[One Shoot] – Good Night

Good NightTitle : Good Night.

Author : Evilosh_HD a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Friendship, Family, Brotherhood, Not Yaoi.

Lenght : One Shoot.

Cast :

Park Chanyeol [EXO] || Byun Baekhyun [EXO] ||

-***-

A/N:

Prepare popcorn because this is long shoot~

Keke~

And be aware w/ typo(s)

Happy Reading~

-***-

Chanyeol PoV.

Ini adalah tahun kedua dimana aku menjadi siswa SMA, dan juga tahun kedua aku menjadi bagian dari keluarga Byun, keluarga sederhana yang takdir pertemukan denganku setelah kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuaku dua tahun silam, kecelakaan yang melibatkan diriku didalamnya namun aku adalah satu-satunya yang selamat, kecelakaan yang aku lihat sendiri dengan kedua mataku dan selalu menjadi mimpi buruk dalam setiap tidurku.

Namaku Park Chanyeol, orang-orang mengatakan kalau aku adalah orang yang anti-sosial hanya karena aku bukan orang yang pandai bergaul, aku memang sedikit takut ketika bertemu dengan orang baru tapi itu dulu, sebelum seseorang masuk kedalam hidupku dan membuatku membuka mata, seseorang yang menarikku keluar untuk melihat dunia, dia juga yang mengenalkanku dengan orang-orang yang mampu merubah sikap dan kepribadianku menjadi Park Chanyeol yang ceria, seseorang itu adalah Byun Baekhyun, sahabat terbaik… Sekaligus saudaraku.

Dia adalah orang yang juga membuatku perlahan percaya aku bisa meraih mimpiku, Yah… Meskipun aku sedikit mempunyai masalah berinteraksi dengan orang lain tapi bukan berarti aku tidak mempunyai mimpi ‘kan? Mimpiku… Mimpiku sederhana, ingin menjadi anggota band dan mungkin menjadi sedikit terkenal, dan saudaraku Byun Baekhyun itu yang selalu menyemangati dan mengajariku ketika aku berlatih instrument di rumah, Baekhyun memang jenius dalam bidang musik, namun dia berbeda denganku, dia hanya menganggap musik sebagai hobinya saja, sedangkan aku… Aku menganggap musik sebagai sesuatu yang harus aku capai untuk masa depanku.

Chanyeol PoV end.

-***-

-Chanyeol’s Room
06:30 AM.

Author PoV.

“Yeol!! Cepat bangun!!” Baekhyun menarik selimut Chanyeol agar namja tinggi itu mau membuka matanya.

Chanyeol menarik selimutnya kembali dan menutupi dirinya rapat, “Sebentar lagi…”

“Ya!! Kau mengatakan kau akan audisi untuk masuk ke dalam band sekolah jam tujuh, sekarang sudah setengah tujuh, cepat bangun!!” Baekhyun meninggikan suaranya.

Chanyeol langsung membuka matanya lebar, dengan segera dia bangun dan menatap Baekhyun masih dengan mata yang membelalak tidak percaya, “Kau serius?”

Baekhyun mendengus, dia tidak menjawab pertanyaan Chanyeol dan hanya mengarahkan dagunya ke arah jam dinding, Chanyeol mengikuti arah dagu Baekhyun, matanya kembali membulat lebar, dengan segera dia turun dari ranjangnya dan berlari ke kamar mandi.

Baekhyun terkekeh kecil melihat tingkah Chanyeol, “Dasar raksasa malas…” Ujarnya kecil kemudian merapikan tempat tidur Chanyeol.

Memang selalu seperti ini, jika Chanyeol bangun kesiangan dan tidak sempat merapikan tempat tidurnya, maka Baekhyun yang akan merapikannya walaupun Chanyeol sudah ratusan kali mengatakan agar Baekhyun tidak melakukannya, tapi Baekhyun sama sekali tidak mengindahkan ucapan Chanyeol, Baekhyun memang memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan Chanyeol, Baekhyun adalah pribadi yang sangat ceria, rapi dan selalu positif, mungkin itu sebabnya kedua sahabat itu sama sekali tidak bisa dipisahkan, kedua orang itu saling mengisi satu sama lain, dimana ada Baekhyun, disitu pasti ada Chanyeol, begitupun sebaliknya.

Chanyeol turun dari lantai dua kamarnya dan langsung menuju dapur, “Eomma, aku berangkat dulu, aku sudah terlambat, saranghaeyo eomma” Ujarnya kemudian mengecup pipi Ny. Byun singkat.

“Chanyeol-ah, kau harus sarapan dulu, Nak…” Teriak Ny. Byun kepada Chanyeol yang sedang memakai sepatunya.

Chanyeol berdiri dan merapikan bajunya, “Aniyo, aku makan diluar saja nanti, aku berangkat dulu eomma!!” Pamitnya kemudian melenggang pergi.

Ny. Byun menghela nafas kecil, “Aigoo, anak itu tidak pernah berubah…”

Memeluk ibunya dari belakang, Baekhyun membuat Ny. Byun sedikit tersentak kaget, “Aigoo, kebiasaanmu mengageti eomma juga tidak pernah berubah Baekhyunie…”

Tersenyum tipis, Baekhyun melepaskan pelukannya dan menatap Ny. Byun hangat, “Dan eomma tau kebiasaan apa yang akan ku lakukan selanjutnya…”

Ny. Byun tersenyum tipis karena mengerti maksud dari ucapan Baekhyun, dia langsung menuju dapur dan mengambil dua kotak bekal. Ny. Byun memasukkan nasi dan beberapa lauk yang sudah dimasaknya ke dalam kotak bekal dan memberikannya kepada Baekhyun.

Ny. Byun mengelus rambut anaknya sayang, “Kau dan Chanyeolie makanlah yang banyak, eomma tidak ingin melihat anak-anak eomma sakit…” Ny. Byun memberikan senyuman hangat kepada Baekhyun.

Membalas senyuman hangat ibunya, Baekhyun mengangguk kecil, “Tentu saja, aku juga tidak mengizinkan diriku sakit karena kalau aku sakit aku tidak akan bisa menjaga eomma, bukankah aku sudah berjanji kepada mendiang appa kalau aku akan menjadi anak yang baik dan selalu menjaga eommaku?”

Ada setitik air bening disudut mata Ny. Byun saat mendengar ucapan anaknya barusan, dia terharu, sekaligus sangat bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan telah memberinya anak yang baik dan sangat menyayanginya, bukan hanya bersyukur karena dia memiliki Baekhyun, tapi dia juga sangat bersyukur memiliki Chanyeol yang juga sangat menyayanginya seperti Baekhyun walaupun namja tinggi itu bukanlah anak kandungnya.

Baekhyun menghela nafas panjang, dia mengusap air mata ibunya yang belum sempat jatuh, “Ah… Eomma waeyo? Kenapa eomma menangis?”

“Eomma hanya bahagia karena Tuhan memberikan dua malaikat kecil yang menjaga eomma dengan sangat baik”

Baekhyun mengerucukan bibir dan memutar matanya, “Apa aku menjadi anak yang nakal saja agar eommaku ini tidak cengeng seperti ini?” Ujarnya menggoda Ny. Byun.

Ny. Byun tersenyum kecil, “Kau ini…” Ny. Byun kembali mengusap rambut Baekhyun sayang, “Sudah-sudah, kau harus berangkat sekolah, eomma juga akan berangkat bekerja, hati-hati di jalan, sayang…”

Baekhyun mengangguk kecil, “Eomma juga…” Ujarnya kemudian mengecup pipi Ny. Byun singkat.

Ny. Byun pun melihat kepergian anaknya dengan seulas senyum kebahagiaan, dia sendiri kemudian bersiap-siap untuk berangkat bekerja.

-***-

-School Hall
08:00 AM

Chanyeol menangkupkan kedua tangannya berdoa, sebentar lagi adalah gilirannya untuk maju menunjukkan kemampuannya dalam memainkan instrument musik, disampingnya ada teman sekelasnya yang bernama Do Kyungsoo, dia juga mengikuti audisi sepertinya, namun sebagai vokalis, bukan pemain instrument seperti Chanyeol.

“Kau gugup?” Tanya Kyungsoo memulai perbincangan antara mereka.

“Eh? Uhm… Iya” Jawab Chanyeol kikuk, sikap gugupnya memang masih sangat melekat dalam dirinya.

“Yeol!!” Suara yang sangat dikenal Chanyeol membuat Chanyeol menoleh dan tersenyum cerah, orang itu melambaikan tangannya dan berlari kecil menuju Chanyeol.

“Baek, aku gugup…” Adunya ketika Baekhyun sampai di depannya.

Baekhyun masih mengatur nafasnya ketika sampai di depan Chanyeol, dia kemudian menepuk pundak namja tinggi itu dan memberikan senyuman hangat, “Ya! Kau ini raksasa, bagaimana kau bisa gugup dengan hal seperti ini?”

Chanyeol mendengus, “Kau sama sekali tidak membantu!”

Baekhyun terkekeh kecil, namja kecil itu berjongkok dan menggenggam tangan Chanyeol erat, “Hey, bukankah aku selalu mengatakan kepadamu jika kau sedang gugup atau takut, pejamkan matamu dan sebutlah nama ayah dan ibumu, dengan begitu segala rasa gugup dan takutmu akan hilang… Kau bisa melakukannya Yeol, kau pasti bisa!”

Perlahan seulas senyuman kecil terbentuk di wajah Chanyeol, kini hatinya sedikit merasa tenang, “Gomawo Baek…”

Memberikan senyuman hangat kepada Chanyeol, Baekhyun akhirnya berdiri, dia mengangkat kedua tangannya dan mengepalkankannya erat, “Fighting!!”

Chanyeol kembali tersenyum cerah, tidak lama kemudian dia mendengar namanya di panggil untuk segera naik dan menunjukkan kemampuannya, Chanyeol menarik nafas dalam dan menghembuskannya lewat mulut untuk mengusir rasa gugupnya, sedangkan Baekhyun, dia segera berlari menuju kursi penonton untuk melihat dan tentunya menyemangati Chanyeol.

Chanyeol melangkahkan kakinya pelan ke atas panggung, dia kemudian menerima microphone yang di berikan MC untuk memperkenalkan dirinya, “Anneyeonghaseyo, Park Chanyeol imnida, saya ingin menunjukkan kemampuan saya dalam memainkan alat musik, terutama drum”

Chanyeol pun memberikan microphone tadi kepada MC kemudian melangkahkan kakinya pelan menuju tempat drum, Chanyeol memegang kedua stick drum dan menghela nafas panjang.

‘…jika kau sedang gugup atau takut, pejamkan matamu dan sebutlah nama ayah dan ibumu, dengan begitu segala rasa gugup dan takutmu akan hilang…’

Kalimat yang diucapkan Baekhyun kembali terngiang di telinga Chanyeol, dia pun memejamkan matanya rapat, ‘Penampilan ini aku persembahkan untuk appa dan eomma, juga eomma Byun dan sahabat sekaligus saudaraku Byun Baekhyun…’ Ujarnya dalam hati.

Membuka matanya, Chanyeol mulai memukulkan stick-stick itu di drum dan menciptakan harmoni yang indah, Chanyeol tidak hanya memainkan satu lagu, namun dua lagu dengan genre yang berbeda, pop dan rock, permainannya begitu apik sehingga membuat para penonton terkesima dan menyorak-nyorakkan namanya, bahkan ketua organisasi siswa, Kris Wu yang terkenal begitu acuh dan dingin memberikan standing applause saat Chanyeol mengakhiri penampilannya.

‘Pertanda baik…’ Batin Baekhyun yang matanya tidak lepas dari Chanyeol dan Kris.

-***-

-Gwangjin-gu Street
03:00 PM

“Bukankah aku sudah mengatakan kalau kau pasti bisa?” Baekhyun berusaha merangkul Chanyeol yang lebih tinggi darinya.

Chanyeol tersenyum tipis, “Terima kasih kepadamu, Baek… Semua itu karenamu”

Menghentikan langkahnya, Baekhyun menatap Chanyeol lekat, dia menggelengkan kepalanya kecil, “Ani, itu semua karena kemampuanmu sendiri, Yeol… Aku tidak ada hubungannya dengan kemenanganmu di audisi tadi…”

Chanyeol menggeleng kecil, “Ani, andilmu sangat besar atas kemenanganku tadi, Baek… Kau tau… Kata-kata penyemangat darimu itu yang membuatku kuat dan percaya diri, dan kau tau tidak? Aku tidak hanya menyebut nama ayah dan ibuku saat di panggung tadi, aku juga menyebut eomma Byun, dan tentunya dirimu…”

Tersenyum, Baekhyun menghela nafas panjang dan memandangi namja tinggi itu lekat, dia terharu, sangat terharu… Secara tidak langsung Chanyeol mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang berharga di hidup Chanyeol, Chanyeol memang bukanlah orang yang pandai mengekspresikan perasaannya, jika dia mengatakan hal seperti itu, bisa dipastikan kalau hal itu tadi benar-benar tulus, dan tanpa Chanyeol tau, ucapannya tadi membuat Baekhyun menempatkan namja tinggi yang selalu ia panggil ‘raksasa malas’ itu sebagai orang yang paling ia sayangi setelah ibunya.

“Gomawo…”

Chanyeol mengerutkan keningnya bingung, “Untuk apa?”

“Telah menganggapku orang yang berharga dalam hidupmu”

Tersenyum kecil, Chanyeol merengkuh namja itu ke dalam pelukannya, “Di hari dimana eomma Byun mengangkatku sebagai anaknya, kau dan eomma telah menjadi orang yang paling berharga dalam hidupku, Baek…”

Lagi, namja tinggi itu mengekspresikan apa yang di rasakannya dua kali hari ini.

-***-

-Byun Family’s House
01:00 AM.

Tidur Chanyeol sedikit terusik ketika mendengar suara aneh dari dapur, walaupun malas dan mengantuk, dia memaksakan dirinya untuk bangkit dan melihat apa yang sebenarnya terjadi dibelakang, dia khawatir ada pencuri masuk atau semacamnya.

Melangkahkan kakinya malas, Chanyeol tidak lupa mengambil sapu sabagai salah satu alat pertahanan diri kalau yang di dapur itu benar-benar pencuri, dia berjalan mengendap-endap dan mengintip dari balik tembok, dia menyipitkan matanya ketika melihat seseorang berdiri di depan wastafel dapur.

Menegapkan tubuhnya, Chanyeol menyandarkan sapu tadi ke tembok ketika menyadari kalau itu bukanlah pencuri, namun Baekhyun, dia sangat mengenal tubuh itu walaupun hanya melihatnya dari belakang, dia menghela nafasnya lega dan berjalan mendekati Baekhyun.

“Baek…” Chanyeol menyentuh bahu Baekhyun pelan.

Baekhyun tersentak kaget, dia langsung menoleh dan tersenyum ketika melihat Chanyeol, “O-oh, kau… Kenapa tidak tidur?”

Menarik salah satu kursi meja makan, Chanyeol mendudukkan dirinya sendiri di kursi itu, “Aku mendengar suara aneh dari dapur, jadi aku bangun untuk memastikan kalau tidak ada pencuri yang masuk” Jelasnya.

Baekhyun tersenyum tipis, “Yeol, kau tau keluarga kita bukan keluarga kaya, mana mungkin ada pencuri yang masuk ke dalam rumah ini?” Ujarnya sambil terkekeh kecil.

“Bisa saja mereka mencuri tv, ataupun kulkas, atau-”

“Yeol…” Baekhyun memotong ucapan Chanyeol, “Sudahlah, tidak perlu berfikiran macam-macam, sebaiknya kau kembali tidur…”

Baekhyun meraih tangan Chanyeol bermaksud menarik namja itu dan menyuruhnya untuk kembali tidur, Chanyeol yang awalnya hanya menurut menghentikan langkahnya ketika merasa ada keanehan pada diri Baekhyun.

“Baek… Kenapa tanganmu terasa begitu dingin? Apa kau sakit?”

Baekhyun menggeleng cepat, “Tidak, kau tau sebentar lagi akan memasuki musim gugur, wajar saja kalau udaranya dingin… Kau itu selalu berpikiran negatif” Ujarnya kembali mendorong Chanyeol.

Menghentikan langkahnya, Chanyeol menatap Baekhyun lekat-lekat “Kau yakin? Wajahmu juga terlihat pucat…” Chanyeol menempelkan punggung tangannya di kening Baekhyun, bermaksud mengukur suhu badan namja kecil itu.

Baekhyun menyingkirkan tangan Chanyeol dari keningnya pelan, “Yeol, aku tidak apa-apa… Kau tenang saja, sekarang kembalilah tidur, kau ingat ‘kan besok adalah hari pertamamu sebagai anggota band sekolah? Aku tidak ingin kau tergesa-gesa berangkat seperti biasanya dan melewati sarapan karena kau bangun kesiangan, oke?”

“Arasseo…” Chanyeol akhirnya pasrah dan kembali ke kamarnya, namun baru sesaat dia menutup pintu kamarnya dia membuka pintu itu lagi, membuat Baekhyun menatap namja tinggi itu dengan kening mengerut.

“Ada apa lagi, Yeol?”

Tersenyum, Chanyeol menggaruk belakang kepalanya kikuk, “Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam, mimpi indah, Baek~”

Membalas senyuman Chanyeol, Baekhyun mengangguk pelan, “Kau juga, mimpi indah, Yeol…” Ujarnya pelan, Chanyeol kembali tersenyum kemudian benar-benar menutup pintu kamarnya.

Mungkin ini terdengar aneh, tapi Chanyeol memang tidak akan bisa tidur dengan nyenyak kalau dia belum mengucapkan selamat malam kepada Baekhyun.

-***-

A week later…

-Seoul High School
12:00 PM

“Yeol!!”

Baekhyun melambaikan tangannya kepada Chanyeol ketika melihat namja tinggi itu keluar dari ruangan anggota band sekolah, wajahnya terlihat begitu lelah, wajar saja, audisi pemilihan anggota band sekolah itu sebenarnya adalah untuk merekrut para pemenangnya untuk mengikuti kejuaraan band nasional yang akan di adakan tiga bulan lagi, itu sebabnya Chanyeol kini lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang anggota band dari pada dengan Baekhyun, mereka hanya bertemu di rumah.

Chanyeol membalas lambaian tangan Baekhyun, dia tersenyum ketika sahabatnya itu berlari kecil ke arahnya.

“Yeol, kau ingat ‘kan hari ini hari apa?” Tanya Baekhyun dengan senyum yang merekah.

Mengerutkan keningnya, Chanyeol memutar matanya berfikir, “Ah! Hari ini hari ulang tahun eomma ‘kan?”

Tersenyum, Baekhyun menepuk pundak Chanyeol dan tertawa geli, “Ulang tahun eomma masih lima bulan lagi, hari ini adalah hari kita ke toko komik, bagaimana kau bisa melupakan kegiatan rutin kita seminggu sekali itu? Astaga Yeol, sepertinya kau sekarang memang menjadi orang yang benar-benar sibuk…”

Menggaruk kepalanya kikuk, Chanyeol menatap Baekhyun sedikit takut, “Kau marah, Baek?”

Tersenyum, Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan, “Tidak, untuk apa aku marah? Aku sangat mengerti keadaanmu, Yeol… Kau masih ingat ‘kan dua tahun lalu saat pertama kali kau menjadi saudaraku? Bukankah aku berjanji padamu kalau aku akan menjadi saudara yang selalu pengertian, selalu ada di sampingmu dan tidak akan meninggalkanmu?” Ujar Baekhyun mengingatkan.

Chanyeol tersenyum tulus, dia mengacak rambut hitam Baekhyun gemas, “Gomawo…”

Baekhyun membalas senyuman Chanyeol sama tulusnya, dia meraih tangan Chanyeol dan menggenggamnya erat, “Kita berangkat sekarang?”

Chanyeol mengangguk mantap, “Kajja! Aku sudah tidak sabar menambah koleksi komik Naruto milikku”

-***-

-Comic’s Store
02:00 PM.

“Eung? Tumben sekali kau membeli komik seperti itu…” Chanyeol heran dengan pilihan komik Baekhyun yang berbeda dari biasanya.

Tersenyum kecil, Baekhyun membolak-balikkan komik yang berjudul ‘Seven Days’ itu, “Entahlah, aku hanya tiba-tiba ingin membacanya… Kelihatannya ini komik yang bagus”

Chanyeol hanya mengangguk kecil, dia kemudian menarik tangan Baekhyun dan menarik namja itu ke ruang baca, sebelumnya dia juga telah memesan dua gelas orange juice untuk dirinya dan Baekhyun.

Kedua orang itu tenggelam ke dalam imajinasi mereka masing-masing, tanpa ada sedikitpun suara, mereka berdua membolak-balikkan halaman demi halaman komik yang ada di tangan mereka, sesekali mereka menyeruput minuman minuman mereka tanpa melepaskan tatapan mereka dari komik yang mereka baca.

Konsentrasi membaca Chanyeol terusik ketika mendengar isakan kecil dari Baekhyun, dia melihat ada bulir-bulir air bening yang mengalir dari mata Baekhyun, “Baek…”

Menengadahkan wajahnya, Baekhyun menatap Chanyeol dengan mata yang sembab, “Ada apa, Yeol?”

“Kau kenapa?”

Baekhyun menyodorkan komik yang tadi dibelinya kepada Chanyeol, “Komik ini sedih sekali…” Ujarnya pelan, bulir air bening itu perlahan jatuh kembali.

Tersenyum, Chanyeol menghela nafas panjang dan mengelus rambut hitam Baekhyun pelan, “Astaga…” Chanyeol kembali terkekeh.

Kedua mata Baekhyun membulat ketika mendengar Chanyeol mentertawakannya, bibirnya mengerucut, “Kenapa kau mentertawakanku? Coba saja untuk membacanya dan mari kita lihat kau juga menangis atau tidak!” Dengusnya.

Chanyeol tertawa, “Baek… Kau tau aku tidak pernah suka membaca komik seperti ini, komik seperti ini bukanlah gayaku…”

Baekhyun kembali mendengus, dia melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Chanyeol sinis, hal itu malah membuat tawa Chanyeol makin pecah, namja tinggi itu bahkan terpingkal-pingkal.

Sebenarnya ada seulas senyuman tipis di wajah Baekhyun ketika melihat Chanyeol tertawa lepas seperti itu, ada bagian di hatinya yang merasa begitu lega dan nyaman melihat tawanya, ‘Senang melihat kau tertawa lepas seperti ini, Yeol… Aku harap senyum dan tawamu ini tidak akan pernah hilang lagi…’

-***-

Next Day

­-Byun Family’s House
08:00 PM

Malam ini Chanyeol baru pulang ketika jam menunjukkan pukul delapan malam, kedua matanya terlihat begitu lelah dan membuat siapa saja yang melihat akan merasa kasihan kepada namja tinggi itu.

“Oh? Kau sudah selesai mandi, Yeol?” Tanya Baekhyun ketika berpapasan dengan Chanyeol di dapur.

Chanyeol mengangguk pelan, “Mm…”

Menghela nafas kecil, Baekhyun mencoba memberikan senyuman hangat untuk namja tinggi itu, dia sangat mengerti kalau saudaranya itu pasti sangat kelelahan, “Kau akan langsung tidur?”

“Mm”

Lagi, Chanyeol menjawabnya dengan sangat singkat dan kali ini membuat Baekhyun menghela nafas panjang, “Ya sudah, kau istirahatlah…” Ujarnya kemudian.

Chanyeol melenggangkan kakinya menuju kamarnya, di saat Chanyeol baru membuka pintunya, Baekhyun kembali memanggilnya dan membuatnya menoleh menatap Baekhyun, “Ada apa?”

“Kau tidak melupakan sesuatu, Yeol?”

Chanyeol terlihat memutar matanya berfikir, dia kemudian menatap Baekhyun kembali dan menggeleng kecil, “Aku rasa tidak…”

“Kau yakin, Yeol?”

Chanyeol kembali mengangguk, “Mm, memangnya apa yang aku lupakan?”

Baekhyun lagi-lagi menghela nafas panjangnya, “Sudahlah, kau tidur saja, kau pasti sangat kelelahan…”

Chanyeol menatap Baekhyun lekat untuk sejenak sebelum akhirnya masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya rapat.

Disisi lain, Baekhyun hanya bisa menghela nafas panjangnya kembali, “Kau lupa untuk mengucapkan selamat malam padaku, Yeol…” Lirihnya kemudian mencoba tersenyum.

-***-

Dua bulan berlalu dengan begitu cepat, tanpa terasa kejuaraan band nasional itu juga semakin dekat dan membuat Chanyeol harus berlatih dua kali lebih keras dari pada sebelum-sebelumnya, bahkan pihak sekolah telah menyediakan dorm khusus untuk para personel agar mereka bisa terus latihan dan mengasah kemampuan mereka agar semakin matang.

Kejuaraan band nasional ini memang bukan kejuaraan band biasa, kejuaraan ini memberikan hadiah beasiswa kuliah gratis di luar negeri jika mereka memenangkan kompetisi, itu sebabnya pihak sekolah menyediakan apapun agar anak didiknya menang, mereka ingin yang terbaik untuk murid-murid mereka.

Dan Chanyeol, sebagai personel mau tidak mau dia harus pindah ke dorm untuk mematangkan kemampuannya dan tentu saja itu makin mengurangi waktunya bersama Ny. Byun dan Baekhyun sendiri, sebenarnya dua bulan terakhir ini Chanyeol memang sudah jarang menghabiskan waktunya dengan keluarganya, dia disibukkan dengan jadwal latihan yang sangat padat, dia harus berangkat sangat pagi-pagi sekali dan pulang ketika hari hampir malam, ketika sampai di rumah pun dia langsung mandi, makan malam, kemudian pergi tidur, dia bahkan tidak pernah lagi mengucapkan selamat malam untuk Baekhyun seperti dulu.

Kebiasaan rutinnya dengan Baekhyun untuk ke toko komik juga terkena imbasnya, sudah tujuh minggu Baekhyun pergi sendiri ke toko komik tanpa Chanyeol yang menemaninya, walaupun terasa sepi, namun Baekhyun selalu menganggap bahwa ‘raksasa malas’-nya itu selalu bersama dengan dirinya.

-***-

-Byun Family’s House
08:00 PM

Hari ini pelatih mengizinkan untuk para personel band tidur di rumah mereka, Chanyeol pun pulang dengan raut wajah yang begitu lelah, dia hanya menyapa Ny. Byun dan Baekhyun yang kebetulan sedang makan malam saat dia pulang.

“Annyeonghaseyo eomma… Annyeong Baek…”

Bangkit dari tempat duduknya, Baekhyun segera berlari menuju Chanyeol yang jalannya terlihat sedikit sempoyongan, “Yeol, kau tidak apa-apa? Apa kau sakit?” Baekhyun memegangi tubuh namja tinggi itu erat, sorot mata khawatir sangat terpancar dari wajah Baekhyun.

Chanyeol menggelengkan kepalanya pelan, “Tidak, aku hanya lelah…”

Menghela nafasnya panjang, Baekhyun menatap Chanyeol penuh kekhawatiran, “Kau harus istirahat…” Ujarnya pelan, tangan-tangan kecilnya menuntun namja tinggi itu menuju kamarnya.

Baekhyun merebahkan tubuh Chanyeol dan menyelimuti namja tinggi yang sudah mengarungi alam mimpinya itu, Baekhyun menghela nafas panjang dan mengusap rambut Chanyeol pelan, “Raksasa malas… Kau pasti mengalami waktu yang sangat berat, bahkan sekarang kau tidak pernah mengucapkan selamat kepadaku, tapi tidak apa-apa… Aku mengerti, raksasa malas… Kau jangan menyerah… Kau tau ‘kan kalau aku akan selalu di sampingmu dan menyemangatimu, Aku tau kau pasti bisa, Yeol…”

Menegapkan tubuhnya, Baekhyun menatap Chanyeol dengan senyuman tulus, namun senyuman itu perlahan memudar ketika kepala Baekhyun mulai terasa pening, Baekhyun memegang nakas ranjang Chanyeol agar tubuhnya tidak jatuh, tidak sampai disitu dia merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya dan Baekhyun pun mengusapnya.

Ada air mata yang perlahan menggenang di kedua bola mata Baekhyun, dia menatap darah yang ada di jari-jarinya itu tanpa mampu berkata-kata, ‘Tuhan… Aku mohon jangan sekarang…’, Batinnya.

-***-

-Byun Family’s House
08:00 PM

Entah, hari itu Ny. Byun ingin sekali melihat meja belajar Baekhyun yang memang selama ini tidak pernah dirapikannya karena Baekhyun sudah menatanya dengan sangat rapi dan baik, Ny. Byun mengambil komik yang ada di sana dan membuka halaman demi halaman komik itu dan tanpa sengaja menjatuhkan sebuah kertas yang ada di dalamnya.

Ny. Byun mengambil kertas yang jatuh itu dan melihat apa isinya, Ny. Byun termundur satu langkah, kedua matanya yang membulat lebar kini mulai tergenangi air mata, “Ya Tuhan…”

“Baekhyunie… Apa kau yakin kau tidak mau memberitahukan Chanyeol tentang hal ini?” Kedua bola mata Ny. Byun tergenangi air mata, dia menggenggam tangan Baekhyun erat.

Baekhyun menggeleng kecil, “Jangan eomma, Chanyeolie akan berkompetisi sebentar lagi, tidak mungkin aku memberitahunya…” Kali ini Baekhyun yang menggenggam tangan ibunya erat, “Eomma, eomma tau ‘kan apa impian Chanyeol sejak dulu? Aku tidak ingin menghancurkannya eomma…”

Tangis Ny. Byun pecah, “Kau keterlaluan, Nak… Kau menyembunyikan semua ini selama lebih dari dua tahun, kau bahkan menyembunyikannya dari ibu kandungmu sendiri…”

Ada air mata yang mengalir dari kedua sudut mata kecil Baekhyun, dia langsung merengkuh ibunya yang terisak ke dalam pelukannya, “Mianhaeyo eomma, aku hanya tidak ingin melanggar janjiku kepada appa untuk tidak merepotkan eomma…”

Tangis Ny. Byun makin terdengar pilu, dia memukul dada Baekhyun pelan dan Baekhyun pun makin mengeratkan pelukannya kepada ibunya, “Mianhaeyo eomma, jeongmal mianhaeyo…”

“Seharusnya eomma yang meminta maaf kepadamu… Maafkan eomma yang tidak bisa merawat anak eomma dengan baik, eomma adalah ibu yang buruk, maafkan eomma, Nak… Maafkan eomma…”

“Eomma…” Pelukan Baekhyun kepada ibunya semakin erat, “Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi, eomma adalah ibu terbaik yang pernah ada, jangan pernah menyalahkan diri eomma karena eomma tidak salah… Uljima eomma… Uljima…”

Ny. Byun masih saja terisak, sedangkan Baekhyun terus saja berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh lebih banyak, “Eomma… Bolehkah aku meminta satu hal kepada eomma?”

Ny. Byun melepaskan dirinya dari pelukan Baekhyun, dia menatap Baekhyun lekat masih dengan air mata yang masih setia mengalir dari sudut-sudut mata tuanya, melihat itu, Baekhyun menakupkan kedua tangannya di wajah ibunya dan mengusap aliran sungai kecil yang ada di sana, “Eomma… Aku mohon kepadamu agar Chanyeol jangan sampai tau…”

-***-

Lagi, waktu terasa berlalu begitu cepat sehingga tiga minggu terasa hanya bagai sekedipan mata, dan selama tiga minggu itu Chanyeol sama sekali tidak menghubungi keluarganya, hingga akhirnya ada kerinduan yang hinggap di hati Chanyeol untuk melihat senyum hangat Ny. Byun dan Baekhyun, ada juga rasa bersalah yang menyelinap di hatinya karena dia tidak pernah membalas pesan dari Baekhyun, yah, setiap hari Baekhyun memang mengiriminya pesan agar tidak lupa makan dan mengucapkan selamat malam, tapi karena terlalu sibuk dan lelah, Chanyeol mengabaikan itu semua, dia sangat merasa bersalah pada pria kecil dengan senyum segi empat itu, tapi kini yang mendominasi hatinya adalah rasa rindu, kerinduan yang semakin mendalam itu akhirnya membuatnya memberanikan diri untuk meminta izin kepada Kris untuk pulang walaupun sebenarnya dia sangat takut dengan pria dingin itu.

“Sunbaenim…”

Menoleh, Kris menatap Chanyeol dengan tatapan heran, ini pertama kalinya namja tinggi itu bicara kepadanya, “Ada apa, Chanyeol-ssi?”

Chanyeol menggigit bibir bawahnya ragu, dia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya, “Sunbaenim, bolehkah aku pulang ke rumah selama beberapa hari? Aku… Aku merindukan ibu dan saudaraku…”

Tersenyum kecil, Kris menganggukkan kepalanya pelan, “Baiklah, aku mengizinkanmu pulang selama tiga hari dan kau harus kembali tepat waktu, kau tau sendiri kompetisinya sudah satu minggu lagi”

Ada senyuman cerah yang terukir di wajah Chanyeol saat mendengar ucapan ketua organisasi yang terkenal tegas itu, serta merta Chanyeol membungkuk berterima kasih kepada Kris, “Kamsahamida sunbaenim, saya akan kembali tepat waktu” Ujarnya ceria, sedangkan Kris hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman dan menepuk bahu Chanyeol pelan.

-***-

Day 1

-Byun Family’s House.
07:00 AM

“Eomma!! Baek!! Aku pulang!!”

Dengan langkah tergesa-gesa Chanyeol masuk ke dalam rumah dan mendapati rumah dalam keadaan sepi, Chanyeol menggaruk belakang kepalanya bingung, “Kemana mereka?”

Chanyeol pun mengilingi rumah dan melihat ke setiap ruangan di rumah itu namun dia tidak menemukan kedua orang yang di carinya. Lelah, Chanyeol akhirnya memutuskan untuk tidur di ruang tamu sambil menunggu Ny. Byun dan Baekhyun pulang karena Chanyeol berfikir kalau kedua orang itu mungkin sedang keluar karena hari ini hari libur.

Dan benar saja, baru saja Chanyeol merebahkan tubuhnya, Ny. Byun dan Baekhyun pulang dengan ekspresi yang sama sekali tidak menyiratkan adanya kebahagiaan, wajah kedua orang itu terlihat begitu murung.

Mengeritkan keningnya heran, Chanyeol berdiri dan menyapa kedua orang itu pelan, “Eomma… Baek…”

Kedua orang tadi tersentak kaget, terutama Baekhyun yang langsung merubah ekspresinya menjadi biasa kemudian merubahnya menjadi ceria ketika melihat ‘raksasa malas’-nya itu ada di rumah, “Yeol!!” Seru Baekhyun kemudian berlari kecil, dia langsung memeluk Chanyeol erat, “Ya!! Aku merindukanmu bodoh!!”

Chanyeol tidak mengatakan apapun, dia hanya membalas pelukan Baekhyun dengan erat sebelum melepaskannya dan beralih kepada Ny. Byun yang tampak kaget dan segera mengusap air matanya.

“Eomma, kenapa eomma menangis?” Tanyanya sambil mengusap air mata Ny. Byun.

Ny. Byun menggeleng kecil, “Eomma hanya terlalu senang kau pulang sehingga menangis seperti ini” Ujarnya berbohong.

“Astaga… Aku hanya tidak di rumah tiga minggu dan semua orang merindukanku seperti ini, aku rasa aku harus benar-benar memenangkan kompetisi itu agar kerinduan kalian kepadaku terbayar” Candanya yang membuat senyuman kecil terbentuk di wajah Ny. Byun, Ny. Byun langsung memeluk Chanyeol erat dan menangis di dada namja tinggi itu, sebenarnya Chanyeol heran, namun dia berfikir mungkin ini semua karena mereka merindukannya, dia pun membalas pelukan Ny. Byun tak kalah erat.

Tersenyum kecil, Baekhyun kini menengadahkan wajahnya menahan agar air matanya tidak jatuh, dia terharu, bahagia, sekaligus sedih, terharu karena Chanyeol begitu menyayangi ibunya layaknya ibu kandungnya sendiri, bahagia karena Chanyeol akan mampu menjaga ibunya dengan baik ke depannya nanti dan sedih karena dia tau kalau dia tidak akan bisa bersama mereka untuk waktu yang lama.

-***-

Day 2

“Hari ini? Tumben sekali, memangnya ada apa?” Chanyeol mengungkapkan keheranannya kepada Baekhyun karena namja kecil itu meminta untuk ke toko komik.

“Ayolah, Yeol… Tiga bulan ini aku kesana sendirian, apa kau tau betapa kesepiannya aku karena kau tidak menemaniku? Kebetulan kau ada di rumah, aku ingin mengajakmu ke sana, aku takut tidak ada kesempatan lagi setelah hari ini…”

Chanyeol mengerutkan keningnya bingung, “Tidak ada kesempatan lagi? Memangnya kau akan pergi kemana?”

Baekhyun tersentak, namun dia segera mengubah ekspresinya, “Bukan aku, tapi kau, kalau kau menang kau pasti akan semakin sibuk dengan band-mu itu…”

Chanyeol menghela nafas panjang, “Kalau begitu aku tidak memenangkannya” Ucapnya enteng.

“Kau ini…”

Pletak

“Ouch!! Byun Baekhyun!! Apa kau tidak tau bagaimana rasanya sakit itu?” Chanyeol menggerutu karena Baekhyun menjitak kepalanya.

“Yeol, bukankah dari dulu kau selalu mengatakan kalau kau ingin menjadi anggota band dan menjadi terkenal? Apapun yang terjadi kau harus mewujudkannya!!” Teriaknya.

Chanyeol terkekeh kecil, “Arraseo…”

Baekhyun pun tersenyum ketika mendengar ucapan Chanyeol, matanya membulat ketika Chanyeol meraih tangannya dan menariknya agar bangkit dari duduknya, “Kenapa kau tiba-tiba menarikku?”

Ekspresi Chanyeol langsung berubah datar, “Ya! Bukankah kau mengatakan ingin ke toko komik?” Dengusnya.

Seketika itu kedua mata Baekhyun berbinar-binar, dia langsung bangkit dan menatap Chanyeol dengan senyum segi empatnya itu, “Kajja!!!” Ujarnya ceria dan bersiap melangkahkan kakinya pergi.

“Tunggu dulu!”

Menolehkan wajahnya, Baekhyun menatap Chanyeol dengan kening mengerut, “Ada apa, Yeol?”

Chanyeol menatap tangannya dan Baekhyun yang saling bertaut sebelum menatap namja kecil itu lagi, “Baek, apa kau benar-benar tidak apa-apa?”

“Maksudmu?”

“Tanganmu terasa begitu dingin, dan wajahmu… Wajahmu jauh lebih pucat saat terakhir kali aku melihatmu…”

“Astaga… Yeol, berhentilah berfikiran negatif, aku tidak apa-apa, sungguh!” Baekhyun menatap Chanyeol lekat seakan memerintah namja tinggi itu untuk mempercayainya, Chanyeol balas menatap Baekhyun dengan tatapan yang sama, dia menghela nafas panjang dan akhirnya mengangguk kecil.

“Baiklah kalau begitu…”

-***-

Day 3

Chanyeol masuk ke dalam kamar Baekhyun dan merebahkan tubuhnya di ranjang itu, dia kemudian meraih komik yang tergeletak di ranjang Baekhyun kemudian mulai membacanya dengan posisi tidur.

“Oh, mwoya?!” Chanyeol kaget saat sebuah kertas jatuh tepat di atas mukanya, Chanyeol pun segera merubah posisinya menjadi duduk dan membuka kertas yang jatuh ke mukanya tadi.

Kening Chanyeol mengerut, dia bisa membaca nama pasien dan penyakit yang di derita pasien di kertas itu dengan jelas, mungkin Chanyeol memang tidak terlalu pandai dalam ilmu pengetahuan alam, tapi dia tau penyakit seperti apa Leukimia itu, dia tau kalau itu adalah penyakit berbahaya dan mematikan, hal lain yang ia ketahui… Penyakit itu masih belum menemukan obat yang membuat penderitanya sembuh total.

Chanyeol membalik kertas itu dan menemukan ada tulisan tangan dibelakangnya, tulisan tangan yang sangat dikenalnya dan mampu membuat air matanya perlahan jatuh mengalir di pipinya.

“Yeol?”

Suara Baekhyun membuat Chanyeol mengalihkan perhatiannya kepada namja kecil yang melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.

“Sedang apa kau di-” Baekhyun tidak mampu melanjutkan kalimatnya ketika Chanyeol mengangkat kertas yang di temukannya tadi.

“Kenapa kau menyembunyikan ini dariku?” Desisnya dingin.

“Yeol, itu… Itu…” Baekhyun tergagap, dia tidak tau apa yang harus di katakannya.

Chanyeol berdiri dan menatap Baekhyun lekat, ada air mata yang menggenang di kedua matanya, “Kau jahat, Baek… Kenapa kau menyembunyikan ini dariku, hah??” Chanyeol berteriak, dia menatap Baekhyun tajam dengan air mata yang mengalir.

Baekhyun memejamkan matanya kuat, dia menunduk berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh, “Mianhae, Yeol…”

Chanyeol mencengkram kedua tangan Baekhyun, mengguncang-guncangkannya pelan meminta agar namja kecil itu menatapnya, “Mianhae?? Setelah kau sembunyikan semua ini lebih dari dua tahun kau hanya mengucapkan maaf?? Sebenarnya kau menganggap aku saudaramu atau tidak, heuh??!!” Nafas Chanyeol tersengal-sengal, air matanya makin deras mengalir.

Gagal menahan air matanya, Baekhyun pun ikut menangis, “Maafkan aku… Aku benar-benar meminta maaf, Yeol…”

“Aku akan keluar dari kompetisi!!” Desis Chanyeol yang langsung membuat kedua mata Baekhyun membulat lebar, Chanyeol melangkahkan kakinya berniat meninggalkan Baekhyun namun Baekhyun langsung menahannya.

“Yeol, kau mau kemana?” Suara Baekhyun bergetar, isakannya terdengar begitu jelas.

“Bukankah aku sudah mengatakan aku akan keluar dari kompetisi? Aku akan ke dorm dan mengundurkan diri kepada Kris!!” Jawab Chanyeol tanpa melihat Baekhyun, hatinya sudah sangat sakit hanya dengan mendengar isakan pria kecil itu.

“Yeol!! Kau sudah berlatih keras selama tiga bulan dan sekarang kau mengatakan kalau kau akan keluar?? Yeol, bukankah dari dulu aku sudah mengatakan padamu untuk meraih mimpimu??!! Ini mimpimu,Yeol!! Impian yang sudah kau impikan sejak dulu!!” Baekhyun berteriak, dia menangis tersedu.

Chanyeol memejamkan matanya rapat kemudian berbalik menatap Baekhyun, “Bagaimana aku bisa mengikuti kompetisi itu jika aku mengetahui saudaraku sedang sekarat, heuh? Bagaimana bisa aku egois untuk lebih mementingkan impianku dari pada saudaraku?? Orang yang selalu ada di sampingku?? Seharusnya kau menghargaiku karena aku melakukan ini untukmu!! Aku ingin menjagamu Baek, kau tau kalau aku sangat menyayangimu!! Aku tidak mungkin meninggalkanmu saat keadaanmu seperti ini!!”

Tangis Baekhyun makin pecah, “Kalau kau menyayangiku kau harus mengikuti kompetisi itu, Yeol!! Apa kau ingin melihat usahaku selama ini mengajarimu sia-sia? Apa kau ingin melihat aku pergi dengan penyesalan karena tidak mampu membuat mimpi saudaraku menjadi kenyataan?? Yeol, Aku menyayangimu lebih dari kau menyayangiku… Aku menyembunyikan semua ini darimu karena aku menyayangimu!! Aku tidak ingin kau terbebani denganku dan aku ingin pergi setelah aku melihat kau berhasil meraih mimpimu… Tidakkah kau mengerti hal itu??” Nafas Baekhyun tersengal, wajahnya makin terlihat pucat dengan aliran sungai kecil yang terbentuk di kedua pipinya.

Chanyeol terdiam, dia hanya menatap Baekhyun masih dengan air mata yang masih setia mengalir dari kedua sudut matanya, tanpa mengatakan apapun dia langsung merengkuh Baekhyun ke dalam pelukannya, kedua orang itu menangis.

“Kau harus meraih mimpimu, Yeol… Harus… Ini permintaan terakhirku kepadamu…”

-***-

Four days later…

“Eomma, apa eomma sudah siap?” Tanya Baekhyun sedikit berteriak.

“Mm, sebentar lagi sayang…” Teriak Ny. Byun dari dalam kamarnya, tidak lama kemudian beliau keluar dengan penampilan yang sudah rapi.

Baekhyun tersenyum kemudian menggandeng tangan ibunya, “Kajja, kita berangkat sekarang, aku takut terlambat untuk melihat penampilan Chanyeol…” Ujar Baekhyun bersemangat.

“Sebentar…” Ny. Byun menatap Baekhyun dengan kening mengerut, “Baekhyunie, apa kau benar-benar tidak apa-apa, Nak? Kau terlihat sangat pucat…”

Baekhyun mendengus, “Eomma, aku tidak apa-apa… Eomma tenang saja…” Ujarnya meyakinkan.

Ada setitik air mata yang menetes dari sudut mata Ny. Byun, “Kau bohong, Nak…” Ujarnya kemudian mengusap darah yang mengalir dari hidung Baekhyun.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya kelu, dia menatap ibunya memohon, “Aku bisa menahannya eomma, aku akan baik-baik saja di sana… Eomma tau ‘kan aku sudah berjanji kepada Chanyeol bahwa aku akan datang? Aku mohon eomma… Jangan membuatku melanggar janjiku kepadanya… Aku tidak mau melihatnya kecewa…”

Ny. Byun hanya menangis dalam diam, dia tau kalau ikatan persaudaraan kedua anaknya itu sangat erat walaupun mereka tidak sedarah, Ny. Byun memeluk anaknya erat dan mencium puncak kepalanya sayang, “Arasseo, tapi ingat, Nak… Jangan melakukan apapun yang membuatmu lelah…”

“Gomawoyo eomma…”

-***-

Chanyeol memegang kedua stick drumnya dan berkali-kali menghela nafas berat, dia gugup sekaligus takut, takut jika Baekhyun tidak bisa datang karena empat hari lalu setelah ‘pertengkaran’ mereka Baekhyun sempat dilarikan ke rumah sakit karena pingsan, kondisi Baekhyun sebenarnya makin memburuk setiap harinya, namun dia selalu berpura-pura kuat di depan Chanyeol dan bersikap seolah tidak ada apa-apa, dan itu akhirnya yang membuat Chanyeol memutuskan untuk kembali ke band, semuanya dia lakukan demi Baekhyun, dia tau kalau ini adalah keinginan terakhir Baekhyun, keinginan yang sangat sederhana, keinginan untuk melihat dirinya berada di atas panggung dan bermusik.

“Chanyeol-ssi, selanjutnya giliran band sekolah kita, apa kau sudah siap?” Tanya Kris, Kris memang bertanggung jawab atas segala sesuatu tentang band sekolah.

“Ne, sunbaenim…”

Tersenyum tipis, Kris menepuk pundak Chanyeol pelan, “Jangan gugup, oh iya, aku dengar Baekhyun-ssi dan ibu kalian datang untuk melihat penampilanmu, kau harus memberikan penampilan yang terbaik agar segala latihanmu tidak sia-sia dan tidak mengecewakan mereka…”

Kedua mata Chanyeol membulat saat Kris menyebutkan Baekhyun dan ibunya, “Sunbae serius? Mereka benar-benar datang??”

Kris mengangguk kecil, “Mm, mereka ada di barisan nomor 3 di sebelah kanan, kau bisa melihat mereka dengan jelas dari atas panggung, fighting!!” Ujarnya menyemangati kemudian meninggalkan Chanyeol yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

Dan benar saja, Chanyeol bisa melihat wajah pucat yang tersenyum dengan tulus kepadanya saat dia sudah naik di atas panggung, Chanyeol pun menempati posisinya dan memejamkan matanya sebelum memulai penampilan.

‘Ini untukmu, Baek…’ Batinnya kemudian mulai memukulkan stick-nya memulai penampilan.

Chanyeol dan band-nya mengakhiri penampilan dengan tepuk tangan yang sangat meriah dari para penonton, Chanyeol pun melihat kembali ke tempat duduk Baekhyun dan ibunya, dia mendapati Baekhyun memberikannya dua jempol yang membuat senyumnya merekah, namun sekaligus membuat hatinya sakit karena kedua mata kecil yang melihatnya itu semakin terlihat redup.

-***-

Tuhan sangat berbaik hati kepada mereka yang sudah bekerja keras, Dia memberikan kemenangan untuk band sekolah Chanyeol yang sudah berlatih dengan keras selama tiga bulan terakhir, para personel pun naik ke atas panggung untuk menerima hadiah mereka.

Saat naik ke atas panggung, mata Chanyeol tidak pernah lepas dari tempat duduk Baekhyun dan ibunya, dia melihat dengan jelas bahwa Baekhyun terlihat begitu lelah namun tetap saja memaksakan senyumnya kepada Chanyeol.

Chanyeol bersiap memberikan pidato kemenangannya ketika darah kembali mengalir dari hidung Baekhyun, Chanyeol yang melihat itu langsung memberikan microphone kepada orang yang di sebelahnya, meloncat turun dari panggung dan berlari menuju Baekhyun yang terlihat begitu pucat dan lemah.

“Baek!!!!”

“Yeol…” Suara Baekhyun terdengar begitu lirih dan hampir tidak terdengar, kedua mata Baekhyun hampir tertutup dan membuat baik Chanyeol maupun Ny. Byun langsung menangis.

“Baek… Aku mohon bertahanlah…”

Chanyeol memegangi badan Baekhyun kemudian menggendong tubuh kecil itu, “Eomma, cepat telpon 119 sekarang!!”

-***-

Chanyeol tidak bisa menghentikan tangisnya, sedari tadi dia hanya berada di samping Baekhyun dan menggenggam erat tangan Baekhyun yang semakin terasa dingin, “Baek… Aku mohon… Bertahanlah…” Lirih Chanyeol, dia menundukkan kepalanya dalam.

Tangan Baekhyun bergerak kecil, membuat Chanyeol langsung tersentak, dia langsung berdiri untuk melihat apakah Baekhyun sudah membuka matanya atau tidak.

Mata kecil itu perlahan terbuka dan menatap sekelilingnya sebelum menghentikan tatapannya kepada namja tinggi yang sedang menangis di sampingnya, “Raksasa malas… Kenapa kau menangis, heuh? Bukankah kau seharusnya sedang bahagia atas kemenanganmu?” Ujar Baekhyun lirih.

Chanyeol mengusap air matanya dengan lengan baju kemudian menatap Baekhyun lekat, “Ya! Kau ini…”

Baekhyun tersenyum kecil, “Chukkae, Yeol…” Ujarnya pelan, setitik air mata mengalir dari sudut matanya.

“Baek, kau jangan menangis… Kalau kau menangis aku makin tidak bisa menghentikan air mataku kau tau?!” Chanyeol mendengus, namun dengusannya itu di sertai dengan tangisan dan suara yang bergetar.

Lagi, Baekhyun memberikan senyuman tipis kepada Chanyeol dan menatap namja itu lekat, “Mianhae… Oh iya, dimana eomma?”

“Aku menyuruh eomma pulang karena dia terlihat begitu lelah, aku tidak ingin eomma jatuh sakit…” Ujar Chanyeol pelan.

Sepertinya hal kecil yang di sebut air mata itu memang sama sekali tidak bisa di bendung saat ini, hal kecil itu kembali mengalir dari sudut mata Baekhyun yang menatap Chanyeol penuh kasih sayang, “Terima kasih telah menyayangi dan menjaga eomma, Yeol…”

“Ya… Apa maksudmu dengan terima kasih, heuh? Tentu saja aku akan menyayangi dan menjaga eomma karena dia juga eommaku…”

Tangan dingin Baekhyun yang sedari tadi di genggam oleh Chanyeol kini menggenggam tangan Chanyeol balik, dia menatap saudaranya itu lekat-lekat, “Yeol, ingat baik-baik apa yang akan ku katakan ini, apapun yang terjadi kau harus meraih mimpimu, jangan pernah menyerah dan teruslah berusaha… Jika kau menghadapi sesuatu yang kau rasa sulit, cukup pejamkan matamu dan sebutlah ayah dan ibumu… Kau pasti bisa menghadapinya… Aku yakin itu, dan yang terakhir… Aku mohon… Jagalah eomma…” Suara Baekhyun makin terdengar lirih, air mata itu kembali membentuk sungai kecil di pipi Baekhyun yang memaksakan senyumnya kepada Chanyeol.

“Byun Baekhyun… Berhentilah mengucapkan kalimat seperti itu… Kau tau, kau sangat menakutiku… Aku sangat takut kau meninggalkanku…” Lagi, namja tinggi itu kembali terisak.

Baekhyun tersenyum tipis, “Maafkan aku, Yeol… Oh iya, jam berapa sekarang?” Tanya Baekhyun tiba-tiba, entah kenapa kedua matanya terlihat sangat amat redup.

Chanyeol melihat jam tangannya sejenak kemudian kembali menatap Baekhyun, “Jam 10 malam, memangnya kenapa, Baek?”

Baekhyun menghela nafas pendek, dia menatap Chanyeol tepat di kedua matanya, “Selamat malam, Yeol…” Ujarnya pelan kemudian menutup mata, bersamaan dengan itu, kardiograf yang sedari tadi menunjukkan bahwa Baekhyun masih hidup kini hanya menampilkan garis lurus dengan suara yang nyaring.

“Baek… Baek…” Chanyeol mengguncang-guncangkan tubuh Baekhyun namun tidak ada reaksi apapun, kedua mata kecil itu masih saja tertutup rapat.

“Baek! Berhenti bercanda dan buka matamu, Baek!!” Air mata Chanyeol kembali mengalir deras, dia terus saja mengguncang-guncangkan tubuh Baekhyun berharap kedua mata itu akan terbuka kembali.

“Baek, ini tidak lucu!!! Cepat buka matamu!!”

“BAEK!!!”

-***-

Six years later…

“Kau pulang hari ini, Nak?”

“Ne eomma, mungkin aku akan sampai di rumah sore hari…”

“Hati-hati di jalan, Chanyeolie…”

“Ne, saranghaeyo eomma…”

“Mm, nado adeul…”

Chanyeol mematikan sambungan teleponnya kemudian masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya menuju rumah, Chanyeol sangat merindukan ibunya, dua tahun ini Chanyeol memang disibukkan dengan kegiatannya sebagai personel sebuah band yang baru saja menyelesaikan tur dunia mereka sehingga membuatnya sangat jarang pulang ke rumah. Setelah empat tahun menyelesaikan sekolah musiknya di London, Chanyeol dan teman-temannya yang dulu tergabung dalam band sekolah mereka kembali membentuk band dan sukses baik di dalam maupun di luar negeri.

Chanyeol menghentikan mobilnya di rumah sederhana yang dari dulu tidak pernah berubah, di depannya sudah ada seorang wanita yang sudah mulai beruban menyambut kedatangannya dengan senyuman hangat, Chanyeol pun membalas senyuman ibunya dan langsung memeluknya ketika sudah berada di depannya.

“Bogoshipoyo eomma…”

“Nado, apa kau sudah makan, Nak?”

Chanyeol melepaskan pelukannya dan mengangguk, “Aku sudah makan, nanti saja kita makan bersama saat makan malam, aku ingin ke suatu tempat dulu…” Jawab Chanyeol.

Ibunya mengangguk pelan, dia sudah tau tempat yang di maksud Chanyeol, “Hati-hati, nak…”

“Ne, eomma…” Chanyeol mengecup puncak kepala ibunya sejenak sebelum kembali masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikannya ke suatu tempat.

Dan disinilah Chanyeol sekarang, di tempat di mana hanya ada kata sunyi dan damai, di tempat yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi mereka yang sudah di panggil oleh Tuhan untuk kembali ke tempat mereka berasal.

Dengan membawa buket bunga, Chanyeol melangkahkan kakinya menuju ke satu makam dan tersenyum kecil ketika melihat nama yang terukir di atas batu nisan, dia meletakkan buket bunga yang di bawanya dan menghembuskan nafas berat, “Bagaimana kabarmu, Baek? Apa kau merindukanku?”

Chanyeol membersihkan daun-daun kering yang ada di atas makam Baekhyun kemudian menghela nafas beratnya lagi, “Aku tau kau pasti merindukanku lebih dari aku merindukanmu, aku benar ‘kan?”

Air mata itu menetes lagi, namun Chanyeol sama sekali tidak berniat mengusapnya, “Waktu berlalu begitu cepat, Baek… Tidak terasa ini sudah tahun keenam kau meninggalkanku dan eomma… Kau tau… Tidak ada satu hari pun kami tidak merindukanmu…”

Chanyeol kembali menghela nafas panjangnya, dia merogoh sakunya mengambil sebuah kertas dan meletakkan kertas itu di atas makam Baekhyun, “Ini suratmu untukku dulu, surat yang kau tulis di balik laporan kesehatanmu… Aku mengembalikannya kepadamu karena sekarang aku sudah meraih mimpiku dan agar kau selalu merasa bahwa aku selalu ada di sampingmu… Aku menyangimu, Baek… Aku sangat menyayangimu dan merindukanmu…”

Chanyeol mengusap air matanya, dia tersenyum sejenak sebelum melangkahkan kakinya pulang.

-***-

Baekhyun’s Letter.

‘Rasanya tidak sia-sia aku mengajari Chanyeol musik selama ini, dia berhasil menjadi anggota band sekolah dan aku bangga dengan hal itu. Ah… Seandainya aku tidak memiliki penyakit ini mungkin aku mengikuti kompetisi juga untuk posisi vocal, sayangnya aku tidak bisa… Bohong jika aku mengatakan music hanyalah sebuah hobi bagiku, music sebenarnya adalah nafas hidupku dan aku sudah bermimpi untuk menjadi penyanyi semenjak aku kecil, tapi setelah dokter memvonis-ku dengan penyakit ini dua tahun lalu akhirnya aku lebih memilih untuk mengubur mimpiku karena aku tau aku tidak akan mempunyai hidup yang lama… Tapi saat Chanyeol datang ke dalam keluargaku dan dia mengatakan bahwa dia sangat suka bermusik dia memberiku harapan, mungkin memang bukan diriku yang berada di panggung, tapi setidaknya apa yang aku ajarkan kepadanya berguna bukan? Yah, bisa di bilang ada andilku di dalamnya dan itu sudah cukup bagiku, aku harus mengucapkan banyak terimakasih kepadanya karena dia telah mewujudkan mimpiku secara tidak langsung, gomawo Yeol! Gomawo raksasa malas-ku! Aku menyayangimu~’

-END-

Iklan

9 thoughts on “[One Shoot] – Good Night

  1. hikseu hikseu author dosa loh bikin orang nangis. 😥
    thooor kenapa di story ini baek harus mati sih???? kan aye jadi sedih(?)#laaah
    nice story thor i luv it 😉
    btw,aye kira ni ff yaoi,gara-gara poster di atas. hahaha…
    oke,keep writing thor!

  2. Aigo…athor ini skali muncul buat org nangis n’ meler? Tanggung jawab thor? Slanjutx hrus bs buat tertawa lho….
    Oh iya thor kata2 yg jika qm mrasa gugup dan takut, pejamkn matamu sebut nama ayah dan ibu maka semua pasti baik2 saja, itu spertix q pernah dnger kalo’ ga’ slah di kabhi kushi kabhi gam ya thor?…

  3. Hueeee..nangis kan thor nyampe gigitin bantal
    Sangkin dirumah udah abis snack
    sroottttt..huaaaa bikin nangis hiks hiks sedih banget kenapa baek mati kenapaaaaa
    #ala_ala_drama

  4. jadi baek tanya jam cuma karena mau mengucapkan ucapan selamat malam itu ya,ucapan yang sudah lama tidak mereka ucapkan pada satu sama lain karena kesibukan yeol,hhh
    yeol hormat sekali pada kris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s