Fate #3 “Just Believe in Me”

Fate (Unknown Destiny)

Fate #3

“Just Believe in Me”

Title : Fate #3 “Just Believe in Me”

Author : Evilosh_HD a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brotherhood, Friendship.

Lenght : Chaptered.

Main Cast :

  • EXO Member

Support Cast :

  • Lee Soo Man ._.v

-***-

A/N:

halooo~

Adakah yang kangen dengan saya?? Nyahaha

Maap yah readers, saya minggu-minggu kemarin sibuk banget, yaudah ydeh yah, ga banyak cuap-cuap

Part Before : #2

Be aware w/ typo(S)

Happy Reading ^^

-***-

-Banpo Bridge.
09:00 PM

“Kau gila” Sehun berkata dingin, dia bangkit dari duduknya berniat untuk meninggalkan Luhan yang hanya bisa ternganga dengan reaksi Sehun setelah dia menceritakan segalanya.

Luhan mengerjapkan matanya ketika menyadari Sehun telah cukup jauh, dia mendengus kemudian segera berteleportasi ke depan Sehun.

“Mwoya!!!” Sehun terlonjak, sedangkan Luhan hanya menyeringai karena berhasil menggoda namja dingin yang acuh itu.

“Ya!! Berhenti membuatku kaget alien bodoh!!” Runtuk Sehun kesal, dia memutar bola matanya dan tidak berhenti mendengus, dan tentu saja Luhan tidak memperdulikannya karena dia sendiri sebenarnya tidak mengerti apa itu artinya alien.

Menggenggam tangan Sehun, Luhan menatap ke dalam bola mata Sehun dalam, “Aku akan membawamu berteleportasi ke tempat yang kau inginkan saat ini, jika aku berhasil, maka kau harus mempercayai seluruh ucapanku tadi” Ujarnya sambil tersenyum manis, senyuman polos yang mampu membuat Sehun tertegun untuk sejenak.

Kembali memutar matanya, Sehun bersikap seolah tak peduli namun kemudian menatap Luhan, “Kenapa juga aku harus-”

Bzztt

“AAAAAAAAAA!!!!!!”

Luhan berteriak keras dan langsung memeluk Sehun setelah sampai di tempat yang diinginkan Sehun untuk di sana saat ini, Namsan Tower.

“Tempat apa ini??? Kenapa tinggi sekali??? Aku takuuttt!!!” Luhan terus saja meracau tidak jelas, tanpa ia sadari dia memeluk Sehun erat dan menangis.

Untuk sesaat Sehun tertegun, dia menatap sekelilingnya dan benar-benar yakin kalau ini adalah Namsan Tower, tempat yang menyimpan sejuta kenangan baginya, bukan hanya kenangan yang bahagia, namun kenangan menyakitkan yang dimilikinya juga pernah terjadi di tempat ini, namun suara racauan Luhan yang tidak jelas membuatnya perlahan tersadar dan menatap puncak kepala alien yang saat ini menangis sambil memeluknya.

“Hahahahahahaha”

Sehun tidak mampu lagi menahan tawanya, dia tertawa keras, dia menganggap Luhan adalah alien paling aneh, bagaimana mungkin seorang alien yang mempunyai kekuatan super bisa takut dengan ketinggian? Sehun terus saja tertawa dengan Luhan yang menangis dan memeluknya. Sehun sama sekali tidak berniat untuk melepaskan pelukan Luhan karena dia tau kalau alien itu benar-benar ketakutan saat ini, mungkin dengan alien itu memeluknya maka akan membuatnya sedikit merasa tenang.

Menepuk-nepuk punggung Luhan, Sehun berusaha menghentikan tawanya dan menenangkan alien yang masih terisak itu, “Hey alien bodoh, sudah, berhentilah menangis, disini tidak apa-apa, disini aman… Pffttttt” Ujar Sehun menahan tawa.

Terisak, Luhan masih setia menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Sehun, “Aku takut… Tempat ini terlalu tinggi, aku takut aku akan jatuh…”

Tanpa sadar, kedua tangan itu perlahan naik dan melingkar memeluk tubuh yang gemetar karena takut kemudian merengkuhnya erat, “Hey alien, kau tidak usah takut… Ada aku di sampingmu dan akan ku pastikan kau akan baik-baik saja, kau hanya perlu percaya kepadaku, kau mengerti?”

Ucapan Sehun barusan membuat Luhan sedikit merasa tenang, Luhan mulai menengadahkan wajahnya menatap Sehun yang kini menatapnya tulus, “Sungguh?”

Sehun tersenyum tulus dan mengangguk pelan, dia melepaskan pelukannya dan kini dia yang menggenggam erat tangan Luhan, “Sekarang lebih baik kita kembali ke tempat kita bicara tadi, aku takut kau akan pingsan jika berlama-lama disini”

Luhan sedikit mendengus, namun kemudian menghela nafas panjang dan mengangguk, masih dengan hati yang berdebar takut, Luhan melangkahkan kakinya dan mereka pun kembali ke jembatan Banpo dimana mereka berbicara untuk pertama kalinya tadi. Luhan langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat duduk dan berkali-kali menghela nafas lega.

Sehun yang melihat hanya menarik senyum tipis walaupun dia sendiri tidak sadar kalau dia telah memberikan senyumnya kepada orang yang baru dikenalnya itu, ah, mungkin belum dikenalnya karena Sehun bahkan belum mengetahui namanya dan satu lagi, namja itu bukanlah manusia, dia adalah seorang alien.

Sehun mendudukkan dirinya di samping Luhan, ketika diam seperti ini, wajahnya kembali berubah menjadi datar dan dingin, tatapan matanya yang setajam elang hanya menatap lurus ke depan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Namaku Luhan”

Sehun menoleh, dia mendapati Luhan yang tersenyum cerah kepadanya dan mengulurkan tangan. Sedikit ragu, Sehun akhirnya mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Luhan yang hangat.

“Oh Sehun”

Senyum Luhan makin merekah, mereka kemudian melepaskan tautan tangan mereka dan kembali larut dalam keterdiaman, mungkin karena terlalu banyak yang ingin mereka katakan sehingga mereka bingung untuk menyampaikan mana yang terlebih dahulu harus mereka bicarakan.

“Sehunie-”

“Hey alien-”

Mereka mengucapkannya bersamaan dan membuat suasana kembali menjadi canggung, keduanya menghela nafas berat sebelum kembali menatap satu sama lain memberi isyarat untuk berbicara terlebih dahulu.

Luhan menghela nafas panjang, “Baiklah, sepertinya aku yang akan berbicara lebih dahulu…” Ujarnya kemudian menjeda ucapannya sejenak, tangan hangatnya menggenggam tangan Sehun dan Sehun hanya melihatnya, “Sehunie, apa kau sekarang percaya kepadaku? Aku mohon percayalah… Sirius akan dalam bahaya jika aku tidak melanjutkannya… Ini sama dengan permainan hidup dan mati bagi planetku…” Lanjutnya lirih.

Sehun menyandarkan tubuhnya, dia melipat kedua tangannya membuat genggaman Luhan dari tangannya lepas, dia menatap Luhan serius, “Seburuk apa bahaya yang akan ditimbulkan?”

Luhan menghela nafas panjang, “Kau bahkan tidak akan bisa membayangkannya, seluruh planet akan hancur tanpa meninggalkan sisa, dan… Dan seluruh kehidupan di sana akan musnah! Sejujurnya… Seandainya aku tidak terjebak di planet ini dan tidak menemukan kristal serta kodemu maka Sirius akan baik-baik saja, tapi karena aku menemukannya, maka aku harus mengakhiri apa yang telah aku mulai… Aku yakin mulai ada bencana di saat aku menemukan kristalmu…” Ada cairan bening yang mulai menggenang di kedua mata Luhan dan hal itu membuat ada rasa sakit yang muncul di hati Sehun yang Sehun sendiri tidak tau kenapa rasa sakit itu ada.

Sehun beringsut, entah mendapat dorongan dari mana dia namun tangan kanannya bergerak mengusap kepala Luhan yang hampir menangis, “Aku mempercayaimu… Dan aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membantumu mencari sepuluh orang lain yang tersisa… Kau hanya perlu percaya padaku, ok?” Ujarnya tulus.

“Benarkah?”

Sehun mengangguk pelan, “Mm, kita hanya tinggal menemukan mereka dan planetmu akan baik-baik saja ‘kan?”

Ekspresi Luhan kembali terlihat sendu, dia menggeleng kecil, “Tidak Sehunie, setelah kedua belas legenda berkumpul maka akan ada tugas baru yang menunggu kita, kita harus melawan roh hitam yang kembali bangkit saat aku menemukan kristal milikmu…”

“Apa?”

-***-

-Gwangjin-gu Street
09:30 PM

Baekhyun berjalan sendirian di jalanan Gwangjin-gu, dia baru saja pulang bekerja menjadi seorang pelayan di salah satu restoran sederhana di daerah ini, berkali-kali Baekhyun menghela nafas panjang dan menilik jam tangan yang melingkar di tangannya untuk melihat waktu -kebiasaannya jika merasa takut-, memang hari belum terlalu malam namun tetap saja dia takut jika harus berjalan sendirian seperti ini, apalagi tempat tinggalnya hanyalah di deretan rumah kontrakan sederhana dengan keamanan yang sangat minim, bahkan banyak cerita hantu yang beredar disana.

Tap… Tap… Tap…

Derap langkah kaki dari arah belakang membuat bulu kuduk Baekhyun mulai meremang, entah karena sebentar lagi musim gugur atau hanya perasaannya tapi udara tiba-tiba memang terasa begitu dingin, Baekhyun merapatkan jaketnya dan memasukkan kedua tangannya dalam saku jaket, dia mempercepat langkahnya agar segera sampai rumah.

Tap tap tap tap…

Derap langkah kaki itu terdengar juga mempercepat langkahnya, kini hati Baekhyun berdebar-debar tak menentu, dia meruntuki dirinya sendiri karena dia takut dengan hantu namun sering sekali mendengarkan cerita hantu, Baekhyun terus saja mempercepat langkahnya namun langkah kaki dibelakangnya juga masih saja terdengar mengejar.

Puk

Ada yang menyentuh bahu Baekhyun dari belakang dan membuat namja itu seketika membeku, dia ingin menoleh namun terlalu takut untuk melakukannya, ‘Tuhan… Aku mohon selamatkan aku… Aku tidak ingin mati muda di makan hantu…’ Baekhyun membatin.

“Baek…”

“EOMMA!!!!! AAAA!!! AKU TAKUUTTTTT!!!! SIAPAPUN TOLONG AKU!!!” Baekhyun berteriak sambil menangis, namun dia tetap berada di posisinya tadi dan sama sekali tidak bergerak, dia membeku di tempatnya dengan air mata yang mengalir deras, dia takut, sangat takut.

“Hahaha”

Terdengar suara kikikan geli dari belakang, Baekhyun pun menghentikan tangisnya namun tetap tidak mempunyai nyali untuk menoleh.

“Ya Byun Baekhyun!! Ini aku Chen, Kim Jongdae… Hahaha” Ungkap seseorang yang mengejar Baekhyun tadi, segera saja Baekhyun menoleh dan mendapati Chen memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa, Baekhyun mendengus kesal.

“Bercandamu sama sekali tidak lucu!!” Dengusnya sambil mengelap air matanya yang terlanjur mengalir.

Masih memegangi perutnya, Jongdae menatap Baekhyun kasihan, dia menepuk bahu temannya pelan, “Hey, aku sama sekali tidak berniat untuk bercanda, aku hanya berniat untuk mengajakmu pulang bersama…”

“Tapi setidaknya kau harusnya memanggil namaku dulu tadi!! Kau tau aku hampir mati karena takut!!”

“Hahaha, mianhae…”

Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu, “Sudahlah, ayo pulang, lagi pula besok kita harus sekolah… Aku lelah setelah bekerja tadi”

Chen merangkul pundak Baekhyun dan mengangguk, “Begitu juga aku… Kajja…”

-***-

-Sehun’s House
10:00 PM

“Jadi selama ini kau tinggal di gudang?”

Luhan mengerutkan keningnya bingung, “Gudang? Tempat berdebu itu namanya gudang?”

Sehun menghela nafas panjang, kalau dia menjelaskan hal itu sekarang dia yakin pasti dia tidak akan mendapatkan waktu tidur yang cukup, jadi dia hanya menjawabnya dengan anggukan kecil kemudian mengajak Luhan ke dalam kamarnya.

Bedroom

“Uwaaa….” Guman Luhan takjub, dia tertegun di depan kamar Sehun.

“Ini kamarku, kalau kau membutuhkan apa-apa kepadaku kau bisa ke sini, dan sekarang aku akan mengantarkanmu ke kamarmu” Ujar Sehun memberi pengarahan singkat.

Dia berjalan lebih dulu untuk menunjukkan kamar Luhan, namun setelah cukup lama dia berjalan dia sama sekali tidak mendengar langkah kaki yang mengikutinya, Sehun membalikkan tubuhnya ke belakang dan mendapati Luhan masih tetap saja berdiri terpaku di depan kamarnya, Sehun memutar bola matanya malas dan akhirnya kembali ke depan kamarnya, dia menggenggam tangan hangat Luhan membuat Luhan menoleh dan menatap Sehun bingung.

“Ikut aku, aku akan mengantarkanmu ke kamarmu sendiri”

Luhan menggeleng pelan, “Aku ingin tidur bersama Sehunie, aku takut tidur sendiri… Sangat takut…” Luhan menatap Sehun dengan mata rusa yang begitu polos dan memelas, membuat Sehun tidak sampai hati untuk menyakiti hati alien yang ada di depannya ini, tunggu, apa alien punya hati? Ah, mereka pasti juga mempunyai hati seperti manusia pada umumnya, buktinya Luhan tadi menangis di jembatan Banpo, dan hal itu benar-benar membuat Sehun frustasi karena dia adalah tipe orang yang begitu benci jika dia harus bersama orang lain untuk waktu yang lama, apalagi kalau sampai alien ini benar-benar tidur dengannya, dia benar-benar tidak bisa membayangkannya, Sehun adalah orang yang apatis, ingat itu! Tapi mata rusa Luhan yang polos dan memelas itu…

Sehun menggigit bibir bawahnya bingung, “Hey alien, sebenarnya aku-” Tenggorokan Sehun tercekat, tidak mampu melanjutkan kalimatnya karena mata rusa Luhan yang memelas itu benar-benar membuat sisi sensitive hatinya yang masih mempunyai rasa peduli kepada orang lain kembali terusik.

“Ya?”

Sehun menghela nafas panjang, “Sudahlah, lupakan saja, kalau begitu kau cepat bersihkan dirimu dan pakailah salah satu piyamaku kemudian istirahatlah…”

Mata rusa Luhan berbinar, dia terlihat begitu bahagia hingga tanpa sadar dia memeluk erat Sehun, “Sehunie gomawo!!”

“Ya! Lepaskan pelukanmu! Aku masih namja normal kau alien pervert!!”

-***-

-Seoul High School
09:00 AM.

Sehun hanya memainkan bolpoint miliknya tanpa berniat mencatat apa yang Park Seonsaengnim terangkan di depan, berkali-kali helaan nafas berat terdengar olehnya seakan ada beban yang saat ini dipikulnya, bagaimana tidak ada beban, ucapan Luhan kemarin tentang roh hitam terus saja terngiang-ngiang dipikirannya seakan tidak mau hilang.

Menghela nafas beratnya lagi, Sehun akhirnya bangkit meninggalkan kelas tanpa mengatakan apapun, bahkan meminta izin kepada guru pun tidak, dan seluruh orang di sekolah ini sudah sangat terbiasa dengan sikapnya yang suka seenaknya sendiri sehingga membiarkan hal itu berlalu begitu saja.

Dengan kedua tangan yang di masukkan ke saku celana, Sehun berjalan di koridor yang sepi karena saat ini proses belajar-mengajar memang sedang berlangsung, Sehun melangkahkan kakinya menuju tempat parkir dan mengemudikan Audi R8 miliknya menuju suatu tempat, dan lagi, siswa bernama Oh Sehun itu sangat bebas keluar-masuk sekolah tanpa mendapat larangan penjaga sekolah atau teguran dari guru.

Mungkin banyak orang beranggapan bahwa perlakuan khusus kepada Oh Sehun adalah karena dia adalah anak pemilik sekolah, namun anggapan itu sebenarnya salah, perlakuan khusus ini pihak sekolah lakukan karena tidak ingin Sehun kembali menjadi brutal seperti saat pertama kali dia masuk kedalam sekolah ini, dia bahkan membuat dua orang penjaga sekolah masuk rumah sakit selama seminggu karena melarangnya keluar, pada saat itu Sehun mengatakan bahwa dia butuh menenangkan dirinya sehingga dia meminta izin keluar sebentar, namun penjaga sekolah melarangnya dan akhirnya Sehun menghajar mereka habis-habisan, semenjak itulah pihak sekolah tidak ada yang berani melarang Sehun, mereka membiarkannya melakukan apapun sesuka hatinya.

Sehun mengemudikan mobilnya menuju kedai bubble tea yang menjadi langganannya di tepi sungai Han, Lee ahjussi yang melihat Sehun keluar dari mobilnya menyambut kedatangan Sehun dengan senyuman hangat, Sehun membalas senyuman itu dan langsung duduk di tempat favoritnya, di sudut restoran dekat jendela.

“Tuan Oh mau pesan yang seperti biasa?” Tanya Lee ahjussi.

Sehun mengangguk pelan, “Ne ahjussi”

“Sambil menunggu pesanan tuan Oh minum ini saja dulu…” Ujar Tuan Lee sambil menyodorkan segelas green tea di depan Sehun.

“Kamsahamida…”

Tuan Lee tersenyum kecil sebelum masuk untuk mengambilkan pesanan Sehun dan meninggalkan Sehun sendirian, Sehun menghela nafas kemudian menatap lurus ke luar, menatap aliran air sungai yang selalu bisa mendamaikan hati dan mendinginkan pikirannya.

‘Sehunie, aku lapar…’

Sehun mengerjap berkali-kali, dia menoleh ke kanan dan ke kiri meyakinkan bahwa dia baru saja mendengar suara Luhan yang mengatakan kepada dirinya kalau dia sedang lapar. Sehun mengusap-usap telinganya dan menggeleng pelan.

“Mungkin itu hanya halusinasiku saja” Ujarnya pada dirinya sendiri.

‘Kau tidak berhalusinasi Sehun-ah, ini benar-benar aku, Luhan, dan aku benar-benar lapar…’

Suara itu kembali terdengar, Sehun pun menolehkan kepalanya segala arah mencari sumber suara yang membuatnya sedikit bergidik ngeri itu.

“Ya! Alien bodoh, kau seharusnya keluar!! Jangan membuatku takut!” Ujar Sehun sedikit berteriak, dia tidak peduli karena saat ini dia adalah satu-satunya orang yang ada di kedai tersebut, jadi dia tidak perlu khawatir untuk mendapatkan tanggapan gila dari orang lain.

“Mwoya!!! Ya!! Berhentilah muncul tiba-tiba!!” Sehun mendengus, dia segera mengambil gelas green tea miliknya dan meminumnya.

Luhan mendengus, “Berhenti memanggilku dengan ‘Ya!’, aku sudah mempelajari budaya negara ini kau tau? Kau seharusnya memanggilku Oppa” Ujar Luhan bangga.

“Pffftttt byuurrr!!”

Sehun memuncratkan green tea yang diminumnya dan langsung tertawa terbahak-bahak, bahkan saking terbahaknya namja dingin itu meneteskan air mata karena terlalu banyak tertawa, sedangkan Luhan yang mendapat ‘cipratan’ green tea Sehun hanya mengelap bajunya dan mendengus kesal.

“Ya! Kau belajar dari mana??” Tanya Sehun yang sudah mulai bisa mengendalikan tawanya, tapi tetap saja dia tertawa setiap melihat wajah kebingungan Luhan.

Luhan memutar bola matanya mengingat, “Aku belajar dari orang yang ada di dalam kotak besar yang ada di kamarmu…” Jawabnya polos.

Sehun mengerutkan keningnya bingung, “Orang? Di dalam kotak besar?”

Luhan mengangguk.

Sehun segera menepuk dahinya ketika dia mengerti apa yang dimaksud Luhan, “Maksudmu televisi? Kau belajar dari drama? Astaga…” Sehun kembali terkikik, dia kemudian sedikit memajukan badannya kepada Luhan, “Dengarkan aku, ‘Oppa’ adalah panggilan seorang perempuan kepada laki-laki yang lebih tua darinya, sedangkan panggilan dari seorang laki-laki untuk laki-laki yang lebih tua darinya adalah ‘Hyung’, kau mengerti?”

“Oh…” Luhan menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. dia kembali menatap Sehun dan tersenyum kepada pria tinggi itu, “Kalau begitu mulai dari sekarang Sehunie harus memanggilku hyung karena aku lebih tua darimu…”

DEG

Lagi, Luhan mengucapkannya dengan sangat polos dan ceria, membuat ada luka kecil di dalam hati Sehun yang terasa terkuak, namun terkuaknya luka itu terasa sembuh hanya dengan melihat tatapan dan senyum polos dari Luhan, namja di depannya ini benar-benar polos dan belum tau apapun tentang bumi serta kelakuan manusia di dalamnya, Sehun pun tidak mungkin marah kepada Luhan karena Luhan sama sekali tidak tau tentang masa lalunya, dan Sehun akhirnya memilih untuk diam, tidak menjawab, tidak pula menanggapi ucapan Luhan.

“Sehunie, kenapa kau hanya diam? Apa kau tidak suka aku menyuruhmu memanggilku hyung?” Ada kilat khawatir yang terpancar dari mata Luhan ketika pria didepannya ini hanya diam, padahal tadi Sehun bicara banyak kepadanya.

“Ini pesanan anda tuan-” Tuan Lee tidak mampu melanjutkan kalimatnya ketika melihat ada orang asing di depan Sehun, ini pertama kalinya tuan Lee melihat Sehun dengan seseorang dalam dua tahun terakhir, selama ini Sehun memang tidak pernah memiliki apa itu yang namanya teman atau sahabat semenjak kejadian dua tahun lalu yang merubah kepribadian Sehun menjadi apatis.

Tuan Lee meletakkan pesanan Sehun dan menatap namja itu bingung, “Tuan Oh, siapa orang yang sedang bersama anda ini?” Tanyanya hati-hati, Sehun hanya diam dan mengarahkan tatapannya kepada Luhan, tuan Lee pun mengikutinya, baik tuan Lee maupun Sehun kini mengarahkan tatapan mereka kepada Luhan yang matanya berbinar-binar ketika melihat ada sundae didepannya yang Sehun yakini kalau Luhan tidak akan tau kalau itu namanya sundae.

“Sehunie, boleh aku makan ini? Baunya sangat enak, tidak kalah enak dari bantal manis yang aku makan kemarin, kau tau ‘kan aku sangat lapar??” Ujar Luhan setengah memohon.

‘Bantal manis? Bodoh, pasti yang dia maksud roti’ Ujar Sehun dalam hati, dia kemudian hanya menganggukkan kepalanya mempersilahkan Luhan untuk memakan sundae yang ada di depannya, Luhan pun mulai menyumpit sundae dan memasukkannya ke dalam mulut.

“Uwaaahhh!! Makanan ini benar-benar enak sekali!!” Mata Luhan kembali terlihat begitu berbinar-binar dan melanjutkan makannya dengan sangat bersemangat.

“Uhm… Tuan, maaf mengganggu makan anda, tapi kalau boleh tau anda siapa?” Tanya tuan Lee yang tidak mampu menahan rasa penasarannya.

“Aku?” Luhan menunjuk dirinya sendiri, tuan Lee mengangguk membenarkan, “Aku-”

“Dia hyungku…” Potong Sehun cepat.

-***-

-TBC-

Iklan

30 thoughts on “Fate #3 “Just Believe in Me”

  1. omoo oppa!
    jdi keingetan sma tao yng manggil umin “oppa”
    hehehe
    hyung??
    masa lalu apa kh???
    chen bcnda muuu! xD
    troll-nim, ksian kn baekkie, smpe nangis pula heheeh

  2. Ya….benar tuan lee luhan itu hyungx sehunnie….
    Akhirx update juga thor….q smpek bolakbalik bk web ini bekali2 sdah update pa blum? Terxata udah jd saya ucapkn tank’s buat author dah update

  3. Luhaannnn please deh jngan manja2 sama sehuunn donkk aku cemburu tau 😀 #plakkk hahahahaha
    Inget umur lulu hrus nya sehun tuh yg manja2 sma luhan..
    Hayooo,, itu knangan buruk nya sehun apaan? Itu luhan blng sehun hrus mnngil dia hyung kok lngsng mndadak suram bgitu?
    hahaha,,, luhan mnggil sehun oppa ckckckckck udh jdi korban sinetron (?) nih lulu

  4. Anyeonghaseyo^^ aku reader baru, salam kenal;;) itu sehunie dari chapter 1 dingin banget ya? Luhanie oppa lucu bangettt<3<3 ffnya bikin degdeg-an bangeettt. Keep writing yah chingu:D

  5. Ping-balik: Fate #4 “That’s What We Called Pain” | Acha's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s