History of MAMA II Chapter 7

HoM II

History of MAMA” II

Title : History of MAMA II

Author : Evilosh_HD a.k.a @Cha_FishyHae

Genre : Fantasy, Brotherhood, Friendship, Family, Action(?)

Lenght : Chaptered.

Main Cast :

  • EXO Member

Support Cast :

  • Super Junior’s Lee Donghae
  • SNSD’s Im YoonA

-***-

“Yang aku takutkan terjadi, Yixing telah kehilangan kekuatannya dan itu artinya dia sekarang adalah seorang manusia biasa, bukan lagi seorang MAMA…”

-***-

A/N:

Haiiii epribadiihh~ I’m baek 😀

Haha, dua minggu hiatus akhirnya saya di pulangkan/? ke rumah sama nenek saya, bwahahaha, jadinya langsung ngadep laptop buat lanjutin epep, tapi yang udah mateng/? cuma ini, Promise and Responsibility chap 10, sama chapter pertama dari ff three shoots yang di rikues ama kak Amy 😀

Yang lain masih pada setengah mateng/? jadi harap sabar ya~ Sayanya lagi ngurusin masuk kuliah, oh iya, saya sebenernya bingung mau epep yang mana dulu di lanjutin karena ga tau mana yang paling di nanti para readers, saya kan cuma nurut yang statistiknya tinggi, haha 😀

part before : 6

Be aware w/ typo(S)

Happy reading :*

-***-

“ZHANG YIXING!!!”

Luhan langsung berlari masuk, dia menggunakan kekuatan telekinetisnya untuk menurunkan Yixing yang tubuhnya melayang di udara tanpa di ketahui sebabnya, Luhan menggapai tangan Yixing ketika tubuh pria berlesung pipi itu mulai dekat dan membaringkannya.

“Astaga!!!”

Para MAMA berteriak kaget, Baekhyun dan Kyungsoo bahkan langsung menutup mulut mereka dengan kedua tangan, sedangkan Luhan, pria bermata rusa itu hanya bisa terpaku melihat kondisi Yixing yang bisa di bilang mengenaskan dengan darah yang mengalir deras dari lubang telinga dan hidung Yixing, membuat bau anyir darah perlahan menyeruak ke indra penciuman para MAMA.

“Yixing…”

Entah kapan Suho masuk, namun pria dengan wajah malaikat itu kini sudah berada di samping Yixing dan menggumankan nama Yixing pelan, ada pukulan kecil di hati Suho ketika seseorang yang selalu ada di sampingnya sebagai sahabat sekaligus saudara untuknya itu kini terbaring lemah dengan wajah yang kian memucat, Suho meraih tangan kanan Yixing dan menggenggamnya erat. Tangan itu dingin, lambang MAMA di punggung tangannya juga hampir tidak terlihat dan Suho tidak tau kapan pastinya aliran sungai kecil itu terbentuk di pipinya, yang jelas, pria berwajah malaikat itu kini menangis.

Kris tiba-tiba muncul dengan pakaian yang sangat rapi, dia menepuk bahu Suho dan sedikit mencengkramnya, Suho pun menoleh dengan wajah yang sudah basah, Kris menghela nafas panjang melihat sahabatnya seperti itu, “Ayo kita bawa Yixing ke rumah sakit” Ajaknya pelan, para MAMA langsung menatap Kris bingung.

Suho menatap Kris kurang yakin, “Rumah sakit? Apa kau yakin apa yang saat ini dialami Yixing bisa di selesaikan dengan menggunakan peralatan medis buatan manusia?”

Kris menghela nafas panjangnya lagi, “Aku juga tidak tau, tapi setidaknya kita bisa menyelamatkannya sebelum hal ini semakin bertambah parah, tidakkah kau ingat kalau kekuatan kita hilang kita masih bisa menjadi manusia biasa?”

Suho menunduk sejenak sebelum mendongakkan kepalanya, “Baiklah, kita bawa Yixing ke rumah sakit”

-***-

-Agent’s Room
15:00 PM

Tao berkali-kali menghembuskan nafas panjangnya, sedari tadi dia hanya berbaring di sofa tanpa melakukan apapun, bukan karena dia malas, tapi memang karena tidak ada kasus yang di tanganinya saat ini, Jongin juga pergi entah kemana.

Lama-lama Tao merasa bosan, dia akhirnya bangkit dan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekeliling tempatnya bekerja. Ponsel Tao bergetar di saat pria dengan mata panda yang khas itu akan keluar ruangan agen, Tao pun menghentikan langkahnya dan memilih untuk mengangkat telepon yang masuk.

Yoboseyo?”

“…”

Kedua mata Tao membulat lebar, tergambar jelas kalau saat ini dia terlihat begitu panik, tanpa mengatakan apapun Tao langsung memutuskan sambungan teleponnya dan segera berlari menuju suatu tempat, dia harus kesana sesegera mungkin karena jika dia terlambat, maka kemungkinan Jongin tidak akan selamat.

Walaupun dia seorang pengendali waktu, tapi kali ini kekuatannya tidak akan berlaku, karena mereka yang sedang mencoba mencelakai Jongin mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak terpengaruh dengan kekuatan para MAMA.

-***-

-Laboratory, Chemistry Inc.
15:30 PM.

Chanyeol merenggangkan badannya sejenak setelah berkutat dengan mikroskop dan obyek yang diamatinya selama kurang lebih satu jam, peneliti muda itu sedikit menepuk-nepuk bahunya yang terasa pegal akibat terlalu lama menunduk, dia tidak menyadari jika seseorang telah duduk di kursi sebelahnya dan mengamati Chanyeol dengan mata sipitnya.

Chanyeol menghela nafas panjang dan menoleh, matanya membulat lebar ketika menyadari ada seseorang yang tersenyum tipis kepadanya, “S-Sajangnim…”

Pria yang di panggil sajangnim oleh Chanyeol itu –Min Suga, hanya tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Chanyeol sebelum memandang pekerjanya itu lekat, “Kau terlihat sangat lelah, apa bekerja disini memberatkanmu?”

Chanyeol menggelengkan kepalanya refleks, “Aniyo, saya senang bekerja disini” Sanggahnya cepat.

Suga kembali tersenyum dan hal itu sontak membuat matanya hanya terlihat segaris, pria dengan kulit pucat itu mengacak rambut Chanyeol dan sukses membuat Chanyeol mengerutkan keningnya bingung, namun dia tetap memilih diam dan menerima perlakuan bosnya itu, ya selama perlakuannya itu masih bisa di bilang normal terhadap dirinya.

Kedua orang itu diam selama beberapa menit menciptakan keheningan yang entah kenapa membuat Chanyeol merasa canggung, juga bingung, di tambah tangan Suga yang masih bertengger manis di bahu Chanyeol dengan tatapannya yang seakan mengintimidasi? Ah tidak, Suga tidak sedang mengintimidasi dirinya karena tatapan Suga sama sekali tidak tajam, pria itu hanya menatapnya lekat, tidak lebih, dan itu membuat Chanyeol semakin merasa tidak nyaman dan mulai memunculkan pikiran-pikiran serta asumsi-asumsi aneh tentang bosnya itu.

“Chanyeol-ssi” Suga memecahkan keheningan diantara mereka, Chanyeol pun sedikit mengangkat wajahnya menatap Suga balik.

“Ne, sajangnim?”

Suga menghela nafas panjang, dia kembali menatap Chanyeol begitu lekatnya seakan jika dia berkedip, Chanyeol akan hilang, “Aku tidak tau apa yang terjadi padaku, tapi setiap aku melihatmu ada perasaan dalam hatiku yang seakan ingin…” Suga menggantungkan ucapannya.

Kedua alis Chanyeol makin bertaut bingung, kini spekulasi-spekulasi aneh di otaknya itu makin banyak bermunculan, tapi karena Chanyeol adalah orang yang tidak ingin mati karena rasa penasaran yang menggerogotinya, maka Chanyeol memberanikan diri untuk bertanya, “Apa yang anda inginkan?”

Suga menarik tangannya yang bertengger manis di bahu Chanyeol dan melipat kedua tangannya di depan dada, dia mengamati Chanyeol dari ujung rambut sampai kaki dan menghela nafas panjang, “Entahlah Chanyeol-ssi, aku juga bingung kenapa aku seperti ini, setiap aku berada di dekatmu, bahkan hanya sekedar melihatmu saja membuatku ingin membunuhmu…”

Chanyeol tercekat, mata lebarnya itu membulat sempurna dan dia bersumpah jika dia melihat ada kilatan merah di mata Suga ketika mendengar bosnya itu mengucapkan kata ‘membunuh’ dengan sangat entengnya.

Suga melepaskan lipatan tangannya dan beranjak dari tempat duduknya, dia menepuk-nepuk bahu Chanyeol lagi dan kali ini apa yang dilakukan bosnya itu sukses membuat Chanyeol bergidik ngeri, dia ingin pergi, atau setidaknya menggunakan kekuatannya untuk melindungi diri, tapi dia juga tidak bodoh, jika dia menggunakan kekuatannya sama saja dia bunuh diri dengan membongkar identitasnya, dia tidak ingin berakhir sama seperti Baekhyun dan Jongdae yang sekarang bahkan tidak bisa melangkahkan kaki mereka satu centipun dari rumah.

Suga yang melihat raut tegang Chanyeol kini terkekeh kecil, “Haha, Chanyeol-ssi, jangan setegang itu, mana mungkin aku membunuh salah satu pegawai terbaikku tanpa alasan yang jelas, aku bukan seorang tangan besi seperti Fir’aun”

Chanyeol hanya bisa tersenyum kecut karena mulai sekarang dia tidak akan bisa menganggap bosnya ini sebagai orang biasa, dia tau kalau ada yang aneh dengan bosnya, di tambah dengan kilatan merah yang tadi dilihatnya, kali ini Chanyeol berspekulasi bahwa bosnya ini mungkin adalah seorang Ryuk, atau bahkan warga Dark Kingdom, tapi bukankah Dark Kingdom sudah ada dalam kedamaian setelah Heechul yang menjadi rajanya? Oh ayolah, kepala Chanyeol kini berkedut-kedut hanya dengan memikirkan masa lalu yang hampir merebut nyawa keluarganya itu.

Karena terlalu larut dalam lamunannya, Chanyeol sama sekali tidak menyadari jika Suga menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Chanyeol.

“Chanyeol-ssi! Chanyeol-ssi!” Kali ini Suga mencoba menyadarkan Chanyeol dengan menggerak-gerakkan bahu pria tinggi itu, Chanyeol mengerjapkan matanya berkali-kali dan menatap Suga bingung, Suga kembali tersenyum, dia menepuk bahu Chanyeol yang hanya menatapnya dengan memasang tampang bodoh, “Chanyeol-ssi, tidak usah dipikirkan apa yang aku katakan tadi, bukankah aku sudah mengatakan kalau aku tidak mungkin membunuhmu? Tidak perlu dianggap serius”

Chanyeol memaksakan kedua sudut bibirnya untuk tersenyum dan mengangguk pelan, “Ne”

Suga menghela nafas panjang, dia kemudian menilik jam tangan yang melingkar dengan pas di pergelangan tangannya yang pucat, “Sudah jam empat sore, sudah saatnya kau pulang” Ujarnya mengingatkan.

Mendengar itu, Chanyeol langsung beranjak dari duduknya, dia merapikan berkas-berkas penelitiannya sebelum membungkuk dan meninggalkan Suga yang masih setia berada di tempatnya berdiri tadi.

Suga menatap punggung Chanyeol yang perlahan hilang dari jangkauan matanya, bos muda itu langsung mendudukkan dirinya, menghela nafas panjang dan mengacak rambutnya frustasi, “Aku kenapa? Kenapa aku ingin sekali menghancurkan dia?” Erang Suga tertahan.

‘Karena aku yang mengaturnya begitu…’ Sebuah bisikan dingin membuat Suga menoleh ke segala arah, ada rasa takut yang perlahan hinggap di hatinya namun harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui kalau sekarang dia takut.

Suga pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mengelilingi laboratorium yang sepi itu, “Siapa disana?” Tanyanya sedikit berteriak, namun tidak ada jawaban. Suga memutuskan untuk kembali mengelilingi laboratorium yang luas itu, setiap sudut di lihatnya namun dia tidak menemukan apapun selain alat-alat yang diperuntukkan untuk penelitian.

Merasakan aura dingin yang perlahan menggerayangi tengkuknya,membuat pria pucat itu bergidik ngeri.Tidak tahan lagi, Suga akhirnya memutuskan untuk pergi dari pada berakhir mengenaskan karena rasa takut yang mulai ia akui mendominasi hatinya.

-***-

-Sehun’s house
16:00 PM.

Kyungsoo, Jongdae dan Baekhyun sedang berkumpul di taman belakang rumah Sehun, lebih tepatnya di samping kolam renang, ketiga pria mungil itu mencelupkan kaki-kaki mereka ke dalam air tanpa mengatakan apapun, sedikit aneh memang jika ketiga orang itu hanya diam tanpa adanya percakapan, mengingat Baekhyun dan Jongdae adalah pria dengan kelebihan kecerewetan dan kejahilan di atas rata-rata, suasana di belakang rumah Sehun itu terlihat begitu canggung.

“Apa yang harus kita lakukan?” Baekhyun membuka suaranya, mencoba memecahkan keheningan yang sama sekali tidak ada dalam daftar kehidupan seorang Byun Baekhyun.

“Tidak tau” Jawaban singkat Kyungsoo kembali membuat mulut ketiga orang itu terkatup rapat, mereka bertiga hanya memainkan kaki mereka di air membentuk kecipakan-kecipakan kecil di sana, kekanakan memang, tapi hanya itu yang bisa mereka lakukan mengingat bahwa ketiga orang itu sedang diincar oleh paparazzi, wartawan dan sebagainya akibat kecerobohan mereka menggunakan kekuatan MAMA.

Jongdae yang paling merasa jenuh di antara ketiga orang itu perlahan menggerakkan tangannya dan mencelupkannya ke air tanpa sepengetahuan kedua temannya yang lain.

“AACCKKK!!!!” Baekhyun dan Kyungsoo sontak mengangkat kaki mereka dari air dan menatap Jongdae dengan tatapan membunuh.

“YA!! APA KAU BERNIAT MEMBUNUH KAMI?” Kyungsoo bersunggut-sunggut, Jongdae hanya menatapnya dengan senyuman tipis.

“YA!! KIM JONGDAE!! KAU INI BODOH ATAU APA?? BUKANKAH KAU SANGAT TAU JIKA AIR BISA MENGALIRKAN LISTRIK??” Kali ini Baekhyun yang memarahi Jongdae dengan suara yang beroktaf-oktaf lebih tinggi dari Kyungsoo.

Jongdae menatap Baekhyun dan Kyungsoo polos, wajahnya sama sekali tidak menyiratkan raut wajah bersalah ketika berhasil membuat kedua sahabatnya itu mengumpat dan memberikan mereka sedikit terapi listrik dengan kekuatannya.

“Aku hanya sedang bosan” Tuturnya pelan.

“SEKALIPUN KAU BOSAN KAU JANGAN MENGGUNAKAN KEKUATANMU UNTUK MEMBUNUH KAMI!!!” Baekhyun kembali memarahi Jongdae, wajahnya yang tertekuk menunjukkan kekesalan yang teramat sangat kepada pria yang ada di sampingnya itu.

Jongdae mengusap-usap telinganya yang berdengung akibat teriakan Baekhyun, dia menatap Baekhyun dan mendengus, “Ya! Byun Baekhyun! Bisa tidak kau menurunkan nada bicaramu tiga oktaf saja? Telingaku berdengung dengan teriakan lima oktafmu!” Ujar Jongdae lagi yang masih setia dengan wajah –sok- polos tanpa dosanya.

Baekhyun geram, bisa-bisanya Jongdae masih mengukur berapa oktaf suaranya ketika dia berteriak tadi, Baekhyun tau kalau Jongdae itu adalah penyanyi yang sudah tidak di ragukan lagi kemampuannya, tapi apa pentingnya hal seperti itu dalam keadaan seperti ini?

Kali ini Kyungsoo menghela nafas panjang, dia tidak punya pilihan lain selain menjadi penengah antara Baekhyun dan Jongdae, walaupun dia merasa kesal dengan Jongdae, tapi jika masalah kecil ini tidak segera di selesaikan bisa-bisa barang-barang pecah belah yang ada di rumah Sehun pecah semua karena teriakan kedua penyanyi papan atas ini.

“Sudahlah, hentikan pertengkaran kalian” Kyungsoo mulai mencoba menengahi, namun Baekhyun dan Jongdae malah saling membuang muka tidak peduli, mereka juga sudah menulikan telinga mereka dari omelan Kyungsoo karena mereka tau, sekali Kyungsoo mengomel, maka omelan itu akan bertahan paling sebentar dua jam.

Kyungsoo bersiap membuka mulutnya untuk mengomel namun gagal ketika melihat Chanyeol yang penuh peluh berlari kepada mereka, “Chanyeolie?”

Baekhyun dan Jongdae sontak menolehkan wajah mereka mendengar nama Chanyeol di sebut oleh Kyungsoo, Chanyeol yang akhirnya sampai kepada ketiga orang itu langsung menatap ketiga orang tadi dengan mata yang amat sayu, nafasnya yang terengah-engah mengundang kerenyitan kening bingung dari tiga orang tadi.

“Hhh… Tolonghh… Akuhh…” Bersamaan dengan kalimatnya, Chanyeol terhuyung dan terjatuh, beruntung Baekhyun sigap menangkapnya sehingga membuat pria tinggi itu terjatuh di pelukan Baekhyun.

“Kita harus segera membawanya ke kamar!” Ujar Baekhyun tegas yang di sambut anggukan oleh Jongdae dan Kyungsoo, ketiga orang itu kemudian saling bahu-membahu untuk membawa Chanyeol yang pingsan ke kamarnya yang kebetulan ada di lantai satu, melupakan pertengkaran kecil mereka sejenak untuk membantu saudara mereka yang sedang dalam keadaan tidak baik.

-***-

-Seoul Hospital
16:15 PM.

Ketiga orang itu terdiam, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing namun mereka memikirkan hal yang sama, mereka memikirkan pria berlesung pipi yang sedang terbaring lemah di atas kasur rumah sakit dengan berbagai alat bantu yang menopangnya untuk hidup, salah satu dari ketiga orang itu –Suho, dengan setia menggenggam tangan Yixing –pria berlesung pipi yang terbaring di atas kasur rumah sakit-, sesekali hembusan nafas beratnya menambah variasi bunyi yang ada di ruangan itu selain kardiograf yang menjadi acuan kalau pria itu masih hidup.

Suho tersentak ketika tangan yang di genggamnya itu berpendar, dia langsung menatap telapak tangan yang berpendar itu dengan intens hingga perlahan cahaya itu memudar dan makin membuatnya tesentak kaget, ulu hatinya terasa sangat sakit dan perlahan mengalir sungai kecil dari sudut matanya.

Salah satu dari tiga pria tadi yang berpipi chubby –Minseok, menyadari bahwa Suho menangis dan memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, “Suho, ada apa? Kenapa kau menangis”

Pria yang satunya lagi –Kris, juga beranjak dari tempat duduknya ketiga mendengar pertanyaan Minseok yang ia ajukan kepada Suho, dia berjalan mendekati kedua temannya itu, dia meraih dagu Suho dan mengusap air mata yang mengalir di pipi sahabatnya dengan lembut, “Kenapa?”

Suho tidak menjawab, dia hanya memberi isyarat kepada Minseok dan Kris untuk melihat tangan Yixing, kedua orang yang mengerti arti isyarat Suho langsung mengalihkan perhatian mereka ke tangan Yixing, lebih tepatnya ke punggung tangannya.

Kris mendesah pelan, “Yang aku takutkan terjadi, Yixing telah kehilangan kekuatannya dan itu artinya dia sekarang adalah seorang manusia biasa, bukan lagi seorang MAMA”

Mendengar rentetan kalimat yang terucap dari mulut Kris, Suho menundukkan kepalanya dan menangis dalam diam, dia takut, dia takut Yixing pergi, selama ini Yixing adalah salah satu orang yang paling dekat dengannya, dia sama sekali tidak bisa membayangkan jika di saat MAMA lain tetap sama seperti sekarang, Yixing adalah satu-satunya di antara mereka yang menua dan termakan usia, Suho sama sekali tidak mengingkan hal itu.

Melihat Suho yang menangis, Minseok tidak bisa melakukan apapun selain memandangnya, dia memang sedikit mempunyai kesulitan untuk mengekspresikan apa yang ada dalam hatinya, tapi dia adalah pendengar yang paling baik di antara MAMA lain, lamunan Minseok di buyarkan oleh tepukan tangan Kris di bahunya, dia pun menolehkan tatapannya kepada Kris yang memberi isyarat Minseok untuk mengikutinya keluar.

Minseok mengangguk, dia mengikuti Kris ke luar rawat inap Yixing, sesaat setelah Kris dan Minseok keluar, pria tinggi itu langsung menghempaskan dirinya di tempat duduk, dia menangkupkan kedua tangannya dan mengusap wajahnya kasar.

Minseok menghela nafas panjang, dia melangkahkan kakinya dan menempatkan dirinya duduk di samping Kris, “Ada apa? Kenapa kau terlihat begitu frustasi?”

Kris langsung memeluk Minseok tanpa mengatakan apapun, jujur Minseok tersentak kaget, namun dia dengan cepat mengerti bahwa yang sedang di butuhkan pemimpinnya ini ada seseorang yang bisa di jadikan tempat bersandar dan berbagi, dia sangat amat mengerti bahwa menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah, beban yang harus di pikulnya juga sangat berat dan pastinya penuh tekanan.

Namun yang membuat Minseok kagum adalah, Kris bersikap seolah dia tidak apa-apa, dia masih memberikan senyumannya kepada para MAMA lain dan mengatakan kepada mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja dan dia berusaha menyelesaikan masalah yang akhir-akhir ini datang bagaikan untaian benang kusut, dia selalu berusaha untuk terlihat tegar di depan MAMA lain.

Tapi kali ini Kris rasanya harus menanggalkan topeng ketegarannya sejenak dan menangis dalam pelukan Minseok, dia sangat membutuhkan seseorang yang bisa menjadi tempat cucuran air matanya dan Kris merasa Minseok adalah orang yang paling tepat.

Minseok menepuk-nepuk punggung Kris memberi pria tinggi itu keleluasaan untuk mencurahkan isi hatinya, “Menangislah, keluarkan semuanya dan jangan di pendam sendiri, jangan memikul beban sendiri karena kau memiliki kami, Duizhang…”

Dan kalimat pendek dari Minseok itu berhasil membuat Kris mengeratkan pelukannya sekaligus mengucurkan air matanya yang kian deras, “Aku takut Minseok… Aku takut jika aku tidak bisa menjaga dan melindungi kalian… Keluargaku… Aku rela melakukan apapun demi menyelamatkan kalian… Bahkan jika aku harus bertaruh nyawa sekalipun aku tidak peduli, yang aku pedulikan hanyalah keselamatan keluargaku…” Kris terisak, dia mengeratkan pelukannya kepada Minseok.

Air mata yang sedari tadi di tahan Minseok akhirnya tumpah sudah ketika Kris menyebutkan para MAMA adalah keluarganya, bukan hanya sekedar teman atau sahabat, tapi keluarga… Dan Minseok tau, arti keluarga bahkan tidak bisa di sandingkan dengan arti sahabat apalagi teman, dan hari ini, Minseok mendapatkan satu hal berharga dari Kris, pemimpinnya itu telah mengajarkan dirinya bagaimana menyayangi keluarga, Minseok yang bahkan tidak mengetahui bagaimana rasanya mempunyai seorang ayah dan ibu itu kini telah bisa merasakan kasih sayang seorang ayah dari sosok Kris.

-***-

-Sehun’s room
18:00 PM.

Luhan mengantarkan makan malam Sehun ke kamar pria berkulit pucat itu, Luhan sangat mengerti kalau adiknya itu sedang kalut akibat kejadian-kejadian aneh yang menimpa para MAMA, di tambah dengan ketidak mampuan mereka untuk ke Sanguinets untuk menyelamatkan Yoona dan Donghae membuat Sehun makin frustasi, dia sangat mengkhawatirkan kedua orang tuanya, namun lebih dari itu, dia mengkhawatirkan kakak-kakaknya karena banyak dari mereka yang terbujur lemah tanpa di ketahui apa penyebab sebenarnya.

“Sehunie…”

Sehun yang duduk di dekat jendela menoleh dan memberikan senyuman tipis kepada Luhan yang berjalan ke arahnya dengan nampan berisi makanan.

“Ini makan malammu…” Luhan meletakkan makan malam Sehun di meja, Sehun hanya diam tak bergeming, sepertinya pria pucat itu sudah tidak mempumyai lagi apa itu yang dinamakan nafsu makan.

“Aku tidak berselera, hyung…”

Luhan menghela nafas panjang, “Makanlah… Kau tidak mau menambah beban Kris dan Suho ‘kan jika kau ikut sakit seperti Yixing, Chanyeol dan Jongin?”

Sehun tertegun mendengar kalimat Luhan, dalam hati dia membenarkan, tapi pikiran dan badannya menolak untuk memasukkan makanan itu barang sesuap ke dalam mulutnya, dan berbicara tentang Jongin, Tao mengatakan bahwa dia menemukan Jongin di tepi tebing dengan badan yang sudah berlumuran darah tanpa menemukan siapapun di sana, Tao juga menceritakan tentang seorang penelpon yang mengancamnya bahwa dia tidak mempan dengan kekuatan para MAMA dan membuat para MAMA lagi-lagi harus menghela nafas panjang mereka berkali-kali karena masalah yang dialami mereka saat ini terus datang bertubi-tubi namun sama sekali belum menemukan titik terang, bahkan mereka tidak tau siapa pelaku di balik semua ini.

“Sehunie…” Luhan kembali memanggil Sehun untuk menyadarkan pria itu dari lamunannya, Sehun mengangkat sedikit wajahnya dan menatap ke dalam mata rusa Luhan yang selalu bisa menenangkan hatinya karena kasih sayang yang terpancar jelas dari kedua manik mata rusa itu.

Luhan tersenyum tipis, namun senyuman tipis itu dalam sekejap berubah menjadi ekspresi kaget dengan mata yang membulat lebar, Luhan termundur beberapa langkah dan hampir terjatuh seandainya Sehun tidak dengan sigap menangkap tubuhnya.

“Hyung! Luhan hyung! kau kenapa?” Raut wajah Sehun yang begitu panik tergambar jelas di wajahnya.

Luhan mencengkeram tangan Sehun yang menahannya dan menatap mata adiknya yang menyiratkan kekhawatiran itu, “Sehunie… Yoona noona…”

Kedua mata Sehun sukses membulat mendengar nama mamanya di sebut, “Ada apa dengan Mamaku hyung?”

“Yoona noona… Dia… Dia mengirimiku pesan melalui telepati…”

-***-

-TBC-

Iklan

34 thoughts on “History of MAMA II Chapter 7

  1. Ais author…tbc ga’ tepat bewut sih…
    Itu apa yg dikirim yoona ke uri luhan thor….jgn buat penasaran dong thor inikn bulan puasa thor…..jgn buat para reader author naik darah gara2 penasaran…huh author ga’ asik motongx….

  2. yah, kenapa tbc sih, padahal lagi seru-serunya baca…
    ceritanya makin menegangkan aja…
    kira-kira siapa dalang dari masalah para MAMA ya…
    ditunggu kelanjutannya chingu.. ^^

  3. Astaga sbnernya apa sih yg terjadi sma para mama. Knpa mrka perlahan2 mulai terluka dn sakit. Itu siapa sih yg jahatin mrka? Itu yoona ngirim t3lepati apaan sma luhan. Apa ada sangkut pautnya sma yg msalah yg ada. Omg itu tbc mengganggu sajooo..
    klanjutannya aku tunggu ya thor

  4. yixing uda jadi manusia biasa ,
    oke selanjutnya siapa ?
    jongin ? atau chanyeol 😀
    dan astaga ituu yoona ngirim pesan apa tuh ke luhan kayaknya gawat banget deh xD

    uri yoonhae lagi dlm bahaya kah disana ?
    jangan2 kerajaan dark kingdom yg bikin ulah ini :s

    suga ? dy ktrunan ryuk atau dark kindom ? trus yg bisikin suga tu siapa ?

  5. Wah..Lay kenapa?jangan bikin lay jadi manusia biasa unn..jangaann
    unnie lagi galau TLP ya?
    next nya yang cepet ya

  6. Tidakkkkkkk
    Yixing kehilangan kekuatannya dan menjadi manusia biasa, apa ini bersifat sementara atau selamanya
    Sebenernya apa sih yang terjadi?
    Knpa makin lama makin rumit masalah mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s