History of MAMA II Chapter 5

HoM II

History of MAMA” II

Title : History of MAMA II

Author : Evilosh_HD a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brotherhood, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Main Cast :

  • EXO Member

Support Cast :

  • Super Junior’s Lee Donghae
  • SNSD’s Im YoonA

-***-

Author mau curhat dikit, kalo ga mau baca curhatan author juga gapapa, silahkan di scroll down langsung ke epep.nya, hehe~

Akhir-akhir ini saya bener-bener kehilangan hasrat/? buat nulis, secara, udah tiga minggu lebih di gantungin sama makhluk tjakep bernama Wu Yi Fan yang cuma nongol sekali, itu aja di rumah sakit, intinya saya cuma pengen bilang saya kangen *pake banget* ama dia, mungkin readers disini ngiranya bias saya di M itu si Luhan ya? Saya emang HunHan shipper tapi ultimate bias saya di M itu galaxy hyung :’)

Ahh… Seriusan bener-bener kangen ini, sebenernya sempet mikir untuk ga ngelanjutin semua FF disini, tapi baca komenan para readers yang nunggu kelanjutan ini FF bikin saya akhirnya bangkit kembali #eaaa, tapi ini serius loh, saya juga makasiiiihhhhh banget sama semua readers yang ngasih semangat buat saya, asli terharu banget *elap ingus*, sekali lagi makasiihh… Jeongmal kamsahamida yeorobundeul *bow 90 derajat*

Part Before : 4

Be aware w/ typo(S)

Happy Reading ^^

-***-

“Apa kau benar-benar Sehunie-ku?”

“Apa maksud hyung bertanya seperti itu? Tentu saja aku Oh Sehun, apa aku terlihat seperti orang lain bagi hyung? Apa wajahku berubah?” Sehun mendengus.

Luhan menggeleng kecil, “Ani… Hanya saja… Hanya saja sikapmu terasa berbeda, bukan seperti Oh Sehun yang aku kenal, Oh Sehun yang aku kenal tidak akan melukai orang lain dengan gegabah… Kau benar-benar terasa bukan Sehunie-ku… Kau seperti orang lain…”

Sehun kembali mendengus, kali ini dia memberi tatapan yang tajam kepada Luhan, “Luhan hyung, bagaimana mungkin aku diam saja saat aku melihat orang itu tadi mencengkram kerah kemejamu? Hyung tau sendiri aku sama sekali tidak bisa melihat hyung terluka, hyung juga sangat mengetahui rasa sayangku pada hyung yang begitu besar, kenapa hyung meragukanku? Ini aku hyung… Sehunie…” Nada bicara Sehun meninggi, membuat angin perlahan berhembus di tempat dimana kedua orang itu berdiri berhadapan dan saling menatap kedalam manik mata masing masing yang perlahan berubah warna menjadi kebiruan.

Lambang MAMA yang ada di punggung tangan mereka berpendar, membuat hembusan angin yang ada semakin kuat dan batu-batu yang ada di tempat itu kini terangkat melayang di udara, kedua tatapan itu makin mendalam seakan mencari kebenaran akan apa yang mereka curigai, hingga akhirnya Luhan menggelengkan kepalanya dan batu-batu yang tadi terangkat pun kembali ke tempat mereka semula, lambang MAMA-nya juga tidak lagi berpendar dan bola matanya kembali berubah menjadi kecoklatan, kesadarannya telah kembali.

Berbeda dengan Sehun, bola matanya masih berwarna biru dan dengan lambang MAMA yang juga masih berpendar, hembusan angin yang diciptakannya juga masih saja kuat, namun tatapan matanya yang tadi tajam kini terlihat kosong, dia seperti makhluk yang tidak berjiwa.

“Sehun-ah…”

Luhan memanggil Sehun lirih, dia melangkahkan kakinya perlahan menembus kekuatan angin Sehun untuk meraih orang yang sangat ia sayangi itu, Luhan menarik tangan Sehun kemudian merengkuh Sehun erat ke dalam pelukannya dan menangis dalam diam, entah, dia sendiri juga tidak tau apa yang membuat air matanya mengalir membentuk sungai kecil di pipi putihnya.

“Sehunie… Hentikan… Aku percaya kau adalah Sehunie-ku… Maafkan aku yang telah meragukanmu, aku menyayangimu Sehunie… Sangat… Tolong jangan seperti ini…” Luhan terisak, dia mengeratkan pelukannya.

Hembusan angin itu perlahan melemah sebelum benar-benar menghilang, bola mata yang tadi berwarna biru itu juga telah kembali normal, begitupun lambang MAMA-nya, lambang itu tidak lagi berpendar. Luhan masih memeluk Sehun ketika di rasanya tubuh Sehun makin memberat, Luhan pun melepaskan pelukannya –dengan tetap memegangi tubuh Sehun- dan mendapati bahwa mata Sehun tertutup, mata Luhan membulat.

“Sehun-ah!!”

-***-

-Seoul Hospital

“Aigoo… Sakit sekali…”

Minseok sedikit kesulitan berjalan karena pantatnya yang masih sakit akibat terjatuh karena Luhan yang tidak bisa mengendalikan kekuatannya, dia berjalan sendiri di koridor rumah sakit hingga akhirnya dia melihat tulisan ‘dr. Zhang Yixing’ di salah satu pintu yang membuatnya tersenyum, dia pun membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya.

“Yixing-ah…”

Minseok memanggil nama Yixing namun ternyata Yixing sedang tidak ada di dalam ruangannya, dia mengedarkan pandangannya dan akhirnya memutuskan untuk berbaring di satu-satunya ranjang pasien yang ada di ruangan itu sambil menunggu Yixing.

Setelah naik ke ranjang dengan cukup sulit karena pantatnya yang sakit, Minseok membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit ruangan, tangan Minseok bergerak untuk memperbaiki posisi bantal namun tangannya merasakan ada sesuatu di bawah bantal itu, Minseok pun mengambil benda itu dan melihatnya, sebuah kertas yang terlipat, Minseok pun membuka lipatan kertas itu dan membaca apa yang tertulis di dalamnya.

‘Akhir-akhir ini semuanya terasa aneh, semuanya di mulai setelah Equinox terjadi, satu hari setelah equinox terjadi tiba-tiba pasien rumah sakit menjadi dua kali lipat dari pada biasanya dan anehnya penyakit mereka banyak yang tidak bisa terdeteksi, bukan hanya dengan perlatan dokter biasa, tapi juga dengan kekuatanku, aku bingung… Aku tidak tega melihat mereka kesakitan seperti itu, bahkan banyak di antara mereka yang meraung dan meminta untuk dibunuh saja dari pada menahan sakit yang katanya mereka sangat luar biasa…

Aku merasa gagal menjadi dokter, aku juga merasa gagal menjadi seorang MAMA… Kekuatanku adalah untuk menyembuhkan, tapi kenapa aku sekarang tidak bisa melakukannya? Aku seharusnya adalah seseorang yang harus membawa kedamaian untuk dunia bukan? Tapi kenapa semuanya sekarang jadi seperti ini? Aku tidak bisa menyembuhkan mereka… Aku gagal…’

-ZYX-

Kreekk

Pintu ruangan Yixing terbuka, dengan segera Minseok menyembunyikan kertas yang di temukannya tadi di sakunya dan memberi sebuah senyuman kepada Yixing yang masuk ke dalam ruangannya sendiri dan terlonjak kaget ketika melihat Minseok tengah berbaring di ranjang.

“Astaga! Minseok hyung! Kau bisa membuatku terkena serangan jantung!” Ujarnya sambil mengelus dada.

“Hehe, mian…” Minseok meminta maaf masih dalam posisi berbaring.

Yixing pun menarik kursinya dan mendekatkannya ke ranjang Minseok kemudian mendudukinya, “Minseokie hyung, apa ada yang sakit?” Tanya Yixing yang melihat tingkah Minseok yang sedikit aneh.

Minseok mengangguk kecil, “Mm, tadi Luhan membuatku melayang dan menjatuhkanku, sekarang pantatku sakit” Keluhnya sambil mengelus pantatnya yang sakit.

Yixing tersenyum kecil, dia kemudian meletakkan tangannya di bagian tubuh Minseok yang sakit, bola matanya berubah menjadi biru dan lambang MAMA di punggung tangannya berpendar, dari tangan Yixing keluar butiran-butiran menyerupai kristal yang berkilau dan meresap masuk ke dalam tubuh Minseok. Minseok berkali-kali menghela nafas lega ketika rasa sakit di tubuhnya perlahan menghilang.

Setelah memastikan bahwa pantat Minseok benar-benar sembuh Yixing menarik tangannya dan tersenyum kecil kepada Minseok, “Bagaimana hyung?”

Minseok menggeliat kemudian merubah posisinya menjadi duduk, “Gomawo, rasa sakitnya sudah hilang” Jawabnya sambil menepuk pundak Yixing.

Yixing tersenyum tipis, begitupun Minseok, namun senyuman Minseok perlahan memudar ketika melihat ada setitik air bening di mata Yixing yang mendesak untuk keluar, Minseok meraih tangan Yixing dan menggenggamnya erat, membuat Yixing menengadahkan wajahnya menatap Minseok penuh tanda tanya.

“Apa kau sedang mengalami waktu yang sulit?” Tanya Minseok yang sebenarnya sudah mengetahui masalah Yixing.

Yixing menggelengkan kepalanya pelan, “Aniyo, aku baik-baik saja hyung”

“Yixing-ah, jangan mengatakan bahwa kau baik-baik saja ketika kau tidak sedang baik-baik saja, matamu tidak bisa membohongiku…” Minseok mengeratkan genggamannya kepada Yixing.

Yixing menundukkan kepalanya, “Aku baik-baik saja hyung, sungguh…”

“Kalau kau benar-benar baik-baik saja kau tidak akan menunduk dan menghindari kontak mata denganku, Yixing…”

Yixing terdiam, tidak bisa lagi membantah apa yang baru saja dikatakan Minseok, yang ia lakukan hanya terus menunduk dan menahan air matanya agar tidak jatuh, membuat kulit wajahnya perlahan berubah menjadi merah.

Minseok melepaskan genggaman tangannya dan beralih menakup wajah Yixing dengan kedua tangannya, mengangkat wajah dokter muda itu agar melihatnya, hati Minseok sakit ketika melihat genangan air mata itu bersiap untuk mengalir di pipi putih Yixing, bibir Yixing yang bergetar membuat Minseok langsung merengkuh Yixing ke dalam pelukannya.

“Jangan pendam masalahmu sendiri, kau memiliki kami… Menurutmu memangnya apa fungsi keluarga itu jika bukan untuk berbagi suka dan duka?” Minseok berkata dengan begitu lembut dan sarat akan kasih sayang.

Air mata yang di tahan Yixing akhirnya tumpah sudah, kini Yixing balik memeluk Minseok dan menangis dalam dekapan kakak tertuanya itu, “Aku takut hyung… Takut… Juga sakit… Bukan sakit fisik tapi hatiku yang sakit… Aku merasa gagal… Aku merasa gagal karena aku tidak bisa menyembuhkan mereka yang membutuhkan diriku…”

“Aku mengerti, sekarang ceritakanlah semua padaku… Aku akan mendengarkan semua keluh kesahmu…”

Minseok mengelus-elus punggung Yixing berusaha memberikan kenyamanan dan sama sekali tidak menyela seluruh curahan hati Yixing, Minseok sangat mengerti kalau yang dibutuhkan Yixing saat ini adalah seseorang yang bisa dijadikannya tempat berkeluh kesah tentang segala apa yang ada di dalam hatinya dan Minseok dengan senang hati melakukannya, dia melakukannya karena dia sangat menyayangi Yixing, Yixing adalah keluarganya, salah satu bagian terpenting dalam hidupnya, bukan orang lain.

-***-

-A Café.

Hongdae Street.

Suho menyeruput Americano miliknya dan memandangi jalanan Hongdae yang lumayan sepi karena hari ini bukan hari libur, sesekali dia menghela nafas berat dan melihat ponselnya, terlihat sekali dia sedang mempunyai masalah, bukan masalah kecil tentunya jika dia sampai meminum Americano, bukan Coffee Latte seperti biasanya.

Suho kembali melihat ponselnya dan menghela nafas berat, dia kemudian melihat kontak yang ada di ponselnya dan menghubungi sebuah nomor, “Bisakah kau ke sini? Aku benar-benar membutuhkanmu sekarang…” Suho mengakhiri sambungan teleponnya dan kembali menyuruput Americano sambil menunggu orang yang dihubunginya tadi.

Suho pun kembali ke kegiatannya mengamati jalanan Hongdae, namun tatapan matanya terlihat begitu kosong, terlihat sekali kalau fikirannya tidak sedang ada pada obyek yang diamatinya melainkan di tempat lain. Lama Suho terdiam dan sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari bel café berdering dan seseorang berjalan menuju tempatnya.

“Ada apa kau memintaku kesini?” Kris bertanya kepada Suho sesaat setelah dia sampai di depan meja Suho.

Suho tetap diam tak bergeming, Kris mengerutkan keningnya heran dan mendudukkan dirinya terlebih dahulu sebelum menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Suho agar namja itu tersadar dari lamunannya.

Suho mengerjap-kerjapkan matanya kaget dan akhirnya menolehkan wajahnya kepada Kris, “O-oh, kau sudah datang?”

“Kau ada masalah apa?” Tanya Kris langsung ke inti, dia tidak tahan melihat sahabatnya yang terlihat seperti orang yang sedang mengalami depresi berat itu.

Suho menghela nafas panjang, “Sepertinya aku juga tidak bisa mengendalikan kekuatanku… Aku hampir membunuh muridku tadi…” Ujar Suho pelan, matanya yang hanya melihat kebawah terlihat begitu lelah dan redup, sama sekali tidak ada sinar dan semangat.

Sekarang giliran Kris yang menghela nafas panjang, dan hal itu membuat Suho mengangkat wajahnya menatap Kris yang menyandarkan punggungnya ke kursi, “Entahlah, tapi aku rasa satu per satu dari kita memang mulai tidak bisa mengendalikan kekuatan yang kita miliki setelah terjadinya Equinox beberapa hari lalu… Mungkin Equinox itu memang berpengaruh kepada kita seperti yang kita khawatirkan…”

Suho kembali menghembuskan nafas panjang, “Sebenarnya aku mempunyai pikiran yang sama denganmu… Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?”

Sekali lagi Kris menghela nafas panjang, “Aku masih belum tau, aku rasa aku akan meminta Sehun untuk meminta Donghae hyung dan Yoona noona ke bumi untuk menemui kita… Kita benar-benar membutuhkan mereka saat ini, kau tau sendiri ‘kan kekuatan kita bisa sangat membahayakan orang lain jika kita tidak bisa mengendalikannya?”

“Mm, karena itu aku merasa takut sekarang, aku sangat takut… Takut jika aku tanpa sengaja membunuh orang lagi…”

Kris mengusap-usap bahu Suho pelan, “Kau tidak perlu takut, kau tau aku akan selalu disampingmu dan menjagamu, bukankah dari dulu kita seperti itu? Dari dulu kita saling menjaga satu sama lain dan selamanya akan tetap begitu, tidak akan berubah…”

Akhirnya sebuah senyuman tipis terukir di wajah Suho, “Kau benar, itu adalah janji kita…”

-***-

-Agent’s Room.

Korean FBI’s Base camp, Nandaemun.

Jongin tertidur di ruangan agen setelah rapat dengan rekan-rekannya berakhir, dia tertidur dengan posisi duduk dengan kepala yang ia letakkan di meja, tidak ada yang berniat membangunkannya karena semua orang tau bahwa namja berkulit agak gelap itu telah sangat bekerja keras untuk menjinakkan sekaligus meneliti bom yang meledak di Blue House hari ini.

Hingga akhirnya Jin masuk ke dalam ruangan agen dan duduk di samping Jongin dan mengamati namja itu dengan kening mengerut, “Kau sebenarnya apa?” Ujarnya lirih dan terus mengamati Jongin, “Mungkin tadi –ah tidak, tapi sampai saat ini aku sedikit takut kepadamu karena mungkin saja kau bukan seorang manusia, tapi aku tau kau adalah orang yang baik… Emm… Yang aku ingin katakan adalah aku ingin meminta maaf kepadamu atas ucapanku yang menyinggung hatimu, aku minta maaf agen Kim, dan aku akan merahasiakan tentang kekuatanmu, aku berjanji…”

“Apa kau selalu meminta maaf kepada seseorang yang tidur?” Tanya Jongin masih dengan mata yang terpejam rapat.

“Eh?” Jin sedikit terlonjak kaget.

Jongin pun membuka matanya dengan malas dan menarik tubuhnya agar bangkit dan duduk tegap, dia memberikan senyuman tipis kepada Jin yang lebih terlihat seperti sebuah seringaian, “Sudahlah, lupakan saja, yang jelas rasanya melegakan ketika mendengarmu berjanji untuk tidak membocorkan tentang rahasiaku, gomawo…” Ujar Jongin sambil menepuk-nepuk bahu Jin.

Jin tersenyum tipis, “Tapi masih ada satu hal yang membuatku penasaran”

“Apa?”

“Emm, agen Kim, apakah agen Huang mempunyai kekuatan sepertimu?”

Jongin terkekeh dan mengangguk kecil, “Tapi kekuatannya bukan berteleportasi sepertiku, kekuatannya adalah menghentikan waktu, itu sebabnya aku dan Tao selalu berhasil menjinakkan bom sekalipun bom itu akan meledak dalam 2 detik”

Mulut Jin menganga, antara percaya dan tidak dengan apa yang baru saja di dengarnya, tapi sejujurnya selama ini dia juga heran dengan kemampuan Jongin dan Tao dalam menjinakkan bom yang sangat luar biasa, dan ternyata rahasianya adalah kekuatan mereka.

“Sebenarnya bukan hanya aku dan Tao yang mempunyai kekuatan, tapi seluruh keluarga kami, dua belas dari kami mempunyai kekuatan masing-masing, kekuatan kami saling melengkapi satu sama lain dan bisa juga membahayakan satu sama lain…” Jongin menjeda ucapannya sejenak dan menatap Jin, “Agen Jin… Tolong jaga rahasia ini, jika kau mengatakan kepada orang lain tentang hal ini, akan ku pastikan hidupmu tidak akan lama lagi” Ujar Jongin yang lebih terdengar mengancam, Jin hanya bisa menelan ludahnya kasar dan mengangguk kikuk.

-***-

-Living Room.

Sehun’s House.

Baekhyun hanya memindah-mindahkan channel televisi tanpa sedikitpun berniat untuk menonton salah satu acara yang ada di dalamnya, membuat Jongdae dan Kyungsoo yang ada di sampingnya mulai terlihat kesal.

“Baekhyun-ah, kalau tidak berminat menonton lebih baik kau ke kamarmu saja dan pindah-pindahkan channel televisi di kamarmu sesuka hati, kau tau ini menjengkelkan” Dengus Jongdae.

“Kenapa tidak kau saja yang pindah?” Balas Baekhyun malas yang makin membuat Jongdae mendengus.

Tanpa banyak bicara Kyungsoo pun mengambil remote yang ada di tangan Baekhyun dan mematikan televisi layar datar yang ada di ruang tamu itu.

“Ya!! Kenapa kau matikan??” Runtuk Baekhyun kesal.

“Kyungsoo-yah!!” Kini Jongdae bergabung dengan Baekhyun meneriaki Kyungsoo.

Kyungsoo melipat kedua tangannya di depan dada, “Lebih baik kalian berdua istirahat saja di kamar kalian masing-masing, dari pada terus berdebat masalah sepele lebih baik kalian tidur”

“Shireo!!” Baekhyun membantah.

“Nado!!”

Kyungsoo mengendikkan bahunya malas, “Terserah kalian saja, yang jelas aku tidak mau mendengar kalian berdua berdebat, kalau kalian berdebat lagi akan aku patahkan tulang kalian” Ancam Kyungsoo yang di balas dengusan kesal oleh Baekhyun dan Jongdae.

BRAKK

Pintu rumah Sehun terbuka kasar dan membuat ketiga orang tadi bangkit dari duduknya untuk melihat apa yang terjadi, mata ketiganya membulat ketika melihat Sehun yang tengah digotong oleh Chanyeol, Tao dan Luhan, ketiga orang tadi langsung berlari dan membantu untuk menggotong tubuh Sehun dan meletakannya di sofa.

“Luhan hyung, apa yang sebenarnya terjadi pada Sehun?” Tanya Chanyeol.

Luhan yang menggenggam tangan Sehun dan duduk disampingnya menggeleng kecil, “Aku tidak tau, dia tiba-tiba seperti ini setelah menggunakan kekuatannya… Aku takut sesuatu yang buruk terjadi kepadanya…”

“Ini aneh…” Guman Tao.

Chanyeol segera menoleh kepada Tao, seakan meminta penjelasan atas perkataannya barusan, “Apanya yang aneh?”

“Sehun bukanlah orang yang lemah dan mudah sakit, rasanya sangat aneh jika dia pingsan hanya karena menggunakan sedikit kekuatannya, aku rasa ada hal lain yang membuatnya seperti ini, tapi aku tidak tau apa hal lain itu”

Kyungsoo ikut menghela nafas panjang, “Yang diucapkan Tao ada benarnya, tidak mungkin Sehun seperti ini hanya karena menggunakan kekuatannya yang bahkan tidak sampai menyebabkan thypoon, semuanya terasa begitu aneh…”

“Kami pulang!!” Suara lembut Yixing terdengar dari balik pintu, membuat para MAMA menoleh dan melihat kedatangan Yixing, Minseok, serta Suho dan Kris.

Keempat orang tadi tersentak ketika melihat para MAMA mengelilingi Sehun yang terbaring dengan mata tertutup di sofa, serta merta keempat orang tadi mempercepat langkah mereka dan melihat keadaan Sehun.

“Yixing-ah… Tolong adikku…” Luhan memelas kepada Yixing dengan air mata yang menggenang.

Yixing mengangguk dan melempar tasnya sembarangan kemudian segera memeriksa keadaan Sehun dengan kekuatannya, dia mengerahkan seluruh kekuatannya. Peluh pun mulai bercucuran di kening Yixing namun Sehun masih saja belum membuka matanya, namun dia belum menyerah, dia masih terus berusaha agar Sehun sadar.

Jongin yang baru tiba dari tempat kerjanya langsung kaget ketika melihat para MAMA berkumpul mengelilingi Sehun yang terbaring di sofa dengan Yixing yang terlihat menggunakan kekuatannya di tubuh Sehun, Jongin pun berteleportasi ke sebelah Kyungsoo.

“Kyungsoo hyung, apa yang terjadi dengan Sehun?” Tanyanya.

Kyungsoo menggeleng kecil, “Molla, tidak ada satupun diantara kita yang mengetahuinya…”

Jongin menghela nafas panjang dan akhirnya memilih untuk hanya ikut melihat tanpa bertanya apapun, yang mereka lakukan saat ini hanya menunggu sadarnya Sehun.

Perlahan tangan kanan Sehun yang berada dalam genggaman Luhan bergerak kecil dan langsung membuat mata Luhan membulat lebar, Luhan mengeratkan genggaman tangannya dan mengelus kepala Sehun dengan tangan yang lain, “Sehunie…”

“Eughh…”

Lenguhan kecil Sehun membuat para MAMA menghela nafas lega mereka, utamanya Yixing yang paling bekerja keras atas pulihnya Sehun, Yixing mencoba bangkit namun hampir terjatuh seandainya Kris tidak memeganginya dan membantunya duduk, Kris mengambil air mineral yang ada di meja dan memberikannya kepada Yixing.

“Kau sudah bekerja keras, minumlah ini kemudian istirahat…” Ujarnya kemudian mengacak rambut Yixing.

Yixing tersenyum tipis,“Gomawoyo hyung…”

Kris membalas ucapan terima kasih Yixing dengan sebuah senyuman tulus sebelum kembali melihat keadaan Sehun yang sekalipun sampai saat ini masih menutup matanya tubuhnya mulai bergerak perlahan. Entah, tapi ada sebulir air mata yang menetes dari sudut mata Sehun yang tertutup tanpa ada yang tau apa penyebabnya.

“Sehunie… Apa yang membuatmu menangis?” Luhan terisak, dia tidak tahan melihat keadaan Sehun yang seperti ini, “Sehunie… Kau bisa mendengarkan hyung ‘kan? Aku mohon… Bukalah matamu…”

Tetesan air bening itu kembali mengalir dari sudut mata Sehun, hal itu membuat para MAMA makin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada Sehun, namun perlahan mulut Sehun mulai terbuka.

“Hyung…” Suara Sehun terdengar begitu lemah, namun satu kata dari Sehun itu membuat seluruh MAMA bereaksi dan mendekat kepada Sehun, bahkan Yixing yang berniat untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak langsung bangkit untuk melihatnya.

“Ada apa, Sehunie?”

“Papa… Dan… Mamaku… Ada… Dalam… Bahaya besar…”

-***-

-TBC-

Iklan

30 thoughts on “History of MAMA II Chapter 5

  1. kita sama2 rindu sama kris thor apa yang kamu rasakan sama dengan apa yang aku rasakan sedih dan merasa kehilangan, ingat thor we are one kami semua satu jadi kita harus tetap semangat dan selalu menganggap kris itu masih bagian dari exo
    aku akan selalu menjadi reader setiamu thor lanjut terus kembangkan karyamu

  2. Sama thor…qt jg rindu sama galaxy fanfan..tp author jgn patah smangat gtu dong…qt para raeders entar sedih kalo’ author ga mau lnjutin ffx lg…SEMANGAT AUTHOR WE LOVE YOU…WE ARE ONE^^.
    blek ke coment…
    Thor knapa itu papa mama sehun kok dlm bahaya…aduh author sama kaxak kris buat penasaran para fans…tck.tck

  3. Sama thor…qt jg rindu sama galaxy fanfan..tp author jgn patah smangat gtu dong…qt para raeders entar sedih kalo’ author ga mau lnjutin ffx lg…SEMANGAT AUTHOR n’ KRIS WE LOVE YOU…..
    blek ke coment…
    Thor knapa itu papa mama sehun kok dlm bahaya…aduh author sama kaxak kris buat penasaran para fans…tck.tck

  4. aku juga sedih, masih berharap exo tetep berduabelas,.
    rasanya krang lengkap kalo cuma lihat mereka bersebelas…
    tetap semangat chingu… fighting!! ^^
    Keep writing…

  5. jangan patah semangat buat ffnya author..
    anggap aja kris ga pernah keluar dari exo dan dy masi tetap anggota exo selamanya. ..
    anggap dy lagi hiatus sama kayak kibum suju 😀 #tiba2KangenKibum

    nahlo ada apa dengan para mama ?
    dan itu yoona dan donghae lagi dalam bahaya apa mreka .. ?
    aigoo saat kekuatan para mama lagi susah dikendalikan yoonhae lagi dalam bayaha :O
    mungkin para mama yg lagi susah ngendaliin kekutan mreka bisa bantu nyelamatin uri yoonHae

    fighting author ‘-‘/
    kkaepsong

  6. Aku juga kangen maksimal sama kris, kita berharap aja semoga kris berubah pikiran dan ga jadi keluar dari exo.. Tetep semangat eonn!! 😉
    Kris di sini bijak banget ;)))

    Ahh yoona sama donghae kenapaaaa???!
    Next chaapternya ya eonnn.. Fighting^^

  7. “Jangan pendam masalahmu sendiri, kau memiliki kami… Menurutmu memangnya apa fungsi keluarga itu jika bukan untuk berbagi suka dan duka?”

    “Kau tidak perlu takut, kau tau aku akan selalu disampingmu dan menjagamu, bukankah dari dulu kita seperti itu? Dari dulu kita saling menjaga satu sama lain dan selamanya akan tetap begitu, tidak akan berubah…”

    dua kalimat diatas bener-bener pengen bikin nangis cha huaaa
    keinget kris oppa lagi,
    pertama suka EXO juga pas lihat mukanya kris oppa.
    apalagi dia juga salah satu bias aku di EXO.
    doa’n yang terbaik buat EXO dan buat Wu Yi Fan :”)

  8. kata chen, “Tanah mengeras setelah hujan”. Intinya author harus tambah kuat nulisnya, apapun yg terjadi dengan Kris dan EXO ~
    Author semangat !!

  9. Ping-balik: History of MAMA II Chapter 6 | Acha's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s