan tubuh mereka, aku telah mengecek semuanya dan sama sekali tidak ku temui keanehan, aku bahkan tidak hanya mengeceknya sekali, tapi berkali-kali… Mereka berdua normal…”

“Lalu kenapa mereka sekarang seperti ini?”

Yixing mengendikkan bahunya pertanda ia tidak tau, “Tapi aku yakin besok mereka berdua akan kembali seperti biasa…” Ujarnya pelan, para MAMA pun hanya diam setelah mendengarkan penjelasan Yixing.

“Kyungsoo-yah…” Suho memanggil Kyungsoo yang langsung menolehkan wajahnya dan menatap Suho dengan kedua mata bulatnya.

“Ne, hyung?”

“Bisa kau ikut aku dan Kris sebentar?” Tanyanya, Kyungsoo hanya mengangguk pelan dan mengikuti kedua leaders yang mengajaknya untuk berbicara di taman belakang rumah.

-***-

“Kau tidak apa-apa?” Suho merengkuh Kyungsoo dari samping kanannya, sedangkan Kris yang berada di sisi kiri Kyungsoo hanya memandangi namja itu menunggu jawaban darinya.

Kyungsoo menggeleng pelan, “Aku tidak apa-apa hyung, hyung tidak usah khawatir denganku…” Kyungsoo memaksakan senyumnya, sangat terlihat.

Kris langsung mengelus rambut hitam Kyungsoo dan membuat Kyungsoo menoleh dan menatapnya dalam, Kris tersenyum tipis, “Kau masih tidak pandai membohongi hyungmu ini” Ujarnya sambil sedikit terkekeh.

Kini Kris merengkuh Kyungsoo dan Suho dari samping dengan tangannya, dia menengadahkan wajahnya menatap langit malam yang sedang dihiasi dengan gemerlap bintang yang membuat hati tenang, “Kyungsoo-yah, jangan pendam semuanya sendiri, kau punya aku dan Suho disini, kau bisa membaginya dengan kami… Kita sudah bersama selama bertahun-tahun, apakah kau masih belum menganggap kami keluargamu?”

Kyungsoo tersenyum tipis, kini senyumnya terlihat begitu tulus, senyuman yang ia tujukan kepada pemimpin yang selalu menjaganya dan MAMA lain, pemimpin yang rela menjadi perisai ketika salah satu dari mereka di serang, senyuman tulus yang tersungging dibibirnya itu menunjukkan betapa dia sangat menyayangi Kris, akhirnya, setelah mengumpulkan keberaniannya, Kyungsoo menceritakan kejadian di restoran dan kekhawatirannya akan Jongdae dan Baekhyun yang sepertinya kehilangan kendali atas kekuatan mereka, Kyungsoo mengakhiri ceritanya dengan menatap Kris dan Suho bergantian.

“Gomawoyo Kris hyung… Suho hyung…” Ujarnya pelan, baik Suho maupun Kris langsung tersenyum tipis dan memeluk Kyungsoo erat.

Beberapa saat kemudian, kedua leader itu melepaskan pelukan mereka dan mengatakan kepada Kyungsoo agar dia istirahat karena hari ini dia pasti sangat lelah, Kyungsoo menuruti mereka dengan patuh. Kini hanya tinggal Kris dan Suho yang duduk di kursi taman belakang, keduanya menatap langit dengan bersedekap.

“Aku tiba-tiba merasa seperti orang tua bagi mereka…” Ujar Suho pelan.

Kris tersenyum tipis, “Mm, kau seperti seorang ibu bagi mereka”

“Mwo??” Suho langsung bangkit dari duduknya dan menatap Kris tidak terima, Kris hanya menoleh dan tertawa kecil.

“Wae? Shireo? Bukankah kau memang seperti ibu bagi mereka?”

“Ya!! Aku ini namja!! Aku seharusnya jadi ayah mereka!!”

“Tidak bisa” Ujar Kris tegas.

“Wae?”

“Karena aku yang akan menjadi ayah mereka, dalam keluarga, kita tidak bisa memiliki dua ayah, jadi kau sebaiknya jadi ibu saja karena kau suka mengomeli mereka, haha” Kris menjulurkan lidahnya mengejek Suho, Suho mendengus, dia mengerucutkan bibirnya.

Kris tertawa kembali melihat tingkah Suho, dia merengkuh Suho dari samping, “Ya! Terlepas dari peran kita sebagai ayah atau ibu bagi mereka itu tidak akan berpengaruh pada tugas utama kita, tugas untuk menjaga dan tidak meninggalkan mereka…”

Sebuah sunggingan senyum terbentuk di wajah Suho setelah mendengar hal yang Kris utarakan barusan, tanpa ragu dia mengangguk dan langsung memeluk Kris erat.

“Ya! Bukan berarti kita ini suami-istri ketika aku mengatakan kau akan jadi ibu dan aku akan jadi ayah untuk mereka…” Ujar Kris yang kaget dengan pelukan Suho.

Suho melepaskan pelukannya dan langsung memberi jitakan halus di kepala Kris, “Aku tau!! Aku juga masih normal!! Hanya saja itu tadi sebagai pelukan terima kasih!!” Suho bersunggut-sunggut, sedangkan Kris, dia hanya kembali terkekeh.

-***-

Kedua bola mata Baekhyun terus bergerak membaca seluruh berita tentang dirinya dan Jongdae di koran yang di pegangnya saat ini, kerutan di keningnya serta tatapan matanya yang tajam jelas menyiratkan ketidaksukaannya terhadap isi berita yang ada di dalamnya.

‘Penyanyi Kim Jongdae dan Byun Baekhyun Bukan Manusia?’

‘Kim Jongdae dan Byun Baekhyun Mempunyai Kekuatan Super, Siapa Sebenarnya Identitas Mereka?’

‘Kim Jongdae dan Byun Baekhyun, Penyanyi, Sahabat atau Monster?’

‘Beberapa Ilmuan Menyimpulkan Bahwa Penyanyi Kim Jongdae dan Byun Baekhyun adalah Seorang Alien’

‘Fansite dari Penyanyi Byun Baekhyun dan Kim Jongdae Bersama-Sama Melakukan Close-Down Terkait Insiden Idola Mereka’

BRAKK

Baekhyun melempar koran-koran yang memuat tentang beritanya dan Jongdae ke sembarang tempat, dia langsung menghempaskan dirinya ke sofa dan menutup matanya rapat, dia mencoba menenangkan dirinya sendiri terkait kejadian di restoran tempat Kyungsoo bekerja kemarin, tidak lama ponselnya berdering, dia langsung mengambil ponselnya, membuka casingnya, melepas baterainya kemudian melemparkannya ke ranjang, dia sudah mengetahui siapa yang menghubunginya, kalau bukan bossnya pasti para reporter yang sudah ia prediksi akan menanyakan pertanyaan yang sama.

“Arrgghhh!!!!”

Baekhyun melempar bantal sofanya ke segala arah, tatapan matanya terlihat begitu marah hingga bola matanya berubah menjadi biru, cahaya yang cukup menyilaukan berpendar dari tubuhnya, cahaya yang bahkan membuat rumah Sehun yang amat besar itu terlihat begitu menyilaukan.

“Arrrggghhh!!!” Sekali lagi Baekhyun berteriak, cahaya yang berpendar dari tubuhnya makin menyilaukan, nafas Baekhyun menderu, dadanya naik-turun karena pernafasannya yang tidak teratur akibat teriakannya barusan.

BRAKK

Pintu kamar Baekhyun terbuka dengan keras, Baekhyun menoleh dan melihat Chanyeol tengah melindungi matanya dengan telapak tangan karena cahaya yang berpendar dari tubuh Baekhyun. Masih dengan telapak tangan yang berusaha melindungi matanya, Chanyeol mendekati Baekhyun dan segera memeluk pria kecil itu dalam dekapannya.

“Baek…”

“Aku kehilangan semuanya sekarang…” Baekhyun memotong ucapan Chanyeol, “Aku kehilangan semuanya, pekerjaan… Fans… Teman… Aku… Aku kehilangan semuanya…” Baekhyun terisak, pria kecil itu menangis.

Chanyeol mengeratkan pelukannya dan mengelus rambut Baekhyun pelan, “Baek, apa kau melupakan kami? Tidak masalah kau kehilangan pekerjaan dan fansmu, kau masih memiliki kami… Kau memiliki kami yang bukan hanya sekedar sahabat bagimu, tapi keluargamu… Kau masih mempunyai kami untuk berbagi keluh kesahmu…”

Baekhyun tidak menjawab, dia hanya terus menangis dan Chanyeol hanya mengeratkan pelukannya dan mengelus-elus rambut Baekhyun pelan hingga akhirnya cahaya yang berpendar dari tubuh Baekhyun perlahan-lahan menghilang, senyuman tipis tersungging di wajah Chanyeol ketika emosi sahabatnya itu telah mereda.

-***-

Berbeda dengan Baekhyun, Jongdae terlihat biasa saja, dia malah bersantai dan menikmati cappuccino hangat di balkon lantai dua rumah Sehun dengan Tao yang juga melakukan hal yang sama dengannya.

“Kau tidak mempunyai pekerjaan sekarang?”

Jongdae menyesap cappuccino miliknya sebelum menjawab pertanyaan Tao, “Aku tidak tau, mungkin saja begitu…”

“Apa maksudmu dengan tidak tau? Jelas-jelas kau dan Baekhyun di anggap monster oleh semua orang, fansitemu bahkan tutup satu per satu ‘kan?” Tao mengucapkannya dengan gamblang tanpa ada beban dan kekhawatiran bahwa ucapannya barusan bisa saja menyinggung perasaan Jongdae.

Jongdae menghela nafas panjang, “Yeah, semua yang kau bilang barusan memang benar, itu semua kenyataan, tapi seandainya aku tidak bisa lagi menjadi seorang penyanyi aku masih tidak apa-apa, ini semua bukan akhir dari segalanya”

Tao mengerutkan keningnya bingung, “Aku tidak mengerti cara berfikirmu” Ujarnya.

“Eh?”

“Bagaimana mungkin kau menerima semua ini dengan begitu mudah? Padahal Baekhyun sama sekali tidak bisa menerimanya, kau tau sendiri ‘kan bagaimana depresinya dia tadi?” Tao menjeda ucapannya sejenak, “Maka dari itu aku sangat penasaran, kenapa kau bisa setegar ini?” Lanjutnya.

Jongdae menyandarkan punggungnya kemudian tersenyum tipis, “Karena aku pernah mengalami yang lebih sakit dari ini…” Jongdae menghentikan ucapannya, dia beringsut kemudian menegapkan posisi duduknya dan menatap Tao dalam, “Tao-yah, rasa sakit akibat kehilangan fans dan kepopuleran tidak sebanding dengan sakit akibat kehilangan keluarga, apalagi kehilangan seorang ibu, aku rasa, rasa sakit itu lah yang membuatku bisa melewati ini dengan mudah… Baekhyun pasti juga akan bisa menerimanya, dia hanya membutuhkan waktu sedikit lama…”

Tao hanya diam setelah mendengar jawaban Jongdae, dia kemudian mengalihkan tatapannya ke langit dan memandangi awan-awan tipis yang terbentuk disana, entah apa yang ada dipikiran Tao sehingga membuatnya beberapa kali menghela nafas panjang.

“Ouch!!” Tao tersentak kaget ketika tanpa sengaja terkena sengatan petir Jongdae, walaupun petirnya kecil, tapi tetap saja efek terkejut yang ditimbulkan tidak bisa dihindari.

“Ya!! Kau jangan menggunakan kekuatanmu sembarangan!!” Tao mendengus, dia menatap Jongdae dengan tatapan tidak suka, sedangkan Jongdae, dia hanya diam sambil memandangi tangan kanannya yang terus mengeluarkan petir walaupun dalam intensitas yang kecil.

Tao mengerutkan keningnya ketika menyadari ada keanehan dari reaksi Jongdae, mengulurkan tangannya, Tao menepuk bahu Jongdae pelan dan membuat Jongdae menoleh kepadanya.

“Kau kenapa? Apa ada yang salah?” Tanya Tao hati-hati.

Jongdae kembali mengalihkan tatapannya ke tangan kanannya yang masih saja memancarkan petir kecil, “Kekuatanku… Aku tidak bisa mengendalikannya…”

-***-

Luhan terlihat mondar-mandir di ruang kerjanya, dia terlihat begitu kebingungan hingga akhirnya Minseok masuk ke dalam ruangannya dan langsung duduk di sofa yang ada di ruangan itu, Minseok mengambil buah apel yang tersedia kemudian langsung memakannya sembari mengamati Luhan yang masih saja mondar-mandir.

“Kau kenapa?”

Luhan menghentikan kegiatannya tadi dan menatap Minseok sembari menggigit bibir bawahnya seperti orang yang ketakutan, “Tidak bisa, ini tidak boleh…”

“Eung? Bicaralah yang jelas, aku tidak mengerti apa maksudmu barusan” Gerutu Minseok.

Luhan langsung mendudukkan dirinya di depan Minseok dan menatap Minseok masih dengan matanya yang ketakutan, Minseok hanya mengerutkan keningnya bingung namun tidak menanyakan apapun lagi kepada Luhan karena dia sibuk mengunyah apelnya.

“Minseok-ahhh!!!!” Luhan berteriak.

“Ya!! Ya!! Ya!! Turunkan aku sekarang juga!!!” Teriakan Luhan barusan tanpa sengaja membuat Minseok melayang, Luhan membulatkan matanya kaget dan segera menurunkan Minseok.

BUGG

“Ouch!!”

Minseok terhempas ke lantai, dia langsung merintih kesakitan dan mencoba bangkit dan memegangi pantatnya yang nyeri akibat kejadian barusan.

“Minseok-ah, mian mian, kau tidak apa-apa ‘kan?” Luhan panik, dia ingin membantu Minseok tapi dia tidak tau apa yang harus dia lakukan.

Minseok menatap Luhan dengan wajah datar, “Tidak apa-apa katamu? Apa kau tau bagaimana rasa sakitnya pantatku ini, aisshhh benar-benar, kenapa kau tidak bisa mengendalikan kekuatanmu, heuh?” Minseok menggurutu, dia masih saja mengusap-usap pantatnya yang mungkin harus segera mendapat perawatan dari Yixing kalau dia ingin bisa duduk dan berjalan dengan normal.

Untuk sesaat Luhan terdiam sambil menundukkan kepalanya sebelum kembali mendongak dan menatap Minseok, “Aku… Aku tidak bisa mengendalikan kekuatanku, itu sebabnya dari tadi aku kebingungan, aku takut sesuatu yang buruk seperti yang menimpa Jongdae dan Baekhyun terjadi kepadaku juga, aku takut…”

Mata Minseok membulat lebar, “Mwo??!! Bagaimana hal ini bisa terjadi??”

Luhan hanya bisa menggeleng pelan, dia menatap Minseok pasrah, Minseok menghela nafas panjang kemudian menepuk bahu Luhan, “Luhan-ah, temui Sehun di kampusnya dan bicarakan dengan dia tentang hal ini, sementara itu aku akan meminta izin kepada Kris untuk ke rumah sakit…”

“Haruskah?”

“Mm” Minseok mengangguk yakin.

“Baiklah, aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit dulu sebelum ke kampus Sehun”

“Geurae”

-***-

Suho hanya menatap lurus ke luar jendela tanpa mempedulikan keadaan kelasnya yang sedikit gaduh karena dia tidak memberi perhatian, pikirannya melayang mengingat kejadian kemarin tentang Baekhyun dan Jongdae, serta cerita Kyungsoo yang makin membuat kepalanya pening, apalagi cerita Kyungsoo yang mengatakan bahwa sepertinya Jongdae dan Baekhyun sudah tidak bisa mengendalikan kekuatan mereka membuat hatinya dilanda kekhawatiran yang besar.

Sebuah kertas kecil tanpa sengaja mengenai kepala Suho dan membuat pria itu tersadar dari lamunannya, dia menatap murid-muridnya sejenak sebelum menatap ke bawah dan mengambil kertas yang mengenai kepalanya tadi.

Suho berdiri sambil mengangkat kertas itu, dia kemudian menatap murid-muridnya satu per satu, seketika kelas pun langsung berubah hening, “Siapa yang melempar kertas ini?”

Hening, tidak ada satupun murid yang berani menjawab, mereka hanya menundukkan kepala mereka takut.

“Saya tanya sekali lagi, siapa yang melempar kertas ini??” Kali ini suara Suho terdengar lebih lantang, tapi murid-murid masih memilih setia dengan kebisuan mereka.

“Apa kalian tuli???!!” Kali ini ucapan Suho cukup membuat murid-murid kaget.

Akhirnya, dengan penuh ketakutan, seorang mahasiswa laki-laki berkaca mata mengangkat tangannya walaupun kepalanya menunduk dalam, terlihat sekali kalau tangannya gemetar ketakutan, “Sa… Saya…” Mahasiswa itu tergagap.

Rahang Suho mengatup rapat, mata dan lambang MAMA-nya berkilat biru sejenak sebelum dia melempar mahasiswa itu dengan kertas tadi, aneh, kertas itu berubah menjadi air yang langsung membuat mahasiswa tadi beserta orang-orang yang ada di sekelilingnya basah kuyup, tak hanya itu, kekuatan dari air yang dilempar Suho tadi sanggup membuat namja itu terjatuh dari bangkunya dan sedikit kesulitan bernafas karena ada air yang masuk ke dalam saluran pernafasannya.

Mata Suho membulat lebar, seluruh mata mahasiswa di kelas itu kini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, Suho menatap tangan kanannya sejenak sebelum kemudian segera berlari menolong mahasiswa yang tanpa sengaja terkena kekuatannya tadi, dia tetap bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukannya sekalipun itu tanpa sengaja.

Suho menggendong mahasiswa yang kini pingsan itu melewati mahasiswa lain dengan tergesa-gesa, namun sebelum Suho benar-benar keluar dari kelasnya, dia sempat mendengar kalimat yang sama sekali tidak ingin dia dengar lagi dalam hidupnya.

“Professor Kim adalah monster, dia pembunuh…”

-***-

Jongin sedang meneliti bahan pembuatan bom yang ditemukan di dekat sungai Han kemarin sore ketika Jin datang dan menghampirinya.

“Agen Kim, mana agen Huang?” Agen Jin bertanya tentang keberadaan Tao yang tidak terlihat sejak pagi.

“Dia ada di rumah, dia menemani salah satu hyungku yang sedang ada masalah” Jawab Jongin tanpa melihat wajah sang penanya, dia hanya fokus dengan pekerjaannya.

“Apa? Bagaimana mungkin dia membolos hanya karena alasan sepele seperti itu? Benar-benar tidak bertanggung jawab” Celanya.

Jongin menghela nafas panjang kemudian meletakkan seluruh peralatan yang ada di tangannya sebelum menatap Jin, “Agen Jin, sebaiknya kau menjaga mulutmu jika kau tidak tau apa yang terjadi di dalam keluargaku”

“Kenapa kau tiba-tiba marah?”

“Cih” Jongin meludah sembarangan, “Marah? Agen Jin, kau bisa membedakan tidak antara nada bicara orang yang marah atau tidak? Bagaimana bisa kau menjadi seorang agen jika materi dasar saja tidak kau kuasai?”

“Agen Kim, kau-”

“Apa? Kau ingin bertarung denganku? Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu” Ujar Jongin yang langsung mencengkram kerah baju Jin dan langsung berteleportasi ke ujung tebing.

“Mwoya??!” Jin berteriak kaget ketika dia tiba-tiba berada di ujung tebing yang selangkah saja dia mundur dia akan terjatuh.

Jongin menyeringai, “Agen Jin, apa kau masih ingin hidup lebih lama?” Tanya Jongin dengan nada yang sarat akan ancaman.

Tanpa ragu Jin mengangguk cepat, Jongin kembali menyeringai kemudian memutar badan Jin dan melemparkannya sehingga membuat Jin jatuh tersungkur, Jongin kembali memberikan seringaian khasnya kepada Jin sebelum kembali berteleportasi menuju tempat kerjanya tadi dan meninggalkan Jin sendiri.

Kini hanya tinggal Jin sendirian, bibir serta badannya bergetar karena ketakutan, “Mwoya… Siapa sebenarnya dia? Kenapa dia bisa berteleportasi?”

-***-

“Sehun-ah!!” Luhan yang melihat Sehun sedang berjalan di koridor langsung memanggil adiknya itu.

Sehun yang merasa namanya dipanggil oleh suara yang sangat di kenalnya pun membalikkan badannya ke sumber suara, dan benar saja, dia melihat Luhan yang tersenyum dan mempercepat jalannya menuju dirinya.

Sehun tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Luhan, “Hyung!!”

Luhan langsung mengacak rambut Sehun begitu ia sampai di depan adiknya itu, dan Sehun hanya tersenyum, tidak menolak seperti yang biasa ia lakukan ketika merasa dia diperlakukan seperti anak kecil.

“Sehun-ah, apa kau lapar?”

Sehun mengangguk cepat, “Mm, aku sangat lapar, aku belum sempat sarapan tadi pagi karena kelasku masuk pagi”

“Kalau begitu ayo ke kantin, aku akan membelikanmu sujebi” Ajak Luhan yang langsung di sambut senyuman lebar dari Sehun.

Serta merta Sehun melingkarkan tangannya di bahu Luhan dan melompat-lompat seperti anak kecil, entah apa yang membuatnya bertingkah seperti anak kecil, tapi yang penting senyuman di wajahnya itu sudah cukup untuk membuat Luhan menutup mulutnya tidak bertanya. Sepanjang perjalanan mereka hanya membicarakan hal-hal tidak penting dan sesekali obrolan mereka terselingi tawa kecil.

Karena begitu asyik bercanda, tanpa sengaja Luhan menabrak salah seorang mahasiswa yang terkenal sebagai biang onar di kampus dan menyebabkan kuah ramyunnya tumpah membasahi baju mahasiswa tersebut, langsung saja mahasiswa tadi mencengkram kerah kemeja Luhan dan menatap Luhan penuh kemarahan.

BUGG

Tanpa mengatakan apapun Sehun meninju mahasiswa tersebut dari samping dan membuat sudut bibir mahasiswa tadi berdarah.

“Kalau kau berani lawan aku” Tantang Sehun dengan wajah datarnya yang langsung membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa kesal.

Mahasiswa tadi melepaskan cengkramannya kepada Luhan dan kini beralih kepada Sehun, masih dengan mata yang di penuhi kemarahan, mahasiswa tadi mencoba menghajar Sehun namun gagal karena tiba-tiba ada angin yang berhembus sangat kencang yang menghalanginya dan hampir membuat kantin kampus porak poranda.

Sehun menyeringai tipis, “Tidak bisa melawanku, heuh?”

Mahasiswa tadi kembali geram, dia kembali mendekat dan kembali berusaha menghajar Sehun, Sehun hanya diam di tempatnya dengan wajah datar miliknya, matanya berkilat biru beberapa kali.

BUGG

“Akkkhhh!!!” Sehun langsung memelintir tangan mahasiswa tadi dan tidak lupa meninju perutnya saat sudah tidak ada jarak diantara mereka.

“Akkkhhh!!!” Mahasiswa itu semakin berteriak karena Sehun makin memelintir tangan mahasiswa tadi.

“Aku peringatkan kepadamu, jangan sekali-kali kau menyakiti kakakku…”

BRAKK

Sehun melemparkan mahasiswa tadi ke meja-meja kantin yang sudah tidak beraturan dengan kekuatan anginnya, dia kemudian mengulurkan tangannya kepada Luhan dan langsung menggandeng hyungnya itu keluar dari kantin menuju tempat dimana Sehun memarkirkan mobilnya.

Di tengah perjalanan, Luhan tiba-tiba menghentikan langkahnya dan mengundang keheranan dari Sehun yang akhirnya ikut menghentikan langkah kakinya.

“Ada apa, hyung?”

Untuk beberapa saat Luhan diam dan mengawasi Sehun, dia menatap ke dalam manik mata Sehun seakan mencari kepastian, “Kau… Apa benar kau Oh Sehun?”

-***-

-TBC-

Note : New FF will be published next week!! Here is the poster!!

fate

Iklan

25 thoughts on “History of MAMA II Chapter 4

  1. ak kira ff ini gak bakal dilanjutin..,
    kemaren ak jg sempet gak terima kalau kris mau keluar dari exo, apalagi kan mereka habis rilis album baru dan mau mulai tur dunia pertama mereka, tp mau gimana lagi.. cuma bisa berharap yang terbaik buat exo dan kris..
    makasih chingu udah mau lanjutin ff ini ^^
    fighting!!

    • Semua FF tetep di lanjut kok Chingu, dan bagi saya Kris akan selamanya bagian dr EXO, jadi setiap saya bikin FF yang main cast.nya EXO, saya akan tetep EXO ot12, Kris always included in my FF :’)

  2. Thor…q sdah bingung dgn msalah kris yg jd keluar pa ga’? Dan skarang athor menambah kebingunganq dng luhan mengtkn dia benar oh sehun pa bkan? Trus dng msalah para mama yg smua ga’ bs ngendlkn kekuatan msing2. Ini sbenarx da pa thor….???? Dan satu yg bsa buat q ga’ bingung lg, yaitu “LANJUT THOR” SEMANGAT…^^

  3. Thor…bikin bingung mei ini kris keluar,luhan nanyain itu sehun beneran apa bukan
    walaupung bingung tapi tetap semangat ya thor
    #kasih donghae sama sehun

  4. nahlo mreka ko tiba2 ga bisa ngendaliin kekuatannya .. apa jangan2 ini karna gerhana waktu ini 😮
    yoona sama donghae mana nih mreka , kasian para mama ga bisa ngendaliin kekuatannya dan lbih parahnya mreka di bilang monster u.u
    yoona dan donghae harus bantu mreka ,,

  5. Ya ya ya ya ya kkaebsong~
    Keren keren keren eonnnn!!!
    Itu pada kenapa ko kaya bukan mereka, apa mereka punya 2sisi yg berbeda. Kai kaya bukan kai, sehun kaya bukan sehun??
    Lanjutt ya eonn!!!

  6. Ping-balik: History of MAMA II Chapter 5 | Acha's Blog

  7. Sepertinya kekuatan masing2 mama bertambah deh, karena mereka gk bisa mengendalikan kekuatan masing2
    Kira2 sampai kapan mereka tdk bisa mengendalikannya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s