Fate #4 “That’s What We Called Pain”

Fate (Unknown Destiny)

Fate #4

“That’s What We Called Pain”

Title : Fate #4 “That’s What We Called Pain”

Author : Evilosh_HD a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brotherhood, Friendship.

Lenght : Chaptered.

Main Cast :

  • EXO Member

Support Cast :

  • Lee Soo Man ._.v

-***-

Part Before : #3

Be aware with typo(s)

Happy Reading ^^

-***-

“Dia hyungku…”

Luhan dan tuan Lee menolehkan tatapan mereka kepada Sehun yang hanya memandang lurus Luhan, Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali dan menatap Sehun dengan tatapan yang sangat polos, mata rusanya itu terlihat berbinar.

Berbeda dengan Luhan, tuan Lee menautkan kedua alisnya bingung –tentu saja, karena Sehun yang dia kenal selama ini adalah pemuda yang benar-benar apatis, dan anti-sosial –kecuali dengan dirinya tentu saja, “Tuan Oh, bukankah-”

“Ahjussi” Sehun kembali memotong ucapan tuan Lee, dia mengalihkan tatapannya kepada pria paruh baya yang menjadi sandarannya selama ini dan tersenyum tipis, dia memberikan tatapan yang begitu teduh kepada tuan Lee yang tentu saja makin membuat kedua alis tuan Lee bertaut bingung, ini pertama kalinya dia melihat Sehun dengan tatapan yang teduh, oh ayolah, Oh Sehun adalah definisi sempurna dari patung berjalan dengan hati sedingin es, tapi kenapa pemuda itu sekarang seperti ini?

Tuan Lee mengerjapkan matanya beberapa kali –menyadarkan dirinya sendiri dari lamunannya, “Y-Ya Tuan Oh?” Tanyanya sedikit tergagap, pria paruh baya itu masih belum juga terbangun dari keterkejutan rupanya.

Sehun mengalihkan tatapannya kepada Luhan yang masih memakan sundae-nya dengan lahap tanpa memperdulikan keadaan sekitar, Sehun mengalihkan tatapannya lagi kepada tuan Lee menghela nafas panjang, “Ahjussi, ini adalah suatu hal yang belum bisa aku ceritakan kepadamu, aku harap ahjussi mengerti…”

Tuan Lee hanya tersenyum tipis dan mengangguk kecil, “Saya mengerti tuan Oh, kalau begitu saya ke dalam dulu”

“Mm, terima kasih…” Ujar Sehun singkat.

Setelah tuan Lee pergi, Sehun kembali mengalihkan tatapannya kepada Luhan yang masih saja memakan sundae-nya, wajahnya terlihat begitu bahagia dengan mata rusa yang berbinar-binar, persis seperti anak kecil berumur lima tahun yang baru di belikan lollipop, tanpa sadar Sehun menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman tipis –hampir tidak terlihat, tapi satu yang pasti, ada setitik rasa kasih sayang yang menyelinap di hati Sehun untuk namja di depannya ini –tanpa disadarinya tentu saja.

“Hey alien” Sehun memanggil Luhan pelan ketika melihat mangkuk sundae itu sudah kosong.

Merasa di panggil, Luhan mendongak menatap Sehun yang langsung tersenyum ketika mendapati bibir dan pipi Luhan di penuhi dengan saus sundae, “Apa?” Tanya Luhan polos.

Sehun berdecak, “Tck, kau benar-benar seperti anak kecil” Ujarnya kemudian mengusap saus yang menghiasi wajah Luhan dengan tissue yang tersedia di meja mereka.

DEG

Setelah beberapa saat Sehun tertegun, tangannya berhenti mengusapi saus di wajah Luhan dan menatap Luhan dengan tatapan kaget, bagaimana mungkin dia tiba-tiba mengusapi saus di wajah orang –ah, bukan orang, tapi makhluk luar angkasa yang baru di kenalnya selama dua hari? Sehun pun menarik tangannya dan melemparkan tissue itu kepada Luhan.

“Bersihkan saus di wajahmu dengan itu” Ujarnya sambil menunjuk tissue yang dilemparkannya tadi.

Luhan yang tak mengerti apapun hanya menurut, dia mengambil tissue tadi dan mengusapi wajahnya hingga bersih kemudian menatap Sehun, “Sehunie, apa wajahku sudah bersih?” Tanyanya lagi-lagi dengan wajah yang kelewat polos.

“Mm” Jawab Sehun singkat.

Luhan tersenyum cerah, dia kemudian mengambil cup minuman yang ada di depannya dan mengamatinya sesaat, “Ini beracun? Kenapa air ini berbusa?” Gumannya pelan namun masih dapat di dengar oleh Sehun.

Sehun menghela nafas panjang, “Itu bukan air beracun, itu namanya Bubble Tea, kau bisa meminumnya”

“Benarkah?” Luhan bertanya dan Sehun hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan, Luhan pun meminum bubble tea itu, mata rusanya yang bulat itu kembali berbinar cerah, “Uwaaaahhhh, ini sangat enak!!!” Ujarnya bahagia kemudian menghabiskan bubble tea tersebut, sedangkan Sehun hanya mengamati Luhan yang meminum bubble tea miliknya dengan tatapan yang sulit diartikan, sekali lagi itu semua karena ekspresi wajahnya yang sangat datar sehingga membuat orang lain menerka-nerka sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran namja itu.

Luhan membalikkan cup bubble tea itu dan mengerucutkan bibirnya lucu, “Sudah habis…” Lirihnya, kekecewaan yang dalam tersirat dari suaranya barusan.

“Kau mau lagi?” Tawar Sehun.

Luhan kembali mendongak dan menatap Sehun, “Apakah kau akan memberikannya untukku?”

Sehun mengangguk, “Mm, tunggu disini sebentar” Ujar Sehun kemudian meninggalkan Luhan untuk membeli bubble tea lagi sekaligus membayar.

Sehun kembali ke meja Luhan dengan menenteng plastik yang berisi empat gelas bubble tea dan menunjukkannya kepada Luhan, “Aku membeli empat, sekarang lebih baik kita pulang dan menghabiskannya di rumah”

Luhan langsung berdiri dan mengangguk cepat, “Kalau begitu lebih baik kita berteleportasi saja agar langsung sampai rumah, aku tidak sabar meminum itu lagi” Ujar Luhan sembari menggandeng tangan Sehun.

“Kau gila?”

“Mwo??” Luhan berteriak, dia langsung melepaskan gandengan tangannya kepada Sehun.

Sehun menghela nafas panjang, dia mengambil satu bubble tea dan memberikannya kepada Luhan, “Kau bisa meminum ini selama perjalanan pulang, tidak perlu berteleportasi karena aku membawa mobilku, lagi pula kalau kau bertingkah aneh dan menggunakan kekuatanmu sembarangan kau akan di tangkap polisi dan akan di jadikan penelitian, mungkin tubuhmu juga akan di cincang oleh para ilmuwan untuk meneliti organ-organmu”

Luhan membulatkan matanya dan bergidik ngeri, dia kembali menggandeng tangan Sehun dan kali ini sedikit mencengkramnya, “Baiklah, ayo pulang menggunakan mobilmu sebelum para polisi mencincangku…”

-***-

-Seoul High School
12:00 PM

Namja berkulit tan itu hanya duduk di bangku penonton di lapangan indoor sekolah sambil memainkan bola basketnya, sesekali terdengar helaan nafas panjang dari namja tan yang kemudian melemparkan bola basketnya ke sembarang arah.

“Kai, apa kau sedang ada masalah?” Seseorang menghampiri namja tan yang bernama Kai itu dan mendudukkan dirinya disebelahnya.

“Sedikit” Jawab Kai.

Namja tadi menolehkan wajahnya dan menatap Kai seakan meminta penjelasan, “Apa? Kau bisa menceritakannya kepadaku, mungkin saja aku bisa membantumu…”

Kai terkekeh kecil, “Terima kasih hyung, tapi aku rasa itu tidak perlu…” Ujarnya kemudian memandang langit-langit lapangan indoor sekolahnya yang terlihat seperti kubah.

“Aku bukan orang lain, Kai… Aku ini sudah seperti kakak kandung bagimu…”

“Chen hyung, sudahlah, aku bisa mengatasinya sendiri, kau tidak perlu mengkhawatirkanku…” Ujar Kai meyakinkan, dia menatap Chen dan memaksakan senyumnya.

Chen menghela nafas panjang, “Kau bohong…” Ujarnya pelan.

“A-Apa? A-Aku benar-benar tidak-”

“Kai…” Chen memotong ucapan Kai, dia mengelus-elus rambut hitam Kai dan menatap Kai penuh kasih sayang, “Aku sudah mengenalmu lebih dari lima tahun dan aku sangat mengerti bagaimana dirimu, kau sama sekali tidak bisa berbohong kepadaku, Kai…”

“Maafkan aku, hyung…” Ujarnya sambil menunduk.

Chen menyentuh dagu Kai dan sedikit mengangkatnya agar namja tan itu menatap dirinya, “Hey, kenapa kau meminta maaf? Kau sama sekali tidak punya kesalahan kepadaku… Sekarang ceritakan apa masalahmu… Apa ini ada hubungannya dengan pembayaran rumah sewamu? Apa kau mengalami kesulitan membayarnya?”

Kai mengangguk lemah, “Akhir-akhir ini banyak sekali tugas sehingga uang yang seharusnya ku gunakan untuk membayar rumah sewa aku gunakan untuk membeli keperluan tugas, aku juga tidak mungkin mencari pekerjaan lain hyung… Pekerjaanku saat ini saja sudah menyita banyak waktuku…” Ujar Kai jujur.

Chen tersenyum kecil, “Kau bisa menggunakan uangku dulu, jangan khawatir, lagi pula aku juga masih memiliki tabungan, kau bisa mengembalikan kepadaku secara bertahap, kau tidak perlu lagi terbebani dengan masalah ini…”

Kai menatap Chen penuh terima kasih dan langsung memeluk Chen erat, “Terima kasih hyung, terima kasih banyak…”

-***-

-Gwangjin-gu Street
12:15 PM

Sehun mengendarai mobil Audi R8 miliknya dengan kecepatan sedang, mata elangnya hanya fokus dengan jalanan yang ada di depannya, membuatnya image-nya sebagai namja dingin nan apatis itu kembali terlihat.

Luhan yang duduk disebelahnya hanya mengamati Sehun sembari menyeruput taro bubble tea yang Sehun belikan tadi, merasa jengah karena suasana terlalu kaku, akhirnya Luhan memberanikan dirinya mengajak Sehun bicara,“Sehunie…”

“Mm?”

Luhan mendengus dengan jawaban super singkat dari Sehun, dia menghempaskan punggungnya dan mengerucutkan bibirnya lucu, “Sudahlah, lupakan saja!” Gerutunya.

Sehun sedikit melirik kepada Luhan yang masih saja mengerucutkan bibir dan kini menggembungkan pipinya, ‘Dasar bocah lima tahun’ Batin Sehun kemudian kembali fokus menyetir, kediaman itu pun kembali menyelimuti mobil mereka.

“Hey alien” Kali ini Sehun yang mencoba mengajak Luhan bicara.

Luhan kembali menghela nafas panjang dan menatap Sehun dengan tatapan membunuh –walaupun tetap imut, “Berhenti memanggilku alien, kau bilang aku ini hyung-mu! Aku tidak mau tau, yang jelas kau harus memanggilku Luhan hyung dari sekarang!” Luhan bersunggut-sunggut, dia berkali-kali membuang nafasnya kasar.

“Tck,” Sehun berdecak, “Ya! Kau ini hanya makhluk luar angkasa yang tersesat di bumi lalu tanpa sengaja bertemu denganku dan membuat hari-hari tenangku menjadi rumit, untuk apa aku memanggilmu hyung, heuh? Walaupun usiamu lebih tua dariku tapi aku baru mengenalmu selama dua hari!” Desis Sehun tajam dan menusuk, dia mempercepat laju mobilnya.

Luhan terperangah, dia sama sekali tidak menyangka kata-kata yang menusuk itu keluar dari mulut Sehun, ada bagian dari hati Luhan yang sakit, tapi namja itu tidak mengerti apa itu namanya sakit hati, Luhan hanya memegangi dadanya dan tanpa ia sadari ada air mata yang mengalir dari sudut mata rusanya.

Sehun kembali melirik Luhan dan terkejut ketika mendapati namja itu tengah menangis sembari memegangi dadanya, Sehun segera menepikan mobilnya, Sehun menangkup wajah Luhan yang sudah basah dengan air mata, bibir Luhan bergetar dan mata rusanya itu menatap Sehun penuh kesedihan.

“Hey, kenapa kau menangis?”

Luhan menggeleng pelan, “Aku tidak tau, ada yang sakit disini ketika kau mengucapkan kata-katamu tadi, dan aku juga tidak mengerti kenapa air mataku tiba-tiba mengalir…”

Sehun terperangah, dia sadar bahwa kata-katanya barusan telah menyakiti hati namja yang ada di depannya, “Maafkan aku karena telah menyakiti hatimu…” Ujar Sehun tulus, dan hey, sejak kapan seorang bernama Oh Sehun itu bisa mengucapkan kata ‘maaf’? Bukankah kata maaf termasuk ke dalam kosa kata yang sudah di hapus dalam perbendaharaan kata seorang Oh Sehun? Tapi nyatanya kosa kata yang telah ia hapus sejak lama itu kembali terucap atas ketidak-sengajaannya menyakiti hati namja yang ada di depannya ini.

“Rasanya benar-benar sakit…” Lirih Luhan masih memegangi dadanya, Sehun menghela nafas panjang dan segera merengkuh Luhan ke dalam pelukannya.

“Sekali lagi maafkan aku, okay? Baiklah, aku akan memanggilmu hyung tapi tolong berikan aku waktu, hal ini juga tidak mudah untukku… Aku… Aku tidak mudah membiarkan orang asing masuk ke dalam hidupku…” Ujar Sehun sambil mengelus-elus rambut cokelat Luhan.

Luhan beringsut dan melepaskan dirinya dari pelukan Sehun, dia kembali menatap Sehun dengan mata rusanya yang teduh, “Apa itu karena penghianatan teman-temanmu dulu?”

DEG

Ada pukulan dihati Sehun ketika mendengar kalimat yang dilontarkan Luhan barusan, namja itu membeku, tatapan dinginnya kini kosong, luka yang ia kubur dalam-dalam itu kembali terkuak, mendadak ingatannya memutar memori masa lalunya yang benar-benar ingin dia hilangkan, tanpa ia sadari ada setetes air bening yang mengalir di pipi putihnya.

Tangan lembut Luhan mengusap air mata Sehun yang menetes, membuat namja dingin itu menatap namja yang ada di depannya ini dengan tatapan sendu, mata yang biasanya tajam dan dingin itu kini memancarkan kesedihan yang teramat dalam, apalagi kedua mata itu mulai tergenangi oleh cairan bening yang bersiap mengalir kapan saja.

Kini Luhan yang merengkuh Sehun ke dalam pelukannya, dia kini mengerti bagaimana sosok Sehun sebenarnya, namja yang selalu terlihat dingin dan acuh itu sebenarnya hanyalah seorang yang rapuh, “Maafkan aku yang tanpa sengaja melihat masa lalumu, tapi satu hal yang harus kau ketahui Sehunie, aku tidak akan menghianatimu seperti teman-temanmu dulu, kalau kau ingin menangis, menangislah… Aku akan menjadi sandaran untukmu…”

Air mata itu pun tumpah, tak mampu lagi di bendung oleh Sehun, dia menangis sejadi-jadinya di pelukan Luhan, Luhan terus saja mengelus punggung Sehun sambil menunggu Sehun selesai menumpahkan seluruh kesedihannya tanpa berani mengusik, biarlah namja itu lega mengeluarkan emosinya, biarkanlah semua kesedihannya sirna.

-***-

-Central Park
15:00 PM

Namja mungil itu melepas topeng beruangnya dan mendudukkan dirinya di salah satu kursi taman, dia terlihat begitu kelelahan, wajar saja dia terlihat begitu karena dia harus memakai kostum beruang yang super tebal di bawah terik matahari musim panas dan diharuskan untuk membagikan balon-balon kepada orang yang lewat, meskipun membagikan balon itu terlihat sangat sepele, tapi jika dilakukan dengan kondisi sepertinya apalagi dengan suhu yang mencapai 370 orang-orang pasti akan berfikir berulang kali untuk melakukannya.

Cssss…

“Ouch! Dingin!” Namja mungil itu terlonjak kaget ketika sesuatu yang dingin menyentuh lehernya, namja itu menoleh ke belakang dan memberikan senyuman hatinya ketika melihat seseorang yang menjahilinya.

“Berhentilah menjahiliku, Baek…” Ujar namja mungil itu, Baekhyun tersenyum kecil, dia mendudukkan dirinya di samping Kyungoo –namja mungil tadi, dan menyerahkan sekaleng minuman dingin yang tadi ia gunakan untuk menjahili sahabatnya itu.

“Gomawo” Ujar Kyungsoo kemudian segera meminumnya.

Baekhyun menghela nafas panjang, “Sampai jam berapa kau harus memakai kostum bodoh ini?” Tanya Baekhyun prihatin.

“Sampai jam enam sore, setelah itu aku bisa mengambil gajiku dan pulang” Jawab Kyungsoo tanpa menatap Baekhyun.

Baekhyun kembali menghela nafas panjang, “Ya Tuhan, apa kau harus melakukan itu semua? Apa gajimu di restoran ayam itu tidak cukup untuk menghidupimu?”

Kyungsoo menatap Baekhyun dan tersenyum kecil, “Ini hanya untuk hari ini Baek, lagi pula gajinya lumayan untuk membeli bahan-bahan makanan selama satu bulan dan masih ada sisa yang bisa aku tabung” Ujar Kyungsoo enteng seakan tidak ada beban, “Oh iya, apa kau tidak bekerja hari ini?”

“Aku libur selama tiga hari, sajangnim tempatku bekerja sedang berlibur bersama keluarganya”

Kyungsoo menganggukkan kepalanya mengerti, tapi sedetik kemudian dia kembali menatap Baekhyun dengan wajah penuh tanda tanya, “Kalau begitu Chanyeolie…?”

Baekhyun mengangguk, “Mm, tiang listrik itu juga libur sama sepertiku”

“Siapa yang kau panggil tiang listrik, Baek?” Suara bass itu terdengar dan membuat kedua orang tadi menoleh ke arah sumber suara, Baekhyun dan Kyungsoo melihat seorang namja tinggi yang berdiri tak jauh dari mereka dan memberikan mereka senyuman yang terkesan seperti orang idiot, namja tinggi itu berjalan menuju tempat Kyungsoo dan Baekhyun.

“Tentu saja kau, idiot!” Ujar Baekhyun sesaat setelah namja tinggi itu –Chanyeol, duduk di sampingnya.

Chanyeol berdecih pelan, “Bilang saja kalau kau iri dengan tinggi badanku, pendek!” Ujar Chanyeol dengan memasang wajah tanpa dosanya.

“YA!!!”

Baik Kyungsoo dan Chanyeol kini tertawa melihat Baekhyun yang mendengus kesal, apalagi Baekhyun mengerucutkan bibirnya yang membuat wajahnya benar-benar terlihat lucu.

“Baek, kau sendiri yang memulai kenapa sekarang kau yang marah?” Chanyeol lagi-lagi menggoda Baekhyun dan membuat Baekhyun makin mendengus kesal, dia hanya diam, mungkin dia sedang mencari makian yang tepat untuk Chanyeol.

Kyungsoo yang kini sudah bisa menghentikan tawanya mengalihkan tatapannya kepada jam yang ada di tengah taman, pukul 15:15, sudah lima belas menit ternyata dia beristirahat dan dia rasa itu sudah cukup, Kyungsoo mengambi topeng beruang miliknya dan perlahan beranjak dari tempat duduknya.

“Mau lanjut bekerja, Kyung?” Tanya Baekhyun yang sepertinya sudah tidak lagi terlihat kesal.

Kyungsoo tersenyum tipis, “Mm”

“Kalau begitu kami mungkin akan bersantai disini sambil menunggumu selesai bekerja, bagaimana menurutmu?” Chanyeol mengalihkan tatapannya kepada Baekhyun.

“Bukan ide yang buruk” Ujar Baekhyun menyetujui, dia kembali mengalihkan tatapannya kepada Kyungsoo, “Kita akan menunggumu disini jam enam nanti”

“Baiklah, aku bekerja dulu, annyeong!”

-***-

-Central Park
17:00 PM.

Sehun dan Luhan duduk di salah satu bangku taman dan masing-masing dari mereka memegang ice cream dan memakannya, keduanya hanya memperhatikan air mancur yang ada di pusat taman tanpa mengucapkan sepatah katapun, mereka hanya fokus menghabiskan ice cream mereka masing-masing.

“Sehunie, hari ini kau memberikanku makanan yang aneh-aneh, tadi air berbusa sekarang salju rasa susu…” Luhan memecahkan kebisuan diantara mereka.

Sehun menoleh dan terkekeh kecil ketika wajah Luhan belepotan dengan ice cream vanilla yang dimakannya, Sehun merogoh sakunya dan membersihkan wajah Luhan dengan sapu tangan miliknya, kini Sehun tidak lagi merasa canggung, mungkin karena kejadian tadi siang –Sehun menangis di pelukan Luhan, “Kau benar-benar seperti anak kecil” Ujarnya sambil terkekeh kecil.

“Aku ‘kan bukan manusia, wajar saja kalau aku belum bisa makan makanan kalian dengan benar” Dengus Luhan dengan pipi yang di gembungkan.

Sehun menghela nafas kecil, “Aku akan mengajarimu” Ujar Sehun tulus, Luhan langsung menolehkan wajahnya menatap Sehun yang kini menatapnya balik, “Oh iya, bagaimana cara kita menemukan legenda yang lain?”

Luhan hanya diam, dia hanya memandangi Sehun tanpa berkedip, entah apa yang dilamunkannya hingga membuat dia terpaku menatap Sehun, Sehun mengerutkan keningnya bingung, dia menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Luhan dan akhirnya membuat Luhan mengerjapkan matanya berkali-kali dan tersadar dari lamunannya.

“Uhm, a-apa yang kau tanyakan tadi?”

Sehun menghela nafas panjang, “Bagaimana cara kita menemukan legenda yang lain? Aku sama sekali tidak punya petunjuk, entah dirimu” Ujar Sehun mengulang pertanyaannya.

“Oh, cukup melihat kristal Sirius milikku, jika kristal itu bersinar maka ada legenda di dekat kita, kristal Sirius hanya akan bersinar jika dia menemukan ‘temannya’ yang belum pernah ku sentuh”

“Kenapa harus di sentuh dulu olehmu?”

“Bukankah seluruh kekuatan kalian masih ada padaku? Aku harus menyentuh ke dua belas kristal agar aku bisa memberikan kekuatan kalian” Ujar Luhan yang kemudian merogoh sakunya, dia mengeluarkan kristal Sirius miliknya dan membelalakkan matanya kaget.

“Sehunie!! Sehunie!! Kristalku bersinar!!” Luhan segera menolehkan wajahnya ke segala arah dan kembali menatap Sehun, “Sehunie, itu artinya…”

“Ada legenda di taman ini…”

-***-

-TBC-

Iklan

16 thoughts on “Fate #4 “That’s What We Called Pain”

  1. nah looo.. Luhan bikin sehun nangis…
    Thor sya pnsaran bnget sma msa lalu sehun. Sbnernya ada kejadian apa sih? Kok kyaknya mnyakit bnget bgi sehun.. Cpt lanjut ya thor 🙂

  2. aku jdi penasaran sma masa lalunya sehun..
    luhan imut bgt, kelakuanya kaya anak kecil…
    sldi tunggu next chapternya ya thor… fighting….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s